HASIL DAN PEMBAHASAN
5.5 Pembahasan Hasil Penelitian
5.5.1 Perbedaan antara pengaruh likuiditas (current ratio) terhadap kebijakan dividen pada perusahaan manufakur di Indonesia dan Malaysia
Berdasarkan hasil pengujian pada tabel 5.10 dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan antara keduanya, likuiditas (current ratio) tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan dividen baik data perusahaan Maufaktur di Indonesia dan Malaysia. Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh Ritha dan Koestiyanto (2013), likuiditas menentukan besarnya ketersediaan dana yang dimiliki oleh emiten. Emiten yang likuid cenderung memiliki arus kas yang lebih baik sehingga mampu mendukung ketersediaan dana yang dimiliki oleh emiten. Oleh karena itu, semakin tinggi likuiditas maka kemampuan emiten untuk mendukung kebijakan dividen juga lebih tinggi.
Hasil olah data dari penelitian ini menyatakan bahwa likuiditas tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan dividen baik di Indonesia mapun Malaysia pada perusahaan sub sektor Manufaktur, likuiditas perusahaan menunjukkan kemampuan perusahaan mendanai operasional perusahaan dan melunasi kewajiban jangka pendeknya. Tinggi rendanya likuiditas perusahaan tidak berarti mempengaruhi besar kecilnya pembayaran dividen. Untuk itu, perusahaan yang memiliki likuiditas yang baik tidak berarti pembayaran dividen lebih baik pula.
Pengaruh tidak signifikan antara likuiditas dan kebijakan dividen pada penelitian ini diduga karena likuiditas yang tinggi oleh perusahaan tidak digunakan untuk membayar dividen kas, melainkan dialokasikan untuk pembelian aset atau digunakan untuk perluasan usaha. Selain itu hutang lancar yang tinggi akan mengakibatkan aktivitas operasional perusahaan banyak digunakan untuk membayar hutang kepada pihak ketiga akibatnya mengurangi kemampuan perushaan memperoleh laba bersih yang optimal yang berdampak pada pembayaran dividen. Likuiditas memang salah satu faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen namun bukan berarti kelancaran pembayaran hutang bisa memberi kesimpulan bahwa perusahaan akan membayar dividen.
5.5.2 Perbedaan antara pengaruh leverage (DER) terhadap kebijakan dividen pada perusahaan manufakur di Indonesia dan Malaysia
Berdasarkan hasil pengujian pada tabel 5.10 dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara pengaruh leverage (DER) terhadap kebijakan dividen di perusahaan Manufaktur di Indonesia dan Malaysia. Leverage (DER) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan dividen untuk data perusahaan
Maufaktur di Malaysia. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang di lakukan oleh Sumiadji (2011) dan Awad (2015), alasan logis untuk hal ini yaitu apabila perusahaan membayar dividen maka akan mengakibatkan laba ditahan menurun sehingga perusahaan memerlukan dana dari hutang, karena dana internal tidak mencukupi untuk membiayai pertumbuhan perusahaan. Hal tersebut dikarenakan untuk mempertahankan para investor untuk berinvesatasi dan memeberikan sinyal yang baik bagi pasar. Selain itu adanya komitmen perusahaan untuk membuat tinggi-rendahnya tingkat hutang tidak berpengaruh terhadap pembayaran dividen. Dengan kata lain, perusahaan akan berusaha untuk tetap stabil dalam membayar dividen walaupun tingkat hutangnya meningkat.
Kemungkinan lain yaitu adanya pola pikir bahwa dividen yang stabil akan mampu menarik investor untuk menanamkan modalnya membuat perusahaan lebih memilih untuk menjalankan komitmennya yaitu teratur dalam membayarkan dividen.
