• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

H. Pengujian Hipotesis

I. Pembahasan Hasil Penelitian

Didasari oleh jawaban atas angket dan hasil pengelolaan data di lapangan, diperoleh beberapa hal yang berkaitan dengan hubungan komunikasi interpersonal dan keaktifan beribadah dengan kesembuhan pecandu narkoba di panti rehabilitas narkoba Al-Kamal kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang. Dari hasil penelitihan ternyata terdapat korelasi antara komunikasi interpersonal dengan kesembuhan pecandu narkoba. Terbukti dari data pada tabel frekuensi yang menunjukkan 21 atau 52,5 % orang aktif berkomunikasi dengan sesama pecandu narkoba dalam melakukan aktivitas harian, kemudian 20 atau 50,0 % orang mengatakan dekat dengan pembimbing, dan 25 atau 57,5 % orang mengatakan dekat dengan petugas panti, kemudian 26 atau 65,0 % para pecandu narkoba mengatakan bimbingan motivasi yang diberikan banyak memberikan perubahan, artinya komunikasi interpersonal yang ada di dalam panti cukup signifikan untuk proses kesembuhan para pecandu narkoba yang tinggal di panti rehabilitas narkoba Al- Kamal.

cxxx

Korelasi atau hubungan yang dimaksud dalam penelitian ini berkenaan jalinan hubungan yang baik penghuni panti yang berada di dalam panti Al- Kamal, yang mencakup tingkat keseringan mereka dalam berkomunikasi, pengolaan bentuk komunikasi yang diinginkan, membuat pesan komunikasi sebaik mungkin sehingga dapat diterima, membuat metode, atau retorika penyampaian yang baik. Dengan demikian berarti ada hubungan linier dan signifikan antara komunikasi interpersonal dengan kesembuhan pecandu narkoba. Ini diketahui dari tabel output coefficients yang menyatakan bahwa dalam data output diperoleh nilai t hitung = 2,624 (dalam tabel coefficients). Sedangkan untuk t tabel = 1,983. Sedangkan untuk tingkat signifikansi 0.01 (1%) adalah 2,627. Sedangkan untuk tingkat signifikansi 0,05 (5%) adalah 2,021. Oleh karena t hitung < (lebih kecil) t tabel pada taraf signifikan 1% dan lebih besar dari taraf signifikan 5% berarti hubungan antara komunikasi interpersonal dengan kesembuhan pecandu narkoba signifikan.

Dari kecenderungan data yang dihasilkan penelitian ini bahwa komunikasi interpersonal penghuni panti termasuk katagori baik, akan tetapi perlu ditingkatkan untuk mencapai angka kesembuhan yang lebih baik. Hal ini telihat dari sistem yang dibangun oleh penghuni atau pengurus panti dalam memberikan arahan atau motivasi kepada para pecandu narkoba, kemudian komunikasi yang ada antara sesama pecandu sendiri terlihat baik. Dan untuk meningkatkan angka kesembuhan pembimbing dan pengurus harus lebih bekerja keras, membangun dan menciptakan suasana kekeluargaan yang lebih baik, membuat metode-metode penyampaian yang mereka sukai, membangun kesetiakawanan di antara mereka dengan mengarahkan mereka kepada hal yang positif.

Hal ini menunjukkan hasil yang sama dengan penelitian Dani Irawan Yatim (2007) yang meneliti yang berjudul,

Hubungan Komunikasi Interpersonal Orang Tua – Remaja Dengan Kecenderungan Penyalahgunaan Narkoba" (tahun 2007) menyimpulkan Komunikasi dapat menentukan terbangunnya hubungan yang harmonis dalam suatu keluarga, dan remaja yang menikmati rasa aman dari suatu

cxxxi

hubungan yang harmonis dengan orang tuanya dapat memiliki fondasi dan dasar yang kuat dalam membuat komitmen diri untuk membuat pilihan serta arah kehidupannya. Penelitian ini menunjukan hubungan yang harmonis, akibat yang ditimbulkan dari komunikasi interpersonal orang tua dan remaja menjadikan remaja lebih berfikir kearah yang positif, sehingga tindakan penyalahgunaan narkoba sangat minim terjadi.

Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa hubungan keaktifan beribadah dengan kesembuhan para pecandu narkoba terdapat korelasi yang sangat signifikan. Keaktifan beribadah yang diukur dalam penelitian ini adalah mengenai aktif melaksanakan shalat, puasa, zikir, pengajian, dan doa. Dari data frekuensi menunjukan, 24 orang atau 60,0 % mengerjakan shalat tepat pada waktunya, 24 orang atau 60,0 % orang sangat semangat dalam membaca al-Qur,an, 21 orang atau 52,5 % aktif mengikuti zikir bersama yang diadakan setiap minggu oleh pihak panti, kemudian 17 orang atau 42,0 % selalu mengerjakan ibadah puasa, selain puasa pada bulan ramdahan. Selain dari itu 19 orang atau 47,5 % setuju dan aktif dengan kegiataan pengajian yang dibuat pihak panti setiap 1 minggu sekali. Kemudian mereka selalu berdoa, tidak hanya setelah selesai shalat dan pengajian, terbukti 20 orang atau 50,0 % mereka menyatakan setuju dan sangat setuju 18 orang atau 45,0 %. Kecenderungan dari data yang dikumpulkan bahwa secara umum pelaksanaan beribadah para pecandu narkoba Al- kamal cukup baik. Ini merupakan suatu prestasi panti rehabilitas narkoba Al-Kamal yang harus dipertahankan atau ditingkatkan lagi.

Kemudian untuk mengetahui tingkat signifikansi kedua variabel, dapat dilihat pada tabel output coefficients sebagai berikut, dalam data output diperoleh nilai t hitung = 2,994 (dalam tabel coefficients). Sedangkan untuk t tabel pada tingkat signifikansi 0,05 (5%) = 1,983. Untuk tingkat signifikansi 0.01 (1%) adalah adalah 2,627. Oleh karena t hitung > (lebih besar) t tabel pada tingkat kepercayaan 1%, ini menunjukan bahwa hubungan keaktifan beribadah dengan kesembuhan pecandu narkoba sangat signifikan sekali. Dengan demikian model regresi yang terbentuk adalah: Kinerja = 0,414 keaktifan beribadah. Kemudian pada angka korelasi Pearson terlihat angka 0,437**. Tanda bintang dua di ujung angka korelasi menunjukkan

cxxxii

bahwa hubungan di antara dua variabel tersebut sangat signifikan. Ini harus dipertahankan oleh pihak panti rehabilitas narkoba Al-Kamal, sebagai peningkatan proses kesembuhan pecandu narkoba.

Hasil penelitian ini juga didukung dengan penelitian sebelumnya Selanjutnya oleh Afiatin dkk (1994) yang berjudul “Hubungan Antara Orientasi Religius Dengan Kepercayaan Diri Pada Penyalahguna Napza Pasca Rehabilitasi” menyimpulkan bahwa hasil penelitian ini menunjukkan penyebab seseorang melakukan penyalahgunaan Narkoba adalah karena kepribadian yang lemah, seperti mudah kecewa, kurang mandiri, tidak sabar, yang pada pada akhirnya akan menimbulkan perasaan bersalah terhadap diri sendiri. Rasa bersalah dapat mempengaruhi keseluruhan hidup manusia dan usaha pendukung dalam mengatasi rasa bersalah adalah peranan iman kepada Tuhan. Ketika remaja mempunyai keyakinan bahwa Allah akan memberikan jalan keluar dari permasalahan yang sedang dihadapi maka remaja tidak akan melakukan tindakan negatif yang akan merugikan remaja itu sendiri. Akan tetapi penelitihan ini hanya terpokus pada orientasi religius secara umum, tidak pada bentuk pengamalan-pengamalannya seperti shalat, membaca Al- Qur’an, zikir, puasa, dan do’a yang menyebabkan mereka lebih dekat kepada Allah swt.

Komunikasi interpersonal dan keaktifan beribadah secara bersama-sama berhubungan dengan kesembuhan pecandu narkoba. Ini dapat dilihat dari penjelasan sebelumnya yang menyatakan hubungan komunikasi interpersonal dan keaktifan beribadah secara bersama-sama memiliki hubungan yang signifikan dengan kesembuhan pecandu narkoba. Hipotesis ini diuji dengan menggunakan regresi berganda. Untuk menjawab hipotesis ini dapat dilihat nilai R2 pada tabel model summary. Pada tabel Model Summary diperoleh R2 = 0,313. Artinya komunikasi interpersonal dan keaktifan beribadah secara bersama-sama dapat menerangkan variabilitas sebesar 31,3% dari variabilitas kesembuhan pecandu narkoba. Sedangkan sisanya diterangkan oleh variabel lain (dimana R2 merupakan koefisien determinasi).

cxxxiii

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN