HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.4 Pembahasan Hasil Penelitian
Setelah menganalisis tiap scene yang ada dalam film tersebut dengan semiotika Roland Barthes dan teori konstruksi realitas terhadap film, dengan ini peneliti akan mengaitkan hasil penelitian dengan teori yang peneliti pilih untuk menunjang hasil penelitian. Penelitian dilakukan untuk memaknai isi pesan berupa pencarian identitas homoseksual dan mengetahui simbol-simbol identitas homoseksual yang ada dalam film The Love Of Siam.
Hasil dari penelitian ditemukan bahwa film ini menceritakan kisah dua orang remaja laki-laki yang mencari identitas seksualnya. Dalam makna denotasi, film tersebut menggambarkan bagaimana dua orang remaja laki-laki yang mengalami sebuah konflik mencari dan menemukan identitas seksual mereka yang sebenarnya sebagai seorang homoseksual. Hal ini diperlihatkan melalui beberapa faktor dalam adegan film tersebut yang membuat kedua tokoh utama menemukan identitas seksual mereka dan saling menjalin
111
hubungan hingga ditolak dan ditentang oleh keluarga dan teman-temannya.
Dalam makna konotasi, awalnya mereka hanya bersahabat dan sempat berpisah karena keluarga Tong mengalami sebuah konflik akibat kepergian Tang (kakak perempuan Tong), hingga akhirnya mereka bertemu kembali saat duduk dibangku SMA.
Ketika mereka bertemu pun, Mew dan Tong sedang menghadapi masalah mereka masing-masing. Tong mengalami konflik hebat di dalam keluarganya, yaitu kedua orang tuanya selalu bertengkar, ayahnya suka meminum minuman keras dan ibunya menjadi sosok yang dominan di dalam keluarga, sehingga yang mengambil keputusan adalah ibunya.
Mew adalah tokoh pertama yang merasakan ada perasaan yang aneh didalam dirinya terhadap Tong. Dia merasa bahwa Tong adalah orang yang sangat berharga bagi dirinya. Sampai akhirnya Mew menyadari bahwa dirinya mencintai Tong lebih dari seorang sahabat dan ingin Tong menjadi kekasihnya. Mew pun menyampaikan perasaannya kepada Tong melalui sebuah lagu.
Tong yang tadinya tidak menyadari perasaan Mew terhadap dirinya, akhirnya mulai mengetahui perasaan Mew tersebut. Dia pun menerima cinta Mew dan mereka menjalin hubungan. Tong pernah memiliki seorang kekasih wanita bernama Donut, namun
112
dia tidak dapat merasakan rasa cinta yang dalam sama seperti rasa cintanya terhadap Mew. Tong pun mulai menyadari bahwa ada yang salah terhadap dirinya. Dia selalu menyangkal setiap kali ditanya apakah dia seorang gay atau bukan.
Secara mitos, Tong dan Mew mulai menyadari identitas seksual mereka sebagai seorang gay, ketika Mew menyampaikan perasaannya kepada Tong melalui kepada Tong, yang akhirnya membuat mereka menjalin sebuah hubungan sebagai sepasang kekasih. Karena rasa kesepian dan kurangnya didikan dari orang tua dan pendalaman agama yang mereka alami, merekapun tidak menyadari bahwa seharusnya orientasi seksual mereka adalah lawan jenis dan bukan sesama jenis. Hubungan yang mereka jalani pun mendapatkan penolakan dan pertentangan dari keluarga Tong.
Sunee yang merupakan ibu kandung Tong merasa bahwa apa yang dilakukan Mew dan Tong adalah hal yang salah karena tidak sesuai dengan agama dan norma sosial yang ada.
Identitas seksual berarti bagaimana seseorang memandang dirinya, baik sebagai laki-laki ataupun sebagai perempuan.
Identitas seksual mengacu pada hasil pembagian jenis kelamin secara kromosomal, kromatinal (genetis), gonadal, hormonal, dan somatis (fenotipis, biotipis). Atau dengan kata lain, identitas seksual mengacu pada kejantanan (maleness) atau kebetinaan
113
(femaleness) dari segi ragawi (bentuk tubuh), khususnya alat kelamin luar (Oetomo, 2001: 26).
