• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan 1. Karakteristik subjek penelitian

B. Pembahasan

distribusi tekanan pada telapak kaki dan selanjutnya akan mempermudah terjadinya ulkus. Adanya kerentanan terhadap infeksi menyebabkan infeksi akan mudah merebak menjadi infeksi yang luas. Faktor aliran darah yang kurang akan lebih lanjut menambah rumitnya pengelolaan gangren diabetes.

Penderita diabetes mellitus yang kadar gulanya tidak terkontrol akan lebih mudah untuk tumbuh dan berkembangnya bakteri bakteri dari pada penderita yang kadar gula darahnya terkontrol dan pada orang yang non diabetes. Terjadinya gangren dikaki baik yang mengenai jari kaki maupun yang sudah meluas sampai telapak dan punggung kaki pada umumnya dapat disebabkan oleh karena suatu proses dari iskemik, neuropati, dan infeksi. Hiperglikemia juga dapat menyebabkan leukosit menjadi tidak normal sehingga bila ada infeksi mikroorganisma (bakteri) akan sulit untuk dimusnahkan oleh sistem fagositosis bakterisit intra sel(

Lindarto, 2004).

Infeksi sering menjadi penyakit kulit ulkus pada kaki neuropati dan neuroiskemik. Ulkus menjadi pintu gerbang masuknya bakteri dan sering polimikrobial yang meliputi bakteri gram positip dan negatip aerob yang menyebar cepat melalui kaki yang dapat menyebabkan kerusakan berat dari jaringan. Bakteri gram positip aerob patogen yang umum menyebabkan infeksi adalah Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, Streptococcus sedangkan gram negatip adalah Escherichia coli, Klebsiella sp , Enterobacter sp, Citrobacter sp, Proteus vulgaris, Proteus mirabilis dan Pseudomonas aeroginosa. Kuman gram negatip

aerob sama seperti kuman anaerob tumbuh dengan subur pada infeksi yang terletak dalam, Kuman aerob dapat cepat menginfeksi aliran darah dan kadang kadang mengakibatkan bakterimia yang dapat mengancam kehidupan. Infeksi sering menjadi penyulit dari gangren. Gangren ini merupakan penyebab masuknya bakteri dan sering polimikrobial yang menyebar dengan cepat dan dapat menyebabkan kerusakan berat dari jaringan (Nanang Fitria, 2008).

Pada penelitian ini dijumpai jenis kuman yang terbanyak untuk kedua kelompok yaitu Kelompok Perlakuan sebelum pemberian vitamin C adalah Proteus Mirabilis 7 (43,8 %), Proteus Vulgaris 2 (12,5%). Hasil untuk sesudah pemberian vitamin C adalah Proteus Mirabilis 6 (37,5 %), Proteus Vulgaris 2 (12,5%), Enterobacter aerogenes 2 (12,5 %).

Kelompok kontrol sebelum (pre) pemberian antibiotic, insulin, perawatan luka adalah Proteus Mirabillis 8 (53,3 dan sesudah (post) pemberian antibiotic, insulin, perawatan luka adalah proteus mirabilis 6 (40%), proteus vulgaris 3 (20%).

Proteus mirabilis merupakan flora normal dari saluran cerna manusia.

Bakteri ini dapat juga ditemukan bebas di air atau tanah. Jika bakteri ini memasuki saluran kencing, luka terbuka, atau paru-paru akan menjadi bersifat patogen. Proteus mirabilis sering juga terdapat dalam daging busuk dan sampah serta feses manusia dan hewan. Juga bisa ditemukan di tanah kebun atau pada tanaman. Proteus mirabilis memproduksi endotoksin yang memudahkan induksi ke sistem respon inflamasi dan membentuk hemolisin.

a. Perbandingan perbaikan klinis kuantitas mikroorganisme perubahan jumlah kuman antara kelompok perlakuan dan kontrol Hasil penelitian berdasarkan analisis Uji Wilcoxon Test bahwa terdapat perbedaan yang bermakna rerata kuantitas mikroorganisme kelompok perlakuan selama 4 minggu pada saat sebelum pemberian dan setelah pemberian vitamin C dengan nilai p value 0,021 < 0,05, sedangkan pada kelompok Kontrol dengan menggunakan uji yang sama pada kelompok perlakuan yaitu uji Wilcoxon menunjukan tidak terdapat perbedaan yang bermakna dengan nilai ρ 0.712 > 0.05. Dari hasil uji Mann-Whitney yang dilakukan untuk merlihat perbedaan rerata sebelum dan sesudah serta nilai perubahan pada kedua kelompok, didapatkan hasil tidak ada perbedaan yang bermakna pada rerata sebelum pemberian vitamin c antara kelompok perlakuan dan control dengan nilai ρ 0.513 > 0.05 untuk sebelum penambahan vitamin C pada kelompok perlakuan. Sedangkan hasil Uji untuk sesudah pemberian vitamin c antara kedua kelompok tersebut menunjukan nila ρ 0.015 <.0.05. Dengan demikian dapat disimpulkan terdapat perbedaan yang bermakna secara signifikan antara kelompok perlakuan dan control pada saat sesudah penambahan vitamin c pada kelompok perlakuan. Dari hasil perubahan jumlah kuman, didapatkan hasil tidak ada perbedaan yang bermakna dengan nilai p 0.069 > 0.05, namun dapat dilihat bahwa kuantitas mikroorganisme mengalami perubahan jumlah kuman pada kedua kelompok, tapi

kelompok perlakuan penurunan jumlah kumannya lebih besar disbanding dengan control walaupun secara statistic tidak bermakna.

Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat perubahan klinis kuantitas mikroorganisme pada kelompok dengan pemberian vitamin c selama 28 hari dan bermakna secara statistic.

Stres oksidatif dan kerusakan oksidatif pada jaringan biasanya berakhir dengan timbulnya penyakit kronis diantaranya aterosklerosis.

Meningkatnya hasil glikosidasi dan liposidasi di dalam plasma dan jaringan protein karena meningkatnya stres oksidatif pada diabetes mellitus. Sumber stres oksidasi pada diabetes diantaranya perpindahan keseimbangan reaksi redoks karena perubahan metabolisme karbohidrat dan lipid yang akan meningkatkan pembentukan ROS dari reaksi glikasi dan oksidasi lipid sehingga menurunkan sistem pertahanan antioksidan (Widowati, 2008)

Gangguan mikrosirkulasi akan menyebabkan berkurangnya aliran darah dan hantaran oksigen pada jaringan sekitar luka, pada serabut saraf yang kemudian akan menyebabkan degenerasi dari serabut saraf dan mengakibatkan suatu keadaan neuropati. Disamping itu dari kasus ulkus/gangrene diabetik, kaki diabetik 50% akan mengalami infeksi akibat munculnya lingkungan darah yang subur untuk berkembangnya bakteri yang patogen karena berkurangnya suplai oksigen, bakteri bakteri yang akan tumbuh subur.

Berdasarkan teori, Vitamin c atau L-asam askorbat merupakan antioksidan yang larut dalam air. Senyawa ini merupakan bagian dari

system pertahanan tubuh terhadap senyawa oksigen reaktif dalam plasma dan sel. Antioksidan berfungsi menetralisir radikal bebas. Stres oksidatif akan terjadi bila adanya ketidakseimbangan antara kedua senyawa radikal bebas dan antioksidan. Asam askorbat dapat meningkatkan fungsi imun dengan menstimulasi produksi interferon ( protein yang melindungi sel dari serangan virus, kuman). System imunitas berperan melawan mikroba yang masuk menembus epitel ialah system fagosit. System fagosit yang bersirkulasi dalam darah terdapat 2 tipe, yaitu neutrofil dan dan monosit.

Kedua sel ini bekerja pada tempat yang terinfeksi dimana mereka mengenal dan mencerna mikroba. Sebagai antioksidan senyawa ini juga dapat berfungsi menghambat penggumpalan keeping-keping sel darah, kemudian merangsang produksi nitrit oksida untuk melebarkan pembuluh agar supaya aliran darah menjadi lancar juga suplai oksigen ke jaringan sekitar luka, sehingga jaringan bias beregenerasi kembali dan yang tadinya jaringan yang infeksi subur untuk berkembangnya kuman yang patogen karena berkurangnya suplai oksigen akan berkurang kumannya sesuai dengan proses penyembuhan luka (Winarsi, 2007)

BAB V

Dokumen terkait