• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jumlah pakan yang dikonsumsi oleh ternak harus disesuaikan dengan kebutuhan ternak tersebut, karena nutrien di dalam pakan sangat berperan dalam proses produksi, reproduksi, dan juga kesehatan ternak. Menurut Siregar (1984), ternak yang sedang tumbuh kebutuhan zat-zat makanan akan terus bertambah sejalan dengan pertambahan bobot tubuh yang dicapai sampai batas umur dimana tidak terjadi lagi pertumbuhan. Konsumsi bahan kering (BK), protein kasar (PK), serat kasar (SK), lemak kasar (LK), dan total digestible nutrient (TDN) dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Rataaan Konsumsi Nutrien Domba BALIBU dengan Ransum Sumber Energi yang Berbeda

Peubah Perlakuan Rataan

P1 P2 P3 Konsumsi Nutrien BK (g/ekor/hari) 500±149 422±162 434±217 452±159 (g/kg BB0,75) 68±6 62±10 59±8 63±8 (% BB) 3,5±0,11 3,3±0,3 3,1±0,3 3,3±0,3 PK (g/ekor/hari) 80±24 67±26 72±36 73±26 SK (g/ekor/hari) 106±32 94±36 97±48 99±35 LK (g/ekor/hari) 31±9 26±10 26±13 28±10 TDN (g/ekor/hari) 327±97 277±106 287±144 297±104 Keterangan : P1: Ransum dengan sumber energi jagung; P2: Ransum dengan sumber energi onggok;

P3: Ransum dengan sumber energi jagung dan onggok; BK: Bahan Kering; PK: Protein Kasar; SK: Serat Kasar; LK: Lemak Kasar; TDN: Total Digestible Nutrient.

Konsumsi Bahan Kering

Perlakuan ransum dengan sumber energi yang berbeda tidak berpengaruh nyata (p>0,05) terhadap konsumsi bahan kering ransum (Tabel 6). Tidak adanya perbedaan konsumsi BK menunjukkan bahwa palatabilitas dari ketiga macam ransum yang diberikan sama. Pond et al. (1995) mengemukakan bahwa bau, rasa, tekstur dari bahan pakan yang diberikan dapat mempengaruhi palatabilitas ransum,

selain itu konsumsi juga dapat dipengaruhi oleh kecernaan dari ransum yang digunakan. Toharmat et al. (2006) melaporkan bahwa konsumsi bahan kering akan meningkat dengan meningkatkan kecernaan ransum. Menurut hasil penelitian Suci (2011), ransum sumber energi jagung, onggok dan kombinasi jagung dan onggok tidak berpengaruh nyata terhadap kecernaan bahan kering oleh domba jantan lepas sapih dengan nilai kecernaan masing-masing 71,59%; 65,20%; 69,88%. Pakan yang mudah dicerna akan meningkatkan laju aliran pakan, sehingga terjadi pengosongan perut yang menyebabkan ternak cepat lapar dan konsumsi meningkat.

Konsumsi BK yang tidak berbeda dipengaruhi juga oleh kandungan energi atau TDN ransum yang hampir sama yaitu P1 (65,37%); P2 (65,52%); dan P3 (66,16%). Tinggi rendahnya kandungan energi pakan akan dapat mempengaruhi banyak sedikitnya konsumsi pakan. Pakan dengan energi tinggi akan dikonsumsi lebih sedikit dibandingkan pakan dengan kandungan energi rendah karena domba akan terus mengkonsumsi pakan jika kebutuhan energi belum terpenuhi dan akan menghentikan aktivitas konsumsi bila energi sudah terpenuhi. Menurut Siregar (1984), faktor lain yang dapat juga berpengaruh pada tingkat konsumsi domba seperti jenis kelamin, ukuran tubuh, aktivitas, dan kondisi lingkungan selama pemeliharaan.

Konsumsi bahan kering yang diperoleh pada penelitian ini yaitu P1 (500 g/ekor/hari); P2 (422 g/ekor/hari); P3(434 g/ekor/hari). NRC (2006) menyatakan bahwa besarnya kebutuhan bahan kering untuk domba lepas sapih dengan bobot badan 10-20 kg adalah 500-1000 g/ekor/hari. Konsumsi bahan kering ransum dengan sumber energi onggok (P2) dan ransum sumber energi kombinasi jagung dan onggok (P3) masih dibawah standar tersebut, sedangkan ransum dengan sumber energi jagung (P1) telah sesuai dengan standar tersebut. Dhakad et al. (2002) juga melaporkan bahwa jumlah bahan kering yang dikonsumsi oleh domba jantan lepas sapih yang diberi ransum dengan sumber energi jagung sebesar 461-471 g/ekor/hari. Hasil konsumsi BK domba yang dilaporkan pada penelitian tersebut jika dibandingkan dengan hasil yang diperoleh pada penelitian ini nilainya relatif sama.

Jumlah konsumsi bahan kering ransum berdasarkan bobot badan pada penelitian ini sebesar 3,1%-3,5% bobot badan per hari. Kearl (1982) yang melaporkan bahwa domba dengan bobot badan 10-20 kg/ekor/hari membutuhkan

konsumsi bahan kering sebesar 4,2%-7,1% dari bobot badan untuk mencapai pertambahan bobot badan sebesar 100 g/ekor/hari. Domba BALIBU pada penelitian ini telah mengkonsumsi BK dengan jumlah yang telah sesuai dengan hasil penelitian tersebut.

Konsumsi bahan kering berdasarkan bobot badan metabolis pada penelitian ini berkisar 59-68 g/kg BB0,75. Hasil yang diperoleh ini lebih tinggi dari hasil penelitan Dada et al. (1999) yang menggunakan pakan berbasis singkong dan kedelai pada domba jantan lepas sapih yaitu sebesar 48,35-54,58 g/kg BB0,75. Konsumsi bahan kering yang rendah dapat disebabkan oleh kandungan serat tinggi di dalam ransum, hal tersebut sejalan dengan yang diungkapkan oleh Zhao et al. (2011) bahwa konsumsi bahan kering akan menurun dengan adanya peningkatan kandungan serat pakan, karena peningkatan konsumsi fraksi serat akan memperlambat laju pengosongan isi perut sehingga tingkat konsumsi akan menurun. Ketiga ransum pada penelitian ini mengandung serat kasar cukup tinggi yaitu sebesar 21,27%-22,25%, sedangkan menurut Maynard dan Loosli (1993) domba dan ternak ruminansia lainnya membutuhkan serat kasar sekitar 18% di dalam ransum.

Konsumsi Protein Kasar

Protein digunakan ternak untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok, produksi, dan reproduksi. Proses pemanfaatan protein salah satunya dipengaruhi oleh jumlah protein yang dikonsumsi. Ketiga perlakuan tidak memberikan pengaruh yang nyata (p>0,05) terhadap konsumsi PK (Tabel 6). Konsumsi PK ransum tidak berbeda nyata antar perlakukan dapat disebabkan oleh kandungan PK pakan yang diberikan selama penelitian relatif sama yaitu P1(16,01%); P2(15,95%); P3 (16,50%) dan juga konsumsi BK ransum (Tabel 5). Konsumsi BK ransum sangat erat kaitannya dengan konsumsi protein pakan. Hal tersebut sesuai dengan yang dilaporkan oleh Sudarman et al. (2008) bahwa semakin tinggi konsumsi BK pakan mengakibatkan semakin tinggi pula protein pakan yang dapat terkonsumsi. Konsumsi protein juga sangat berkaitan dengan pertambahan bobot badan. Semakin tinggi pertambahan bobot badan yang ingin dicapai, maka semakin tinggi pula kebutuhan protein kasar yang harus dipenuhi. Parakkasi (1999) menambahkan bahwa konsumsi PK pakan juga dapat dipengaruhi oleh jumlah dan kualitas pakan yang diberikan. Jumlah pakan yang diberikan setiap harinya selama penelitian yaitu sebesar 3%-5% BB selain itu

kualitas pakan yang diberikan juga hampir sama (Tabel 5). Pakan yang diberikan mengandung protein kasar yang relatif sama yaitu sebesar kurang lebih 16%.