Kaum gay masih tetap merasa dan menganggap dirinya sebagai laki-laki. Dalam mewujudkan seksualitasnya, ada yang bertindak sebagai pihak pasif (seperti peran perempuan dalam hubungan seksual) dan ada yang bertindak sebagai pihak aktif (seperti peran laki-laki), tetapi masing-masing tetap menganggap diri sebagai laki-laki, baik secara fisik maupun psikis.
Secara sosiologis, homoseksual adalah seseorang yang cenderung mengutamakan orang yang sejenis kelaminnya sebagai mitra seksual. Homoseksual sudah dikenal sejak lama, misalnya pada masyarakat Yunani Kuno. Di Inggris baru pada akhir abad ke 17 homoseksualitas hanya dipandang sebagai tingkah laku seksual belaka, namun juga peranan yang agak rumit sifatnya, yang timbul dari keinginan-keinginan maupun aktivitas para homoseks (Soekanto, 2004: 381).
Selain itu dalam teks alkitab pun terdapat perdebatan dan landasan tindakan diskriminasi terhadap kaum homoseksual adalah Kejadian 19:1-26, kisah tentang kota Sodom dan Gomora yang dibumihanguskan oleh Sang Pencipta. Berbagai pendapat muncul ketika membahas mengenai latar belakang musnahnya dua kota ini. Pandangan yang paling banyak dianut adalah bahwa penduduk Sodom dan Gomora memiliki orientasi
114
homoseksual. Itulah sebabnya istilah sodomi yang merupakan perilaku seksual dengan sesama jenis kelamin (antara laki-laki dengan laki-laki) atau dengan binatang, merujuk pada nama Sodom, tempat di mana dosa itu pertama kali dilakukan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi latar belakang musnahnya Sodom dan Gomora serta mengusulkan interpretasi baru terhadap Kejadian 19:1-26. 8
Karena sifatnya yang yang sangat tergantung pada norma sosial-budaya, sulit untuk menyatakan homoseksual ini sebagai penyakit atau gangguan jiwa. Oleh karena itu, gejala ini tidak dianggap sebagai penyakit atau gangguan jiwa. Berkaitan dengan gangguan jiwa, lebih lanjut menurut Liza Marielly Djaprie bahwa:
“Dalam kamus psikologis terdapat istilah DSM (Diagnostic And Statistical Manual Of Mental Disorders). Pada tahun 1901, homoseksualitas masih dianggap sebagai gangguan jiwa. Namun setelah diteliti lebih lanjut melalui DSM 1, DSM 2 dan DSM 3, ditemukan bahwa homoseksual bukanlah gangguan jiwa, tetapi homoseksual dianggap sebagai gangguan jiwa yang mengikuti homoseksualitas, bisa berupa depresi.
Hingga saat ini homoseksual diasumsikan sebagai hal yang normal, bukan penyakit. Tapi jika seandainya ada seorang homoseksual yang tidak terima dibilang homo akan menjadi depresi dan akan mengalami gangguan kejiwaan. Saat ini disebut sebagai gangguan jiwa yang mengikuti homoseksualitas.” 9
8 http://journal-theo.ukdw.ac.id/index.php/gemateologika/article/view/406/281 pada 1 Juni 2019 pukul 17:00
9 Wawancara dengan Liza Marielly Djaprie (Psikolog), 18 Juli 2019 di Jakarta
115
Hal ini juga berkaitan dengan temuan-temuan dalam ilmu pengetahuan yang membuktikan bahwa pada setiap diri manusia terdapat dorongan biseksual (hasrat seksual ganda). Pada sebagian besar orang, dorongan ini berkembang ke arah jenis kelamin yang berbeda dan menjadikannya heterosexual (Sarwono, 2008:187).
Perilaku homoseksual tidak muncul secara tiba-tiba pada diri seorang homo, akan tetapi ada beberapa faktor penyebabnya, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah faktor bawaan dari awal pembentukan zygot atau pertemuan sel sperma dan sel telur, sampai pada saat kehamilan dan kelahiran.
Berkaitan dengan faktor-faktor penyebab homoseksual, Liza Marielly Djaprie berpendapat bahwa:
“Jika dilihat dari sisi teori psikologis, homoseksual terdiri tiga hal, pertama adalah genetika, sejak lahir seseorang sudah memiliki gen feminitas dibanding dengan gen maskulin.
