BAB IV HASIL PENELITIAN
D. Pembahasan Hasil Penelitian
Penelitian eksperimen mengenai perbedaan hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan model Problem Based Learning (PBL) dengan siswa yang diajar dengan model Discovery Learning pada materi Turunan Fungsi Aljabar di kelas XI MIA SMA Negeri 1 Kotapinang ditinjau dari penilaian tes hasil belajar menghasilkan skor rata-rata hitung hasil belajar dalam kemampuan siswa di kelas XI MIA yang berbeda-beda.
Temuan hipotesis pertama memberikan kesimpulan bahwa: hasil belajar siswa yang diajar dengan model Problem Based Learning (PBL) lebih baik dari pada hasil belajar siswa yang diajar dengan model Discovery Learning pada materi Turunan Fungsi Aljabar di kelas XI MIA SMA Negeri 1 Kotapinang. Hal ini terlihat bahwa siswa yang diajar dengan menggunakan model Problem Based Learning (PBL) memiliki hasil belajar yang lebih tinggi nilainya daripada siswa yang diajar dengan model Discovery Learning. Hal ini disebabkan karena ilmu matematika yang dimiliki seseorang akan berkembang jika dalam kehidupan sehari-hari konsep dan aturan-aturan yang ia pahami digunakan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam pemecahan masalah maupun hanya untuk pengaplikasian saja. Problem Based Learning adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk menyelesaikan suatu masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut sekaligus memiliki keterampilan untuk menyelesaikan masalah.55
Model Problem Based Learning merupakan pembelajaran interaktif yang akan membawa siswa berpikir kritis di dalam proses pembelajarannya sehingga
55
Karunia Eka Lestari dan Mokhammad Ridwan Yudhanegara, 2015. Penelitian
siswa dapat memecahkan permasalahan yang diberikan melalui kemampuan yang ia miliki.
Temuan Hipotesis kedua memberikan kesimpulan bahwa: bagi siswa yang memiliki kemampuan tinggi, hasil belajar siswa yang diajar dengan model Problem Based Learning lebih baik daripada hasil belajar siswa yang diajar dengan model Problem Based Learning di kelas XI MIA SMA Negeri 1 Kotapinang.
Hal ini terlihat bahwa siswa yang memiliki kemampuan tinggi yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning lebih bersemangat dan termotivasi untuk belajar sehingga siswa yang diajar dengan model pembelajaran Problem Based Learning memiliki hasil belajar yang lebih tinggi nilainya daripada siswa yang diajar dengan model Discovery Learning. Pada kelas yang diberikan model Discovery Learning kurang aktif dalam belajar dan berdiskusi.
Model Discovery Learning tidak menjamin siswa bersemangat mencari penemuan-penemuan.56 Belajar penemuan ini memerlukan kecerdasan anak yang tinggi bila kurang cerdas, hasilnya kurang efektif. Teori belajar seperti ini memerlukan waktu cukup lama dan kalau kurang terpimpin atau kurang terarah dapat menyebabkan kekacauan dan kekaburan atas materi yang dipelajari.57
Oleh karena itu bagi siswa yang memiliki kemampuan tinggi ,hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan pembelajaran Problem Based Learning (PBL) lebih baik daripada hasil belajar siswa yang diajar dengan model Discovery Learning pada materi Turunan Fungsi Aljabar di kelas XI MIA SMA Negeri 1 Kotapinang.
56 Sri Hastuti Noer. 2017. Strategi Pembelajaran Matematika. Yogyakarta: Matematika. h.175
57 Chandra Ertikanto, 2016. Teori Belajar Dan Pembelajaran. Yogyakarta: media akademi. h.71
96
Temuan Hipotesis ketiga memberikan kesimpulan bahwa: bagi siswa yang memiliki kemampuan rendah, hasil belajar siswa yang diajar dengan model Problem Based Learning (PBL) tidak lebih baik dari hasil belajar siswa yang diajar dengan model Discovery Learning pada materi Turunan Fungsi Aljabar di kelas XI MIA SMA Negeri 1 Kotapinang.
