• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.4. Pembahasan Hasil Penelitian

88

 

4. Nilai thitung pada variabel Loan to Deposit Ratio (X4) sebesar 0,844 dengan tingkat Signifikan sebesar 0,427 diatas 0,05 (sig > 5%), maka H0 diterima dan Ha ditolak yang berarti variabel Loan to Deposit Ratio (X4) secara parsial tidak berpengaruh terhadap kinerja profitabilitas Return On Asset (Y).

Berdasarkan dari uji t diatas menyimpulkan bahwa variabel Capital Adequancy Ratio (X1), Aktiva Produktif Yang Diklasifikasikan (X2), dan Loan to Deposit Ratio (X4) secara parsial tidak berpengaruh terhadap variabel kinerja profitabilitas Return On Asset (Y). Sedangkan, hasil uji t untuk variabel Net Operating Margin (X3) secara parsial berpengaruh terhadap kinerja profitabilitas Return On Asset (Y).

4.4. Pembahasan Hasil Penelitian

Berdasarkan dari perhitungan dan pengolahan data, dapat diketahui bahwa rasio keuangan Capital Adequancy Ratio (X1), Aktiva Produktif Yang Diklasifikasikan (X2), Net Operating Margin (X3), dan Loan to Deposit Ratio (X4) berpengaruh terhadap Kinerja Pofitabilitas Return On Asset (Y) pada Bank Umum Syariah di Indonesia periode 2005 – 2008. Hasil analisa tersebut didasarkan pada hasil pengujian antara Capital Adequancy Ratio, Aktiva Produktif Yang Diklasifikasikan, Net Operating Margin dan Loan Deposit Ratio terhadap Kinerja Profitabilitas Return On Asset menggunakan uji F yang menghasilkan signifikan sebesar 0,000 kurang dari 5% (sig < 5%). Hasil penelitian ini sesuai dengan pernyataan

 

89

 

Merkusiwati (2007) dalam penelitiannya yang menyimpulkan bahwa rasio CAMEL mampu mempengaruhi Return On Asset pada perusahaan perbankan dengan koefisien determinasi sebesar 93%, sedangkan sisanya sebesar 7% dipengaruhi faktor-faktor lain yaitu oleh variabel lain yang tidak diteliti.

Dalam analisa ini diketahui pula bahwa rasio Capital yang dihitung dengan Capital Adequancy Ratio (CAR) yang merupakan rasio keuangan untuk mengukur kecukupan modal bank. Koefisien regresi variabel Capital Adequancy Ratio (CAR) bertanda negatif mengindikasikan bahwa turunnya Capital Adequancy Ratio (CAR) akan meningkatkan Return On Asset (ROA), hanya saja pengaruh tersebut tidak sesuai dengan teori yang seharusnya berbanding positif (lurus). Tingkat signifikan untuk uji t rasio ini ditunjukkan dengan tingkat signifikan yang dihasilkan lebih dari 5% yang artinya Capital Adequancy Ratio (CAR) tidak berpengaruh signifikan terhadap Return On Asset (ROA) pada Bank Umum Syariah di Indonesia periode 2005 – 2008. Pengaruh negatif (berlawanan) atas kecukupan modal dengan menggunakan alat ukur Capital Adequancy Ratio (CAR) terhadap kinerja profitabilitas Return On Asset (ROA) yang tidak signifikan ini dapat disebabkan oleh tidak adanya pengaruh tiap menurunnya kecukupan modal (CAR) yang dimiliki dengan tiap kenaikan kinerja profitabilitas Return On Asset (ROA) pada Bank Umum Syariah periode 2005-2008. Apabila pada saat kecukupan modal (CAR) menurun tidak adanya pengaruh ketika diikuti kinerja profitabilitas (ROA)

 

90

 

