HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan Hasil Penelitian
1. Analisis jawaban siswa dalam menyelesaikan soal-soal Ikatan Kimia a) Soal menentukan konfigurasi elektron dari atom 20Ca dan 17Cl
Menentukan Konfigurasi elektron untuk mencapai kestabilan unsur pada soal no 1. Sebagian besar siswa menjawab benar dan tidak mengalami kesulitan. 30 siswa menjawab benar dan hanya 5 orang siswa saja yang menjawab salah. Berdasarkan hasil wawancara terhadap 5 siswa, mereka merasa bingung dalam menentukan konfigurasi elektron, hal ini disebabkan karena siswa tersebut lupa bagaimana konsep kestabilan unsur oktet dan duplet. (lampiran C 3)
b) Soal mengambarkan proses pembentukan ikatan ion dari atom 19K dengan
35Br dan 56Ba dengan 8O
Konsep Ikatan Ion yaitu bagaimana cara unsur-unsur dapat membentuk Ikatan Ion terdapat pada soal no 2. Pada soal no 2 sebanyak 13 siswa menjawab benar dan 22 siswa menjawab salah. Setelah di lakukan wawancara pada beberapa siswa yang mengalami kesulitan pada konsep ini, diperoleh informasi bahwa siswa tidak paham bagaimana cara unsur dapat membentuk Ikatan Ion. (lampiran C 4)
c) Soal menggambarkan pembentukan ikatan kovalen untuk senyawa C2H2 dan PCl3
Pada soal nomor 3 sebanyak 23 siswa menjawab kurag tepat, hanya 12 orang siswa yang menjawab benar. Hal ini disebabkan siswa tidak paham terhadap konsep Ikatan Kovalen yaitu penggunaan elektron secara bersama-sama. Siswa merasa kesulitan menentukan apakah ikatan kovalen dalam soal ikatan kovalen tunggal, rangkap 2 atau rangkap 3.(lampiran C 4)
d) Soal menggambarkan pembentukan ikatan Kovalen Koordinasi untuk senyawa SO3
Pada konsep pembentukan Ikatan Kovalen Koordinasi yang terdapat di soal no 4 sebanyak 30 siswa menjawab salah, karena siswa sama sekali tidak faham
e) Soal menentukan 2 sifat-sifat ikatan ion dan ikatan kovalen
Soal no 5 yaitu menuliskan sifat-sifat ikatan Ion dan Ikatan Kovalen, sebanyak 28 siswa menjawab benar dan 7 siswa menjawab salah. Berdasarkan hasil wawancara dengan 7 orang siswa yang menjawab salah, mereka merasa kesulitan karena lupa sifat-sifat Ikatan Ion dan Ikatan Kovalen.
2. Analisis faktor-faktor kesulitan belajar siswa berdasarkan hasil angket Data hasil penelitian dari 35 siswa untuk angket meliputi dua faktor yang mempengaruhi. Faktor-faktor tersebut dapat dibahas sebagai berikut:
a. Faktor Internal Siswa
Hasil angket merujuk pada Tabel 4.2 menunjukkan bahwa aspek motivasi merupakan aspek kedua faktor internal yang mempengaruhi kesulitan belajar siswa dalam mempelajari Ikatan Kimia. Aspek ini terdiri dari dua indikator, yaitu indikator perhatian siswa terhadap pembelajaran dan usaha siswa untuk belajar konsep ikatan kimia. Dari Tabel 4.2 terlihat bahwa indikator pertama 60,45% dengan kualifikasi cukup berpengaruh. Hal ini berarti sebagian besar siswa tidak memiliki motivasi yang besar untuk menjawab pertanyaan atau tugas-tugas yang diberikan guru saat pembelajaran ikatan kimia atau dapat dikatakan ada siswa yang memiliki motivasi dan ada siswa yang tidak memiliki motivasi. Kurangnya motivasi siswa berdasarkan hasil wawancara siswa merasa segan ketika bertanya atau menjawab pertanyaan yang di ajukan guru. Sehingga cenderung hanya siswa berkemampuan tinggi yang aktif menjawab pertanyaan guru, mengerjakan tugas saat pembelajaran berlangsung. Hal ini sesuai dengan penelitian Sapuroh (2010:58) menyatakan bahwa tidak adanya motivasi siswa untuk mempelajari konsep monera pada mata pelajaran biologi dengan perolehan persentase sebesar 22%.
Indikator selanjutnya merupakan indikator yang tidak mempengaruhi kesulitan belajar siswa yaitu pada adalah perhatian siswa terhadap pembelajaran ikatan kimia dengan persentase sebesar 56.18% dengan kualifikasi cukup berpengaruh. Hal ini berarti sebagian besar siswa masih memilliki motivasi yang perhatian yang kurang terhadap materi ikatan kimia.
