• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMABAHASAN

4.4 Pembahasan Hasil Penelitian

Berdasarkan pada analisis regresi linier berganda, diketahui bahwa kesesuaian model analisis variabel motivasi belajar, gaya belajar dan berpikir kritis cocok untuk mengetahui pengaruh terhadap indeks prestasi kumulatif mahasiswa S1 reguler pagi program studi Akuntansi UPN “Veteran” Jawa Timur. Hal ini ditunjukkan dengan nilai signifikansi uji F sebesar 0.000 yang berarti lebih kecil dari 0.05. Jadi adanya motivasi belajar, gaya belajar dan berpikir kritis berpengaruh terhadap indeks prestasi kumulatif. Untuk koefisien determinasi atau R square menunjukkan nilai sebesar 0.784, hal ini berarti bahwa indeks prestasi kumulatif mahasiswa S1 Akuntansi dipengaruhi oleh motivasi belajar, gaya belajar dan berpikir kritis sebesar 78,4 %. Untuk menyempurnakan penelitian selanjutnya maka peneliti selanjutnya dapat menambah variabel lain agar R square antar variabel meningkat seperti kebiasaan belajar, keahlian intelektual, metode pengajaran dan lingkungan belajar.

Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian Tusaida (2009) yang hasil uji statistiknya diketahui bahwa motivasi belajar berpengaruh positif terhadap prestasi belajar. Hal ini disebabkan karena Tusaida (2009) menggunakan pertanyaan-pertanyaan kuesioner dalam mengukur variabel

terikatnya, sedangkan dalam penelitian ini variabel terikat tidak diukur menggunakan pertanyaan-pertanyaan kuesioner tetapi menggunakan nilai indeks prestasi kumulatif setiap responden. Berdasarkan pengujian uji t terhadap variabel motivasi belajar, dapat diketahui bahwa motivasi belajar secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap indeks prestasi kumulatif mahasiswa S1 reguler pagi program studi Akuntansi UPN “Veteran” Jawa Timur. Hal ini ditunjukkan dengan nilai signifikansi uji t sebesar 0.136 yang berarti lebih besar dari 0.05. Secara statistik variabel motivasi belajar tidak signifikan, yang berarti tidak ada pengaruh antara motivasi belajar terhadap indeks prestasi kumulatif.

Konsep yang dikemukakan Mcclleland (dalam Purwanti, 2009) tidak terbukti dalam penelitian ini. Hal ini juga disebabkan kemampuan intelegensi mahasiswa yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, kemampuan bawaan ini mahasiswa dalam menangkap penjelasan yang diberikan dosen dan jawaban responden yang tidak dapat memahami pertanyaan-pertanyaan kuesioner sesuai dengan yang diharapkan serta image dosen yang kurang baik di mata mahasiswa, sehingga menimbulkan ketakutan pada mahasiswa terhadap dosen secara tidak langsung yang dapat mempengaruhi mental mahasiswa menjadi turun sehingga menyebabkan materi yang disampaikan tidak dapat tersampaikan. Secara statistik variabel motivasi belajar tidak signifikan maka tidak ada pengaruh secara nyata antara motivasi belajar dengan indeks prestasi kumulatif mahasiswa S1 reguler pagi program studi Akuntansi UPN “Veteran” Jawa Timur.

Untuk hasil penelitian ini variabel gaya belajar sesuai dengan penelitian Purwanti (2009) yang berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar dan gaya belajar menjadi variabel yang dominan. Penelitian ini mempunyai hasil pengujian uji t berpengaruh secara nyata terhadap indeks prestasi kumulatif mahasiswa S1 reguler pagi program studi Akuntansi UPN “Veteran” Jawa Timur, bahwa semakin sering seseorang belajar dengan giat maka semakin besar peluang untuk memperoleh hasil nilai prestasi yang lebih baik terbukti pada penelitian ini.

