• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DATA

HASIL PENELITIAN

V.2 Deskripsi Hasil Penelitian

6.1 Pembahasan Hasil Penelitian

Penelitian yang telah dilakukan di Puskesmas Cendrawasih ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara status gizi anak dengan angular cheilitis. Status gizi memiliki penilaian antropometri yang kemudian dijadikan acuan dalam menilai status gizi seorang anak. Status gizi tersebut memiliki tabel penilian tersendiri dengan penilaian 6 kategori, sangat kurang gizi (-3 SD), cukup kurang gizi (-2 SD), kurang gizi (-1SD), normal (Median), Cukup normal (1 SD), sangat normal (2 SD), Obesitas (3 SD). Pada penelitian kali ini, peneliti menggunakan penilaian indeks gizi buruk dan gizi baik dengan menggunakan timbangan. Berat badan. Setelah mencatat berat badan anak, peneliti kemudian memeriksa keadaan sekitar rongga mulut pasien, apakah anak tersebut menderita angular cheilitis. Selain itu, pada anak juga ditanyakan apakah pernah mengalami angular cheilitis dengan menunjukkan gambar anak yang sedang mengalaminya atau jika anak tidak mengerti peneliti menanyakan kepada orangtua yang mengantar.

Banyak variasi jawaban yang diberikan oleh anak maupun orangtuanya. Pada bab III peneliti menuliskan definisi operasional angular cheilitis yang menyatakan bahwa peneliti tidak melihat apakah angular cheilitis tersebut telah masuk dalam fase mengalami penyembuhan atau baru saja menjadi lesi. Sehingga, setelah dilakukan

40 pemeriksaan, angular cheilitis tersebut sangat variasi, dari lesi kecil hingga lesi yang sedang dalam proses penyembuhan.

Status Gizi dikaitkan dengan Angular cheilitis karena salah satu etiologi utama angular cheilitis ialah defisiensi nutrisi. Kekurangan nutrisi dapat menyebabkan menurunnya system imun anak, sehingga berbagai virus dan bakteri dengan mudah menyerang pertahanan tubuh anak. Salah satunya ialah menyebabkan angular cheilitis pada sudut bibir anak secara bilateral.

Angular Cheilitis ditemukan pada sudut mulut pada pertemuan kulit wajah dan bibir. Inflamasi, rasa terbakar, kemerahan dan ulserasi atau celah merupakan karakteristik masalah kulit bibir dari angular cheilitis, yang juga dikenal sebagai cheilitis, angular stomatitis, atau Perleche. Keadaan ini tentunya akan menggangu aktivitas anak, ketika belajar maupun bermain.

Angka kecukupan gizi (AKG) yang tidak terpenuhi dapat menyebabkan terjadinya keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energy dan protein dalam makanan sehari- hari. Ukuran dan berat badan anak terutama sensitive akan masukan protein dan energy serta vitamin. Oleh Karena itu ukuran status gizi dengan indeks antropometri yang sering digunakan adalah berat badan/umur.

Pemeriksaan mulut dapat memberikan informasi yang cepat dan vital tentang keadaan gizi anak. Seorang dokter gigi dapat menemukan tanda klinis dari kekurangan gizi, yang mempunyai efek bukan hanya di mulut, tetapi juga kesehatan secara umum

41 dan fungsi mental. Oleh karena itu, dokter gigi harus mengenali manifestasi mulut dari kekurangan gizi. Manifestasinya salah satunya ialah angular cheilitis.

Terdapat perdebatan tentang penyebab angular cheilitis dan banyak factor yang diduga tentang patogenitas dari keadaan ini, termasuk kekurangan gizi dan infeksi. Kekurangan gizi dapat karena kekurangan vitamin B2, riboflavin, vitamin B6, piridoksin, zat besi, asam folat dan biotin. Kekurangan vitamin B kompleks lebih sering daripada hanya vitamin B individual.