meningkat. Hal ini seperti yang ditunjukkan pada Bank Muamalat tahun 2007 yang mengalami penurunan CAR sebesar 3,77% dibanding tahun sebelumnya, yang diikuti meningkatnya kinerja profitabilitas ROA sebesar 0,17%. Menurunnya kecukupan modal dapat disebabkan oleh lemahnya kebersaingan Bank Umum Syariah dalam memperoleh nasabah bila dibandingkan dengan bank konvensional yang lebih lama berkecimpung di dunia perbankan dan lebih banyak mendapatkan nasabah, yang akhirnya mengakibatkan sedikitnya ketertarikan investor dalam memberikan modalnya pada Bank Umum Syariah. Akan tetapi, kinerja profitabilitas Return On Asset (ROA) yang meningkat disebabkan pelayanan yang diberikan Bank Umum Syariah dalam operasionalnya pada nasabah memberikan kepuasan yang menjanjikan untuk bekerjasama dan bukan berasal dari pengaruh kecukupan permodalan Bank. Pengaruh yang tidak signifikan ini disebabkan oleh rata-rata rasio CAR Bank Umum Syariah pada tahun 2006 sebesar 11,82% yang seharusnya menurut BI rasio CAR dianggap sehat apabila CAR  12%, artinya rata-rata pada tahun 2006 Bank Umum Syariah mengalami kondisi yang tidak sehat. Oleh sebab itu perlu adanya peningkatan kecukupan modal untuk menunjang kegiatan operasional perbankan Bank Umum Syariah. Hasil penelitian ini mementahkan pernyataan Yuliani (2007) yang menyatakan bahwa dengan modal yang cukup maka bank dapat melakukan ekspansi usaha lebih aman. Dimana kecukupan modal dalam usaha bank menghimpun dana dari masyarakat dan kemudian perolehan dana tersebut untuk membiayai

 

91

 

operasinya akan menentukan bank menghasilkan keuntungan (profit) tidak terbukti pada Bank Umum Syariah tahun 2005-2008.

Dalam analisa ini diketahui pula bahwa rasio Asset Quality yang dihitung dengan Aktiva Produktif Yang Diklasifikasikan (APYD) yang merupakan rasio keuangan untuk mengukur kualitas aktiva produktif bank. Penilaian ini dilakukan untuk melihat apakah aktiva produktif digunakan untuk menghasilkan laba secara maksimal. Koefisien regresi variabel Aktiva Produktif Yang Diklasifikasikan (APYD) bertanda negatif mengindikasikan bahwa turunnya Aktiva Produktif Yang Diklasifikasikan (APYD) akan meningkatkan Return On Asset (ROA), hanya saja hal ini tidak sesuai dengan maknanya yang seharusnya memberikan pengaruh positif (lurus). Dengan uji t didapatkan hasil tidak signifikan yaitu ditunjukkan dengan tingkat signifikan yang dihasilkan lebih dari 5%. Sehingga Aktiva Produktif Yang Diklasifikasikan (APYD) tidak berpengaruh signifikan terhadap Return On Asset (ROA) pada Bank Mega Syariah di Indonesia periode 2005 – 2008. Pengaruh negatif (berlawanan) yang terjadi pada Bank Umum Syariah ini dapat disebabkan oleh ketika kualitas aset itu menurun akibat banyaknya yang melakukan pinjaman terhadap bank secara otomatis akan menambah pendapatan yang diterima dari penyaluran dana tersebut dan akhirnya kinerja profitabilitas bank akan meningkat. Buktinya seperti yang ditunjukkan pada data Bank Muamalat tahun 2007 yang mengalami penurunan APYD sebesar 2,38% dibanding tahun sebelumnya, yang diikuti meningkatnya kinerja profitabilitas ROA

 

92

 

sebesar 0,17%. Serta, apabila terjadi sebaliknya yakni kualitas aset meningkat dan kinerja profitabilitas Return On Asset (ROA) menurun, hal itu dapat disebabkan kegiatan operasional Bank Umum Syariah yang mulai melemah dengan otomatis kinerja yang menurun membuat Bank Umum Syariah melakukan pinjaman kepada Bank lain maupun Bank Indonesia untuk memperkuat kualitas aset agar operasional perusahaan tetap berjalan. Hal tersebut ditunjukkan pada data Bank Muamalat tahun 2005 yang mengalami peningkatan APYD sebesar 2,5% dibanding tahun sebelumnya, yang diikuti meningkatnya kinerja profitabilitas ROA sebesar 0,17%. Akan tetapi pengaruh ini tidak berpengaruh secara signifikan dikarenakan masih adanya Bank Umum Syariah di Indonesia yang mengalami kualitas aset APYD hanya sebesar 0,43% dan 0,77% milik Bank Mega Syariah pada tahun 2004 dan 2007 yang seharusnya menurut standar BI bahwa rasio APYD ≥ 0,99%. Oleh sebab itu perlu adanya peningkatan kualitas aset terutama pada Bank Mega Syariah untuk menunjang kegiatan usaha perbankannya agar tidak terjadi hal yang sama pada tahun 2004 dan 2007 serta, alangkah baiknya Bank Umum Syariah lebih gencar memberikan penyuluhan pemahaman kepada masyarakat mengenai perbankan syariah sebagai wujud menarik konsumen (nasabah) pada Bank Umum Syariah. Hal ini mengindikasikan bahwa secara parsial Aktiva Produktif Yang Diklasifikasikan (APYD) tidak mampu berpengaruh secara efisien terhadap Return On Asset (ROA). Hasil penelitian ini mementahkan penjelasan Kusumo (2008) mengenai rasio

 

93

 

APYD dapat digunakan untuk melihat apakah aktiva produktif digunakan untuk menghasilkan laba secara maksimal.