Kedua,karena trauma, seperti sering diputuskan oleh lawan jenis, faktor ibu yang mendominasi dikeluarga, atau bahkan trauma dengan sang ayah, karena saat kecil tidak mendapatkan cinta ayah, sehingga saat dewasa mencari cinta dari seorang laki-laki. Ketiga adalah faktor pergaulan, seperti bergaul dengan gay ataupun homoseksual sehingga ikut terbawa.”10
Anak yang lahir dengan kelainan genetik dan hormonal, selanjutnya akan tumbuh dan berkembang menjadi remaja dan dewasa berdasarkan kelainan yang dimilikinya. Misalnya anak perempuan yang lahir dengan kelainan genetik dan hormonal,
10 Wawancara dengan Liza Marielly Djaprie (Psikolog), 18 Juli 2019 di Jakarta
116
maka anak perempuan bisa tumbuh dan berkembang dengan fisik dan kepribadian cenderung seperti anak laki-laki. Begitu pula sebaliknya, anak laki-laki dengan kelainan genetik dan hormonal akan tumbuh dan berkembang dengan fisik dan kepribadian yang cenderung seperti perempuan.
Faktor eksternal adalah faktor-faktor yang disebabkan oleh situasi dan kondiri di luar diri anak. Termasuk faktor dari luar diri anak, yaitu pendidikan orang tua, lingkungan pergaulan, kekerasan fisik atau psikis yang dialami anak, depresi atau stres yang dialami anak, pengaruh media elektronik maupun media cetak dan ikut-ikutan gaya teman-teman di sekitarnya.
Pendidikan yang salah pada anak dapat menyebabkan perubahan kepribadian pada diri anak, misalnya anak perempuan dididik seperti laki-laki, maka anak perempuan cenderung akan menjadi anak laki-laki, demikian pula sebaliknya anak laki-laki yang dididik seperti anak perempuan, maka anak laki-laki cenderung menjadi anak perempuan. Ditambah lagi dengan pergaulan yang salah akan memperkuat jadi diri seorang homo. Anak perempuan banyak bergaul dengan anak laki-laki, sebaliknya anak laki-laki banyak bergaul dengan anak perempuan. Kekerasan fisik dan psikis yang dialami oleh anak akan menyebabkan kebencian dan dendam pada status diri seseorang. Contoh, seorang anak laki-laki seringkali mendapat
117
kekerasan fisik atau psikis dari ibu atau pacarnya maka akan tumbuh dalam dirinya suatu kebencian dan dendam pada sosok perempuan. Dan bila tumbuh rasa aman dan nyaman dalam dirinya ketika dia dekat pada sosok laki-laki, maka cepat atau lambat akan tumbuh perasaan suka, cinta dan bahkan orientasi homoseksual.
Menurut Liza Marielly Djaprie, pengaruh stres dan depresi yang dialami seseorang juga dapat menjadi penyebab terjadi perilaku homoseksual.
“Dalam psikologi hal itu dinamakan dengan Covert Homoseksuality. Covert artinya tertutup, jadi belum disadari selama ini, tiba-tiba karena ada trauma, karena pergaulan dan hal kompleks lainnya sehingga mudah terpengaruh untuk menjadi homoseksual.”11
Seseorang yang kurang memiliki keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan, ketika mengalami stres dan depresi (banyak faktor penyebabnya) akan cenderung mudah terpengaruh dan terbawa pada kehidupan bebas dan menyimpang dari aturan dan ajaran agama.
Pola asuh orang tua dapat mempengaruhi pembentukan karakter anak. Interaksi anak dan orang tua. Pada awal kehidupan penting sebagai dasar perkembangan emosional anak. Didikan yang keras dapat meningkatkan frekuensi terjadinya gangguan perilaku pada anak. Dengan kata lain
11 Wawancara dengan Liza Marielly Djaprie (Psikolog), 18 Juli 2019 di Jakarta
118
keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi perkembangan anak. Pola asuh keluarga mempengaruhi proses sosialisasi.
Ayah mempunyai pengaruh besar dalam perkembangan peran seksual anak. Jika peran ayah kecil atau tidak berperan sama sekali dalam perkembangan anak, terutama dalam hal pola asuh, maka akan muncul kesimpangsiuran peran jenis kelamin anak. 12
Menurut Kartini, sebab-sebab perilaku homoseksual, antara lain:
1. Faktor dalam berupa ketidakseimbangan hormon-hormon seks di dalam tubuh seseorang.
2. Pengaruh lingkungan yang tidak baik atau tidak menguntungkan bagi perkembangan kematangan seksual yang normal.
3. Seseorang selalu mencari kepuasan relasi homoseksual karena pernah menghayati pengalaman homoseksual yang menggairahkan pada masa remaja.
