• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan Hasil Penelitian

Adapun data dari hasil penelitian yang diperoleh peneliti dalam penelitian efektivitas kebijakan penanggulangan pra bencana banjir Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Kecamatan Lilirilau Kabupaten Soppeng lebih dominan berupa kalimat deskriptif yang merupakan hasil wawancara peneliti dengan informan sebagai sumber utama penelitian. Hasil wawancara yang direkam menggunakan handphone. Disamping data dari hasil wawancara, peneliti juga mendapatkan data berupa dokumen dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, oleh sebab itu pada proses pengumpulan data, peneliti juga melakukan proses analisis data yang terdiri dari 3 poin yaitu reduksi data, penyajian data dan verifikasi data.

Pertama, reduksi data yaitu sebuah proses pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pemilihan, pengabstrakan dan transformasi data yang mengacu dari catatan-catatan di lapangan. Pada tahap ini peneliti memilih data-data yang telah didapatkan dari lapangan. Data dipilih sesuai dengan fokus penelitian baik dari data sekunder maupun data primer.

Kedua, penyajian data dimana pada tahap ini peneliti melakukan pengumpulan data guna menggambarkan kejadian di lokasi, yang sebelumnya telah direduksi. Setelah semua data terkumpul, baik dalam bentuk gambar, catatan, serta hasil wawancara kemudian ditampilkan dalam bentuk penjelasan berupa teks deskriptif yang disusun secara sistematis sehingga membantu pembaca dalam memahami hasil penelitian.

Ketiga, verifikasi data yakni sama halnya dengan penarikan kesimpulan.

Kesimpulan bertujuan untuk menjawab semua permasalahan yang ada pada rumusan masalah dan merupakan temuan baru yang sebelumnya tidak diketahui orang lain. Oleh sebab itu, dalam penelitian ini peneliti berusaha memperoleh data sesuai dengan permasalahan yang akan diteliti. Kemudian peneliti mencoba memfokuskan kategori/variabel yang ada dalam data penelitian hingga peneliti dapat menarik kesimpulan dengan baik.

Analisis terhadap efektivitas kebijakan penanggulangan bencana banjir Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Kecamatan Lilirilau

Kabupaten Soppeng dapat dilihat dari Pasal 33 UU Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana pada tahap pra bencana, yaitu:

1. Kesiapsiagaan

Kebijakan dan program pada tahapan pra bencana yang pertama yaitu kesiapsiagaan, hal tersebut dilakukan untuk memastikan upaya yang cepat dan tepat dalam menghadapi kejadian bencana.

Gambar 4

Peta Rawan Bencana Banjir

Peta rawan bencana bencana ini harus mampu menjadi dasar yang memadai bagi daerah untuk menyusun kebijakan penanggulangan bencana.

Ditingkat masyarakat hasil pengkajian tersebut diharapkan mampu menjadi

dasar yang kuat dalam perencanaan usaha pengurangan risiko bencana. Dalam pelaksanaan kebijakan dan program pencegahan penanggulangan bencana banjir pada tahap kesiapsiagaan perlu dilakukan pemantauan daerah rawan bencana dan penyediaan peta rawan bencana agar mengetahui dan menginformasikan daerah rawan bencana banjir kepada masyarakat sehingga dapat dicegah dengan baik.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti, diperoleh data dan informasi bahwa efektivitas kebijakan penanggulangan bencana banjir Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Kecamatan Lilirilau Kabupaten Soppeng cukup efektif dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana pada tahap kesiapsiagaan. Dampak dari kebijakan yang efektif pula dirasakan oleh masyarakat. Dengan adanya peta rawan bencana di lingkungan Kecamatan Lilirilau sehingga masyarakat dapat mengetahui dan mendapatkan informasi mengenai titik rawan bencana banjir.

2. Peringatan dini

Sistem peringatan dini bencana banjir yang ada di Kabupaten Soppeng masih perlu diperkuat. Perkuatan sistem peringatan dini bencana diarahkan pada luasan area penyebaran arahan atau informasi peringatan di tingkat masyarakat. Pembangunan saran prasarana sistem peringatan dini bencana menjadi fokus pengembangan sistem. Pembangunan sarana dan prasarana diprioritaskan dengan memanfaatkan sumber daya yang telah ada di daerah.