Konsep yang dikemukakan Howard Gardner terbukti. Gaya belajar seseorang yang berbeda-beda dalam menyerap pengetahuan yang disampaikan oleh dosen membutuhkan cara kerja otak dalam berlogika dan kebudayaan cara kerja siswa untuk menyerap pengetahuan sehingga

dibutuhkan adanya gaya belajar yaitu visual yaitu orang yang memiliki

belajar, auditory yaitu belajar dengan mengandalkan pendengaran untuk

bisa memahami sekaligus mengingatnya., reading yaitu orang yang memiliki gaya belajar reading, belajar dengan menitikberatkan pada tulisan atau catatan dan kinesthetic yaitu orang yang memiliki gaya belajar kinesthetic mengharuskan individu yang bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar orang tersebut bisa mengingatnya

(Anonim; 2009). Oleh karena itu modalitas dalam belajar juga sangat

diperlukan untuk mendukung mahasiswa dalam memahami gaya belajarnya. Gaya belajar mahasiswa yang tinggi diikuti dengan peningkatan indeks prestasi kumulatifnya. Hal ini ditunjukkan dengan nilai signifikansi sebesar

0.000 yang berarti lebih kecil dari 0.05. Secara statistik variabel gaya belajar berpengaruh signifikan, yang berarti terdapat pengaruh secara nyata antara gaya belajar terhadap indeks prestasi kumulatif. Pengaruh gaya belajar terhadap indeks prestasi kumulatif adalah positif yang ditunjukkan dengan nilai koesfisien regresi sebesar 0.017. Artinya semakin baik gaya belajar yang ditunjukkan dengan cara belajar yang, mengulang materi yang telah didapat dapat menambah pengetahuan maka indeks prestasi kumulatif mahasiswa S1 reguler pagi program studi Akuntansi UPN “Veteran” Jawa Timur akan menjadi semakin meningkat.

Berdasarkan pengujian uji t terhadap variabel berpikir kritis, dapat diketahui bahwa berpikir kritis secara parsial tidak berpengaruh secara nyata terhadap indeks prestasi kumulatif mahasiswa S1 reguler pagi program studi Akuntansi UPN “Veteran” Jawa Timur. Hal ini ditunjukkan dengan nilai signifikansi uji t sebesar 0.697 yang berarti lebih besar dari 0.05. Secara statistik variabel berpikir kritis tidak signifikan, yang berarti tidak ada pengaruh antara berpikir kritis terhadap indeks prestasi kumulatif.

Konsep yang dikemukakan Santrock (1995) bahwa berpikir kritis mengandung pengertian memahami makna masalah secara lebih dalam, mempertahankan agar pikiran tetap terbuka terhadap segala pendekatan dan pandangan yang berbeda, berpikir reflektif dan bukan hanya menerima pernyataan-pernyataan serta melaksanakan prosedur-prosedur tanpa pemahaman dan evaluasi yang signifikan (Anonim, 2009) dan Shukor (2001) di zaman perubahan yang pesat ini, prioritas utama dari sebuah

sistem pendidikan adalah mendidik anak-anak tentang bagaimana cara belajar dan berpikir kritis (Muhfahroyin; 2009) tidak terbukti dalam penelitian ini karena variabel berpikir kritis tidak berpengaruh terhadap indeks prestasi kumulatif. Hal ini disebabkan kemampuan intelegensi mahasiswa yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, sehingga kemampuan bawaan ini mahasiswa dalam menangkap penjelasan yang diberikan dosen dan jawaban responden yang tidak dapat memahami pertanyaan-pertanyaan kuesioner sesuai dengan yang diharapkan serta image dosen yang kurang baik di mata mahasiswa, sehingga menimbulkan ketakutan pada mahasiswa terhadap dosen secara tidak langsung yang dapat mempengaruhi mental mahasiswa menjadi turun sehingga menyebabkan materi yang disampaikan tidak dapat tersampaikan, ketidakdisiplinan mahasiswa pada saat kuliah berlangsung yang cenderung malah berbicara dengan teman sebelahnya. Secara statistik variabel berpikir kritis tidak signifikan maka tidak ada pengaruh secara nyata antara berpikir kritis dengan indeks prestasi kumulatif.

4.5 Konfirmasi Hasil Penelitian dengan Tujuan dan Manfaat Penelitian

Dokumen terkait