Hasil olah data pada perusahaan manufaktur di Indonesia menyatakan bahwa leverage tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan dividen baik di Indonesia maupun Malaysia pada perusahaan sub sektor Manufaktur, hubungan logis yang dapat dikemukakan bahwa perusahaan yang memiliki struktur permodalan utang yang tinggi akan memprioritaskan melunasi kewajiban terlebih dahulu sebelum membagikan dividen. Debt to Equity Ratio dapat dikatakan mempunyai pengaruh yang tidak signifikan terhadap kebijakan dividen karena perusahaan tidak bisa mengelola ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan sehingga hutang yang dimiliki oleh perusahaan semakin tinggi, maka
laba bersih yang dihasilkan oleh perusahaan semakin kecil, hal ini dapat menyebabkan dividen yang dibagikan oleh perusahaan rendah.
5.5.3 Perbedaan antara pengaruh aktivitas (TATO) terhadap kebijakan dividen pada perusahaan manufakur di Indonesia dan Malaysia
Berdasarkan hasil pengujian pada tabel 5.10 dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan antara keduanya, aktivitas (TATO) tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan dividen baik data perusahaan Manufaktur di Indonesia dan Malaysia. Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh Dzulkirom, & Topowijono (2015) serta Rahmawati, Saerang,
& Rate (2014), tingginya aktivitas perusahaan yang pencapaian keuntungan perusahaan merupakan gambaran kemakmuran perusahaan sehingga dimungkinkan perusahaan akan membagikan dividen. Rasio aktivitas yang tinggi dapat memberikan signal kepada calon investor bahwa perusahaan dalam kondisi baik, serta kemungkinan perusahaan akan memberikan dividen kepada para pemegang saham.
Hasil olah data dari penelitian ini menyatakan bahwa aktivitas tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan dividen baik di Indonesia mapun Malaysia pada perusahaan sub sektor Manufaktur, hubungan logis yang dapat dikemukakan bahwa rendahnya rasio perputaran asset yang dimiliki perusahaan di Malaysia tidak dapat menghasilkan laba bersih yang maksimal untuk perusahaan sehingga perusahaan tidak mampu dalam memberikan dividen.
Sehingga setiap kenaikan rasio ini tidak selalu berdampak positif terhadap tingkat pembayaran dividen. Tinggi nya nilai rasio akrivitas di Indonesia juga tidak dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap kebijakan dividen hal ini di
karenakan ketika rasio Total Asset Turn Over (TATO) yang digunakan untuk mengukur perputaran aktiva mempunyai nilai yang besar sedangkan perusahaan juga menginginkan nilai yang cukup besar sebagai laba ditahan untuk diinvestasikan kembali maka besarnya dividen yang akan dibagikan kepada investor akan berkurang. Dengan kata lain, semakin tinggi Total Asset Turn Over (TATO) maka semakin rendah dividen yang dibayarkan.
5.5.4 Perbedaan anatara pengaruh profitabilitas (ROA) terhadap kebijakan dividen pada perusahaan manufaktur di Indonesia dan Malaysia
Berdasarkan hasil pengujian pada tabel 5.10 dapat di simpulkan bahwa terdapat perbedaan antara perpengaruh profitabilitas (ROA) terhadap kebijakan dividen pada perusahaan manufaktur di Indonesia dan Malaysia. Profitabilitas (ROA) tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan dividen pada perusahaan Maufaktur di Indonesia, hal ini di karenakan apabila perusahaan memiliki laba, perusahaan akan mengokasikan laba tersebut pada laba ditahan untuk kegiatan operasi perusahaan atau untuk membiayai investasi sehingga akan mengurangi pembagian dividen. Selain itu pada hasil deskriptif data di Indonesia juga menunjukkan bahwa nilai rata- rata profitabilitas perusahaan rendah dari tiga tahun pengamatan penelitian lebih dari 50 persen perusahaan di Indonesia mengalami kerugian sehingga banyak perusahaan yang tidak dapat membagikan dividen kepada para investor sedangkan perusahaan yang memiliki laba positif memilih untuk tidak membagikan dividennya kepada para investor dan menggunakan dana tersebut untuk kegiatan operasi perusahaan.