Aspek minat merupakan aspek pertama yang termasuk ke dalam faktor internal siswa. Dalam angket penelitian, aspek ini terdiri atas 2 indikator, yaitu ketertarikan pada pembelajaran materi ikatan kimia dan sikap pada pembelajaran materi ikatan kimia. Berdasarkan hasil angket, indikator yang pertama mempunyai persentase sebesar 62,85% dengan kualifikasi lemah. Hal ini dapat dikatakan bahwa siswa lebih banyak yang tidak merasa malas dan bosan dalam pembelajaran ikatan kimia dalam arti siswa secara umum memiliki ketertarikan terhadap pembelajaran ikatan kimia. Secara umum siswa menunjukkan adanya minat belajar, walaupun tidak terlalu dominan. Selanjutnya, indikator kedua yaitu sikap siswa terhadap pembelajaran materi ikatan kimia. Indikator ini mendapatkan persentase sebesar 63,80%, persentase ini masuk ke dalam kualifikasi lemah. Artinya siswa sudah memiliki sikap yang baik selama proses pembelajaran ikatan kimia.
b. Faktor Eksternal Siswa
Pada faktor eksternal, aspek yang pertama ditinjau adalah aspek guru yaitu bagaimana cara guru mengajar dan metode guru dalam mengajar materi ikatan kimia. Pada aspek ini persentasenya adalah sebesar 60,00%, dengan kualifikasi cukup berpengaruh. Hal ini berarti bahwa cara mengajar guru dan metode guru dalam mengajar cukup berpengaruh dalam kesulitan belajar siswa.
Indikator yang kedua adalah metode penyampaian materi ikatan kimia dengan persentase sebesar 62,13% dengan kualifikasi lemah, hal ini berarti bahwa guru mempunyai pengaruh cukup dominan terhadap keberhasilan hasil belajar siswa, sehingga siswa memiliki motivasi untuk belajar ikatan kimia.
Faktor eksternal yang selanjutnya adalah faktor sekolah yang berupa aspek sarana dan prasarana disekolah dengan rata-rata persentase sebesar 80,35% dengan kualifikasi lemah. Hal ini berarti bahwa sarana dan prasaran disekolah seperti ketersediaan buku-buku pelajaran kimia, alat peraga maupun laboratorium tidak terlalu berpengaruh terhadap kesulitan belajar siswa pada materi ikatan kimia.
Dari pembahasan di atas dapat diketahui bahwa faktor yang paling dominan yang menyebabkan siswa mengalami kesulitan belajar berasal dari faktor
diri sendiri yaitu pada motivasi belajar siswa dengan persentase sebesar 58,35 % Sedangkan faktor eksternal yaitu sekolah dan guru sebesar persentase sebesar 82,02%, dan 62,25% . Hal ini berarti siswa merasa kesulitan belajar dan memahami materi ikatan kimia berasal dari diri nya sendiri yaitu kurangnya motivasi belajar siswa, sedangkan sekolah yang menyediakan buku-buku pelajaran sebagai bahan penunjang untuk mengtasi kesulitan belajar tidak terlalu berpengaruh terhadap kesulitan belajar siswa. Sedangkan guru yang mempunyai peran penting dalam tercapainya keberhasilan siswa dalam memahami materi ikatan kimia berpengaruh cukup signifikan yaitu dengan prsentase sebesar 62,25%
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dan hasil pembahasan menunjukkan kesulitan belajar siswa kelas XB dalam menyelesaikan soal-soal Ikatan Kimia SMA Negeri 1 Siantan Kabupaten Mempawah Tahun ajaran 2015/2016 sebagai berikut :
1. Kesulitan yang dialami siswa yaitu, a) kesulitan dalam menentukan Ikatan Ion sebesar 62.85%. b) kesulitan dalam menentukan Ikatan Kovalen sebesar 55.71%. c) kesulitan dalam menentukan Ikatan Kovalen Koordinasi sebesar 85.71%.
2. Faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar meliputi. (a) faktor internal yaitu pada motivasi dengan indikator usaha untuk belajar ikatan kimia dan perhatian siswa terhadap pembelajran Ikatan Kimia sebesar 58,31% (b) faktor eksternal yaitu pada aspek cara mengajar guru sebesar 60,00%.
B. Saran
Memperhatikan kesulitan yang dihadapi oleh siswa dalam pembelajaran Ikatan Kimia, penulis memberikan saran sebagai berikut :
1. Diharapkan sekolah dapat mendeteksi faktor-faktor kesulitan belajar siswa dalam mempelajari mata pelajaran kimia.
2. Bagi guru diharapkan dapat mengetahui kesulitan belajar sehingga dapat membantu atau membimbingnya dalam mempelajari materi Ikatan Kimia.
3. Bagi siswa diharapkan dapat memperdalam pengetahuan tentang Ikatan Kimia
sehingga dapat menggatasi kesulitan-kesulitan belajar yang dihadapinya. 4. Diharapkan siswa lebih sering melakukan diskusi baik dengan guru