Fakta ini menjadi factor yang menyebabkan keakuratan status gizi anak terhadap angukar cheilitis menjadi bias, karena tidak semua anak dengan gizi baik mengkonsumsi vitamin tersebut dengan dosis yang cukup, sehingga ditemukan anak dengan gizi baik tetpai menderita angular cheilitis. Selain itu, anak dengan gizi burukpun ada yang tidak mengalami angular cheilitis, karena mereka mengalami KEP atau kekurangan energy protein, tetapi mereka mengikuti program gizi baik dari puskesmas cendrawasih yaitu berupa pemberian vitamin B komples.

Angular chelitis yang disebabkan kekurangan gizi terjadi lesi bilateral yang biasanya meluas beberapa mm dari sudut mulut pada mukosa pipi dan kelateral pada kulit sirkum oral 1-10 mm. Dasar lesi terlihat lembab, adanya fisur yang tajam, vertical dari tepi vermillion bibir dan area kulit yang berdekatan. Pada sampel biasanya tidak terlihat tanda inflamasi pada tepi lesi. Secara klinis, epitel pada komusira terlihat mengerut dan sedikit luka. Pada waktu mengerut, menjadi lebih jelas terlihat, membentuk satu atau beberapa fisur yang dalam, berulserasi tetapi tidak cenderung

42 berdarah. Pada sampel, lesi terlihat tidak meibatkan permukaan mukosa pada komisura dalam mulut, tetapi berhenti pada mucocutaneus junction.

Dari 40 anak yang berumur 6-11 tahun di Puskesmas Cendrawasih, terlihat 70% mempunyai gizi buruk berdasarkan perhitungan antropometri berat badan/umur anak. Hal ini menunjukkan lebih dari setengah anak bimbingan di Puskesmas Cendrawasih masih kekurangan berat badan, yang berarti kekurangan gizi. Menurut data WHO bahwa kira- kira 150 juta anak dibahawa umur s tahun di Negara yangs edang berkembang adalah kekurangan gizi berdasarkan berat badan yang rendah dibandingkan umurnya. Dua pertiga anak- anak kekurangan gizi tedapat di Asia dan seperempat di Afrika.

Kekurangan gizi dipengaruhi oleh beberapa factor, seperrti sanitasi yang tidak memadai, hygiene personal yang buruk, pelayanan kesehatan yang tidak cukup, kapasitas pendapatan yang jelek, kebanyakan penduduk, sumber yang tidak cukup. Hal ini yang sedang terjadi di daerah pusekesmas Cendrawasih sehingga banyak anak yang mengalami gizi buruk. Namun, pada waktu penelitian berlangsung tidak seluruh anak datang di puskesmas. Tabel hasil penelitian menunjukkan anak yang mengalami gizi buruk ialah sebanyak 28 orang dan gizi baik sebanyak 12 orang. Keadaan tersebut menjadi kendala penelitian mengenai hubungan status gizi dan angular cheilitis.

43 Penelitian serupa yang dilakukan pada anak sekolah dasar Kecamatan Pacet Kabupaten Cinajur menunjukkan hasil yang berbeda. Penelitian tersebut menemukan, dari 85 anak yang menderita angular cheilitis, 47 anak didapatkan dengan status gizi kurang dan 38 anak dengan status gizi baik. Kesimpulan enelitian tersebut ialah adanya hubungan terjadinya angular cheilitis dan status gizi tetapi tidak menemukan adanya hubungan keparahan angular cheilitis dan status gizi.

Penelitian tersebut mengambil sampel secara acak berbeda dengan peneliti yang mengambil subjek dalam hal ini di anak binaan gizi puskesmas cendrawasih. Ketika penelitian berlangsung jumlah anak yang masih mengikuti program tersebut ialah hanya 40 anak dengan kondisi status gizi dan angular cheilitis yang berbeda.

Sebenarnya, pada anak dengan gizi baik yang masih mengalami angular cheilitis, angular cheilitisnya dalam proses penyembuhan. Hal tersebut dapat dilihat dari kondisi klinis angular cheilitis yang tidak parah, yaitu tidak terdapat lagi fisur yang dalam dan bercak darah. Namun, definisi operasional peneliti tidak membedakan tingkat keparahan angular cheilitis yang diderita anak, melainkan hanya melihat apakah anak menderita angular cheilitis atau tidak.

