• Tidak ada hasil yang ditemukan

5.2.1. Pengaruh Belanja Langsung (X1) terhadap Kemandirian Keuangan (Y) Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa Belanja Langsung berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap Kemandirian Keuangan. Hal ini tentunya sejalan dengan ungkapan Dirjen Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah DepartemenKeuangan Republik Indonesia yang menyatakan bahwapadadasarnya, pemerintahandaerah memilikiperananpentingdalam pemberianpelayananpublik.Teoritisnya,terdapat duapendekatanyangberbedadalam pendelegasian fungsibelanja,yaitupendekatan “pengeluaran”danpendekatan “pendapatan”. Menurutpendekatan“pengeluaran”, pendelegasianditentukanberdasarkankriteria

yangbersifatobyektif,sedangkanmenurutpendekatan “pendapatan”,sumber pendapatan publik dialokasikan antar berbagai tingkat pemerintah yang merupakan hasil dari tawar-menawar politik. Pertukaran iklimpolitik sangat mempengaruhidalam pengalokasiansumberdanaantartingkatpemerintahan. Beranjak dari pendekatan dimaksud seyogianya belanja akan mempengaruhi kemandirian keuangan daerah. Rendahnya efisiensi dan efektifitas penganggaran mengakibatkan porsi belanja langsung begitu kecil dibanding belanja lainnya oleh Daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara berpotensi dan turut andil dalam pengaruh pendapatan asli daerah yang menjadi bagian terpenting dalam kemandirian keuangan.

74

5.2.2. Pengaruh Belanja Tidak Langsung (X2) terhadap Kemandirian Keuangan (Y) Hasil pengujian hipotesis ini menunjukkan bahwaBelanja Tidak Langsung berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Kemandirian Keuangan. Hasil penelitan ini sejalan dan konsisten sebagaimana ungkapan Dirjen Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah DepartemenKeuangan Republik Indonesia yang menyatakan bahwapadadasarnya, pemerintahandaerah memilikiperananpentingdalam pemberianpelayananpublik, dengan asumsi bahwa permintaan terhadap pelayanan publik dapat berbeda-beda antar daerah, contoh permintaan pelayanan publik di Gunung Sitoli berbeda dengan di Batubara.

Teoritisnya,terdapat duapendekatanyangberbedadalam pendelegasian fungsibelanja,yaitupendekatan “pengeluaran”danpendekatan “pendapatan”. Menurutpendekatan“pengeluaran”, pendelegasianditentukanberdasarkankriteria yangbersifatobyektif,sedangkanmenurutpendekatan “pendapatan”,sumber pendapatan publik dialokasikan antar berbagai tingkat pemerintah yang merupakan hasil dari tawar-menawar politik. Pertuakaran iklimpolitik sangat mempengaruhidalam pengalokasiansumberdanaantartingkatpemerintahan.

Dalam pendekatan dimaksud diperoleh simpulan bahwa belanja tidak langsung merupakan komponen dari belanja daerah oleh karena itu sudah barang tentu belanja tidak langsung akan mempengaruhi kemandirian keuangan daerah. Semakin tinggi penganggaran belanja tidak langsung akan menurunkan kemandirian keuangan.

5.2.3. Pengaruh Jumlah Penduduk (X3) terhadap Kemandirian Keuangan (Y) Pengujian pengaruh Jumlah Penduduk terhadap Kemandirian Keuangan menunjukkan bahwa Jumlah Penduduk berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kemandirian Keuangan. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan hasil penelitian Lestari (2015) yang menyimpulkan bahwan jumlah penduduk berpengaruh terhadap kemandirian keuangan daerah pada Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara.

5.2.4. Pengaruh Pendapatan Asli Daerah (Z) terhadap Kemandirian Keuangan (Y) Hasil pengujian pengaruh variabel Pengaruh Pendapatan Asli Daerah (Z) terhadap Kemandirian Keuangan (Y) diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa Pendapatan Asli Daerah berpengaruh positifdan signifikan terhadap Kemandirian Keuangan (Y). Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Dian (2008) yang menyimpulkan bahwa Pendapatan Asli Daerah dan Dana Alokasi Umum mempunyai pengaruh signifikan terhadap Kemandirian Keuangan Daerah.Hal senada juga dikemukakan oleh Helvyra (2010) dalam penelitiannya yang menyimpulkan bahwa Pendapatan Asli Daerah berpengaaruh signifikan terhadap kapasitas fiscal proxy kemandirian daerah.

