BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan Hasil Penelitian
Dengan melihat hasil penelitian di atas, dapat dijelaskan perhitungan rata – rata nilai evaluasi PKn dan ketuntasan belajar PKn siswa kelas IV SD Negeri 02 Jati Jaten Karanganyar. Peningkatan terlihat dari sebelum tindakan dan setelah tindakan yaitu siklus I dan siklus II yang masing – masing terdiri dari 2 pertemuan. Dari tabel 5 dan tabel 8 tentang perkembangan nilai siswa dapat dibuat tabel 9 tentang peningkatan dari sebelum tindakan sampai siklus II sebagai berikut:
Tabel 9. Nilai Rata – Rata Pemahaman Konsep PKn dan Persentase Ketuntasan Klasikal Sebelum Tindakan, Siklus I, dan Siklus II
Kriteria Ketuntasan
Minimal (KKM)
Nilai Rata-Rata Pemahaman
konsep PKN Persentase (%) Sebelum Tindakan Siklus I Siklus II Sebelum Tindakan Siklus I Siklus II 60 59,9 70,5 75,2 45 84 97
Dari Tabel 9 diatas dapat digambarkan menjadi Grafik 6 sebagai berikut :
Grafik 6. Grafik Peningkatan Nilai Rata-rata Pemahaman Konsep dan Ketuntasan Belajar PKn setiap Siklus
0 20 40 60 80 100
Nilai Rata - rata Pemahaman Konsep Prosentase Ketuntasan
commit to user
Berdasarkan perhitungan nilai pemahaman konsep PKn rata – rata pada Tabel 9 dan Grafik 6 di atas, siswa yang memperoleh nilai ≥ 60 (KKM) menunjukkan adanya peningkatan. Sebelum tindakan nilai rata – rata hanya mencapai 59,9 dengan persentase ketuntasan klasikal 45% pada siklus I bisa meningkat menjadi 70,5 dengan persentase ketuntasan klasikal 84% dan pada siklus II meningkat lagi menjadi 75,2 dengan persentase ketuntasan klasikal 97%. Hal ini merefleksikan bahwa penerapan metode jigsaw dalam pembelajaran PKn kelas IV dinyatakan berhasil, karena secara klasikal menunjukkan adanya peningkatan pemahaman konsep PKn pada materi susunan pemerintahan pusat.
Selain dari hasil tes, hasil observasi terhadap kinerja guru dan siswa secara klasikal juga mengalami peningkatan. Dari Tabel 3 dan Tabel 6 tentang aktivitas belajar siswa serta dari lampiran 11 dan lampiran 17 tentang observasi kinerja guru dapat dibuat Tabel 10.
Tabel 10. Nilai Rata-Rata Hasil Observasi Kinerja Guru dan Aktivitas Siswa Selama Pembelajaran Tiap Siklus
Observasi Kinerja Guru Observasi Aktivitas Siswa
Siklus I Siklus II Siklus I Siklus II
2,3 ( kurang ) 3,34 ( baik ) 1,6 ( kurang ) 2,32 ( baik ) Keterangan observasi kinerja guru :
1. ≥ 3,5 = sangat baik 3. 2 – 2,9 = Kurang
2. 3,0– 3,4 = Baik 4. < 2 = Sangat Kurang
Keterangan observasi aktivitas siswa
1. 3 = Baik Sekali 3. < 2 = Kurang
2. < 3 = baik 4. < 1 = Sangat Kurang
Dari Tabel 10 di atas terlihat bahwa kinerja guru pada siklus I hanya mendapat nilai 2,3 yang kemudian meningkat pada siklus II menjadi 3,34. Sedangkan aktivitas siswa yang semula hanya 1,6 meningkat menjadi 2,32. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kinerja guru dan aktivitas siswa selama pembelajaran PKn berlangsung pada siklus I dan siklus II. Dari Tabel 10 terlihat adanya peningkatan pada kinerja guru dan aktivitas siswa. Walaupun
commit to user
peningkatannya tidak terlalu drastis, peneliti yakin jika penelitian ini dilaksanakan dalam jangka waktu yang cukup lama secara terus – menerus akan memperlihatkan hasil yang signifikan. Mengingat bahwa dalam penelitian ini, kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan hanya empat kali pertemuan.
Hambatan yang ditemui pada masing – masing siklus berbeda – beda. Hambatan – hambatan itu antara lain :
1. Siswa masih kesulitan dengan model pembelajaran yang diterapkan guru, karena harus berpindah – pindah tempat dari kelompok asal ke kelompok ahli lalu kembali lagi ke kelompok asal.
2. Ketika berkumpul di kelompok ahli, diskusi siswa belum terarah hal itu membuat kondisi menjadi gaduh karena siswa ramai sendiri.
3. Saat kembali ke kelompok asal siswa belum bisa menginformasikan hasil diskusinya di kelompok ahli pada temannya di kelompok asal dengan baik. 4. Pembagian kelompok yang homogen membuat kelas menjadi tidak
seimbang, ada kelompok yang selalu aktif tapi ada juga kelompok yang sangat pasif.
5. Selain itu saat penyampaian hasil diskusi masih banyak siswa yang tidak memperhatikan saat kelompk lain sedang membacakan hasilnya.
Upaya untuk mengatasi hambatan yang ada pada siklus I sudah disempurnakan pada siklus II yaitu dengan memberi pengarahan dan bimbingan sebelum kegiatan inti dalam pembelajaran sehingga siswa tidak bingung kenapa harus selalu berpindah – pindah kelompok. Saat berada di kelompok awal guru membagikan lembar kerja siswa dengan soal yang berbeda – beda tiap siswa untuk didiskusikan bersama teman yang lain di kelompok ahli sehingga diskusi di kelompok ahli lebih terarah dan lebih kondusif. Setelah kembali lagi ke kelompok awal siswa menginformasikan pada temannya yang lain dengan cara saling bertukar lembar kerja siswa yang mereka miliki dan menjelaskan apabila teman yang lain belum jelas. Pembagian kelompok diatur oleh guru menjadi heterogen sehingga tidak ada kelompok yang lebih mendominasi akan tetapi semua kelompok bisa terlibat aktif dalam pembelajaran. Kelompok yang akan maju membacakan hasil diskusinya terlebih dahulu memberikan hasil lembar
commit to user
diskusinya pada guru sehingga jawaban dari kelompok itu dipegang guru lalu kelompok itu menjawab pertanyaan yang diberikan guru, dengan cara seperti itu siswa yang lain akan memperhatikan kelompok lain yang sedang maju karena bila kelomok yang di depan tiak bisa menjawab pertanyaan guru maka kelompok lain berhak menjawab dan akan memperoleh poin sebagai kelompok yang aktif. Pembelajaran pada siklus II sudah berhasil sehingga tidak ada hambatan yang berarti.
Berdasarkan hasil wawancara antara peneliti dengan guru kelas (lihat lampiran 1) pemahaman konsep siswa sebelum menerapkan model kooperatif tipe jigsaw sudah cukup baik, tetapi siswa yang tuntas hanya 45%. Hal itu dikarenakan guru belum menggunakan model pembelajaan yang tepat dalam pelajaran PKn sehingga siswa kurang maksimal dalam mengikuti maupun menyerap materi pelajaran PKn. Sedangkan hasil wawancara setelah menerapkan model pembelajaran tipe jigsaw dalam pembelajaran PKn terbukti dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa, selain itu ketuntasan belajar PKn siswa juga meningkat. Walaupun begitu, dalam pelaksanaanya dijumpai hambatan yang ditemui guru pada pembelajaran PKn menggunakan metode jigsaw ini diantaranya yaitu:
1. Guru masih kesulitan dalam mengelola kelas sehingga kondisi kelas kurang kondusif intuk pembelajaran.
2. Kejelasan guru dalam menyampaikan materi pelajaran masih kurang.
3. Ketepatan guru dalam menerapkan metode jigsaw juga masih kurang sehingga masih banyak siswa yang kesulitan dalam mengikuti pembelajaran. Untuk mengatasi hal tersebut guru mengadakan refleksi bersama guru kelas IV dan pada siklus II hambatan tersebut bisa dikurangi, guru sudah bisa mengelola kelas dengan cukup baik. Dalam menyampaikan materi pembelajaran guru menggunakan media powerpoint sehingga materi yang disampaikan lebih jelas dan menarik perhatian siswa. Guru juga memberikan pengarahan pada siswa tentang langkah – langkah menggunakan metode jigsaw supaya siswa tidak kesulitan dalam mengikuti pembelajaran. Dengan begitu hambatan yang ada dalam pembelajaran dapat diperbaiki.
commit to user
Hambatan – hambatan yang ada selama pembelajaran sudah dapat dikurangi hal itu membuat pemahaman siswa pada pelajaran PKn dapat meningkat. Hal itu dikarenakan penerapan model kooperatif tipe jigsaw dalam pembelajaran PKn dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dan membuat pembelajaran PKn menjadi bermakna karena pembelajaran lebih menyenangkan memudahkan siswa untuk memahami materi yang ada dengan bertukar informasi bersama teman – teman, meningkatkan rasa kerja sama dan tanggung jawab dalam satu kelompok untuk meraih tujuan yang sama yaitu bisa memahami materi bersama – sama. Mengingat banyaknya kelebihan yang dimiliki model kooperatif tipe jigsaw maka kendala – kendala dalam pelaksanaan pembelajaran PKn yang lain menjadi tidak berarti.
Dengan demikian dapat diketahui bahwa salah satu upaya untuk meningkatkan pemahaman konsep PKn khususnya materi susunan pemerintahan pusat pada siswa kelas IV SD Negeri 02 Jati yaitu dengan menerapkan model kooperatif tipe jigsaw. Hal ini terjadi karena penerapan model kooperatif tipe jigsaw dapat menjadikan pembelajaran PKn menjadi lebih menyenangkan sehingga pemahaman siswa meningkat. Jadi pembelajaran dengan penerapan model kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan pemahaman konsep PKn materi susunan pemerintahan pusat pada siswa kelas IV SD Negeri 02 Jati tahun ajaran 2010/ 2011.