Dalam analisa ini diketahui pula bahwa rasio Earning yang dihitung dengan Net Operating Margin (NOM) yang merupakan rasio keuangan untuk mengetahui kemampuan aktiva produktif bank syariah dalam menghasilkan laba bank. Koefisien regresi variabel Net Operating Margin (NOM) bertanda positif mengindikasikan bahwa Net Operating Margin (NOM) akan meningkatkan Return On Asset (ROA), dan pengaruh tersebut signifikan yaitu ditunjukkan dengan tingkat signifikan yang dihasilkan kurang dari 5%. Sehingga Net Operating Margin (NOM) berpengaruh dan signifikan terhadap Return On Asset (ROA) pada Bank Mega Syariah di Indonesia periode 2005 – 2008. Hasil uji ini dibuktikan dengan data yang dapat dilihat tabel 4.3 Bank Muamalat untuk tahun 2005 dan 2006, dimana Net Operating Margin (NOM) mengalami penurunan sebesar 0,31%, serta yang terjadi pada tabel 4.5 menunjukkan bank Muamalat mengalami penurunan pula pada Return On Asset (ROA) sebesar 0,43%. Hal ini mengindikasikan bahwa secara parsial Net Operating Margin (NOM) mampu berpengaruh secara efisien terhadap Return On Asset (ROA) telah terbukti. Hasil penelitian ini juga membuktikan pendapat Budi (2009) bahwa NOM digunakan untuk dapat mengetahui kemampuan aktiva produktif bank syariah dalam menghasilkan laba. Dimana peningkatan rasio NOM ini memberikan

 

94

 

indikasi semakin tingginya kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan (profitabilitas) dalam usaha operasi banknya.

Dalam analisa ini diketahui pula bahwa rasio Liquidity yang dihitung dengan Loan Deposit Ratio (LDR) yang merupakan rasio keuangan untuk menyatakan seberapa jauh kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Koefisien regresi variabel Loan Deposit Ratio (LDR) bertanda positif mengindikasikan bahwa Loan Deposit Ratio (LDR) akan meningkatkan Return On Asset (ROA), hanya saja pengaruh tersebut tidak signifikan yaitu ditunjukkan dengan tingkat signifikan yang dihasilkan lebih dari 5%. Sehingga Loan Deposit Ratio (LDR) tidak berpengaruh signifikan terhadap Return On Asset (ROA) pada Bank Umum Syariah di Indonesia periode 2005 – 2008. Tidak adanya pengaruh LDR terhadap ROA dapat dikarenakan keadaan LDR Bank Umum Syariah memiliki LDR yang belum sesuai dengan ketentuan standar BI. Bahwa LDR sehat suatu Bank jika rasio ini berkisar antara 85%-110%, sedangkan LDR tahunan pada Bank Muamalat tahun 2006 hanya 83,60%, Bank Syariah Mandiri tahun 2005 sebesar 83,09%, dan Bank Mega Syariah pada tahun 2005 serta tahun 2008 masing-masing hanya sebesar 27,98% dan 79,58%. Oleh sebab itu, sudah seharusnya Bank Umum Syariah dapat memberikan kinerja yang baik terutama dalam hal likuiditas. Hasil penelitian ini didukung dengan penelitian oleh Yuliani (2007) yang menyimpulkan bahwa variabel

 

95

 

rasio likuiditas tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja profitabilitas return on asset.

Rasio keuangan Net Operating Margin (NOM) untuk menghitung rentabilitas (Earning) merupakan rasio yang paling dominan pengaruhnya terhadap Return On Asset (ROA) pada Bank Umum Syariah di Indonesia, karena Net Operating Margin (NOM) memiliki nilai r2 untuk variabel Net Operating Margin sebesar (0,854)2 sebesar 0,341056 yang menunjukkan bahwa kontribusi parsial variabel Net Operating Margin (NOM) terhadap Return On Asset (ROA) adalah sebesar 34,1056 dan sisanya dijelaskan oleh variabel/faktor lain selain variabel Capital Adequancy Ratio (CAR), Aktiva Produktif Yang Diklasifikasikan (APYD), dan Loan Deposit Ratio (LDR), masih banyak faktor-faktor lain yang juga mempengaruhi Return On Asset pada Bank Umum Syariah di Indonesia, yaitu sebesar 65,8944%.

Dokumen terkait