• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

B. Pembahasan hasil penelitian

Desa Cabean Kecamatan Wonosalam Kabupaten Demak mempunyai kelompok tani dimana kelompok tani tersebut beranggotakan para pekerja yang berprofesi sebagai petani. Jumlah anggota kelompok tani Desa Cabean berjumlah 132 petani. Hasil penelitian menunjukan bahwa partisipasi keikutsertaan petani dalam Program BPJS Kesehatan yaitu sebagai berikut

Tabel 5.1

Partisipasi Petani Kelompok Tani Makmur Sejahtera No Partisipasi BPJS Jumlah Prosentase (%)

1 Ingin berpartisipasi 9 90

2 Tidak ingin

berpartisipasi

1 10

Berdasarkan tabel 5.1 anggota Kelompok Tani Makmur Sejahtera yang ingin berpartisipasi dalam keikutsertaan BPJS Kesehatan berjumlah 9 responden (90%) dan 1 responden tidak berpartisipasi dalam keikutsertaan BPJS Kesehatan. Berdasarkan pendapatan petani apabila di hubungkan dengan keinginan partisipasi petani untuk mengikuti BPJS kesehatan dapat dijelaskan bahwa penghasilan responden rendah serta responden mengetahui tentang BPJS Kesehatan sehingga bisa dikatakan keinginan responden akan BPJS Kesehatan tinggi akan tetapi penghasilan mereka tidak mampu menutupi keinginan untuk berpartisipasi dalam BPJS Kesehatan. sedangkan hasil wawancara tentang faktor yang mempengaruhi keikutsertaan BPJS pada

pekerja sektor informal profesi petani di Desa Cabean Kecamatan Wonosalam Kabupaten Demak didapatkan hasil bahwa terdapat tiga faktor yaitu faktor usia, faktor pendidikan dan faktor pengetahuan.

1. Faktor Usia

Faktor pertama yang mempengaruhi keikutsertaan Program BPJS

Kesehatan adalah faktor usia. Rentang usia dalam penelitian ini berusia antara 43 tahun hingga 62 tahun dikarenakan para anggota Kelompok Tani Makmur Sejahtera beranggotakan petani dengan rentang usia antara 43 tahun hingga 62 tahun. Disamping itu para pemuda di Desa Cabean lebih memilih bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan dari pada memilih menjadi petani sehingga usia petani di Desa Cabean memiliki rentang antara 43 tahun hingga 62 tahun. Usia merupakan lama kehidupan seseorang dari mulai dilahirkan sampai meninggal dunia (4). Seseorang dapat mengambil kebijaksanaan secara mandiri pada usia lebih dari 15 tahun sedangkan dibawah 15 tahun masih dikatakan belum dapat mengambil kebijakan berkaitan dengan tindakan yang dilakukan. Perubahan umur mempengaruhi perilaku seseorang karena melalui perjalanan umurnya proses pendewasaan terjadi. Maka seseorang akan lebih mudah untuk melakukan adaptasi perilaku hidup dengan lingkungannya dalam hal ini berkaitan dengan keikutsertaanya untuk menjadi anggota BPJS Kesehatan (2).

Keikutsertaan para petani pada faktor usia dalam keikutsertaan Program BPJS Kesehatan didapatkan hasil bahwa usia responden paling muda berusia 43 tahun sedangkan usia paling tua berusia 60 tahun, pada rentang usia

tersebut mayoritas responden tidak memiliki penyakit sedangkan sebagian kecil responden memiliki penyakit diantaranya, asma, usus buntu, dan katarak mata dan apabila responden sakit, mayoritas responden akan pergi ke puskesmas dan sebagian kecil pergi ke bidan desa, menurut para responden Program BPJS Kesehatan membantu dalam menjamin kesehatan responden, akan tetapi para responden belum ikut serta dalam Program BPJS Kesehatan, dikarenakan berobat di Puskesmas hanya membayar biaya pendaftaran saja kemudian setelah itu apabila periksa dan obat gratis, apabila masyarakat disuruh bayar itu untuk mengganti biaya operasional misalnya apabila jahit luka, ganti perban, bedah ringan dan lainya, besaran biayanya antara Rp. 10.000,- samapai Rp.30.000,-, dengan keadaan ini masyarakat enggan untuk mengikuti Program BPJS Kesehatan dan mereka memilih periksa di Puskesmas hal tersebut sesuai dengan Peraturan Daerah atau Perda Kabupaten Demak tahun 2009 Nomor 8 tentang retribusi pelayanan kesehatan pasal 4 ayat 5 menyebutkan bahwa semua pengunjung/penderita yang datang ke Puskesmas untuk mendapatkan pelayanan kesehatan diharuskan mendaftar dengan tanpa dipungut biaya. Pada pasal 6 ayat 1 menyebutkan bahwa Bagi penderita tidak mampu agar dapat dilakukan pelayanan pengobatan secara cuma – cuma, wajib melengkapi Surat Keterangan tidak mampu dari Kepala Desa / Kelurahan dan bagi penderita peserta Perum Husada Bakti, Veteran, Perintis Kemerdekaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Rentang usia antara 43 tahun sampai dengan 60 tahun mayoritas responden membutuhkan dan mendukung dengan adanya Program BPJS