Hasilnya, ada anak dengan gizi baik yang menderita angular cheilis walaupun gizinya baik. Hal ini berbanding terbalik dengan teori yang ada, bahwa anak dengan status gizi buruk yang menderita angular cheilitis. Selain itu, terdapat juga anak dengan gizi buruk namun tidak menderita angular cheilitis. Untuk mengetahui apa penyebabnya, peneliti melakukan wawancara terpimpin kepada orangtua anak.

44 Anak dengan gizi buruk yang tidak menderita angular cheilitis ternyata tercukupi dalam hal vitamin dan susu karena mengikuti program binaan gizi di puskesmas cendrawasih secara rutin. Namun anak dengan keadaan ini hanya berjumlah 11 anak dari 40 anak. Walaupun saat ini tidak menderita angular cheilitis dengan gizi buruk, anak tersebut pernah menderita angular cheilitis beberapa minggu sebelum mengikuti program binaan gizi tersebut.

Gambar 5. Anak dengan status gizi baik yang menderita angular cheilitis di Puskesmas Cendrawasih

Keadaan tersebut menunjukkan bahwa anak dengan gizi buruk yang tidak mengalami angular cheilitis pada waktu penelitian dilaksanakan dikarenakan telah dilaksanakannya perbaikan gizi secara bertahap oleh pihak puskesmas, sehingga anak dengan gizi yang berangsur- angsur membaikpun terlihat ada yang memiliki angular cheilitis karena masih dalam tahap penyembuhan. Kita ketahui bersama juga bahwa angular cheilitis adalah lesi dengan etiologi kompleks, salah satunya gizi dengan

45 perhitungan yang kompleks, bukan hanya dari berat badan tapi dipengauhi terutama oleh vitamin B kompleks yang menjadi variabel antara status gizi dan angular cheilitis.

Penelitian lain yang mendukung pernyataan tersebut dilakukan di enam panti asuhan di Kota Madya Medan yang menunjukkan keterkaitan antara status gizi dengan angular cheilitis. Hasil penelitian tersebut menyatakan dari 107 anak panti asuhan yang mempunyai status gizi baik dijumpai 39,25% menderita angular cheilitis dan 60,75 % tidak menderita angular cheilits. Dari 56 anak dengan status gizi ringan dijumpai 51,79% menderita angular cheilitis dan 48,21% tidak menderita angular cheilitis.

Dari 30 anak dengan status gizi sedang dijumpai 63,33% menderita angular cheilitis dan 36,67% tidak menderita angular cheilitis. Sedangkan 7 anak dengan status gizi buruk dijumpai 57,14% menderita angular cheilitis dan 42,86% tidak menderita angular cheilitis. Data tersebut menunjukkan adanya variasi yang sama dengan peneliti, bahwa baik anak dengan gizi baik maupun gizi buruk ada yang menderita angular cheilitis dengn tingkat keparahan yang variatif.

46 BAB VII

PENUTUP

7.1 Kesimpulan

Dari hasil peneitian ini, dapat disimpulkan beberapa hal, yaitu:

1. Ada hubungan yang signifikan antara status gizi dengan angular cheilitis

2. Angular cheilitis dapat ditemukan pada anak dengan status gizi yang masih dalam proses perbaikan dikarenakan takaran beberapa nutrisi yang belum tepat pada anak

3. Vitamin B kompleks dan zat besi merupakan nutrisi yang sangat penting untuk mencegah angular cheilitis

7.2 Saran

Dari peneitian yang ditemukan, status gizi anak yang buruk akan mempengaruhi keadaan rongga mulut, untuk itu dokter gigi dapat berperan serta untuk mendiagnosa status gizi seorang anak dan memberikan penanganan yang tepat. Namun, informasi ini masih kurang diketahui oleh masyarakat. Penulis menyarankan perlu diadakan penyuluhan mengenai kesehatan gigi dan mulut khususnya mengenai hubungan status gizi dengan angular cheilitis pada masyarakat

