• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : HASIL PENELITIAN

D. Pembahasan Hasil Penelitian

Pada bagian ini diuraikan deskripsi dan interpretasi data hasil penelitian.

Deskripsi dan interpretasi dilakukan terhadap kemampuan pemecahan masalah

dan kemampuan komunikasi matematis siswa yang diajar dengan model

pembelajaran Numbered Head Together dan siswa yang diajar dengan model

pembelajaran Teams Games Tournament sebagai berikut:

1. Temuan hipotesis pertama memberikan kesimpulan bahwa: terdapat

perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang diajar

dengan model pembelajaran Numbered Head Together lebih baik

daripada siswa yang diajar dengan model Teams Games Tournament pada

materi Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel di kelas X MAS Al-Ulum

Medan. Dengan adanya nilai rata-rata kemampuan pemecahan masalah

matematis siswa yang diajar menggunakan pembelajaran Numbered Head

Together yaitu 76,06, sedangkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang diajar diajar menggunakan pembelajaran Teams

Games Tournament adalah 70,51.

Hal ini sesuai dengan yang dipaparkan Risnaldi bahwa penerapan

teknik Numbered Head Together memberikan dampak positif yaitu

antusiasme siswa dalam belajar bisa lebih tinggi, lebih mudah dalam

menyelesaikan pertanyaan sulit, dan lebih tertarik dalam kerja kelompok.

Untuk meraih tujuan personal mereka, anggota kelompok harus

84

kelompok mereka berhasil, dan mungkin yang lebih penting, mendorong

anggota satu kelompoknya untuk melakukan usaha maksimal. Dengan

kata lain, penghargaan kelompok yang didasarkan pada kinerja kelompok

(atau penjumlahan dari kinerja individual) menciptakan struktur

penghargaan interpersonal di mana anggota kelompok akan memberikan

atau menghalangi pemicu-pemicu sosial (seperti pujian dan dorongan)

dalam merespons usaha-usaha yang berhubungan dengan tugas

kelompok.

Dengan demikian, antara satu siswa dengan siswa yang lain dalam

kelompok dapat memberikan jawabannya dengan caranya sendiri-sendiri.

Tanpa disadari siswa telah melakukan aktivitas memecahkan suatu

masalah atau soal, karena masing-masing siswa akan berusaha untuk

menjawab pertanyaan dengan cara yang berbeda dengan temannya

disamping itu juga memperhatikan kualitas jawaban yang di berikan.

Hipotesis pertama ini juga sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh

Piaget dan Vigotsky. Piaget menjelaskan bahwa interaksi antara siswa

dengan kelompok sebayanya sangat penting. Karena perkembangan

kognitif siswa akan terjadi dalam interaksi antara siswa dengan kelompok

sebayanya daripada dengan orang-orang yang lebih dewasa. Demikian

pula halnya yang di kemukakan Vigotsky, bahwa

keterampilan-keterampilan dalam keberfungsian mental berkembang melalui interaksi

sosial langsung.87

87Syaiful Bahri Djamarah, (2010), Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Jakarta: Rineka Cipta, hal. 276

2. Temuan hipotesis kedua memberikan kesimpulan bahwa: terdapat

perbedaan kemampuan komunikasi matematis siswa yang diajar dengan

model pembelajaran Numbered Head Together lebih baik daripada siswa

yang diajar dengan model pembelajaran Teams Games Tournament pada

materi Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel di kelas X MAS Al-Ulum

Medan. Dengan adanya nilai rata-rata kemampuan komunikasi matematis

siswa yang diajar menggunakan pembelajaran Numbered Head Together

yaitu 74,06, sedangkan kemampuan komunikasi matematis siswa yang

diajar diajar menggunakan pembelajaran Teams Games Tournament

adalah 59,54.

Hal ini sesuai dengan salah satu kelebihan dari model pembelajaran

Numbered Head Together yaitu terjadi interaksi secara intens antarsiswa dalam menjawab soal. Hal ini memberikan arti bahwa pembelajaran

kooperatif dapat memudahkan siswa dalam meyelesaikan sebuah

permasalahan dengan cara berdiskusi sehingga mampu membuat siswa

memiliki kecakapan berbahasa sendiri dalam menyelesaikan masalah

matematika. Komunikasi dianggap merupakan standar kemampuan yang

harus dimiliki para siswa setelah menyelesaikan suatu pembelajaran.

