• Tidak ada hasil yang ditemukan

Siklus II Kategori 1. Tekun menghadapi

B. Pembahasan Hasil Penelitian

Motivasi belajar begitu penting bagi siswa, terutama dalam kegiatan belajar megajar. Motivasi yang ada ada diri siswa dapat diketahui dengan melihat indikator motivasi belajar yang terlihat pada diri siswa. Indikator motivasi belajar tersebut antara lain sebagai berikut (Sardiman, 2007:83).

1. Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus menerus dalam waktu yang lama, tidak pernah berhenti sebelum selesai).

2. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas puas). Tidak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi sebaik mungkin (tidak cepat puas dengan prestasi yang telah dicapainya).

3. Lebih senang bekerja mandiri.

4. Tidak cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin (hal-hal yang bersifat mekanis, berulang-ulang begitu saja, sehingga kurang kreatif).

5. Dapat mempertahankan pendapatnya (kalau sudah yakin akan sesuatu).

6. Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal (peka dan responsif terhadap berbagai masalah umum, dan memikirkan cara penyelesaiannya).

1834 Vol. 3, No. 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:

Siswa kelas X MIPA yang menjadi subyek penelitian di SMAN-2 Pulang Pisau menunjukkan bahwa penerapan model Discovery Learning pada pembelajaran PAI dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Hal ini ditunjukkan dengan data hasil observasi kelas dan respon terhadap angket yang langsung diberikan dan diisi oleh siswa. Terbukti dengan peningkatan nilai hasil evaluasi belajar siswa, hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan.

Sebelum menggunakan model Discoveri Learning, guru lebih sering menggunakan metode ceramah dalam menyampaikan materi ajar siswa, dan sesekali menggunakan metode observasi, akan tetapi motivasi belajar siswa rendah, hal ini dapat dilihat dari hasil pada pra siklus 40,3 % (rendah) menjadi 66,6 % pada siklus I atau meningkat 26,3% setelah pada penerapan model Discoveri Learning dan pada siklus II sebesar 77,8% atau meninggkat 11,2 % dari siklus I.

Pada data hasil evaluasi belajar siswa menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan hasil belajar siswa dari siklus I ke siklus II yang terlihat dari meningkatnya nilai rata-rata kelas, yaitu dari 73,0 meningkat menjadi 86,0. Jadi hasil evaluasi belajar semua peserta didik sudah memenuhi KKM yang sudah ditetapkan yaitu 68.

Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok pada siklus I.

Guru menjelaskan kegiatan Discovery Learning yang akan dilakukan sebagai bagian dari model pembelajaran. Kegiatan diawali dengan siswa menonton video guru sebagai stimulus. Setelah itu, siswa menuliskan detail penting dan pertanyaan tentang pertunjukan. Setelah itu, guru membuat lembar kerja siswa, dan siswa beserta kelompoknya menyelidiki dan mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan materi. Guru hanya sebagai pembimbing yang membantu siswa belajar, namun bukan berarti siswa kurang aktif.

Berdasarkan refleksi pada siklus I diketahui bahwa penerapan model Discovery Learning yang tepat dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan masih terdapat kekurangan dan kekurangan. Kelemahan ini antara lain kurangnya pemahaman guru tentang bagaimana metode pembelajaran digunakan, yang mengakibatkan penjelasan yang kurang ideal bagi siswa dan mengurangi kemandirian mereka. Selain itu, kegiatan pembelajaran masih didominasi oleh siswa yang lebih pintar di setiap

1835 Vol. 3, No. 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:

kelompok, dan siswa masih kurang percaya diri dalam mengajukan pertanyaan yang baik antar kelompok. kelompok, guru, dan tidak adanya sumber belajar.

Pada siklus II digunakan perencanaan yang lebih matang untuk memperbaiki kekurangan yang masih ada pada siklus I. Kekurangan tersebut antara lain membagi kelompok dan memberikan peran kepada setiap siswa dalam kelompok, memberikan penjelasan dan instruksi sejelas mungkin kepada siswa sebelum melaksanakan. model pembelajaran terkait, dan menyediakan sumber belajar tambahan yang sudah tersedia.

Motivasi siswa dapat meningkat sebagai hasil dari perbaikan yang dilakukan pada siklus II. Siswa lebih mampu mempertahankan pendapatnya, siswa lebih senang belajar sendiri, siswa menginginkan tugas yang beragam karena bosan dengan tugas yang rutin, siswa lebih ulet dalam mengatasi kesulitan belajarnya, dan siswa juga lebih cenderung mencari dan mencari tahu. memecahkan masalah yang berkaitan dengan Pendidikan Agama Islam.