Meskipun hal ini membuktikan bahwa tidak terdapat perbedaan diantara
kedua model pembelajaran terhadap hasil belajar matematika siswa bagi siswa yang
memiliki kemampuan rendah, namun skor rata-rata kemampuan pemecahan masalah
matematika siswa di kelas eksperimen 1 menunjukkan skor yang lebih tinggi daripada
skor siswa di kelas eksperimen 2.
Sedangkan pada hipotesis terakhir dari penelitian ini memberikan temuan bahwa tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran dan kemampuan siswa terhadap hasil belajar siswa pada materi Turunan di kelas XI MIA SMA Negeri 1 Kotapinang.
Berdasarkan pengujian hipotesis keempat bahwa tidak ada interaksi antara model pembelajaran dengan kemampuan siswa terhadap hasil belajar. Hal ini terbukti berdasarkan pada perhitungan uji tuckey diatas yang mana penelitian ini menunjukkan model Problem Based Learning dan model Discovery Learning memberi pengaruh yang berbeda terhadap hasil belajar siswa lepas dari kemampuan belajar siswa. Sehingga hipotesis yang diajukan ditolak (Ha ditolak). Untuk itu perlu dilakukan mengkaji ulang kembali kajian teori pada penelitian, karena penelitian dan teknik analisis data telah dilakukan sesuai dengan desain atau rancangan penelitian.
Tidak adanya interaksi antara model pembelajaran dengan kemampuan yang dimiliki siswa terhadap hasil belajar, dapat disebabkan karena adanya pengaruh kemampuan belajar siswa dengan adanya model pembelajaran dapat menyamai kondisi lain dalam diri subjek yang belum dapat diamati. Jika hal ini benar maka dapat diterima
bahwa kemampuan belajar siswa dan model pembelajaran memberi pengaruh yang berbeda terhadap hasil belajar. Oleh karena itu penelitian ini merupakan pendekatan untuk mendiskripsikan faktor apa yang mempengaruhi hasil belajar, khususnya dalam model pembelajaran yang tepat untuk digunakan.
Dalam penelitian ini faktor yang diteliti yang dapat mempengaruhi hasil belajar salah satunya yang berasal dari dalam diri siswa yaitu kemampuan belajar siswa. Dan faktor lain yang berasal dari luar diri siswa terutama yang berasal dari guru yaitu strategi atau model pembelajaran yang digunakan guru dalam proses belajar mengajar.
Adanya pemilihan model pembelajaran yang baik dari calon guru dan guru atas kemampuan yang dimiliki siswanya didasari atas suatu keyakinan bahwa, berbagai model yang digunakan dalam pembelajaran yang diperuntukkan bagi siswa-siswanya dapat memberikan keberhasilan belajar, baik bagi siswa maupun bagi calon guru dan guru.
Sedangkan dari sisi kemampuan yang dimiliki oleh para siswa, khususnya kemampuan yang berkenaan dengan materi Turunan Fungsi Aljabar merupakan salah satu pertanda bahwa siswa memiliki kemampuan yang berbeda dalam kegiatan pembelajaran yang ada di sekolah.
Dengan hanya memiliki kemampuan tinggi dari siswa dan tidak disertai dengan adanya pemilihan model pembelajaran, seorang calon guru dan guru belum cukup dikatakan lebih baik dalam memberikan pengajaran untuk mencapai keberhasilan belajar.
Berkaitan dengan hal ini sebagai calon guru dan seorang guru sudah sepantasnya dapat memilih dan menggunakan model pembelajaran dalam proses belajar mengajar di sekolah. Hal ini dikarenakan agar siswa tidak pasif dan tidak mengalami kejenuhan. Selain itu, pemilihan model pembelajaran yang tepat tersebut merupakan kunci berhasil atau tidaknya suatu pembelajaran yang dijalankan.
98
Dengan demikian berdasarkan temuan dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: Hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan model pembelajaran Problem Based Learning lebih baik daripada hasil belajar siswa yang diajar dengan model Discovery Learning pada materi Turunan Fungsi Aljabar di kelas XI MIA SMA Negeri 1 Kotapinang Tahun Pelajaran 2018/2019.