• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 HASIL PENENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.4 Pembahasan

Seramai 85 orang responden telah diambil datanya dengan melakukan wawancara dan pengukuran lingkar pinggang pada pasien yang mendapatkan perawatan di Poliklinik Kardiologi di RSUP H Adam Malik, Medan, yang terdiri dari 46 (54.1%) orang responden yang berjenis kelamin laki-laki dan 39 (45.9%) orang responden yang berjenis kelamin perempuan.

Hasil penelitian terhadap karakteristik sampel berdasarkan jenis kelamin sesuai tabel 5.2.1.3 terlihat bahwa dari 46 (54.1%) orang responden yang berjenis kelamin laki-laki tersebut didapati sebanyak 29 (60.4%) orang laki-laki adalah penderita penyakit jantung koroner (PJK), sedangkan dari 39 (45.9%) orang responden yang berjenis kelamin perempuan yang menderita PJK adalah 19

(39.6%) orang. Menurut Maas (2010), morbiditas penyakit PJK pada laki-laki adalah dua kali lebih besar dibandingkan dengan wanita dan kondisi ini hampir 7 hingga 10 tahun lebih dini pada laki-laki. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Jousilahti(1999), kejadian PJK pada laki-laki dibandingkan dengan wanita adalah tiga kali lebih tinggi dan kematian pada laki-laki akibat PJK adalah 5 kali lebih tinggi daripada wanita. Hal ini dikuatkan lagi oleh hasil penelitian yang dilaksanakan oleh peneliti Danial(2011), terbukti bahwa lelaki mempunyai resiko menderita PJK 3 kali lebih tinggi dariwanita dengan mendapatkan hasil frekuensi sebanyak 76.8% pada laki-laki dan 23.2% pada perempuan yang menderita PJK.

Berdasarkan hasil penelitian seperti yang ditunjukkan pada carta pai 5.2.1.3.a didapati bahwa kelompok umur yang menderita PJK yang tertinggi adalah pada rentang usia 55-57 tahun, dan distribusi responden yang menderita PJK paling rendah terdapat pada kelompok usia 40-42 tahun yaitu hanya seorang (2.1%).Pada carta bar 5.2.1.3.a didapati bahwa reponden yang berjenis kelamin laki-laki dan yang berjenis kelamin perempuan kebanyakan yang menderita PJK adalah mereka yang berusia 55-57 tahun, yaitu seramai 8 (27.6%) orang laki-laki dan 6 (31.6%) orang perempuan. Secara keseluruhan, mereka yang menderita PJK dalam kelompok usia 52-60 tahun adalah tertinggi yaitu sebanyak 31 ( 64.7%) orang, sedangkan penderita PJK dalam rentang usia 40-51 tahun adalah hanya 17 (35.4%) orang.Menurut Jousilahti (1999), risiko seseorang untuk menderita PJK meningkat seiring dengan peningkatan usia, dan resikonya lebih tinggi pada wanita. Pada pria risiko menderita PJK meningkat setelah usia 45 tahun sedangkan pada wanita pula risikonya meningkat setelah usia 55 tahun (NHLBI, 2012). Selain itu, Boukhris (2014), dalam International Journal of Endocrinology, mengatakan bahwa PJK merupakan penyebab utama kematian pada wanita pascamenopause. Hal ini disebabkan, pada wanita pascamenopause tidak terdapatnya peran hormon estrogen endogen yang bersifat protektif terhadap perempuan sehingga dapat mendorong terjadinya proses aterosklerosis. Hasil penelitian tersebut mendukung lagi hasil penelitian ini karena menurut Palacios (2010), usia menopause wanita Indonesia secara umumnya adalah 51 tahun.

Berdasarkan tabel 5.2.1.4.b didapati bahwa responden yang mengalami obesitas sentral terbanyak adalah mereka yang berusia 55-57 tahun. Pada carta bar 5.2.1.4.a didapati bahwa kebanyakan responden yang berjenis kelamin laki- laki serta perempuan yang mengalami obesitas sentral adalah mereka yang dalam kelompok usia 55-57 tahun yaitu laki-laki dan perempuan 7(28.0%) :6 (27.3%) . Secara keseluruhan, jumlah responden yang mengalami obesitas sentral dalam rentang usia 52-60 tahun adalah lebih tinggi yaitu 26 (55.4%) orang dibandingkan dengan responden dalam kelompok usia 40-51 tahun yaitu sebanyak 21(44.7%) orang. Hal ini didukung lagi oleh Chang (2000), yang dalam penelitiannya mengatakan bahwa pada proses penuaan, massa lemak bebas akan mulai berkurang akibat komposisi tubuh yang mencakupi lemak bebas tersebut sehingga terjadi akumulasi di regio abdomen. Selain itu, wanita pascamenopause juga cenderung kehilangan massa otot dan mengalami penambahan jaringan adiposa, khusunya pada regio abdomen.

Namun Singh (1998), menyimpulkan bahwa prevalensi kejadian PJK adalah tertinggi pada wanita yang berusia 55 tahun dan ke atas, walaupun usia bukannya salah satu faktor resiko untuk obesitas sentral. Dalam peneltiannya juga dikatakan bahwa gaya hidup seseorang, riwayat kejadian obesitas dalam keluarga, serta riwayat kelebihan asupan lemak merupakan antara faktor resiko yang dapat menyebabkan obesitas sentral.

Berdasarkan tabel 5.2.1.4.a, kebanyakan responden yang mengalami obesitas sentral adalah mereka yang berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 25 (53.2%) orang, sedangkan yang perempuan adalah seramai 22 (46.8%) orang. Pada tabel5.2.1.5.a diperlihatkan bahwa dari keseluruhan penderita PJK yang mengalami obesitas sentral yang kebanyakannya adalah responden yang berjenis kelamin laki-laki yaitu seramai 20 (55.6%) orang. Hasil penelitian ini berlainan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Janghorbani (2012), di Iran, yang mendapatkan prevalensi kelebihan berat badan kelas 1, kelas II dan kelas III dan obesitas sentral ditemukan lebih tinggi pada wanita dibandingkan pada pria, dan perbedaan itu lebih nyata dalam obesitas sentral, di mana tingkat obesitas sentral

pada perempuan (53.5%) empat kali lebih besar daripada laki-laki (12.5%). Hal ini karena, terdapatnya perbedaan dalam aktivitas fisik dan asupan kalori.Wanita Iran mungkin memiliki aktivitas fisik yang kurang dibanding laki-laki karena kegiatan luar mereka terbatas akibat kondisi iklim dan kondisi sosial tertentu.

Sebaliknya, terdapat juga beberapa teori yang menyatakan bahwa, wanita umumnya memiliki lemak tubuh total yang tinggi, dan kadar lemak tersebut lebih berakumulasi pada regio pinggul dan paha. Pria pula secara alami, mengalami akumulasi lemak sebesarnya pada bagian abdomen (Virtual Medical Center, 2009).

Berdasarkan tabel 5.3 yang menghubungkan variabel-variabel pada penelitian ini, yaitu obesitas sentral, bukan obesitas sentral, PJK dan bukan PJK, didapati bahwa prevalensi pasien PJK yang mengalami obesitas sentral adalah tertinggi yaitu 76.6% (36 orang). Berdasarkan hasil uji statistik menggunakan

Chi-square diperoleh nilai p (p-value) sebesar 0.000 yang berarti p<0.05, sehingga hubungan antara obesitas sentral dan PJK adalah signifikan. Jadi dapat dilihat dari nilai p bahwa obesitas sentral merupakan salah satu faktor resiko yang dapat menyebabkan PJK.Dalam penelitian Poirier (2006), dilakukan suatu pemeriksaan terhadap arteri post-mortem dari individu-individu yang berusia 15- 34 tahun yang sudah meninggal akibat kecelakaan, pembunuhan dan bunuh diri.Dari hasil pemeriksaan tersebut ditemukan terjadinya penumpukan lemak dan lesi berupa plak fibrosa, plak dengan kalsifikasi serta ulserasi pada arteri koroner kanan dan juga di aorta pada bagian abdomen.Tingkat keparahan penumpukan lemak serta lesi yang ditemukan pada arteri-arteri tersebut berhubungan dengan tingkat kejadian obesitas sentral pada individu–individu sampel penelitian tersebut. Selain itu, dalam peneltiannya juga dikatakan bahwa beberapa studi prospektif yang pernah dilakukan sebelum ini misalnya studi Framingham, Mannitoba dan Harvard School of Public Health Nurses telah mendokumentasikan bahwa obesitas adalah prediktor independen bagi PJK. Menurut Trandolapril Cardiac Evaluation (TRACE), angka kematiannya meningkat sebanyak 23%, dibandingkan dengan pasien yang tidak mengalami

obesitas sentral. Obesitas sentral adalah prediktor independen dari semua penyebab kematian pada pria dan mungkin juga pada wanita.

Sindroma metabolik merupakan kumpulan faktor resiko yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan masalah kesehatan lain seperti diabetes, dan stroke. Risiko mengalami sindroma metabolik berhubungan erat dengan kelebihan berat badan dan obesitas dan kurangnya aktivitas fisik.Resistensi insulin juga dapat meningkatkan risiko sindroma metabolik.Seseorang itu dapat dikatakan mengalami sindroma metabolik kalau memiliki 3 atau lebih dari kodisi-kondisi berikut. Antaranya, ukuran lingkar pinggang yang besar, tingkat trigliserida yang tinggi, tingkat kolesterol HDL yang rendah, tekanan darah yang tinggi serta kadar gula darah puasa yang tinggi (NHLBI, 2011). Obesitas sentral merupakan manifestasi paling umum dari sindroma metabolik dan merupakan penanda disfungsi jaringan adiposa (JP., Despres, 2006).Pada obesitas sentral akan sering terjadi, pelepasan asam lemak yang berjenis nonesterified dalam kadar yang tinggi oleh jaringan adiposa. Ini akan mengakibatkan akumulasi lipid di lokasi-lokasi selain jaringan adiposa. Akumulasi lipid ektopik dalam otot dan hati akan berpengaruh sebagai faktor predisposisi bagi resistensi insulin dan dislipidemia. Selain itu, jaringan adiposa juga akan memproduksi beberapa adipokin yang mempengaruhi resistensi insulin. Ini termasuk peningkatan produksi sitokin inflamasi, plasminogen activator inhibitor serta produk-produk bioaktif yang lain. Sementara, kadar adipokin yang bersifat proteksi yaitu, adiponektin akan berkurang. Semua perubahan ini akan menjadi penyebab faktor resiko metabolik (Grundy M.S., 2005).

Terdapat hubungan yang bermakna antara kejadian PJK dengan obesitas sentral. Hal ini sesuai dengan pendapat Wang(2010), bahwa pada penderita obesitas dapat terjadi penumpukan makrofag dalam jaringan adiposa, serta pelepasan beberapa faktor proinflamasi, termasuk IL-6, IL -1,TNF-α, sehingga menyebabkan inflamasi sistemik dan aterosklerosis dan pada akhirnya berkembang menjadi PJK. Dengan demikian, pengukuran antropometri sederhana, seperti pengukuran lingkar pinggang dapat digunakan untuk menentukan

akumulasi lemak visceral, dan dapat dijadikan sebagai prediktor risiko menderita penyakit kardiovaskuler.

Sebenarnya banyak faktor yang dapat mempengaruhi kejadian penyakit jantung koroner, seperti riwayat keluarga, kebiasaan merokok, kebiasaan mengkonsumsi alkohol, tekanan darah tinggi, peningkatan kadar kolesterol plasma, dan diabetes mellitus. Penelitian ini hanya sekadar melihat hubungan antara obesitas sentral dan penyakit jantung koroner dan melalui penelitian ini terbuktinya bahwa obesitas sentral adalah salah satu faktor resiko yang dapat menyebabkan PJK.

Dokumen terkait