Hasil yang berbeda di dapati pada pengolaan data pada perusahaan
terhadap kebijakan dividen. Pengaruh tersebut menunjukkan bahwa besar kecilnya laba perusahaan akan mempengaruhi besar kecilnya pembagian dividen. Apabila laba perusahaan besar berarti dividen yang dibagikan akan semakin besar pula, demikian pula sebaliknya. Perusahaan yang memiliki stabilitas keuntungan dapat menetapkan tingkat pembayaran dividen dengan yakin dan mensinyalkan kualitas atas keuntungan mereka. Pembayaran dividen dapat menunjukkan signal bahwa perusahaan memiliki prospek yang baik. Jika perusahaan mengumumkan peningkatan dividen, maka investor akan menganggap kondisi perusahaan saat ini dan akan datang relatif baik dan sebaliknya. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Suharil , Oktarina (2005) dan singnalling theory yang menyatakan bahwa Perusahaan yang memiliki stabilitas keuntungan dapat menetapkan tingkat pembayaran dividen dengan yakin dan mensinyalkan kualitas atas keuntungan mereka. Oleh karena itu, semakin tinggi rasio profitabilitas maka semakin besar dividen yang dibagikan kepada investor.
5.5.5 Perbedaan antara pengaruh kebijakan dividen terhadap harga saham pada perusahaan manufakur di Indonesia dan Malaysia
Berdasarkan hasil pengujian pada tabel 5.10 dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara keduanya, kebijakan dividen memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham di Malaysia. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hunjra et al. (2014) serta Ullah, Saqib, & Usman (2015), pemberian dividen kepada pemegang saham akan mencerminkan kinerja perusahaan dalam kondisi baik, kondisi seperti ini yang diminati investor dan calon investor untuk membeli saham perusahaan tersebut. Selain itu keputusan dalam memberikan dividen memberikan signal yang baik kepada para calon
investor sehingga mereka percaya akan benefit yang besar jika menanamkan modalnya pada perusahaan.
Hasil olah data dari penelitian di Indonesia menyatakan bahwa kebijakan dividen tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham, alasan logis untuk menjelaskan yaitu para investor dalam membeli saham perusahaan tidak hanya memperhatikan kebijaka dividen pada suatu periode tertentu saja, tetapi para investor, khususnya para investor perorangan lebih memperhatikan catatan historis jumlah pembagian dividen suatu perusahaan pada periode-periode sebelumnya serta prospek kejelasan keberlangsungan perusahaan tersebut dengan melihat trend yang ada saaat ini, jadi harga saham perusahaan tidak hanya dipengaruhi oleh dividen pada suatu periode tertentu saja, namun juga dipengaruhi oleh catatan historis pembagian dividen pada periode-periode sebelumnya. Penelitian ini tidak mendukung teori signalling, dividen tidak mengandung signal dikarenakan investor merasa sama saja saat menerima dividen atau tidak, karena pada akhirnya investor akan melakukan reinvestasi atau menginvestasikan dananya kembali dengan menggunakan dividen yang diterima.
Dengan kata lain tinggi rendahnya dividen tidak menjadi pertimbangan para investor apakah akan menanam modal dalam bentuk saham pada perusahaan.
5.5.6 Perbedaan antara pengaruh likuiditas (current ratio) terhadap harga saham pada perusahaan manufakur di Indonesia dan Malaysia
Berdasarkan hasil pengujian pada tabel 5.10 dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara pengaruh likuiditas (current ratio) terhadap kebijakan dividen di perusahaan manufaktur Indonesia dan Malaysia. Pada perusahaan manufaktur di Indonesia. likuiditas (current ratio) memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap harga saham, alasan logis untuk hasil ini yaitu informasi peningkatan Current Ratio yang baik dapat menjadi sinyal positif bagi investor untuk mengambil keputusan dalam pembelian saham dipasar modal.
Meningkatnya current ratio suatu perusahaan mendorong peningkatan harga saham perusahaan tersebut. Hal ini sejalan dengan penelitian Anisma (2012) dan Ulupui (2007) yang menyatakan bahwa Current ratio yang semakin tinggi menunjukan bahwa perusahaan dalam memenuhi utang jangka pendeknya semakin tinggi yang berarti kondisi perusahaan baik. Kondisi perusahaan yang baik tentunya menarik investor untuk menanamkan investasinya pada perusahaan tersebut, sehingga dengan mekanisme pasar harga saham akan meningkat.