Oleh karenanya dalam proses perencanaannya, dibutuhkan kajian yang matang dengan memelihara aset daerah yang dapat dimanfaatkan dalam

pengembangan peralatan penyebaran arahan peringatan dini bencana. Untuk menjamin efektivitas sistem penyebaran arahan, seluruh sarana prasarana yang tersedia perlu selalu dipelihara dan diuji sekala berkala. Pemeliharaan sistem tidak hanya kepada perangkat keras, tetapi juga pada perangkat lunak yang digunakan dalam sistem tersebut. Agar penyelenggaraan sistem peringatan dini lebih menyeluruh, pemerintah Kabupaten Soppeng harus mendukung upaya pembangunan sistem peringatan dini untuk bencana-bencana prioritas diseluruh wilayah desa. Dengan adanya sistem peringatan dini, pemerintah dan masyarakat dapat mengetahui tanda-tanda akan terjadi bencana. Selain itu, masyarakat juga mengetahui tanda-tanda yang digunakan oleh pemerintah untuk memerintah masyarakat untuk melakukan evakuasi secara jelas dan terarah.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti, diperoleh informasi bahwa sistem peringatan dini bencana banjir oleh BPBD belum tersedia dan informasi dini banjir hanya mengandalkan informasi yang berasal dari BMKG dan laporan langsung dari instansi atau warga sekitar, kendala dalam pengendalian banjir diantaranya adalah koordinasi dengan unit lain kurang optimal, sarana dan prasarana banjir pemerintah pusat yang belum diserahkan ke pemerintah daerah, sarana dan prasarana banjir pemerintah pusat yang belum selesai dan anggaran yang terbatas.

3. Mitigasi bencana

Menanggulangi bencana tidak dapat dilaksanakan secara mendadak melainkan butuh persiapan yang harus dilaksanakan jauh sebelum bencana itu

datang melalui suatu proses pendidikan dan pelatihan khusus. Salah satu persiapan yang dapat dilaksanakan sebelum bencana itu datang adalah menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) dengan baik yakni salah satunya adalah dengan melakukan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti, diperoleh data bahwa pelaksanaan kebijakan dan program pada tahap mitigasi bencana ditandai dengan pemberian pelatihan dan pendidikan khusus kepada petugas lapangan yakni latihan penanggulangan dan penyelamatan telah dilakukan oleh BPBD, pelatihan tersebut dapat dikatakan sudah maksimal dan efektif.

Selain dari itu pelatihan yang dilaksanakan tersebut sudah dirasakan oleh masyarakat sehingga diteruskan ke masyarakat yang terkena dampak banjir lainnya. Dan juga pelatihan yang dilakukan bersifat rutin terlihat dari tahun ke tahun rutin dilaksanakan oleh instansi terkait yaitu BPBD dan pemerintah daerah.

65 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian serta pembahasan yang telah dilakukan mengenai Efektivitas Kebijakan Penanggulangan Pra Bencana Banjir Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Kecamatan Lilirilau Kabupaten Soppeng dapat dilihat dari penjelasan sebagai berikut:

1. Kesiapsiagaan

Efektivitas kebijakan penanggulangan pra bencana banjir Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Kecamatan Lilirilau Kabupaten Soppeng dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana pada tahap kesiapsiagaan ditandai dengan pemantauan daerah rawan bencana serta penyediaan peta rawan bencana dapat dikatakan sudah maksimal dan efektif.

Dampak dari kebijakan yang efektif pula dirasakan oleh masyarakat. Dengan adanya peta rawan bencana di lingkungan Kecamatan Lilirilau sehingga masyarakat dapat mengetahui dan mendapatkan informasi mengenai titik rawan bencana banjir.

2. Peringatan dini

Efektivitas kebijakan penanggulangan pra bencana banjir Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Kecamatan Lilirilau Kabupaten Soppeng dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana pada tahap peringatan dini dapat dikatakan belum efektif. Sistem peringatan dini bencana banjir oleh BPBD belum tersedia dan informasi dini banjir hanya

mengandalkan informasi yang berasal dari BMKG dan laporan langsung dari instansi atau warga sekitar, kendala dalam pengendalian banjir diantaranya adalah koordinasi dengan unit lain kurang optimal, sarana dan prasarana banjir pemerintah pusat yang belum diserahkan ke pemerintah daerah, sarana dan prasarana banjir pemerintah pusat yang belum selesai dan anggaran yang terbatas.