Kesehatan, walaupun para responden mendukung dan membutuhkan, mereka tidak ikut BPJS Kesehatan, hal ini dikarenakan apabila mereka mengikuti Program BPJS Kesehatan mereka harus membayar setiap bulan sesuai dengan iuran yang mereka pilih, alasan lain adalah masyarakat jarang sakit apabila sakit ringan, kebanyakan masyarakat membeli obat di warung. Usia dalam penelitian ini berhubungan dengan keikutsertaan dalam mengikuti program BPJS Kesehatan.

Hasil serupa juga diungkapkan oleh Andi,dkk yang mengungkapkan bahwa usia mempengaruhi seseorang dalam memanfaatkan penggunaan kartu BPJS Kesehatan dan usia berhubungan dengan keikutsertaan pada Program BPJS Kesehatan yaitu sebanyak 58 orang (62,2%) dengan usia diatas 40 tahun berpartisipasi dalam Program BPJS Kesehatan (29).

Usia diartikan dengan lamanya keberadaan seseorang diukur dalam satuan waktu di pandang dari segi kronologik, individu normal yang memperlihatkan derajat perkembangan anatomis dan fisiologik sama. Usia seseorang dikatakan dapat mengabil suatu kebijaksanaan secara mandiri pada usia lebih dari 15 tahun sedangkan dibawah 15 tahun masih dikatakan belum dapat mengambil kebijakan berkaitan dengan tindakan yang dilakukan.

Sehingga orang dengan usia diatas 15 tahun bisa menentukan apakah dia ikut serta dalam Program BPJS Kesehatan atau tidak, usia dapat menentukan seseorang dalam Program BPJS Kesehatan, karena diusia semakin tua seseorang tersebut akan lebih matang dalam mengambil keputusan. Disamping itu semakin tua seseorang, maka akan semakin beresiko seseorang terkena

penyakit.(29) Menurut Budioro, perubahan umur mempengaruhi perilaku seseorang karena melalui perjalanan umurnya proses pendewasaan terjadi.

Maka seseorang akan lebih mudah untuk melakukan adaptasi perilaku hidup dengan lingkungannya dalam hal ini berkaitan dengan keikutsertaanya untuk menjadi anggota BPJS Kesehatan(2).

2. Faktor Pendidikan

Faktor kedua yang mempengaruhi keikutsertaan Program BPJS

Kesehatan adalah faktor pendidikan. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar seseorang secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan (16). Hal ini menegaskan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan responden akan memberikan pengaruh terhadap cara berfikirnya, dalam penelitian ini tingkat pendidikan responden rendah dan para responden belum berpartisipasi menjadi anggota BPJS Kesehatan, semakin rendah pendidikan seseorang akan berpengaruh terhadap pola fikirnya sehingga lebih sulit menerima terhadap perubahan dan perkembangan(2). Sehingga dapat dikatakan semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin baik orang tersebut dalam menyikapi kesehatan pada diri mereka dalam mewujudkan keikutsertaanya menjadi anggota BPJS Kesehatan, .

Hasil wawancara kepada sepuluh responden pada variabel pendidikan, responden berpendidikan SD sebanyak 4 responden, berpendidikan SMP sebanyak 5 responden dan berpendidikan SMA sebanyak 1 responden.

Dilihat dari tingkat pendidikan minat dan partisipasi responden terhadap Program BPJS Kesehatan belumlah tinggi karena hampir seluruh responden menjawab mereka berminat dan berpartisipasi akan tetapi belum menjadi anggota BPJS Kesehatan dikarenakan mereka lebih mengandalkan periksa gratis di Puskesmas dikarenakan setelah mendaftar di Puskesmas mereka akan periksa dan mendapatkan obat gratis, kalaupun bayar besaran biaya antara Rp.