4. Seorang anak laki-laki pernah mengalami pengalaman traumatis dengan ibunya sehingga timbul kebencian atau antipati terhadap ibunya dan semua wanita (Kartono, 1989:247)
Penyebab perilaku homoseksual lainnya adalah adanya dominasi figur salah satu orang tua yang sama dengannya.
Misalnya orang tua yang berstatus single parent (ayah atau ibu saja) dapat menyebabkan anaknya memiliki sifat dan karakter seperti ayah atau ibu.
12 https://jurnaliainpontianak.or.id/index.php/raheema/article/download/556/351 pada 20 Juli 2019 pukul 16:45
119
Seorang anak perempuan yang diasuh dan dibesarkan oleh ayahnya maka ketika ia tumbuh besar akan cenderung memiliki sifat dan kepribadian seorang laki-laki. Begitupun sebaliknya bilamana seorang anak laki-laki yang diasuh dan dibesarkan oleh seorang ibu, maka ia akan cenderung memiliki sifat dan kepribadian seorang perempuan. Selanjutnya, bila anak yang telah memiliki kecenderungan homoseksual, maka konsisi dan lingkungan pergaulan dapat menjadi penguat dan pendorong tumbuh kembang sifat dan kepribadian homoseksual. 13
Pada umumnya pelaku homoseksual menyembunyikan tentang orientasi seksual dihadapan umum. Peyimpangan seksual yang dilakukan oleh kaum homoseksual secepat mungkin harus segera ditangani dan tidak boleh dibiarkan.
Tujuan penanganan terhadap penyimpangan homoseksual adalah untuk mengembalikannya pada kehidupan seks yang normal. Liza Marielly Djaprie berpendapat bahwa:
“Cara yang dapat dilakukan adalah terapi. Pertama pasien harus menyadari bahwa ada yang salah pada dirinya atau tidak. Terapi yang dilakukan berupa terapi konseling seperti hipnoterapi dan psikoterapi, terapi ini harus rajin dilakukan.”
14
13 https://jurnaliainpontianak.or.id/index.php/raheema/article/download/556/351 pada 20 Juli 2019 pukul 18:00
14 Wawancara dengan Liza Marielly Djaprie (Psikolog), 18 Juli 2019 di Jakarta
120
Pandangan sosial terhadap homoseksual
Perilaku seksual yang menyimpang masih merupakan hal yang tabu bagi masyarakat. Masyarakat masih kental dan memegang teguh apa yang dinamakan dengan ajaran moral, etika, dan agama, sehingga perilaku seksual yang menyimpang tentu bukanlah fenomena yang dapat diterima begitu saja.
“Sebetulnya yang tabu tidak hanya homoseksualitas, di Indonesia sendiri yang mencakup tentang seks adalah tabu, contohnya pada acara televisi masih banyak adegan yang di sensor padahal hanya kartun. Untuk saya pribadi hal ini tidak hanya sisi homoseksualitasnya yang tabu, tetapi juga dari sisi seksualitasnya itu sendiri.” 15
Pandangan negatif mengenai homoseksual inilah yang menyebabkan homoseksual cenderung tidak diterima masyarakat, rentan mengalami diskriminasi, cemoohan serta sanksi-sanksi sosial lainnya.
Penolakan serta diskriminasi masyarakat terhadap kaum homoseksual yang berupa tuntutan untuk menjadi heteroseksual dalam seluruh aspek kehidupan melatarbelakangi keputusan sebagian kaum homoseksual untuk tetap menyembunyikan keadaan orientasi seksualnya dari masyarakat sehingga orang-orang yang memiliki orientasi homoseksual memilih untuk
15 Wawancara dengan Liza Marielly Djaprie (Psikolog), 18 Juli 2019 di Jakarta
121
menutupi orientasi seksualnya baik secara sosial, adat dan hukum. 16
Hingga saat ini masyarakat masih belum bisa menerima keberadaan kaum homoseksual, karena menyukai sesama jenis adalah hal yang tidak wajar (tabu). Homoseksual secara sosiologis adalah seseorang yang memilih sesama jenisnya sebagai mitra seksual dan homoseksualitas sendiri merupakan sikap, tindakan atau perilaku pada homoseksual (Soekanto, 2004:381).
Masyarakat dengan keanekaragamannya memang sulit menerima keberadaan kaum homoseksual, masyarakat seolah tidak ingin tahu alasan seseorang menjadi homoseksual.
Masyarakat sepertinya terlanjur menilai kaum homoseksual dari kisah-kisah homoseksual yang pernah dilakukan oleh kaum Nabi Luth zaman terdahulu (Oetomo, 2001:16).
Sebagai kajian atau referensi serta bahan pertimbangan dalam penelitian ini, digunakan penelitian terdahulu sebagai pembanding dan tolak ukur untuk mempermudah penyusunan penelitian ini, dan juga beberapa pendapat dari peneliti dan penonton yang diberikan. Penelitian pertama adalah Putri Azyyatul Amimah (Univ. Prof. Dr. Moestopo, 2016), dengan judul
“Representasi Perempuan Sebagai Objek Penyimpangan Seksual
16 http://journal.unair.ac.id/download-fullpapers-jurnal%20shinstya.doc pada 22 Juli 2019 pukul 12:00
122
Dalam Film „Fifty Shades Of Grey‟ (Studi Semiotika Komunikasi Model Roland Barthes” dengan hasil penelitian berupa konotasi dari film “Fifty Shades Of Grey” adalah film drama romantis yang mengusung tema BSDM. Denotasinya adalah film drama romantis yang mengadung seks akan lebih digemari. Mitosnya bahwa laki-laki lebih memiliki sifat dominan dan perempuan mengikuti keinginan laki-laki. Walaupun menggambarkan sosok perempuan lemah, namun film ini menggambarkan nilai pandang lebih sosok perempuan.
Penelitian kedua adalah Arief Tirtana (Universitas Prof. Dr.
Moestopo, 2018) dengan judul “Analisis Semiotika Tentang Pemaknaan Cinta Dalam Film Romeo Juliet Karya Andibachtiar Yusuf” dengan hasil penelitian secara keseluruhan adalah film ini dapat dijadikan sebagai pembelajaran. Bagaimana disebuah konflik terkandung banyak perasaan cinta di dalamnya pada akhirnya, pilihan kita lah yang menentukan untuk memilih perasaan cinta yang mana yang dominan untuk kita jalani. Dari pilihan tersebut yang selanjutnya menentukan apakah konflik tersebut akan berakhir atau terus berkepanjangan. Dan lebih lanjut penelitian ini diharapkan dapat menambah dan memberikan sumbangan pemikiran serta bermanfaat untuk pengembangan studi ilmu komunikasi.
123
Penilaian terhadap kaum homoseksual, peneliti berpendapat bahwa:
“Identitas seksual seseorang dapat dibentuk melalui didikan orang tua dan juga masyarakat serta agama yang dianut.
Sangat penting bagi orang tua untuk menuntun anak-anaknya menuju jalan yang benar dan sesuai dengan norma sosial dan agama. Agar anak bisa tumbuh dan berkembang sesuai dengan identitas seksual mereka yang seharusnya.”17 Untuk mengetahui lebih jauh tentang kaum homoseksual, Keren Siwalette yang sudah menonton film ini, menyatakan bahwa:
“Homoseksual dianggap tabu adalah tergantung bagaimana orang lain memandang hal tersebut. Saat ini homoseksual sudah tidak menjadi hal yang tabu lagi karena sudah dibuktikan bahwa homoseksual itu bukanlah suatu penyakit dan bukan suatu penyimpangan, melainkan faktor gen atau pemberian.18
Sedangkan menurut Djoko Sugiarto, bahwa:
“Salah satu faktor yang membuat seseorang menjadi homoseksual adalah rasa trauma dan rasa benci terhadap lawan jenis, salah satunya karena terus menerus ditolak rasa cintanya, dan lebih banyak mendapat kasih sayang dari sesama jenis, sehingga timbul rasa nyaman dan akhirnya menjadi menyukai sesama jenis.”19
17 Pendapat peneliti, Putri Anggia C.A.S, 24 Agustus 2019 di Pamulang
18 Wawancara dengan Keren Siwalette (Penonton), 24 Agustus 2019 di Pamulang
19 Ibid
124