BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan Hasil Penelitian
Telah dibahas pada bab metode penelitian, bahwa penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif dengan judul penelitian Perubahan Gaya Hidup Sosial Masyarakat Pedesaan (Studi kasus di Desa Tellulimpoe Kecamatan Tellulimpoe Kabupaten Sinjai).
Gaya hidup adalah perilaku seseorang yang di tunjukkan dalam aktivitas, minat dan opini khususnya yang berkaitan dengan citra diri untuk merefleksikan status sosialnya. Gaya hidup merupakan frame of reference yang di pakai seseorang dalam bertingkah laku dan konsekuensinya akan membentuk pola perilaku tertentu. Gaya hidup atau life style dapat di artikan juga sebagai segala sesuatu yang memiliki karakteristik, kekhususan, dan tata cara dalam kehidupan suatu masyarakat tertentu. Gaya hidup dalam hal ini dapat di pahami sebagai sebuah karakteristik seseorang secara kasatmata, yang menandai sistem nilai, serta sekap terhadap diri sendiri dan lingkungan.
Menurut Piliang (1998:208), gaya hidup merupakan kombinasi dan totalitas cara, tata, kebiasaan, pilihan, serta objek-objek yang mendukungnya, dalam pelaksanaannya dilandasi oleh sistem nilai atau sistem kepercayaan tertentu.
Dalam abad gaya hidup, penampilan adalah segalanya. Perhatian tentang urusan penampilan sebenarnya bukanlah hal yang baru dalam sejarah. Urusan penampilan atau presentasi diri ini sudah lama menjadi perbincangan sosiologi
dan kritikus budaya. Erving Goffman, misalnya dalam The Presentation of Self in Everyday Life (1959), mengemukakan bahwa kehidupan sosial terutama terdiri dari penampilan teartikal yang diritualkan yang kemudian lebih dikenal dengan pendekatan dramaturgi (dramaturgical approech). Yang dia maksudkan adalah bahwa kita bertindak seolah-olah di atas sebuah panggung.
Bagi Goffman, berbagai penggunaan ruang, barang-barang, bahasa tubuh, ritual interaksi sosial tampil untuk memfasilitasi kehidupan sosial sehari-hari.
Dan disinilah dapat kita lihat bahwa terjadi perubahan kecil karena seiring perkembangan zaman dan perubahan mode, model pakaian yang mereka kenakan mengalami perubahan misalkan anak-anak zaman sekarang yang tinggal di Desa Tellulimpoe yang cara berpakaiannya sudah mulai mengikuti trend atau gaya berbusana yang sering di lihat ditayang televisi.
Di sinilah secara teoritis terlihat bahwa simbol menjadi bermakna dalam sebuah proses komunikasi itu. Simbol signifikan adalah jenis gestur yang hanya dapat dilakukan oleh manusia. Dan gestur baru bisa menjadi simbol-simbol signifikan, apabila dia membangkitkan di dalam diri individu pelaku gestur itu respon-respon yang juga dia harapkan akan diberikan oleh individu yang menjadi sasaran gestur yang dia lakukan (meskipun bentuk dari respon tersebut tidak bisa identik) (Ritzer,2009:382).
Norma adalah aturan bersama tentang perilaku sosial yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Di masyarakat, norma menjadi semacam guidline (petunjuk), mana tindakan yang bisa diterima dan patut dilakukan dalam situasi tertentu (Nurdin dan Abrori, 2006:64). Dari pengertian norma tersebut, dapat dikatakan
bahwa bentuk perilaku yang dilakukan oleh anak-anak, ada yang harus ditiru dan ada yang tidak boleh ditiru.
Keberadaan teknologi seperti yang dibahas di atas dalam pandangan William F. Ogbrun (Narwoko & Bagon 2004: 359) menekankan pada kondisi teknologi yang mempengaruhi perubahan sosial, karena adanya teknologi sehingga suatu masyarakat berubah, William F. Ogbrun berusaha memberikan suatu pengertian tertentu, walau tidak memberi defenisi tentang perubahan sosial. Meliputi unsur-unsur kebudayaan baik material maupun immaterial, yang ditekankan adalah pengaruh besar unsur-unsur kebudayaan material terhadap unsur-unsur immaterial.
Perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat Tellulimpoe tidak lepas dengan adanya interaksi dengan budaya masyarakat lainnya, determinasi faktor ini mendukung teori perubahan sosial dari segi asimilasi (interaksi antar budaya) seperti yang diungkapkan oleh Soekanto (2007: 74) interaksi antar kebudayaan, asimilasi diartikan sebagai proses sosial yang timbul bila ada:
1. kelompok-kelompok manusia yang berbeda kebudayaannya.
2. individu-individu sebagai anggota kelompok itu saling bergaul secara langsung dan intensif dalam waktu relatif lama.
3. kebudayaan-kebudayaan dari kelompok manusia tersebut masing-masing berubah dan saling menyesuaikan diri. Biasanya golongan-golongan yang dimaksud dalam suatu proses asimilasi adalah suatu golongan mayoritas dan beberapa golongan minoritas.
Pada perkembangan melihat suatu perubahan adalah hal yang normal, karena setiap masyarakat yang hidup mempunyai sifat berkembang yang berarti fikirannya tidak stagnan (diam) ini searah dengan siklus (Cyclical Theory) Narwoko dkk (2004:38), teori ini mencoba melihat bahwa dalam setiap masyarakat terdapat perputaran atau siklus yang harus diikutinya.
Menurut teori ini kebangkitan dan kemunduran suatu kebudayaan atau kehidupan sosial merupakan hal yang wajar dan tidak dapat dihindari.
Perubahan terjadi karena sifat masyarakatnya juga yang seiring waktu terus mengalami perubahan. Perubahan terjadi menurut pola tertentu tidak secara sarampangan tanpa pola. Perubahan sosial terjadi di Desa Tellulimpoe.
Pada dasarnya kontak sosial dengan masyarakat setempat yang banyak membawa perubahan dari dalam (internal) masyarakat Desa Tellulimpoe ini sejalan dengan pemahaman Soekanto dkk (2007), yang menyatakan bahwa individu adalah cerminan dari keadaan materil kehidupan mereka. Dengan demikian teoritis secara tidak langsung menyatakan bahwa manusia adalah mahluk yang mudah dibentuk (plastik) yang dibentuk oleh lingkungan sosial mereka dan jika ada sifat bawaan manusia itu sedikit sekali namun demikian juga penting bagi pemahaman kita mengenai perubahan sosial.
74 A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan berupa hasil dari pembahasan data dan informasi yang telah diperoleh di lokasi penelitian, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
Dengan adanya televisi masyarakat ini mengakibatkan terjadi perubahan secara kecil yang tidak membawa pengaruh langsung atau berarti bagi masyarakat seperti perubahan gaya berbusana/berpakaian pada masyaraka di Desa Tellulimpoe yang sudah mulai mengikuti trend. Masyarakat ini mempunyai pandangan atau pendapat bahwa televisi adalah salah satu media elektronik yang menggunakan gambar dan suara. Selain itu televisi juga salah satu media yang lebih update, sehingga tidak ketinggalan zaman dan banyak memberikan informasi serta sarana hiburan.
Lewat berbagai tayangan, ternyata televisi memberikan dampak positif dan negatif. Dampak positifnya anak-anak ini mempunyai rasa semangat untuk belajar dan menjadi orang sukses. Sedangkan negatifnya adalah anak-anak ini malas belajar. Dengan adanya sistem pendidikan formal yang sudah maju pada masyarakat, adanya sistem lapisan masyarakat yang bersifat terbuka, adanya sikap terbuka terhadap karya serta keinginan orang lain untuk maju.
B. Saran
Dari kesimpulan di atas dapat diketahui bahwa budaya yang ditimbulkan oleh teknologi yang canggih menimbulkan berbagai macam cara pandang. Cara yang dapat diberikan kepada pihak yang berwenang dalam pembentukan perilaku masyarakat dan anak-anak adalah:
1. Masyarakat harus mempunyai cara pandang yang baik dan benar untuk menilai suatu teknologi yang bermunculan secara tiba-tiba. Dan kita harus mampu memilih mana yang baik dan mana yang buruk, seperti apakah trend itu bermanfaat dan sesuai kebutuhan.
2. Anak-anak ini harus memiliki perilaku yang baik sesuai dengan usianya sehingga tidak terlalu mudah mengikuti suatu hal yang baru dan berinteraksi sewajarnya dengan teman sebaya, lingkungan masyarakat, dan keluarga.