Konsumsi PK hasil penelitian sebesar 73±26 g/ekor/hari, hasil yang diperoleh ini lebih rendah dibandingkan dengan standar NRC (2006); hasil penelitian Haddad et al. (2009); Karlsson et al. (2011) yaitu berturut-turut sebesar 127-167 g/ekor/hari; 121-170 g/ekor/hari; 96-158 g/ekor/hari. Konsumsi protein kasar sangat erat kaitannya dengan kandungan serat kasar di dalam ransum. Menurut Maynard dan Loosli (1993), sifat voluminous serat kasar dapat menurunkan kapasitas ruang rumen sehingga ternak merasa kenyang dan konsumsi protein pun menurun. Ketiga jenis ransum yang digunakan mengandung serat kasar yang cukup tinggi yaitu sebesar 21,27%-22,25%, padahal menurut Maynard dan Loosli (1993) domba dan ternak ruminansia lainnya membutuhkan serat kasar sekitar 18% di dalam ransum. Konsumsi protein juga dapat dipengaruhi oleh kandungan protein dalam pakan yaitu semakin tinggi kandungan protein semakin banyak pula protein yang terkonsumsi. Tingginya protein yang terkonsumsi diharapkan selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok, juga dapat digunakan untuk pertumbuhan tubuh domba.

Konsumsi Serat Kasar

Domba membutuhkan serat pakan yang cukup untuk aktivitas dan fungsi rumen yang normal. Serat pakan mengalami degradasi oleh mikroba yang berperan sebagai penyedia energi untuk mendukung hidup pokok, pertumbuhan, laktasi dan reproduksi (Lu et al., 2005). Pemberian ransum dengan sumber energi jagung, onggok, serta kombinasi antara jagung dan onggok pada domba BALIBU lokal tidak berpengaruh nyata (p>0,05) terhadap konsumsi serat kasar (Tabel 6). Sejalan degan konsumsi nutrien lain, konsumsi bahan kering yang tidak berbeda nyata juga menyebabkan konsumsi serat yang tidak berbeda antar perlakuan. Faktor lain yang dapat mempengaruhi konsumsi serat, yaitu kandungan serat kasar di dalam ransum, hal ini sejalan dengan yang dilaporkan oleh Suparjo et al. (2011) bahwa konsumsi serat kasar sangat dipengaruhi oleh kandungan serat kasar di dalam ransum, karena serat yang terkonsumsi akan semakin tinggi jika kandungan serat ransum juga tinggi dan begitu juga sebaliknya.

Konsumsi serat kasar domba BALIBU yang diperoleh pada penelitian sesesar 99±35 g/ekor/hari. Hasil yang diperoleh tersebut lebih tinggi dari hasil

penelitian Singh et al. (1999) yang menggunakan domba Awwasi lepas sapih yang diberi ransum dengan kandungan serat sebesar 11,9%, konsumsi seratnya sebesar 79,23 g/ekor/hari. Perbedaan konsumsi serat kasar antara penelitain tersebut dengan penelitian ini dapat disebabkan karena kandungan serat kasar ransum pada penelitian ini lebih tinggi yaitu berkisar 21,27%-22,25%. Konsumsi serat kasar sangat dipengaruhi oleh kandungan serat yang terkandung di dalam ransum. Kandungan serat kasar di dalam pakan dapat mempengaruhi kecernaan di dalam ransum, karena menurut Tilman et al. (1991) semakin banyak serat kasar yang terdapat di dalam suatu bahan pakan, maka semakin tebal dinding sel dan akibatnya semakin rendah daya cerna dari bahan makanan.

Konsumsi Lemak Kasar

Pemberian pakan sumber energi jagung, onggok, serta kombinasi jagung dan onggok dalam ransum domba lokal jantan tidak berpengaruh nyata (p>0,05) terhadap konsumsi lemak kasar (Tabel 6). Tidak adanya perbedaan konsumsi lemak kasar tersebut diduga disebabkan oleh kandungan lemak yang relatif sama dan konsumsi bahan kering domba yang tidak berbeda dari ketiga perlakuan.