3. Mitigasi bencana

Efektivitas kebijakan penanggulangan pra bencana banjir Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Kecamatan Lilirilau Kabupaten Soppeng dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana pada tahap mitigasi bencana ditandai dengan pemberian pelatihan dan pendidikan khusus kepada petugas lapangan yakni latihan penanggulangan dan penyelamatan telah dilakukan oleh BPBD, pelatihan tersebut dapat dikatakan sudah maksimal dan efektif. Selain dari itu pelatihan yang dilaksanakan tersebut sudah dirasakan oleh masyarakat sehingga diteruskan ke masyarakat yang terkena dampak banjir lainnya. Dan juga pelatihan yang dilakukan bersifat rutin terlihat dari tahun ke tahun rutin dilaksanakan oleh instansi terkait yaitu BPBD dan pemerintah daerah.

B. Saran

Terkait dengan kesimpulan penelitian ini, maka terdapat beberapa hal yang dapat disarankan oleh peneliti diantaranya:

1. Untuk memaksimalkan efektivitas kebijakan penanggulangan pra bencana banjir, maka pemerintah Kabupaten Soppeng perlu menetapkan

peraturandaerah tentang penanggulangan bencana yang masih sangat terbatas. Mengingat kebijakan tentang penyelenggaraan penanggulangan bencana masih menggunakan pedoman-pedoman yang dikeluarkan pemerintah pusat, dan belum berbentuk peraturan daerah.

2. Untuk maksud yang sama, diharapkan agar alat/sarana dalam penanggulangan bencana banjir harus ditambah dan dilengkapi. Pasalnya wilayah Kecamatan Lilirilau yang terbagi atas 4 kelurahan dan 8 desa rawan akan bencana banjir setiap tahunnya. Sehingga membutuhkan alat/sarana yang lebih lengkap agar proses penanggulangan bencana banjir dapat diatasi dengan baik.

68

DAFTAR PUSTAKA

BPBD Kabupaten Soppeng. (2018). BPBD Soppeng Salurkan bantuan bagi

Korban Banjir. (online) Tersedia:

https://bpbd.soppengkab.go.id/2018/08/02/bpbd-soppeng-salurkan-bantuan-bagi-korban-banjir/. (02 Maret 2020).

Fatmasari. 2020. Efektivitas Alokasi Dana Desa dalam Program Pengadaan Ambulance di Kecamatan Majauleng Kabupaten Wajo. Jurnal Vol. 1. No.

1. https://journal.unismuh.ac.id/index.php/kimap/issue/view/527 diakses 7 November 2020.

Gibson L, dkk, (1985). Organisasi: Perilaku, Struktur, Proses. Edisi 5, Jilid 1.

Jakarta: Erlangga.

Hidayat. (1986). Manajemen Perencanaan. Bandung: Tarsito.

IDEP, 2007. Panduan Umum Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat.

Edisi 2. Bali: Yayasan IDEP.

Indrawijaya (2008). Perilaku Organisasi. Bandung: Sinar Baru Algensindo Iskandar, J. (2012). Kapita Selekta teori Administrasi Negara. Bandung: Puspaga.

Manullang, Adelina dan Maesaroh 2019 (skripsi). Efektivitas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Kabupaten Semarang.

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro.

Mistra, 2007. Antisipasi Rumah di Daerah Rawan Banjir. Depok: Penebar Swadaya.

Moleong, Lexy J. 2007. Metode penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Peraturan Daerah Kabupaten Soppeng Nomor 5 tahun 2013 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Badan Peanggulangan Bencana Daerah.

Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2009 tentang Perubahan Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat. Jakarta: Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana. Jakarta: Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Pratama, Gunawan 2017 (skripsi). Analisis Penanggulangan Bencana Banjir oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bengkulu.

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bengkulu.

Rakasiwi, Evan Sarli 2018 (skripsi). Efektivitas Kinerja Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandar Lampung dalam Penanggulangan Bencana Banjir di Kota Bandar Lampung. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung.

Reswa, MRN 2015 (skripsi). Efektivitas Kebijakan Parkir Berlangganan dalam Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah di Kabupaten Lamongan. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga.

Toto. (2017, 21 Juni). Hujan Deras, Tiga Desa di Soppeng Terendam Banjir Setinggi Dua Meter. Kompas.com. (online). Tersedia:

https://amp.kompas.com/regional/read/201706/21/2085331/hujan.deras.tig a.desa.di.soppeng.terendam.banjir.setinggi.dua.meter. (02 Maret 2020).

Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

Jakarta: Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

70

L A M

P

I

R

A

N

(Gambar 1: Wawancara dengan Bapak H. Muh. Jafar, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah

Kabupaten Soppeng)

(Gambar 2: Wawancara dengan Bapak A. Lukman Saransi, S.Sos, Lurah Macanre)

(Gambar 3: Wawancara dengan Bapak A. Syamsul Dahri, S.H, Lurah Ujung)

(Gambar 4: Wawancara dengan Bapak A. Makbul, Lurah Pajalesang)

(Gambar 5: Wawancara dengan Bapak A. Darliawan, Tokoh Masyarakat)

(Gambar 6: Rumah masyarakat korban banjir)

Instrumen Penelitian Nama : Fitria Wahyuni

NIM : 105611105316

“Efektivitas Kebijakan Penanggulangan Pra Bencana Banjir Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di

Kecamatan Lilirilau Kabupaten Soppeng”

A. Kesiapsiagaan

1. Bagaimana BPBD Kota Soppeng melakukan identifikasi terhadap daerah rawan bencana banjir?

2. Apakah selama ini BPBD Kabupaten Soppeng telah menginformasikan daerah rawan banjir kepada masyarakat?

3. Bagaimana cara menginformasikan daerah rawan banjir kepada masyarakat?

4. Bagaimana kesiapsiagaan warga dalam menghadapi bencana banjir?

5. Apakah masyarakat segera melaporkan kepada pihak BPBD pada saat kemungkinan potensi terjadinya bencana banjir?

B. Peringatan dini

1. Apakah tersedia sistem peringatan dini bencana banjir?

2. Apakah sistem peringatan dini bencana banjir dilakukan dengan cara modern?

3. Apakah alat tersebut berfungsi dengan baik dan memberikan peringatan sedini mungkin jika terjadi banjir?

C. Mitigasi bencana

1. Apakah ada sosialisasi tentang bencana banjir didaerah?

2. Apakah selama ini BPBD Kabupaten Soppeng telah melaporkan penyelenggaraan penanggulangan bencana kepada kepala daerah setiap sebulan sekali dalam kondisi normal dan pada setiap saat dalam kondisi darurat bencana?

3. Media apa saja yang digunakan untuk mendukung pemberian informasi dan penyuluhan penanggulangan bencana banjir tersebut?

4. Apakah ada pendidikan dan pelatihan khusus yang dilakukan dan diberikan BPBD kepada para anggota Satgas dan Tim Reaksi Cepat dalam penanggulangan bencana banjir?

5. Pendidikan dan pelatihan seperti apa yang dilakukan dan diberikan BPBD kepada para anggota Satgas dan Tim Reaksi Cepat dalam penanggulangan bencana banjir?

6. Bagaimana proses pembagian kerja didalam kegiatan pelatihan penanggulangan bencana banjir ke masyarakat?

RIWAYAT HIDUP

Fitria Wahyuni atau yang lebih dikenal dengan nama Riri, lahir di Sebatik tanggal 04 November 1997. Anak pertama dari 4 bersaudara, lahir dari pasangan suami istri Bapak A.Syamsul Aris dan Ibu Hj.Sumarni.

Penulis pertama kali menempuh pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah As’Adiyah Sungai Nyamuk dan selesai pada tahun 2010, pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama di SMPN 1 Sebatik dan selesai pada tahun 2013. Kemudian penulis melanjutkan pendidikannya di SMA Negeri 1 Marioriwawo pada tahun 2013 dan selesai pada tahun 2016. Karena memiliki keinginan kuat dalam hal pendidikan penulis melanjutkan jenjang pendidikan di salah satu perguruan tinggi swasta di Makassar yaitu Universitas Muhammadiyah Makassar, dan terdaftar sebagai salah satu mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik jurusan Ilmu Administrasi Negara, dengan nomor stambuk 105611105316.

Berkat petunjuk serta pertolongan dari Allah SWT, usaha dan doa kedua orang tua dalam menjalani aktivitas akademik di perguruan tinggi Universitas Muhammadiyah Makassar, Alhamdulillah penulis dapat menyelesaikan tugas akhir skripsi dengan judul “Efektivitas Kebijakan Penanggulangan Pra Bencana Banjir Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Kecamatan Lilirilau Kabupaten Soppeng”.

Dokumen terkait