10.000,- sampai Rp.30.000,-, hal ini didasarkan pada Perda Kabupaten Demak No. 8 Tahun 2009 Pasal 6 Ayat 1 yang menyebutkan bahwa bagi penderita tidak mampu agar dapat dilakukan pelayanan pengobatan secara cuma – cuma, wajib melengkapi Surat Keterangan tidak mampu dari Kepala Desa / Kelurahan dan bagi penderita peserta Perum Husada Bakti, Veteran, Perintis Kemerdekaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Alasan lainnya Program BPJS Kesehatan tiap bulan bayar sedangkan periksa di Puskesmas tidak dipungut biaya bagi yang tidak mampu dan walaupun bayar besaran biayanya hanya Rp. 10.000,- untuk sekali periksa, disamping itu menurut mereka bahwa sakit itu tidak tiap bulan mesti sakit dan periksa ke Puskesmas sehingga mereka enggan untuk ikut Program BPJS Kesehatan.

Hasil ini serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Desy Rohmawati yang menyatakan bahwa pendidikan berhubungan dengan pemilihan keikutsertaan BPJS Kesehatan, sehingga dapat disiimpulkan bahwa

semakin tinggi pendidikan maka seseorang tersebut akan sadar akan jaminan kesehatan sehingga orang tersebut akan ikut serta dalam Program BPJS Kesehatan (30). Hasil analisis antara status pendidikan responden dan keikutsertaan BPJS Kesehatan menunjukkan bahwa respoden yang berstatus pendidikan dasar mayoritas berpartisipasi dalam BPJS Kesehatan yaitu sebanyak 27 orang (16,8%), responden dengan berpendidikan lanjut paling banyak memilih berpartisipasi dalam BPJS Kesehatan yaitu sebanyak 34 orang (24,0%). Sehingga disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara status pendidikan responden dengan pemilihan jenis iuran mandiri. Pada masyarakat dengan tingkat pendidikannya tinggi biasanya bisa mendapatkan pekerjaan pada sektor formal, yang dapat memberikan jaminan kesehatan dan tingkat pendapatan yang lebih baik. Bahkan pada penduduk dengan tingkat pendapatan yang tinggi, dengan kesadaran sendiri, membeli asuransi kesehatan bagi mereka maupun keluarga mereka. Ini menyebabkan kepemilikan asuransi juga meningkat. Sedangkan pada penduduk yang memiliki kartu sehat sebaliknya.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar seseorang secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan.

Salah satu dasar utama pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati generasi (16). Defenisi lain menyebutkan pendidikan merupakan praktik pengembangan dan pengujian teori-teori yang akan memberi kita pemaknaan lebih tentang pengalaman kita (4). Hal ini juga ditegaskan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan responden akan memberikan pengaruh terhadap cara berfikirnya semakin rendah pendidikan seseorang akan berpengaruh terhadap pola fikirnya sehingga lebih sulit menerima terhadap perubahan dan perkembangan (2). Pendidikan responden tidak berpengaruh terhadap pengetahuan responden, pendidikan responden dalam penelitian ini rendah sedangkan pengetahuanya tinggi dikarenakan responden meneria penyuluhan dari petugas BPJS Kesehatan, hasil ini serupa dengan peneliutian Hermawati yang mengungkapkan bahwa pendidikan tidak terdapat pengaruh dengan pengetahuan (32)

3. Faktor Pengetahuan

Faktor ketiga yang mempengaruhi keikutsertaan Program BPJS

Kesehatan adalah faktor pengetahuan. Pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu dari manusia, yang sekedar menjawab pertanyaan “what”. Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan (penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba). Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknnya tindakan

seseorang (13). Budaya atau lingkungan berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan seseorang yang tinggal di wilayah yang mayoritas penduduknya menjadi anggota BPJS Kesehatan, akan lebih tinggi dari pada orang yang

tinggal di wilayah yang penduduknya mayoritas tidak menjadi anggota BPJS Kesehatan (8). Dikatakan bahwa seseorang yang mendapat informasi lebih banyak, akan menambah pengetahuan yang lebih luas dan pengetahuan yang diperoleh sesuai dengan informasi yang didapatkan. Pendidikan kesehatan (pengetahuan) sangat berpangaruh terhadap tindakan seseorang di masyarakat

(2). Dari sini dapat ditarik hubungan bahwa pengetahuan memiliki kaitan erat dengan keikutsertaan BPJS Kesehatan.