Konsumsi lemak kasar yang diperoleh pada penelitian ini sebesar 28±10 g/ekor/hari. Hasil yang diperoleh tersebut lebih rendah bila dibandingkan dengan hasil penelitian Haddad et al. (2004) yang menggunakan jagung sebesar 25% dalam ransum untuk domba Awwasi jantan lepas sapih pada periode pembesaran yaitu sebesar 59 g/ekor/hari. Perbedaan hasil yang diperoleh tersebut dapat disebabkan oleh perbedaan kandungan lemak kasar, komposisi ransum, dan jenis domba yang digunakan. Pada penelitian ini ransum mengandung lemak kasar lebih rendah yaitu sebesar 6,07%-6,26% sedangkan penelitian Haddad et al. (2004) sebesar 6,5%, selain itu pakan yang diberikan pada penelitian Haddad et al. (2004) adalah pakan yang terdiri dari campuran jagung, jerami gandum, barley, mineral mix, dan lemak sintetik.

Konsumsi Total Digestible Nutrient

Efisiensi pemanfaatan nutrien oleh ternak sangat bergntung pada kecukupan energi dan protein. Energi yang cukup sangat diperlukan untuk pertumbuhan normal. Kekurangan energi pada ternak muda dapat menghambat pertumbuhan dan

pencapaian dewasa kelamin. Ketiga perlakuan tidak berpengaruh nyata (p>0,05) terhadap konsumsi TDN (Tabel 6). Hal ini terjadi karena besarnya TDN yang diberikan antar perlakuan hampir sama, selain itu konsumsi TDN juga dapat dipengaruhi oleh konsumsi BK ransum. Hal tersebut sejalan dengan yang dilaporkan oleh Purbowati et al. (2009) bahwa konsumsi TDN antar perlakuan yang tidak berbeda nyata dapat disebabkan oleh kandungan TDN pakan relatif sama dan konsumsi BK yang tidak berbeda nyata. Kandungan TDN dalam ransum P1, P2, dan P3 yang digunakan pada penelitian ini masing-masing adalah 65,37%, 65,52% dan 66,16%.

Rataan konsumsi TDN yang diperoleh dari perlakuan ransum dengan sumber energi jagung (P1), ransum dengan sumber energi onggok (P2) dan ransum dengan sumber energi jagung dan onggok (P3) sebesar 297±104 g/ekor/hari. Hasil tersebut lebih rendah dari hasil penelitian Rianto et al. (2006), yang sama-sama menggunakan domba lokal jantan lepas sapih, yaitu sebesar 341,33 g/hari dan lebih rendah juga dari standar kebutuhan TDN menurut NRC (2006) untuk domba dengan bobot badan 10-20 kg yaitu sebesar 400-800 g/hari. Konsumsi bahan kering dan kandungan energi yang rendah dapat menjadi faktor rendahnya konsumsi energi, karena menurut Anggorodi (1990) penentuan jumlah konsumsi energi merupakan kombinasi antara konsumsi bahan kering dengan kandungan energi ransum, selain itu Lallo (1996) melaporkan bahwa konsumsi energi akan meningkat sejalan dengan peningkatan kandungan energi pakan.

Konsumsi Ca dan P

Ca dan P merupakan mineral yang diperlukan dalam jumlah yang cukup banyak dalam tubuh ternak untuk proses pertumbuhan ataupn perkembangan jaringan tubuh ternak (Girinda et al., 1973). Perlakuan ransum dengan sumber energi yang berbeda yaitu P1 yang berasal dari jagung, P2 berasal dari onggok, dan P3 berasal dari kombinasi jagung dan onggok yang tidak memberikan pengaruh yang nyata (p>0,05) terhadap konsumsi Ca dan P domba BALIBU (Tabel 7). Konsumsi Ca dan P yang tidak berbeda pada penelitian ini sejalan dengan konsumsi BK yang tidak berbeda juga. Konsumsi Ca dan P juga dapat dipengaruhi oleh besarnya kandungan Ca dan P dalam ransum dan palatabilitas dari ransum yang diberikan. Kandungan Ca dan P yang yang terdapat di dalam ketiga ransum perlakuan relatif

sama, sehingga besarnya jumlah yang dikonsumsi tidak jauh berbeda dari ketiga perlakuan.