3. Untuk masyarakat Desa Tellulimpoe agar tidak terpengaruh oleh dampak negatif tayangan televisi.
4. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan lebih memperluas obyek penelitian dan lebih memperdalam bagaimana pengaruh media massa terhadap perilaku masyarakat.
76
Amstrong. (2003). Prinsip-Prinsip Pemasaran. Edisi Kesepuluh. Jakarta: PT.
Indeks Gramedia.
Bilson, Simamora. (2002). Panduan Riset Perilaku Konsumen. Jakarta: PT.
Gramedia Pustaka Utama.
Dewi, Wulandari. (2009). Sosiologi Konsep Dan Teori. Bandung: PT. Refika Aditama.
Hadi, Sutrisno. (2000). Statistik. Yogyakarta: Andi Offsset.
Hasan, Ikbal. (2004). Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasi.
Bogor: Ghalian Indonesia.
Koentjaraningrat. (2001). Masyarakat Desa di Indonesia. Jakarta: Lembaga Penerbit FEUI.
Kotler, P. (2005). Manajemen Pemasaran. Edisi Kesebelas. Jilid 1. Terjemahan Bayomin Molan. 2005. Jakarta: Indeks.
Kuswandi, Wawan. (2008). Komunikasi Massa Analisis Interaktif Budaya Massa.
Jakarta: Rineka Cipta.
Maleong, Laxi J. (2007). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.
Mardalis. (2007). Metode Penelitian, Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta: Bunga Aksara.
Morissan. (2008). Media Penyiaran, Strategi Mengelola Radio dan Televisi.
Tangeran: Ramdina Perkasa.
Mudjia, Rahardjo. (2007). Sosiologi Pedesaan: Studi Perubahan Sosial. Malang:
UIN Malang Press.
Musmuadi, A., Aliza, M. (2007). Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Kecenderungan Gaya Hidup Hedonis Pada Remaja. Skripsi. Yogyakarta:
Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia.
Nasir, Moh. (1998). Metodologi Penelitian. Jakarta: Ghalian Indonesia.
Narwoko. J Dwi dan Bagong Suyanto. (2004). Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Prenada Media.
Raharjo. (1999). Pengantar Sosiologi Pedesaan dan Sosiologi Pertanian.
Yogyakarta: UGM Press.
Ranjabar, Jacobus. (2015). Perubahan sosial. Bandung: Alfabeta.
Ritzer, William. (2009). Media Massa dan Masyarakat Modern. Jakarta: Prenada Media Group.
Robert, Mirsel. (2004). Teori Pergerakan Sosial. Jogyakarta: Resist.
Setiadi, Nugroho J. (2003). Perilaku Konsumen: Konsep dan Publikasi Untuk Strategi Penelitian Pemasaran. Edisi 1. Jakarta: Prenada Media.
Selo, Soemarjan. (1974). Bunga Rampai Sosiologi. Jakarta: UI Press.
Siagian. T. T. (1983). Administrasi pembangunan. Jakarta: Gunung Agung
Soerjono, Soekanto. (1981). Meninjau Hukum Adat Indonesia Suatu Pengantar Untuk Mempelajari Hukum Adat. Jakarta: Rajawali Press.
Soerjono, Soekanto. (2004). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Press.
Soerjono, Soekanto. (2007). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sugiono. (2008). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R& D. Bandung:
Alfabeta.
Surbakti. (2008). Awas Tayangan Televisi: Tayangan Misteri dan Kekerasan Mengancam Anak Anda. Jakarta: PT Alex Media Komputindo.
Susanto, A.B. (2010). Membidik Gaya Hidup. Jakarta: The Jakarta Consulting Group, pada laman http://www.jakartaconsulting com/art-01-11.htm, diunduh pada tanggal 20 januari 2010.
Sutisna. (2002). Perilaku Konsumen. Jakarta: Gramedia.
Syafaati, A. Lestari, R, Asyanti, S. (2008) Dugem: Gaya Hidup Hedonis Kalangan Anak Muda. Jurnal Ilmiah Berkala Psikologi Volume 10 No 2 Hal 2-15.
Surakarta: Fakultas Psikolog Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Widjaja, Haw. (2012). Otonomi Desa Merupakan Otonomi yang Asli Bulat dan Utuh. Jakarta: Rajawali Press.
Yohanes, S K. dan Peter, R P. (2006). Segmentasi Gaya Hidup pada Mahasiswa Program Studi Pemasaran Universitas Kristen Petra. Jurnal jurusan manajemen pemasaran, fakultas ekonomi universitas kristen petra.