Hasil wawancara dengan responden menunjukan bahwa seluruh responden semuanya sudah tahu tentang Program BPJS, para responden juga mengetahui tentang perbedaan Program Jamkesmas dengan BPJS Kesehatan, inti dari jawaban responden tentang perbedaan Jamkesmas dengan BPJS Kesehatan adalah Jamkesmas diperuntukan bagi masyarakat miskin sedangkan BPJS Kesehatan adalah Program jaminan kesehatan diperuntukan bagi seluruh masyarakat Indonesia dengan sistem gotong royong dan membayar iuran setiap bulanya sesuai dengan kelas yang dipilih. Untuk pengetahuan responden tentang pembayaran iuran tiap bulan dalam BPJS Kesehatan, mayoritas sudah mengetahui iuran dalam BPJS Kesehatan, pembiayaan kelas dalam BPJS kesehatan yaitu kelas I dengan iuran sebesar Rp.59.500,- tiap bulan, Kelas II dengan iuran sebesar Rp. 42.500,- tiap bulan dan Kelas III dengan iuran sebesar Rp. 25.500,- tiap bulan, hal tersebut diketahui dikarenakan mereka sudah mengikuti sosialisasi dan penyuluhan dari petugas BPJS Kesehatan Kabupaten Demak. Pengetahuan responden tentang apabila pembayaran BPJS Kesehatan itu, jika ternyata dalam kurun waktu tertentu tidak sakit, uang

tidak bisa diambil, mayoritas responden mengetahui dan mereka sadar bahwa Program BPJS merupakan Program tolong menolong, Pengetahuan responden tentang iuran pembayaran apakah per kepala keluarga atau per anggota keluarga dalam kartu kepala keluarga, mereka sudah mengetahuinya.

Pengetahuan responden tentang BPJS Kesehatan baik, dikarenakan para responden sudah mendapatkan penyuluhan dari petugas BPJS Kesehatan sehingga mereka mengetahui apa itu BPJS Kesehatan, walaupun demikian para responden tidak ikut serta menjadi anggota BPJS Kesehatan hal tersebut dipengaruhi oleh cara berpikir responden yang mayoritas pendidikan responden SD, dimana pendidikan merupakan praktik pengembangan dan pengujian teori-teori yang akan memberi kita pemaknaan lebih tentang pengalaman kita (4). Hal ini juga ditegaskan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan responden akan memberikan pengaruh terhadap cara berfikirnya semakin rendah pendidikan seseorang akan berpengaruh terhadap pola fikirnya sehingga lebih sulit menerima terhadap perubahan dan perkembangan (2).

Hasil penelitian ini juga sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Andi yang mengungkapkan bahwa pengetahuan berpengaruh terhadap keikutsertaan BPJS Kesehatan dengan nilai p value 0,000 dengan pengetahuan cukup sebanyak 28% dan pengetahuan baik sebanyak 72 %(29). Responden yang memiliki pengetahuan kurang dan ikut serta pelayanan BPJS Kesehatan sebanyak 50 orang (69,4%) sedangkan yang memiliki pengetahuan kurang dan tidak ikut serta pelayanan BPJS Kesehatan sebanyak 22 orang (30,6%). Responden yang memiliki pengetahuan cukup dan ikut serta

pelayanan BPJS Kesehatan sebanyak 12 orang (42,9%) sedangkan yang memiliki pengetahuan cukup dan tidak ikut serta pelayanan BPJS Kesehatan sebanyak 16 orang (57,1%).

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menyatakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian dan responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkat-tingkat pengetahuan (14). Tindakan seseorang yang didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif, maka tindakan tersebut akan bersifat langgeng (long lasting). Sebaliknya apabila tindakan itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran akan tidak berlangsung lama (14).

Dikatakan bahwa seseorang yang mendapat informasi lebih banyak, akan menambah pengetahuan yang lebih luas dan pengetahuan yang diperoleh sesuai dengan informasi yang didapatkan. Pendidikan kesehatan (pengetahuan) sangat berpangaruh terhadap tindakan seseorang di masyarakat (2). Dari sini dapat ditarik hubungan bahwa pengetahuan memiliki kaitan erat dengan keikutsertaan BPJS Kesehatan. Akan tetapi pengetahuan tinggi tidak berpengaruh terhadap pendidikan respon. Seperti yang diungkapkan oleh Hermawati tentang pengaruh gender, tingkat pendidikan dan usia terhadap kesadaran berasuransi pada masyarakat Indonesia, dimana kesadaran diukur dengan pengetahuan masyarakat tentang asuransi jiwa, dalam penelitian tersebut didapatkan hasil bahwa pengetahuan seseorang tentang asuransi tidak berpengaruh terhadap pendidikan, pendidikan rendah tidak menutup

kemungkinan responden berpengetahuan tinggi tentang asuransi, hal tersebut dikarenakan responden telah mendapatkan informasi tentang asuransi (32).

BAB VI

Dokumen terkait