Hasil olah data dari penelitian perusahaan Manufaktur di Malaysia menyatakan bahwa likuiditas tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham, hal ini dapat disebabkan bahwa likuiditas yang tinggi belum tentu baik karena pada kondisi tertentu hal tersebut menunjukkan bahwa banyaknya dana perusahaan yang menganggur atau tidak dimanfaatkan dengan baik oleh perusahaan yang pada akhirnya tidak dapat membantu dalam meningkatkan laba perusahaan sehingga performa perusahaan tidak sesuai dengan perubahan harga saham. Selai itu faktor keuangan berupa informasi yang terkandung dalam laporan keuangan, yaitu likuiditas kurang begitu berperan dibandingkan dengan faktor lainnya seperti faktor non keuanga berupa pergerakan tren saham, yang biasanya digunakan oleh investor untuk pengambilan keputusan membeli ataupun menjual saham.
5.5.7 Perbedaan antara pengaruh leverage (DER) terhadap harga saham pada perusahaan manufakur di Indonesia dan Malaysia
Berdasarkan hasil pengujian pada tabel 5.10 dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan antara keduanya, leverage (DER) tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham baik data perusahaan Manufaktur di Indonesia dan Malaysia. Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh Kohansal et al. (2013) serta Ullah & Shah (2014), semakin efektif pihak manajemen perusahaan mengelola leverage, maka semakin baik reputasi perusahaan dimata investor sehingga para investor akan menanamkan modal nya yang akan menaikkan harga saham.
Hasil olah data dari penelitian ini menyatakan bahwa leverage tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham baik di Indonesia maupun Malaysia pada perusahaan sub sektor Manufaktur. Hubungan logis yang dapat dikemukakan bahwa Semakin besar penggunaan utang dibandingkan dengan modal sendiri mengakibakan penurunan nilai perusahaan. Investor cenderung akan menghindari berinvestasi pada perusahaan dengan DER yang tinggi karena semakin tinggi penggunaan utang maka dividen yang seharusnya dibagikan pada pemegang saham akan berkurang karena laba yang diperoleh digunakan untuk membayar utang perusahaan, hal ini menyebabkan investor menjadi tidak tertarik untuk berinvestasi pada saham tersebut, sehingga permintaan saham akan menurun dan harga saham akan menurun.
Perusahaan yang memiliki struktur permodalan berasal dari hutang yang tinggi akan berdampak kepada calon investor, dimana hal ini akan menjadi signal
perusahaan dengan tingkat leverage yang rendah disebabkan calon investor dan investor akan memilih perusahaan dengan tingkat risiko yang rendah.
5.5.8 Perbedaan antara pengaruh aktivitas (TATO) terhadap harga saham pada perusahaan manufakur di Indonesia dan Malaysia
Berdasarkan hasil pengujian pada tabel 5.10 dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara keduanya, aktivitas (TATO) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham untuk data perusahaan Maufaktur di Malaysia.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang di lakukan oleh Martani, Mulyono, & Khairurizka (2009) serta Khotimah & Murtaqi (2015), alasan logis yaitu tingginya tingkat rasio aktivitas perusahaan mencerminkan bahwa perusahaan dalam kondisi baik, hal tersebut memberikan signal kepada calon investor bahwa perusahaan dalam kondisi yang baik sehingga para investor tertarik untuk menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut dan berdamapk terhadap harga saham.
Hasil olah data dari penelitian di Indonesia menyatakan bahwa aktivitas tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham, hubungan logis yang dapat di simpulkan bahwa nilai aset yang digunakan perusahaan untuk menunjang kegiatan penjualan tidak stabil. Rasio aktivitas yang tinggi bisa disebabkan karena aset yang dimiliki perusahaan dalam jangka lama, semakin tua, dan mengalami penyusutan. Oleh sebab itu, meskipun nilai rasio aktivitas naik maka harga saham turun.
5.5.9 Perbedaan antara pengaruh profitabilitas (ROA) terhadap harga saham pada perusahaan manufakur di Indonesia dan Malaysia
Berdasarkan hasil pengujian pada tabel 5.10 dapat di simpulkan bahwa terdapat perbedaan antara keduanya, profitabilitas (ROA) memiliki pengaruh positif signifikan terhadap harga saham untuk data di Indonesia, hasil dari penelitian tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh oleh Zuliarni (2012) yang menyatakan bahwa semakin besar nilai profitabilitas perusahaan maka semakin besar pula minat investor dalam menanamkan modal di perusahaan tersebut sehingga harga saham perusahaan tersebut akan ikut naik.
Hasil ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi ROA, maka semakin baik keadaan perusahaan dan menunjukkan bahwa perusahaan minig and mining service semakin efektif dalam memanfaatkan asset untuk menghasilkan laba
bersih setelah pajak. Semakin tingginya ROA, menyebabkan kinerja perusahaan semakin efektif. Hal ini selanjutnya akan meningkatkan daya tarik perusahaan kepada investor. Peningkatan daya tarik perusahaan menjadikan perusahaan tersebut makin diminati investor, karena tingkat kembalian akan semakin besar.
Hal ini juga akan berdampak bahwa harga saham dari tersebut di pasar modal juga akan semakin meningkat, ini membuktikan bahwa ROA secara nyata berpengaruh positif terhadap harga saham di perusahaan.
Hasil olah data dari penelitian di Malaysia menyatakan bahwa profitabilitas tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham, hubungan logis yang dapat disimpulkan bahwa faktor keuangan berupa informasi yang terkandung dalam laporan keuangan, yaitu profitabilitas kurang begitu
yang terjadi di luar perusahaan seperti krisis ekonomi di beberapa negara, banyaknya perusahaan sub sektor manufaktur yang mengalami kerugian.
Buruknya ekonomi dibeberapa negara menyebabkan investor ragu dalam menanamkan investasi di pasar modal, sehingga berpengaruh pada mekanisme pasar pada jual beli saham.
5.5.10 Perbedaan antara pengaruh kinerja keuangan yang terdiri dari likuiditas (current ratio), leverage (DER), aktivitas (TATO) dan profitabilitas (ROA) terhadap harga saham dengan kebijakan deviden sebagai variabel intervening pada perusahaan manufaktur di Indonesia dan Malaysia
Berdasarkan hasil pengujian pada tabel 5.11 dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara keduanya, Hasil uji mediasi menunjukkan bahwa kebijakan dividen tidak dapat memediasi hubungan antara rasio likuiditas, leverage, aktivitas dan profitabilitas terhadap harga saham pada data di Indonesia.
Meskipun likuiditas dan profitabilitas memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham akan tetapi likuiditas, leverage, aktivitas dan profitabilitas memiliki pengaruh yang lemah atau tidak signifikan terhadap kebijakan dividen sehingga dapat di simpulkan bahwa kebijakan dividen tidak dapat memediasi kinerja keuangan terhadap harga saham.
Hasil dari uji mediasi untuk data di Malaysia menunjukkan bahwa kebijakan dividen tidak dapat memediasi hubungan antara rasio likuiditas dan aktivitas terhadap harga saham meskipun rasio aktivitas memiliki pengaruh signifikan terhadap harga saham akan tetapi rasio likuiditas dan aktivitas memiliki pengaruh yang lemah terhadap kebijakan dividen sehingga dapat disimpulkan bahwa kebijakan dividen tidak dapat memediasi kinerja keuangan terhadap harga saham.
Sementara itu, kebijakan dividen dapat memediasi hubungan antara rasio,
leverage dan profitabilitas terhadap harga saham. Hal ini berarti dengan
pengelolaan rasio leverage dan tingginya nilai profitabilitas dapat meningkatkan profit sehingga dividen dapat di berikan kepada para investor dengan demikian hal ini dapat memberikan signal bagi calon investor yang akan berdampak pada naiknya harga saham perusahaan.