Penelitian tindakan kelas yang dilakukan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dengan menggunakan model Discovery Learning pada pembelajaran PAI kelas X di SMAN – 2 Pulang Pisau dikatakan berhasil karena terjadi peningkatan pada siklus II ini. Penelitian ini berakhir pada siklus II karena motivasi belajar siswa memenuhi kriteria keberhasilan yang telah ditentukan dan tuntas.

KESIMPULAN A.

KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian tindakan kelas di SMAN -2 Pulang Pisau Kelas X dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan model Discovery learning pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, terbukti dari setiap siklusnya.

Pada pra siklus rata-rata skor aktivitas siswa yang menunjukkan tingkat motivasi siswa adalah 40,3% yang tergolong rendah. Selain itu, nilai rata-rata motivasi belajar siswa yang tercermin dari keaktifannya dalam mengikuti kegiatan pembelajaran meningkat menjadi 66,6% yang dikategorikan Tinggi mengikuti

1836 Vol. 3, No. 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:

tindakan yang dilakukan pada siklus I. Pada siklus II nilai rata-rata motivasi belajar siswa untuk berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran meningkat menjadi 77,8%, menempatkan mereka pada kategori tinggi.

Siswa kelas X SMAN-2 Pulang Pisau yang sebelumnya pasif dan cenderung diam saat tidak memahami materi yang disampaikan guru dan kurang motivasi dalam belajar sudah terlihat aktif saat mengikuti kegiatan pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Siswa yang sebelumnya memiliki keberanian untuk bertanya dan menjawab pertanyaan dari guru kini memiliki keberanian untuk melakukannya. Dampak yang diperoleh dari penerapan model pembelajaran Discovery Learning pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dalam kegiatan pembelajaran Selain itu, siswa aktif mengikuti kegiatan diskusi seperti mengemukakan pendapatnya. Melalui kegiatan presentasi, keberanian siswa juga mulai tumbuh dalam mempresentasikan hasil diskusi.

Peneliti memberikan rekomendasi berikut kepada guru berdasarkan temuan penelitian ini:

1. Siswa kelas X SMAN-2 Pulang Pisau dapat memanfaatkan strategi pembelajaran Discovery Learning yang dapat digunakan sebagai pengganti pembelajaran PAI untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Akibatnya, siswa dapat menjadi fokus utama pembelajaran, memperoleh pengetahuan melalui pengalaman langsung dan konteks dunia nyata.

2. Penulis menyarankan agar baik siswa maupun guru harus menyadari bahwa motivasi belajar setiap siswa adalah unik. Agar proses pembelajaran berjalan lancar dan efektif, diharapkan motivasi ini terus ditingkatkan.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2007. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.

Budiningsih, Asri. 2008. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Asdi Mahasatya.

Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:

PT.Rineka Cipta.

Sanjaya, W. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.

Jakarta: Kencana

1837 Vol. 3, No. 1, Januari 2023| Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Agama Islam Tema:

Hamalik, Oemar. 2005. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem.

Bumi Aksara.Jakarta.hal 188

Hamdhu, Ghullam, Lisa Agustina, 2011. Pengaruh Motivasi Belajar Siswa Terhadap Prestasi Belajar PAI di Sekolah Dasar. Jurnal Penelitian Pendidikan. Vol. 12 No. 1, Halaman 83. Universitas Pendidikan Indonesia

Muhibbin Syah. 2005. Psikologi Pendidikan: Dengan Pendekatan Baru. Bandung:

Remaja Rosdakarya.

Oemar, H. 2003. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Sadirman, A.M. 1996. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada Sudijono, A. 2009. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT.

Raja Grafindo Persada.

WS. Winkel. (1983) Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: Gramedia, 1983 Zubaidi.2011.Desain Pendidikan Karakter. Jakarta: Kencana Prenada Media.ha.185

Ertikanto, C. (2016). Teori Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Media Akademi.

Hanafiah, N. (2012). Konsep strategi pembelajaran. Bandung: Rafika Aditama.

N.K. Roestiyah (2012). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Saefuddin, A. & Berdiati, I. (2014). Pembelajaran Efektif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Syah, M. (2017). Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Suparno, p., Rohandi, R., Sukadi, G., Kartono, S. 2001. Reformasi Pendidikan Sebuah Rekomendasi. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, hal. 17

Usman, Uzer, M. 2002. Menjadi Guru Profesional. Edisi kedua. Cetakkan ke empat belas.Bandung: PT Remaia Rosdakarya, hal. 31

Kemendikbud (dalam buku pelatihan guru Implementasi Kuriulum 2013), hal. 31 Ngalim Purwanto. 2007. Psikologi Pendidikan... hal. 75

Hamalik, O. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara, hal. 32 Hamalik, O. Proses Belajar Mengajar... hal. 37

Dokumen terkait