Y = 0,211 + 0,666 PROFITABILITAS + 0,006 LIKUIDITAS
3.2.2. Pembahasan hipotesis kedua
Setelah dilakukan pengujian pengaruh profitabilitas dan likuiditas terhadap kebijakan dividen dengan menjadikan pendanaan sebagai variabel moderasi dengan uji interaksi profitabilitas dengan pendanaan dan likuiditas dengan pendanaan, maka secara simultan penelitian ini membuktikan bahwa profitabilitas, likuiditas, pendanaan, interaksi profitabilitas dengan pendanaan,
dan interaksi likuiditas dengan pendanaan berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen.
Hasil penelitian ini sejalan dengan teori yang menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh terhadap kebijakan dividen (Sudarsi 2002:79) dan likuiditas berpengaruh terhadap kebijakan dividen (Prihantoro, 2003:10). Hasil penelitian ini juga sejalan dengan Bird in The Hand Theory yang mengatakan bahwa investor lebih merasa aman memperoleh pendapatan berupa pembayaran dividen daripada menunggu capital gain yang belum tentu akan diperoleh pada masa mendatang atau kedua-duanya tidak diperoleh padahal perusahaan membagikan dividen tergantung kepada prospek perusahaan pada masa yang akan datang.
Penelitian ini menjadikan pendanaan sebagai variabel moderasi untuk melihat apakah pendanaan dapat memperkuat atau memperlemah pengaruh profitabilitas dan likuiditas terhadap kebijakan dividen pada perusahaan food and beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Secara parsial profitabilitas, likuiditas, pendanaan, interaksi profitabilitas dengan pendanaan, dan interaksi likuiditas dengan pendanaan tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen. Uraian dari masing-masing variabel dapat dilihat sebagai berikut:
1. Profitabilitas
Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa profitabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen. Hasil penelitian ini sejalan dengan Dividend Irrelevance Theory yang menyatakan bahwa
kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba tidak tergantung kepada jumlah laba yang dibagi untuk dividen dan berapa jumlah laba yang dijadikan sebagai laba ditahan (retained earning). Hasil ini tidak dapat dibandingkan dengan penelitian sebelumnya.
2. Likuiditas
Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa likuiditas tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen. Hasil penelitian ini sejalan dengan
Dividend Irrelevance Theory yang menyatakan bahwa kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban jangka pendek tidak tergantung kepada jumlah laba yang dibagi untuk dividen dan berapa jumlah laba yang dijadikan sebagai laba ditahan (retained earning) Tingkat likuiditas perusahaan tergantung kepada kebijakan investasi. Selain itu, Tax Preference Theory menyarankan perusahaan untuk menahan pembagian dividen karena pembayaran dividen yang tinggi dapat menaikkan pembayaran pajak. Demikian juga dengan Clientele Effect Theory, kelompok pemegang saham yang ingin memperoleh pendapatan saat ini lebih menyukai pembagian dividen yang tinggi daripada menahan laba karena hanya dikenakan pajak yang rendah sedangkan kelompok pemegang saham yang tidak membutuhkan pendapatan saat ini lebih menyukai perusahaan menahan laba bersih perusahaan daripada membagikan dividen karena dapat menunda pembayaran pajak yang tinggi. Demikian halnya dengan Signaling Hypothesis Theory
menginginkan agar pembayaran dividen seharusnya tidak dilakukan ketika kinerja dan kondisi keuangan berada pada posisi yang tidak baik. Teori
Deviden Residual juga mengatakan bahwa dividen akan dibagi jika kebutuhan dana investasi terpenuhi masih ada sisa sedangkan apabila tidak ada dana investasi yang tersisa, maka dividen tidak dibayarkan.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Darminto (2008), Arilaha (2009), dan Simbolon (2009) yang menyatakan bahwa secara parsial likuiditas tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen.
3. Pendanaan
Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa pendanaan tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen. Menurut Teori Urutan Pendanaan
(Pecking Order Theory) terdapat kebijakan dividen yang konstan yaitu perusahaan akan menetapkan jumlah pembayaran dividen konstan yang tidak terpengaruh seberapa besarnya keuntungan atau kerugian yang dialami oleh perusahaan tersebut. Untuk mengantisipasi kekurangan persediaan kas karena adanya kebijakan dividen konstan dan fluktuasi dari tingkat keuntungan, serta kesempatan bertumbuh, maka perusahaan akan mengambil portofolio investasi lancar yang tersedia. Pendanaan perusahaan yang berasal dari pendanaan internal perusahaan akan membuat perusahaan tidak memiliki beban untuk membayar dividen pada akhir periode. Hasil ini tidak dapat dibandingkan dengan penelitian sebelumnya.