Kemampuan komunikasi merupakan kemampuan yang merupakan target

pembelajaran matematika yang sangat berguna bagi siswa dalam

kehidupannya. Hal ini dikarenakan dengan adanya komunikasi yang di

berikan siswa, maka menunjukkan bahwa suatu pembelajaran telah

mampu atau berhasil membantu siswa untuk mencapai tujuan yang akan

86

Pembelajaran kooperatif sendiri merupakan pembelajaran yang

dikembangkan berdasarkan teori kontruktivisme salah satunya model

pembelajaran Numbered Head Together . Para siswa bekerja dalam

kelompok dan bertukar jawaban, mendiskusikan ketidaksamaan, dan

mereka bisa mendiskusikan pendekatan-pendekatan untuk memecahkan

suatu masalah atau saling memberikan pertanyaan tentang isi dari meteri

pelajaran.

Dalam model pembelajaran Numbered Head Together siswa akan

mendiskusikan masalah yang di berikan dengan tujuan kelompoknya yang

akan menjadi pemenang. Hal ini disebabkan oleh adanya stimulus yang

diberikan guru yaitu adanya penghargaan/hadiah yang akan di berikan

kepada kelompok yang berprestasi dan menang. Hal ini sejalan dengan

teori motivasi. Dari persfektif motivasional, struktur tujuan kooperatif

menciptakan sebuah situasi dimana satu-satunya cara anggota kelompok

bisa meraih tujuan pribadi mereka adalah jika kelompok mereka bisa

sukses. Oleh karena itu, untuk meraih tujuan personal mereka, anggota

kelompok harus membantu teman satu timnya untuk melakukan apa pun

guna membuat kelompok mereka berhasil, dan mungkin yang lebih

penting, mendorong anggota satu kelompoknya untuk melakukan usaha

maksimal. Dengan demikian, siswa akan berusaha untuk memahami

konsep yang di berikan, baik secara individu maupun kelompok. Hal ini

dikarenakan, selain adanya pembelajaran secara kelompok siswa akan di

berikan quis secara individu, dan kemampuan pemahaman konep siswa

kelompoknya.

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, aktivitas utama dalam model

pembelajaran Numbered Head Together adalah belajar dalam kelompok,

jadi semua permasalahan yang akan dipecahkan dan diselesaikan di bahas

secara berdiskusi untuk menemukan solusinya sebelum masing-masing

siswa menjalani kuis secara individu. Dengan demikian, sudah jelas bahwa

dengan adanya model pembelajaran Numbered Head Together siswa akan

terlatih dalam memecahkan masalah. Selain itu, dengan adanya diskusi

yang dilakukan kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah

terdorong keluar. Dengan demikian, kemampuan komunikasi matematis

siswa pada model pembelajaran Numbered Head Together lebih

maksimal dan mendapatkan hasil yang maksimal pula.

3. Temuan hipotesis ketiga memberikan kesimpulan bahwa: terdapat

perbedaan kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan komunikasi matematis siswa yang diajar dengan model pembelajaran

Numbered Head Together lebih baik daripada siswa yang diajar dengan model Teams Games Tournament pada materi Sistem Persamaan Linear

Tiga Variabel di kelas X MAS Al-Ulum Medan. Seperti yang dipaparkan

sebelumnya, ini bisa dilihat dari nilai rata-rata yang diperoleh siswa

dengan kemampuan dan model pembelajaran. Hal ini sejalan dengan apa

yang dikemukakan Piaget bahwa struktur kognitif ini sebagai skemata,

yaitu kumpulan skema-skema. Seorang individu dapat mengikat,

88

bekerjanya skemata ini.88 Artinya, pengetahuan berasal dari dalam diri

individu. Hal ini menjelaskan bahwa meskipun suatu masalah dapat

diselesaikan dengan cara berdiskusi, tetapi semuanya kembali pada diri

individu siswa masing-masing. Meskipun adanya dorongan dari teman

untuk dapat menguasai materi dengan cara saling berinteraksi dan bertukar

pikiran, apabila individu dari siswa kurang dalam tingkat kognitifnya

maka suatu masalah atau persoalan akan sulit untuk dipecahkan dan

diselesaikan.

Dalam proses belajar siswa berdiri terpisah dan berinteraksi dengan

lingkungan sosial. Pemahaman atau pengetahuan merupakan penciptaan

makna pengetahuan baru yang bertolak dari interaksinya dengan

lingkungan sosial. Kemampuan menciptakan makna atau pengetahuan

baru itu sendiri lebih ditentukan oleh kematangan biologis. Menurut

piaget, dalam belajar lingkungan sosial hanya berfungsi sekunder,

sedangkan faktor utama yang menentukan terjadinya belajar tetap pada

individu yang bersangkutan. Jadi, ketika dalam kelompok selain interaksi

antar siswa sangat berpengaruh dalam belajar, namun semuanya kembali

pada diri masing-masing individu anggota kelompok.

Dokumen terkait