• Tidak ada hasil yang ditemukan

5.1 Perbedaan laju aliran saliva, volume dan pH saliva sebelum dan sesudah distimulasi

saliva yang dihasilkan seseorang adalah laju aliran saliva, volume saliva dan pH saliva. Ketiga parameter ini yang dapat digunakan sebagai indikator saliva untuk melihat risiko terjadinya karies pada seseorang, baik saat saliva dihasilkan secara spontan (resting saliva) maupun setelah distimulasi (stimulated saliva).

Rata-rata laju aliran saliva sebelum distimulasi adalah 0,47 mL/menit dan meningkat menjadi 1,31 mL/menit sesudah distimulasi. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa ada perbedaan yang sangat bermakna (p<0,001) pada laju aliran saliva antara sebelum dan sesudah stimulasi. Demikian juga dengan volume saliva, rata-rata sebelum stimulasi adalah 2,33 mL dan meningkat menjadi 6,53 mL. Hasil analisis statistik juga menunjukkan bahwa ada perbedaan yang sangat bermakna pada volume antara sebelum dan sesudah stimulasi (p<0,001). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Heintze pada 629 sampel yang menyatakan bahwa rata-rata laju aliran saliva sebelum stimulasi 0,31 mL/menit dan sesudah stimulasi menjadi 1,49

mL/menit sesudah stimulasi.14 Demikian juga hasil penelitian Rantonen yang

memperoleh laju aliran saliva sebelum distimulasi adalah 0,6 mL dan meningkat sesudah distimulasi menjadi 1,7 mL/menit.14 Pada penelitian ini, terlihat adanya perbedaan rata-rata laju aliran saliva dan volume saliva sebelum stimulasi antara pria dan wanita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju aliran saliva dan volume saliva pada pria lebih tinggi daripada wanita. Hal ini disebabkan oleh perbedaan ukuran kelenjar saliva antara pria dan wanita (Dawes et al.,1978). Dalam hal ini, ukuran kelenjar saliva pada wanita lebih kecil daripada wanita.14 Sebaliknya sesudah saliva distimulasi, laju aliran saliva dan volume saliva pada wanita lebih tinggi daripada pria. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kebiasaan merokok, daya

tanggap kelenjar terhadap stimulus, ukuran kelenjar dan diet (Dawes, 1996). Dalam hal ini, faktor yang paling mempengaruhi perbedaan ini adalah kebiasaan merokok yang dilakukan oleh murid pria yang membuat daya rangsang kelenjar saliva terhadap stimulus berkurang sehingga produksi saliva menjadi menurun.14

Menurut kategori risiko karies berdasarkan laju aliran dan volume saliva sebelum distimulasi, sebagian besar responden berisiko tinggi. Sesudah saliva distimulasi, persentase responden yang berisiko karies tinggi turun menjadi 10%. Sedangkan responden yang berisiko karies sedang menjadi 43,33% dan berisiko rendah menjadi 46,66%. Penurunan persentase responden yang berisiko karies tinggi tersebut dipengaruhi oleh stimulasi mekanis yang dihasilkan dari pengunyahan lilin parafin. Hal ini disebabkan oleh kelenjar saliva yang dipengaruhi oleh rangsangan mekanis otot-otot pengunyahan saat mengunyah lilin parafin sehingga saliva yang dihasilkan meningkat tiap menitnya. Semakin meningkat frekuensi mengunyah maka laju aliran saliva akan semakin meningkat.10,13

pH saliva responden sebelum distimulasi adalah 7,38 dan meningkat menjadi 7,65 sesudah distimulasi. Hasil analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan yang sangat bermakna (p<0,001) antara pH saliva sebelum dan sesudah distimulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH saliva sebelum dan sesudah stimulasi pada pria lebih tinggi daripada wanita. Perbedaan pH saliva ini tidak dipengaruhi oleh perbedaan jenis kelamin, tetapi dipengaruhi oleh faktor lain. pH saliva sebelum distimulasi lebih dipengaruhi oleh pH saliva mukus yang diproduksi oleh kelenjar saliva sublingualis yang mengandung protein daripada pH saliva serus yang

sublingualis pada pria lebih bersifat normal daripada wanita. Namun, pada kondisi sesudah stimulasi, pH saliva dipengaruhi oleh kecepatan sekresi saliva sesudah distimulasi. Karena sesudah distimulasi, pH saliva lebih dipengaruhi oleh pH saliva serus yang dihasilkan kelenjar parotis daripada pH saliva mukus yang dihasilkan kelenjar saliva sublingualis. Selain itu, pH saliva sesudah stimulasi juga dipengaruhi oleh konsentrasi bikarbonat yang berjalan seimbang dengan kecepatan sekresi saliva sehingga pH saliva yang dihasilkan sesudah stimulasi menjadi lebih tinggi. Berdasarkan pH saliva sebelum dan sesudah distimulasi, tidak ada responden yang berisiko karies tinggi, tetapi yang berisiko karies rendah 100%. Ini menunjukkan bahwa kondisi asam basa saliva responden dalam keadaan normal sehingga saliva tidak memicu terjadinya karies. Sesudah distimulasi, diperoleh bahwa buffer saliva juga menunjukkan tidak ada responden yang berisiko karies tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa buffer saliva memiliki kemampuan untuk mencegah timbulnya suasana asam dalam rongga mulut karena adanya ion sodium bikarbonat yang berfungsi sebagai buffer asam dalam saliva yang jumlahnya meningkat sesudah distimulasi.15

Dari hasil uji S.mutans, diperoleh bahwa 76,66% responden menunjukkan hasil positif yang berarti bahwa responden berisiko karies tnggi dan 23,33% menunjukkan hasil negatif yang berarti bahwa responden berisiko karies rendah. Hal ini menunjukkan bahwa banyaknya S.mutans yang terkandung dalam saliva dapat mempengaruhi terbentuknya karies.

Dari seluruh faktor yang mempengaruhi keadaan saliva, dapat diketahui bahwa laju aliran saliva merupakan faktor yang paling mempengaruhi keadaan saliva yang

disekresi untuk melihat risiko kariesnya. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor yang lain seperti volume saliva, pH dan kapasitas bufer saliva dipengaruhi oleh laju aliran saliva.14

5.2 Hubungan laju aliran saliva sebelum distimulasi dengan pengalaman karies pada murid kelas X SMK Negeri 9 Medan

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara kategori risiko karies berdasarkan laju aliran saliva sebelum distimulasi dengan pengalaman karies (p>0,05). Ini mungkin disebabkan oleh pH saliva responden yang normal dan bufer saliva yang menunjukkan bahwa saliva memiliki kemampuan untuk mencegah timbulnya suasana asam dalam rongga mulut. Kemampuan bufer saliva ini mencegah terjadinya demineralisasi pada gigi dan mempertahankan agar kondisi asam basa saliva berada dalam keadaan normal. Walaupun responden tersebut berisiko karies tinggi, bila kemampuan bufer saliva baik dapat membantu mencegah terbentuknya karies.

5.3 Pengalaman karies dan perilaku terhadap kesehatan rongga mulut murid kelas X SMK Negeri 9 Medan

Dari penelitian ini, dapat dilihat bahwa rata-rata DMFT yang diperoleh adalah 4,67 dengan rata-rata decay 3,21, missing 1,71 dan filling 0,42. Nilai rata-rata tersebut menunjukkan bahwa pengalaman karies murid kelas X di SMK Negeri 9 Medan cukup tinggi. Hal ini mungkin disebabkan oleh pola makan responden, yaitu kebiasaan mengemil yang cukup tinggi, yaitu 3 kali sehari (86,66%) dan 5 kali sehari

diet berkarbohidrat fermentasi tinggi dan kariogenik seperti makanan ringan, permen, biskuit, makanan gorengan (86,66%) sehingga dapat dengan mudah terjadi karies.

Faktor lain yang dapat menyebabkan rata-rata DMFT pada penelitian cukup tinggi adalah perilaku murid dalam menjaga kebersihan rongga mulutnya. Sebagian responden sudah memiliki kebiasaan untuk menyikat gigi dengan menggunakan pasta gigi berfluoride (53,33%). Namun penggunaan pasta gigi saja belum cukup untuk memproteksi gigi dari terjadinya karies. Topikal aplikasi merupakan tindakan pelapisan fluor pada permukaan gigi yang sebaiknya dilakukan untuk mencegah terjadinya karies gigi.4 Pada penelitian ini hanya 10% yang sedah pernah mendapat perawatan dengan topikal aplikasi.

Dokumen terkait