4. Interaksi Profitabilitas dengan Pendanaan
Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa interaksi profitabilitas dengan pendanaan tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen.
Pendanaan yang diproksikan dengan debt to equity ratio merupakan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya melalui modal sendiri akan menunjukkan apakah pendanaan dapat memperkuat atau memperlemah pengaruh profitabilitas terhadap kebijakan dividen. Profitabilitas ditemukan berhubungan negatif dengan pendanaan sehingga sesuai dengan hipotesis pecking order theory yang mempunyai preferensi pendanaan dengan dana internal berupa laba ditahan yang menyatakan profitabilitas yang biasa diukur dengan Return on Asset (ROA) berhubungan negatif terhadap pendanaan, yang artinya semakin besar profitabilitas perusahaan maka semakin kecil keputusan pendanaan melalui hutang yang diukur dengan Debt to Equity Ratio (DER) karena tingkat profitabilitas atau kemampuan peusahaan untuk menghasilkan keuntungan tinggi mengakibatkan berkurangnya penggunaan dana perusahaan dari laba ditahan sehingga mengakibatkan semakin besarnya kemampuan perusahaan untuk membayarkan dividen kepada para pemegang sahamnya.
Menurut Pecking Order Theory perusahaan yang memilih sumber pendanaan internal (internal financing) mengakibatkan modal yang dimiliki oleh perusahaan akan digunakan untuk memenuhi kewajiban perusahaan. Hal ini mengakibatkan, modal yang dimiliki tidak dapat digunakan untuk melakukan investasi sehingga menurunkan kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba. Selain itu, dalam Pecking Order Theory terdapat kebijakan dividen yang konstan yaitu perusahaan akan menetapkan jumlah pembayaran dividen konstan yang tidak terpengaruh seberapa besarnya keuntungan atau kerugian yang dialami oleh
perusahaan tersebut. Hasil ini tidak dapat dibandingkan dengan penelitian sebelumnya.
5. Interaksi Likuiditas dengan Pendanaan
Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa interaksi likuiditas dengan pendanaan tidak berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen. Likuiditas berhubungan negatif dengan pendanaan karena tingkat likuiditas yang tinggi mengakibatkan penggunaan dana perusahaan dari laba ditahan akan semakin berkurang karena perusahaan memiliki kemampuan kas yang tinggi untuk membayar kewajiban jangka pendeknya sehingga mengakibatkan semakin besarnya kemampuan perusahaan untuk membayarkan dividen kepada para pemegang sahamnya.
Menurut Pecking Order Theory perusahaan yang memilih sumber pendanaan internal (internal financing) mengakibatkan modal yang dimiliki oleh perusahaan akan digunakan untuk memenuhi kewajiban perusahaan sehingga modal yang dimiliki perusahaan tidak dapat digunakan lagi untuk kegiatan investasi dan akhirnya terjadi penurunan laba perusahaan. Jika perusahaan mengalami penurunan laba, maka akan terjadi penurunan pembayaran dividen sehingga perusahaan tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Hasil ini tidak dapat dibandingkan dengan penelitian sebelumnya.
Setelah dilakukan moderating dengan uji interaksi, yaitu interaksi profitabilitas dengan pendanaan dan interaksi likuiditas dengan pendanaan ternyata pendanaan bukanlah merupakan variabel moderating yang dapat
memperkuat atau memperlemah pengaruh profitabilitas dan likuiditas terhadap kebijakan dividen. Hal ini terlihat dari nilai signifikansi dari interaksi profitabilitas dengan pendanaan sebesar 0,557 berada di atas nilai alpha = 0,05 dan nilai signifikansi dari interaksi likuiditas dengan pendanaan sebesar 0,076 berada di atas nilai alpha = 0,05 yang menunjukkan tidak berpengaruh signifikan. Sebab jika variabel moderating tidak berpengaruh signifikan, maka variabel tersebut bukanlah variabel moderating.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN