• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.3. Pembahasan Hasil Penelitian

Dari pengolahan data ini maka dapat disimpulkan bahwa secara parsial variabel current ratio (CR) yaitu tidak berpengaruh signifikan terhadap financial distress (FD) terbukti dengan nilai sig variabel CR adalah 0,951 > 0,05. Hal ini berarti H1 ditolak. Hasil ini konsisten dengan penelitian Nurcahyono (2014) yang mengatakan bahwa secara parsial CR tidak berpengaruh terhadap financial distress. Demikian juga hasil penelitian yang dilakukan oleh Amir Saleh (2013) mengatakan hal yang sama yaitu current ratio tidak dapat memprediksi financial distress. Penggunaan Current Ratio dinilai belum memberikan efek pemicu

financial distress. Hal ini mengimplikasikan bahwa Current Ratio hanya sebagai informasi tambahan dari laporan keuangan yang cukup kompleks (karena neraca yang terdiri dari aktiva lancar berupa kas yang berasal dari kegiatan operasi, investasi, dan pendanaan pada laporan arus kas dari kegiatan operasi yang sifatnya hampir sama dengan laporan laba rugi, jadi keduanya memberikan rincian mengenai kegiatan operasional yang dijalankan perusahaan). Perusahaan berbasis manufaktur perlu memastikan keberadaan kas agar tidak terjadi kelebihan atau kekurangan dana tunai. Terlebih lagi untuk tujuan transaksi guna melaksanakan operasi sehari-hari dan operasi yang bersifat musiman guna memenuhi kebutuhan pembelian bahan baku dan persediaaan. Baiknya nilai rasio ini tidaklah suatu penentu yang mutlak akan terjadinya financial distress karena ada faktor-faktor lain yang bisa lebih mempengaruhi contohnya bagaimana perusahaan mengelola harta lancar lebih efisien sehingga menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi.

Variabel quick ratio (QR) tidak berpengaruh signifikan terhadap financial distress (FD). Terbukti dari hasil pengolahan data statistik yaitu variabel QR adalah 0,200 > 0.05, Hal ini berarti H2 ditolak.Sama dengan current ratio, quick ratio juga ratio yang menggambarkan kemampuan kas bersih perusahaan setelah dikurangi persediaan dalam membayar hutang jangka pendek. Rasio ini ternyata tidak berpengaruh terhadap financial distress kemungkinan dikarenakan karakteristik dari industri manufaktur itu sendiri, dimana perusahaan lebih memungkinkan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan mengandalkan aktiva lancar, dimana perusahaan manufaktur sangat menyadari bahwa industri ini sangat mengandalkan penggunaan aktiva lancar guna

melaksanakan kegiatan operasi perusahaan. Likuiditas yang dihitung dengan current rasio dan quick rasio tidak berpengaruh terhadap kondisi financial distress. Hal ini disebabkan karena perusahaan memiliki hutang jangka panjang yang banyak sehingga ketika perusahaan memiliki hutang jangka pendek tidak terlalu berpengaruh.

Variabel working capital to total asset (WCTA) berpengaruh signifikan terhadap financial distress (FD). Terbukti dari nilai sig variabel WCTA adalah 0,009 < 0,05. Hal ini berarti H3 diterima. Hasil penelitian ini sama dengan hasil penelitian Feri Dwi Ardiyanto (2011) yang mengatakan bahwa working capital to total asset (WCTA) berpengaruh terhadap financial distress. Hasil penelitiannya terdapat pengaruh yang negatif antara kedua variabel ini, apabila WCTA tinggi maka kemungkinan perusahaan mengalami financial distress semakin kecil.

Adanya modal kerja yang cukup memungkinkan perusahaan beroperasi secara ekonomis dan tidak mengalami kesulitan dalam menghadapi bahaya yang timbul karena krisis atau kesulitan keuangan. Demikian juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Dian Hendro Cahyono (2013) yang mengatakan bahwa working capital berpengaruh terhadap financial distress. Berbeda dengan penelitian ini bahwa WCTA berpengaruh positif signifikan terhadap kondisi financial distress.

Hal ini disebabkan sebagian besar aset perusahaan berasal dari hutang.

Variabel total debt to asset (TDA) berpengaruh signifikan terhadap financial distress (FD). Terbukti dari hasil sig variabel TDA 0,007 < 0,05. Hal ini berarti H4 diterima. Hasil penelitian ini sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Feri Dwi Ardiyanto (2011). Hal yang sama juga diungkapkan dalam penelitian

yang dilakukan oleh Kamaludin (2011) yang mengatakan bahwa leverage ratio berpengaruh terhadap financial distress. Rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa banyak dana yang disuplai oleh pemilik perusahaan dalam roporsinya dengan dana yang diperoleh dari kreditur perusahaan. Rasio ini mempunyai beberapa implikasi, pertama para pemberi kredit akan melihat kepada modal sendiri untuk melihat batas keamanan pemberian kredit. Kedua dengan menggunakan hutang, memberi dampak yang positif bagi pemilik, karena perusahaan memperoleh dana tetapi tidak kehilangan kendali atas perusahaan.