47 Mengingat keterkaitan antara status gizi dengan angular cheilitis yang singnifikan, penulis juga menyarankan adanya kerjasama antara praktisi kesehatan di bidang gizi dengan para dokter gigi dalam pemberantasan gizi buruk dan gizi kurang di Kota Makassar dengan segera mengenali anak dengan status gizi buruk atau gizi kurang sehingga dapat diintervensi dengan segera

48 DAFTAR PUSTAKA

1. Chrismawaty E. Peran struktur mukosa rongga mulut dalam mekanisme blockade fisik terhadap iritan. MIKGI; 2006:V:244

2. Yusran A, Barunawaty. Dua metode pemeriksaan untuk mendiagnosis lesi pada mukosa mulut. Maj.Ked.Gigi. (Dent.J.); 2007:III:395

3. Parlak A, Koybasi S, Yavuz T, Yesildad N, Anul H, Aydign I. Prevalence of oral lesion in 13 to 16 years old student in Duze, Turkey Oral Dis;2006;12(6):553-8. 4. Devani, Barankin D. Angular cheilitis. Newyork: Can Fam Physician 2007;

53:1022-23

5. Atmarita S. Analisis situasi gizi dan kesehatan masyarakat. Jakarta:Gramedia;2006.p.23-7

6. Faiz R. Angular cheilitis-overview and symptoms of angular cheilitis.[Internet]Available at: http://www.articlesbase.com/skin-care-

articles/angular-cheilitis-overview-and-sypmtoms-of-angular-cheilitis-285629.html>.Accessed 28 December 2010

7. Dowl W.Effect of angular cheilitis on children and teenagers.[internet]. Available at URL:http://www.EzineArticles/childandac.html. Accesses 25 December 2010

8. Muray J.J, Nunn J. H.Steele J. The prevention of oral disease 4th ed. Newyork:oxford University Press; 2008,p.177

9. Hari S. Angular cheilitis:Review of etiology and clinical management. K.D.J.[Internet] Available at:http://www.trivandrum.co.uk. Accessed 27 December 2010.

49 10. Deritana N, Kombong A. Gizi untuk pertumbuhan dan perkembangan. J.WATCH

Jayawijaya. 2007;p.5-18

11. Tegeman CA, Davis JR. Nutritional Care 3th ed.St,Louis; Saunders Elsevier; 2010;p.251-9

12. Nasution N. Efek Suplementasi zinc dan besi pada pertumbuhan anak. J USU;2008:113 (75);p.82-96

13. Eschelemen MM. Introductory nutrition and nutrition therapy 3th ed. Lippincott: Raven Publisher; 2007;p. 212-13

14. Muhilal, Fasli J. Angka kecukupan gizi yang dianjurkan. Jakarta: Widya Karya pangan dan gizi VI. LIPI; 2006;p.62-9

15. Decker RT. Oral manifestation of nutrient deficiencies. ADA Journal 2006;65:355-361

16. Susan ZL. Angular cheilitis; Etiologi and diagnose. J. Practical Hyg;2009;6:31-6 17. Irelands R. Clinical textbook of dental hygiene and therapy. State

avenue:Blackwell munksgaard; 2006,p. 52;6-3

18. Lubis S. Hubungan status gizi dengan keilitis angularis pada anak umur 6-12 tahun di enam panti asuhan di Kota Madya Medan. Dentika J Dent; 2006; 11:117;180-1

19. Supariasa IND. Bakri B. Fajar I. Penilaian status gizi 1st ed;Jakarta: penerbit Buku Kedokteran EGC, 2006:36-63

20. Muray J.J, Nunn J.H, Steele J. G. The prevention of oral disease 4th ed.New York: Oxford University Press; 2007,p.180-1

50 21. Kartika K. Indeks gizi. J USU. [Internet]. Available

Dokumen terkait