Dengan meningkatnya Pendapatan Asli Daerah maka akan meningkat pula Kemandirian Keuangan. Kondisi demikian tentunya akan menghilangkan sifat ketergantungan daerah kepada pemerintah atasan. Hal inilah sesungguhnya merupakan tujuan utama dalam berotonomi daerah yang pada gilirannya akan meningkatkan taraf hiduf dan kesejahteraan bagi masyarakat daerah.

76

5.2.5. Pengaruh Secara Simultan Belanja Langsung (X1), Belanja Tidak Langsung (X2), Jumlah Penduduk (X3) dan Pendapatan Asli Daerah (Z)terhadap Kemandirian Keuangan(Y)

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis dapat disimpulkan bahwa H1 diterima artinya Belanja Langsung (X1), Belanja Tidak Langsung (X2), Jumlah Penduduk (X3) dan Pendapatan Asli Daerah (Z)secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Kemandirian Keuangan(Y). Belanja langsung dan belanja tidak langsung yang merupakan komponen dari belanja daerah, jumlah penduduk dan Pendapatan Asli Daerah secara simultan tentunya akan mempengaruhi kemandirian keuangan daerah.

Serapan anggaran Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara berupa belanja daerah akan mempengaruhi peningkatan Kemandirian Keuangan. Jumlah penduduk tentunya akan berperan sekaligus berkontribusi terhadap naik turunnya Pedapatan Asli Daerah. Begitu juga halnya dengan peranan Pedapatan Asli Daerah tentunya juga tidak terlepas dan menentukan Kemandirian Keuangan Daerah. Oleh karena itu variabel-variabel ini secara simultan tentu berpengaruh terhadap Kemandirian Keuangan Daerah. 5.2.6. Pengaruh Belanja Langsung (X1) terhadap Pendapatan Asli Daerah (Z)

sebagai Variabel Intervening

Hasil pengujian hipotesis menunjukkan hipotesis diterima. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara langsungBelanja Langsung berpengaruh positif dan signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah.Semakin besar serapan anggaran Belanja Langsung maka secara langsung meningkatkan Pendapatan Asli Daerah. Dan sebaliknya semakin rendah serapan anggaran Belanja Langsung maka secara

langsung menurunkan Pendapatan Asli Daerah. Sebagai contah pengadaan barang dan jasa yang ditampung dalam kelompok belanja langsung akan menumbuhkembangkan para penyedia barang dan jasa untuk mengurus perijinan perusahaannya. Hal ini tentu akan memberikan kontribusi terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah dimana perusahaan penyedia barang dan jasa akan dikenakan retribusi perijinan yang merupakan sumber Pendapatan Asli Daerah. 5.2.7. Pengaruh Belanja Tidak Langsung (X2) terhadap Pendapatan Asli Daerah

(Z) sebagai Variabel Intervening

Hasil pengujian pengaruh langsung Belanja Tidak Langsung terhadap Pendapatan Asli Daerah menunjukkan bahwa secara langsung Belanja Tidak Langsung berpengaruh positif dan signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah.Ketentuan hukum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pokok-Pokok Pengelolaan daerah dan Pearturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 dan peraturan perubahannya telah mengklasifikasikan dan mengelompokkan belanja tidak langsung berupa belanja pegawai, belanja bunga, belanja subsidi, belanja hibah, belanja bantuan social, belanja bagi hasil, belanja keuangan dan belanja tidak terduga. Dengan demikian maka serapan anggaran atas belanja ini sudah barang tentu akan berpengaruh positif signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah. Misalnya gaji pegawai yang ditampung dalam belanja pegawai akan berimbas dibayarkannya retribusi sampah rumah tangga pegawai sebagai kontribusi atas Pendapatan Asli Daerah. Tentu juga sebaliknya dengan tidak dibayarkannya retribusi sampah rumah tangga pegawai maka Pendapatan Asli Daerah akan menjadi rendah.

78 5.2.8. Pengaruh Jumlah Penduduk (X3) terhadap Pendapatan Asli Daerah (Z)

sebagai Variabel Intervening

Hasil pengujian hipotesis atas Pengaruh Jumlah Penduduk menunjukkan menunjukkan bahwa secara langsung Jumlah Penduduk berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah. Hasil penelitian ini menunjukkan ketidakkonsitenan dengan teori yang ada yang berpandangan bahwa jumlah penduduk berpengaruh atas pajak. Peningkatan pajak daerah sebagai komponen Pendapatan Asli Daerah ditopang oleh jumlah penduduk di suatu kawasan.