Jadi sesuai hasil dari penelitian ini bahwa TDA berpengaruh negatif signifikan terhadap financial distress. Hal ini disebabkan oleh kecenderungan perusahaan yang diteliti lebih besar menggunakan utang, yaitu hampir 60% penggunaan hutangnya.

Variabel net profit margin (NPM) berpengaruh tidak signifikan terhadap financial distress (FD). Terbukti dari hasil sig variable NPM 0,523 > 0.05. Hal ini berarti H5 ditolak. NPM menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuan, dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang, dan sebagainya. Net Profit Margin adalah perbandingan antara laba bersih dengan penjualan. Rasio ini sangat penting bagi manajer operasi karena mencerminkan strategi penetapan harga penjualan yang diterapkan perusahaan dan kemampuannya untuk mengendalikan beban usaha Kasmir (2012). Semakin besar Net Profit Margin berarti semakin efisien perusahaan tersebut dalam mengeluarkan biaya-biaya sehubungan dengan kegiatan operasinya. Namun hasil penelitian ini mengatakan bahwa NPM tidak

berpengaruh terhadap financial distress. Variabel ini tidak berpengaruh karena ketika laba perusahaan menurun namun kewajiban dan biaya-biaya lain masih dapat dipenuhi oleh perusahaan dengan menggunakan dana internal maupun eksternal perusahaan maka variabel net profit margin ini kurang bisa dijadikan patokan atau tolak ukur karena keefesienan manajemen juga berperan penting dalam pengukuran kemampuan perusahaan. memprediksi kesulitan keuangan. Net profit margin dalam penelitian ini tidak mempengaruhi kondisi financial distress karena ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan laba bersih terhadap penjualan dari tahun ke tahun salah satunya adanya kebijakan bagian manajer penjualan dalam upaya meningkatkan penjualan karena menginginkan bonus tahunan. Penjualan yang tinggi tidak secara langsung dapat menandakan kondisi perusahaan yang baik. Ada faktor-faktor lain yang harus dipertimbangkan misalnya mengenai penjualan tunai atau kredit. Apabila penjualan perusahaan tinggi namun penjualan tersebut masih dalam kondisi piutang maka belum tentu perusahaan tersebut terhindar dari masalah keuangan.

Variabel return of equity (ROE) berpengaruh signifikan terhadap financial distress (FD). Terbukti dengan nilai sig variabel ROE adalah 0,037 < 0,05. Hal ini berarti H6 diterima. Hasil penelitian ini sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kamaludin (2011) dan Susana Handajani (2013). Begitu juga dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Listyorini (2015) yang mengatakan bahwa ROE berpengaruh positif signifikan terhadap financial distress. ROE tidak hanya untuk mengukur profitabilitas perusahaan, namun juga efisiensi perusahaan dalam mengelola modal yang dimiliki Kasmir (2012). Dalam penelitian ini, ROE

berpengaruh positif signifikan terhadap financial distress. Semakin tinggi ROE maka kemungkinan financial distress semakin tinggi juga. Hal ini kemungkinan disebabkan banyaknya perusahaan menggunakan hutang sebagai sumber modalnya. ROE ini dapat dibuat lebih tinggi dengan memperbesar pemakaian utang. Semakin rendah pemakaian modal atau ekuitas Anda untuk membiayai ekspansi usaha maka semakin tinggi ROE perusahaan. Namun, yang tidak diperhitungkan adalah semakin tinggi utang, maka resiko kebangkrutan juga semakin tinggi. ROE juga terkadang bias karena nilainya bisa naik dan turun pada tahun-tahun tertentu terutama jika disebabkan karena penambahan modal.

Menurut Kasmir (2012) komponen ROE adalah kemampuan perusahaan menghasilkan laba (profitability), efisiensi perusahaan dalam mengelola aset (assets management), hutang yang dipakai dalam melakukan usaha (financial leverage). Jika kenaikan ROE berasal dari net profit margin, maka itu merupakan indikasi positif, karena artinya profitabilitas meningkat atau penggunaan asset semakin optimal. Namun, profitabilitas ini meningkat bisa jadi karena berbagai macam hal, kinerja operasi meningkat, pajak yang turun, efisiensi, atau pendapatan lain-lain. Jika leverage meningkat padahal utang perusahaan sudah cukup tinggi, maka ini menjadi semakin berisiko. Jadi pengaruh positif ini karena penggunaan utang yang tinggi sehingga bisa mengakibatkan financial distress.

Seperti yang jelaskan dalam teori sinyal pada bab sebelumnya bahwa pemberian sinyal dilakukan oleh manajer untuk mengurangi asimetri informasi. Menurut Jama’an (2008) Signaling Theory mengemukakan tentang bagaimana seharusnya sebuah perusahaan memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan.

Menurut Kasmir (2012), rasio-rasio yang digunakan dalam analisis laporan keuangan untuk memberikan informasi tentang kondisi perusahaan adalah current ratio, cash ratio, quick ratio, profitabilitas, financial leverage, ROA, ROE. Dari hasil penelitian ini maka rasio keuangan yang bisa memberikan sinyal dalam memprediksi financial distress adalah rasio working capital to total asset, total debt to asset, dan return on equity sedangkan current ratio, quick ratio, dan net profit margin tidak bisa memberikan sinyal yang memprediksi kondisi financial distress.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait