• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 HASIL STUDI KASUS DAN PEMBAHASAN

3.2 Pembahasan

mengatakan masih cairan dari jalan lahir yang berwarna jernih, tidak berbau. O : Palpasi : Leopold I: TFU 2 jari di atas pusat, (21 cm), Leopold II: punggung kiri: teraba datar seperti papan (punggung),punggung kanan: teraba bagian kecil janin (ekstremitas), Leopold III: teraba bulat, keras, melenting (kepala), Leopold IV: bagian terendah janin belum masuk panggul (konvergen), Auskultasi: DJJ (+), frekuensi 150 kali/ menit, teratur, punctum maximum di kuadran kiri bawah pusat, Inspeksi: cairan ketuban merembes, warna jernih, tidak berbau, tanda infeksi seperti merah, bengkak dan panas: tidak ada, keadaan umum: baik, kesadaran: Composmentis, TTV: TD 100/ 70 mmHg, S: 36,70 C,N: 88 kali/ menit, RR: 14 kali/ menit, tampak keluar cairan pervaginam dan tidak berbau. A : Risiko infeksi masih bisa terjadi. P : Intervensi dihentikan karena waktu praktek mahasiswa selesai.

3.2. Pembahasan 3.2.1 Pengkajian

Teori menurut Mansjoer (2008) keluhan utama yang biasa ditemukan antara lain: 1) Keluar air ketuban berwarna putih keruh, jernih, kuning, hijau atau kecoklatan, sedikit-sedikit atau sekaligus banyak. 2) Dapat disertai demam bila sudah ada infeksi. 3) Janin mudah diraba. 4) Pada periksa dalam selaput ketuban tidak ada, air ketuban sudah kering. 5) Inspekulo : tampak air ketuban mengalir atau selaput ketuban tidak ada dan air ketuban sudah kering.

Pada kasus nyata yang dialami Ny. D. B. ditemukan data-data antara lain: 1) Ibu mengatakan mengeluarkan cairan dari jalan lahir yang berwarna jernih, tidak berbau sejak tanggal 23 Mei 2019 jam 14.00 WIT, Ibu merasa ada rembesan ciaran seperti air kencing. 2) Palpasi : pada Leopold I, II, III dan IV: bayi mudah teraba, Auskultasi: DJJ (+), frekuensi 150 kali/ menit, teratur, punctum maximum di kuadran kiri bawah pusat, Inspeksi: cairan ketuban merembes, warna jernih, tidak berbau. Ibu juga mengatakan takut dengan keadaan yang dialaminya sekarang, takut dengan keadaan anaknya karena baru hamil pertama.

32

Berdasarkan uraian diatas penulis tidak menemukan kesenjangan antara teori dan kasus nyata karena keluhan yang terdapat pada kasus yang dialami Ny. D. B. sesuai dengan teori.

3.2.2 Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan NANDA (2015) terdapat empat diagnosa keperawatan pada kasus ketuban pecah dini (KPD) yaitu: Nyeri akut berhubungan dengan terjadinya ketegangan otot rahim. Risiko infeksi berhubungan dengan ketuban pecah dini. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi dan Ansietas berhubungan dengan persalinan premature dan neonatus berpotensi lahir premature.

Pada kasus nyata yang dialami Ny. D. B. ditemukan dua diagnosa keperawatan yang muncul yaitu: Ansietas berhubungan dengan stressor dan Risiko infeksi berhubungan dengan ketuban pecah dini. Sedangkan dua diagnosa keperawatan lainnya yaitu: Nyeri akut berhubungan dengan terjadinya ketegangan otot rahim dan Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi, tidak diangkat sebagai masalah oleh penulis. Hal ini disebabkan karena pada saat pengkajian dan pemeriksaan fisik terhadap Ny. D. B. tidak mengalami gangguan rasa nyaman nyeri, pengetahuan Ny. D. B. Dan suami meningkat karena sudah dijelaskan oleh bidan dan dokter spesialis kandungan (dr. SPOG) tentang keadaan yang diderita.

3.2.3 Intervensi Keperawatan

Berdasarkan NOC & NIC (2013), perencanaan keperawatan merupakan tahap ketiga dalam proses keperawatan. Menurut teori intervensi keperawatan yang dilakukan untuk diagnosa 1: Ansietas berhubungan stressor yaitu: Gunakan pendekatan yang menenangkan. Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur. Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut. Berikan informasi faktual mengenai diagnosis, tindakan prognosis. Anjurkan keluarga untuk menemani pasien. Dengarkan dengan penuh perhatian. 7) Identifikasi tingkat kecemasan. Instruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi. Diagnosa 2:

33

Risiko infeksi berhubungan dengan ketuban pecah dini yaitu: Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain. Batasi pengunjung bila perlu. Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan saat berkunjung dan setelah berkunjung meninggalkan pasien. Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan keperawtan. Observasi keadaan ibu. Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal. Kolaborasi pemberian terapi antibiotik bila perlu. Monitor hasil laboratorium (lekosit). Ajarkan cara menghindari infeksi

Pada kasus Ny. D. B. dua diagnosa keperawatan yang berurutan sesuai dengan prioritas masalah keperawatan yaitu ansietas berhubungan dengan stressor dan risiko infeksi berhubungan dengan ketuban pecah dini, semua intervensi sudah dilaksanakan sesuai dengan teori.

Berdasarkan uraian tersebut diatas penulis menarik kesimpulan bahwa tidak adanya kesenjangan antara teori dan kasus nyata yang dialami Ny. D. B.

3.2.4 Implementasi Keperawatan

Pelaksanaan adalah realisasi rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, kegiatan dalam pelaksanaan juga meliputi pengumpulan data berkelanjutan, mengobservasi respon klien selama dan sesudah pelaksanaan tindakan, serta menilai data yang baru (Mansjoer, 2008).

Pada hari senin, 27 Mei 2019 di lakukan implementasi keperawatan pada diagnosa keperawatan 1: Ansietas berhubungan dengan stressor yaitu: Menggunakan pendekatan yang menenangkan dengan cara bina hubungan saling percaya (BHSP) antara perawata dan pasien. Menjelaskan semua prosedur tindakan dan apa yang dirasakan selama prosedur tindakan. Menemani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut. Memberikan informasi faktual mengenai diagnosis, tindakan prognosis. Menganjurkan suaminya untuk menemani ibu. Mendengarkan semua keluhan ibu dengan penuh perhatian. Mengidentifikasi tingkat kecemasan. Mengintruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi (teknik napas dalam). Diagnosa keperawatan 2: Membersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain.

34

Membatasi pengunjung tidak boleh lebih dari 2 orang. Menginstruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan saat berkunjung dan setelah berkunjung meninggalkan pasien. Mencuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan keperawtan. Memonitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal. Mengobservasi keadaan ibu dan janin yaitu DJJ dan tanda-tanda vital. Melakukan pemasangan infuse RL 20 tetes/menit, melayani injeksi dexametason 0,5 mg.iv, cefadroxil 500 mg/oral dan lifron 1x1 tablet/oral. Mengajarkan cara menghindari infeksi.

Pada implementasi tersebut penulis tidak menemukan kesenjangan antara teori dan kasus nyata dimana semua intervensi yang sudah direncanakan dapat dilaksanakan sesuai dengan yang diharapkan.

3.2.5 Evaluasi Keperawatan

Menurut Mansjoer (2008) evaluasi keperawatan adalah penilaian dengan cara membandingkan perubahan keadaan pasien (hasil yang diamati) dengan kriteria yang dibuat pada tahap perencanaan mengenai masalah keperawatan rasa ansietas dan risiko infeksi . Evaluasi yang diharapkan sesuai teori dimana dua diagnosa keperawatan yaitu ansietas berhubungan dengan stressor dan risiko infeksi harus teratasi.

Pada kasus yang dialami Ny. D. B. yaitu ansietas berhubungan dengan stressor dan teratasi yaitu pasien tidak lagi mengalami cemas yang ditandai dengan keadaan umum tampak segar dan tidak lagi menanyakan keadaan janinnya dan diagnose keperawatan risiko infeksi tidak terjadi yang ditandai dengan kadar lekosit dalam rentang normal. Hal ini karena adanya kerjasama yang baik dari pasien, keluarga, dokter SPOG dan tenaga medis yang lain dan dalam praktek adalah keadaan ibu dan janin baik, tidak terjadi hal-hal yang menjadi komplikasi dari tindakan yang dilakukan selama ibu dirawat di ruang Flamboyan RSUD Prof. Dr. W.Z. Yohannes Kupang.

35

Berdasarkan hal tersebut diatas pada evaluasi keperawatan penulis tidak menemukan kesenjangan antara teori dan kasus nyata yang dialami oleh Ny. D.B. karena semua masalah keperawatan dapat diatasi dengan baik sesuai dengan teori.

36 BAB 4

Dokumen terkait