Sebaran jumlah penduduk dalam daerah kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara kurang merata atau hanya berfokus pada kota-kota besar ditenggarai menyebabkan tidak terdapatnya pengaruh langsung Jumlah Penduduk terhadap Pendapatan Asli Daerah dalam pengujian pada penelitian ini. Atau kata lainnya meskipun identitas penduduk tercatat pada suatu daerah namun berdomisili di daerah lainnya. Hal ini tentunya meyebabkan penduduk tersebut tidak berkontribusi pada daerah tercatatnya (asal) namun sebaliknya kontribusi dari penduduk tersebut akan dirasakan oleh daerah domisilinya.

Hal ini sejalan dengan Widarjono (Budiharjo, 2003:159) yang mengemukakan bahwa, jumlah penduduk yang besar bagi Indonesia oleh perencanaan pembangunan dipandang sebagai asset modal besar pembangunan tetapi sekaligus juga sebagai beban. Pembangunan sebagai asset apabila dapat meningkatkan produksi nasional. Jumlah penduduk yang besar akan menjadi beban jika struktur, persebaran, dan mutunya sedemikian rupa sehingga hanya

menuntut pelayanan sosial dan tingkat produksinya rendah sehingga menjadi tanggungan penduduk yang bekerja secara efektif.

5.2.9. Pengaruh Belanja Langsung (X1) terhadap Kemandirian Keuangan(Y) Melalui Pendapatan Asli Daerah (Z) sebagai Variabel Intervening

Koefisien regresi pengaruh langsung Belanja Langsung terhadap Kemandirian Keuanganadalah 0,009. Sedangkan pengaruh tidak langsung Belanja Langsung terhadap Kemandirian Keuangan melalui Pendapatan Asli Daerah adalah 0,052460. Pengaruh langsung lebih kecil dari pengaruh tidak langsung (0,009 < 0,052460) dan karena nilai t hitung uji Sobel = 7,256 lebih besar dari t tabel

= 1,96 dengan tingkat signifikansi 5%, maka dapat disimpulkan bahwa Pendapatan Asli Daerah merupakan variabel intervening antara pengaruh Belanja Langsung terhadap Kemandirian Keuangan dengan koefisien mediasi 0,052460. Hasil pengujian hipotesis yang peneliti teliti tidak menemukan hasil penelitian sebelumnya untuk pengujian yang sama.

5.2.10. Pengaruh Belanja Tidak Langsung (X2) terhadap Kemandirian Keuangan(Y) Melalui Pendapatan Asli Daerah (Z) sebagai Variabel Intervening

Koefisien regresi pengaruh langsung Belanja Tidak Langsung terhadap Kemandirian Keuanganadalah - 0,059. Sedangkan pengaruh Belanja Langsung terhadap Kemandirian Keuangan melalui Pendapatan Asli Daerah adalah 0,072895. Pengaruh langsung lebih kecil dari pengaruh tidak langsung (- 0,059 < 0,072895) dan karena nilai t hitung uji Sobel = 7,401 lebih besar dari t tabel = 1,96 dengan tingkat signifikansi 5%, maka dapat disimpulkan bahwa Pendapatan Asli

80 Langsungterhadap Kemandirian Keuangan dengan koefisien mediasi 0,072895. Hasil pengujian hipotesis yang peneliti teliti tidak menemukan hasil penelitian sebelumnya untuk pengujian yang sama.

5.2.11. Pengaruh Jumlah Penduduk (X3) terhadap Kemandirian Keuangan(Y) Melalui Pendapatan Asli Daerah (Z) sebagai Variabel Intervening

Koefisien regresi pengaruh langsung Jumlah Penduduk terhadap Kemandirian Keuanganadalah 0,012. Sedangkan pengaruh Jumlah Penduduk terhadap Kemandirian Keuangan melalui Pendapatan Asli Daerah adalah 0,009455. Pengaruh langsung lebih besar dari pengaruh tidak langsung (0,012> -0,009455) dan karena nilai t hitung uji Sobel = -1,665 lebih kecil dari t tabel = 1,96 dengan tingkat signifikansi 5%, maka dapat disimpulkan bahwa Pendapatan Asli Daerah bukan merupakan variabel intervening antara pengaruh Jumlah Penduduk terhadap Kemandirian Keuangan dengan koefisien mediasi -0,009455. Hasil pengujian hipotesis yang peneliti teliti tidak menemukan hasil penelitian sebelumnya untuk pengujian yang sama.

81

BAB VI

Dokumen terkait