Jawab:
Bernama Ramlia (30 tahun) yang telah mengatakan bahwa:
“....Kalau tentang cara berpakaiannya anak-anak disini ya, masih sama yang dulu. Terus tentang adakah yang berubah yaa ada, tentang penggunaan alat komunikasinya sekarang sudah ada yang pakai kaya’ HP, laptop, tidak seperti kita dulu kita tidak pakai yang begitu, apalagi iti laptop kita tidak tau...”(Wawancara: 10-08-2017).
2. Dengan pertanyaan yang sama di tujukan kepada bapak Herman Jawab:
“Yaa anak-anak zaman sekarang hampir semua bergaya kalau berpakaianki, sudah mau juga pake HP yang bagus/trend”(Wawancara: 15-08-2017).
3. Pertanyaan sama yang di tujukan kepada ibu Hasa’
Jawab:
“Cara pakaiannya sudah tidak malu pakai celana pendek baju ketiak/kensi, pakai hape juga harus yang mahal, karena malu sama temannya, terus kalau naliat lagi orang pakai baju bagus-bagus mau lagi”(Wawancara: 16-08-2017).
4. Pertanyaan yang sama di tujukan oleh ibu Ina yang hampir senada jawabannya dengan ibu Hasa’ di atas
Jawab:
“Kalau cara berpakaiannya ia pasti mi sekarang berubah, karena kebanyakan yang bergaul atau sekolah di kota terus anak-anak juga kebanyakan nonton di televisi jadi itu dia tiru cara-cara berpakaiannya”
(Wawancara: 16-08-2017).
“Dari cara berpakaiannya kalau saya lihat anak-anak remaja disini meniru pakaian yang sering tayang di TV, baru cara berbahasanya juga yang dulunya pakai bahasa bugis dan sekarang lebih berusaha ki menggunakan bahasa indonesia kalau bicara sama kita”(Wawancara: 19-08-2017).
6. Pertanyaan yang sama kepada bapak Herman Jawab:
“Perubahan yang saya lihat dari gaya berpakaian anak-anak yang tinggal di Desa Tellulimpoe ini sudah mulai modern, karena mereka mulai juga mengikuti trend berbusana masa kini”(Wawancara: 19-08-2017).
HASIL WAWANCARA DENGAN BENDAHARA DESA TELLULIMPOE 1. Faktor apa yang mendorong anda dalam melakukan perubahan?
Jawab:
“Saya selalu mendorong dan mengontrol ibu-ibu di Desa Tellulimpoe ini untuk latihan misalnya latihan ceramah, poco-poco, dan qasidah agar mereka terlatih untuk tampil di depan umum, karena mereka itu termasuk mayoritas juga disini, jadi kalau ada lomba antar Desa di Kecamatan ibu-ibu ini saya harapakan tidak canggung lagi untuk berbicara di depan umum, dan alhamdulillah ada kemajuan dari pelatihan itu, sudah ada ibu-ibu disini Tellulimpoe tampil di depan umum kalau ada acara di Kecamatan”(Wawancara: 28-08-2017).
HASIL WAWANCARA DENGAN MAHASISWA SINJAI
1. Bagaimana pemahaman anda tentang televisi? wawancara dengan adik Elis Jawab:
“Menurut saya, televisi itu salah satu media elektronik dapat memberikan informasi, televisi juga salah satu media yang bisa di jadikan sarana hiburan karena cara penyajiannya bagus, acaranya gampang di mengerti lagian dengan televisi saya mendapat informasi/berita dari luar sehingga saya tidak ketinggalan zaman”(Wawancara: 20-08-2017).
acara yang menghibur penonton, televisi gampang dimengerti, terus penyajiannya seru, acaranya banyak menambah wawasan kaya acara one the spot dan lain sebagainya, soalnya saya mengerti suatu hal apabila ada suara ada gambar juga”(Wawancara: 20-08-2017).
3. Dengan pertanyaan yang sama di tujukan kepada Saniyanti yang hampir senada Ayu
Jawab:
“Salah satu media komunikasi, ada gambar dan juga suara, alat informasi, penyajiannya singkat dan gampang dimengerti oleh penonton, soalnya acara yang disajikan itu berbagai macam seperti sinetron, film kartun, berita, dan lain-lain. Alasannya karena acaranya enak di nonton, mampu menghibur saya, dan menambah wawasan. Televisi juga beritanya lebih cepat serta informasinya yang disampaikan selalu terbaru. Kalau nonton televisi itu biar tidak ketinggalan zaman, soalnya di dalam televisi ada berbagai macam informasi dan wawasan yang luas”(Wawancara: 25-08-2017).
4. Apa dampak dalam menggunkan televisi?
Wawancara dengan bapak Herman salah satu orang tua siswa Jawab:
Bernama Herman (31 tahun) yang mengatakan bahwa:
“Dampak negatifnya itu bikin anak saya makin malas belajar, soalnya kalau anak saya lagi nonton lagian kalau film favoritnya, anak saya itu tidak mau lagi diganggu, makanya anak saya itu sering terlambat belajar dan jarang sekali kerja tugasnya”(Wawancara: 27-08-2017).
5. Dengan pertanyaan yang sama di tujukan oleh Saniyanti yang senada dengan bapak Herman
Jawab:
Jawab:
“Dampak positif televisi dalam kehidupan sehari-hari saya sebenarnya enggak ada sick kak, paling kalau saya lagi nonton acara yang seruh aja sich kak, jadi senang aja, kalau yang ditampilkan orang-orang yang pintar dan mempunyai wawasan luas, kan saya jadi ingin kaya’ mereka”
(Wawancara: 28-08-2017).
1
Bendahara Desa
Nama : Arman Umur : 30 Tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Pekerjaan : Bendahara
Desa Pendidikan : S1
2 Nama : Ramlia
Umur : 30 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan Pekerjaan : URT Pendidikan : SD
3 Nama : Ayu
Umur : 20 Tahun Jenis Kelamin : Perempuan Pekerjaan : Mahasiwa Pendidikan : Mahasiswa
Umur : 31 Tahun Jenis Kelamin : Laki-Laki Pekerjaan : Petani Pendidikan : SMP
5
Nama : Ina Umur : 36 Tahun Jenis Kelamin : Perempuan Pekerjaan : URT Pendidikan : SMP
6 Nama : Elis
Umur : 20 Tahun Jenis Kelamin : Perempuan Pekerjaan : Mahasiswa Pendidikan : Mahasiswa
Umur : 46 Tahun Jenis Kelamin : Perempuan Pekerjaan : URT Pendidikan : SD
8
Nama : Ika Umur : 15 Tahun Jenis Kelamin : Perempuan Pekerjaan : Pelajar Pendidikan : SMA
9
Nama : Saniyanti Umur : 20 Tahun Jenis Kelamin : Perempuan Pekerjaan : Mahasiswa Pendidikan : Mahasiswa
Keterangan: Nonton bareng bersama keluarga
Keterangan: Terlihat rumah masyarakat Tellulimpoe di lengkapi dengan pesawat televisi
Keterangan: Lapangan Desa Tellulimpoe yang sering di tempati untuk pertandingan sepak bola dll.
Keterangan: Dengan banyaknya perubahan di zaman sekarang ini masyarakat Tellulimpoe sudah banyak mempunyai rumah batu.
Keterangan: Wawancara dengan salah satu responden yang bernama IK
1. Nama Lengkap:
2. Umur:
3. Pekerjaan:
4. Pendidikan:
B. PERTANYAAN
1. Apakah anda merasa mengalami perubahan gaya hidup sosial?
2. Bagaimana pemahaman anda tentang televisi?
3. Apa dampak dalam menggunakan televisi?
4. Faktor apa yang mendorong anda dalam melakukan perubahan?
5. Faktor apa yang mendorong anda dalam menggunakan televisi?
Kab.Sinjai Prov. Sul-Sel. Pada tanggal 27 September 1996.
Anak pertama dari 2 bersaudara, pasangan dari Basir dan Nahria. Penulis menempuh pendidikan sekolah dasar (SD) SDN 228 Pakokko, tamat pada tahun 2007, di SMP Negeri 5 Sin-Sel dan tamat pada tahun 2010, kemudian melanjutkan pendidikan kejenjang sekolah menenggah atas (SMA) di SMA Negeri 1 Tellulimpoe dan tamat pada tahun 2013, pada tahun 2013 penulis melanjutkan ke jenjang pendidikan Program Strata Satu (SI) pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Jurusan Pendidikan Sosiologi pada Universitas Muhammadiyah Makassar (UNISMUH) melalui jalur penerimaan mahasiswa baru.