Tabel 7. Rataaan Konsumsi Mineral Ca dan P pada Domba BALIBU dengan Ransum Sumber Energi yang Berbeda

Peubah Perlakuan Rataan

P1 P2 P3

---g/ekor/hari---

Konsumsi Ca 8,2±2,5 7,2±2,8 7,4±3,7 7,6±2,7

Konsumsi P 2,1±0,6 1,8±0,7 1,8±0,9 1,9±0,7

Keterangan: P1: Ransum dengan sumber energi jagung; P2: Ransum dengan sumber energi onggok; P3: Ransum dengan sumber energi jagung dan onggok; Ca: Kalsium; P: Fosfor.

Konsumsi mineral Ca dan P berdasarkan Tabel 7 yaitu berkisar antara 7,2-8,2 g/ekor/hari dan 1,8-2,1 g/ekor/hari. Konsumsi Ca dan P untuk domba yang sedang tumbuh dengan bobot badan 10-20 kg menurut standar NRC (2006) yaitu berkisar 4-5,4 g/ekor/hari dan 1,9-2,5 g/ekor/hari. Konsumsi Ca pada penelitian ini lebih tinggi dari standar NRC (2006), namun domba BALIBU mengkonsumsi P dengan jumlah yang telah sesuai dengan standar tersebut. Hal ini berarti bahwa kebutuhan mineral Ca domba BALIBU pada penelitian ini lebih tinggi dibandingkan dengan kebutuhan domba lepas sapih yang dilaporkan oleh NRC (2006).

Pertambahan Bobot Badan

Ransum P1, P2, dan P3 yang diberikan kepada domba BALIBU lokal tidak memberikan pengaruh yang nyata (p>0.05) terhadap pertambahan bobot badan domba (Tabel 7). Blakely dan Bade (1998) menyatakan bahwa nutrien utama yang dibutuhkan oleh ternak untuk tujuan pertumbuhan adalah energi, oleh karena konsumsi TDN antar perlakuan dalam penelitian ini tidak berbeda nyata, maka PBB yang dihasilkan juga tidak berbeda nyata. Defisiensi energi pada ternak yang sedang dalam fase pertumbuhan akan menyebabkan penurunan laju peningkatan bobot badan, yang akhirnya akan menghentikan pertumbuhan, bobot badan semakin menurun dan yang paling buruk adalah dapat menyebabkan kematian. Nutrien lain yang mempengaruhi PBB yaitu protein kasar. Menurut NRC (2006) domba yang sedang tumbuh membutuhkan protein dalam jumlah yang tinggi dibandingkan domba yang dewasa. Setelah kebutuhan hidup pokok terpenuhi, protein yang

dikonsumsi oleh tubuh ternak akan dimanfaatkan untuk mengganti jaringan tubuh yang rusak dan pembentukan jaringan baru atau otot tubuh, oleh karena itu konsumsi protein yang tidak berbeda nyata antar perlakuan sejalan dengan pertambahan bobot badan yang diperoleh.

Faktor lain yang dapat juga berpengaruh pada pertambahan bobot badan adalah seperti umur dan genetik domba. Domba BALIBU yang digunakan pada penelitian ini berasal dari persilangan domba sama yaitu persilangan antara induk domba dari Jonggol dan pejantan jenis domba Garut sehingga menghasilkan potensi genetik yang sama untuk tumbuh, selain itu semua domba yang digunakan adalah domba lepas sapih berumur dua bulan dan dipelihara sampai umur lima bulan.

Tabel 8. Rataan Pertambahan Bobot Badan dan Konversi Domba BALIBU dengan Ransum Sumber Energi yang Berbeda

Peubah Perlakuan Rataan

P1 P2 P3

PBB (g/ekor/hari) 128±24 91±35 108±53 109±38

Konversi 3,9±0,5 4,6±0,7 4,1±0,8 4,2±0,7

Keterangan : P1: Ransum dengan sumber energi jagung; P2: Ransum dengan sumber energi onggok; P3: Ransum dengan sumber energi jagung dan onggok; PBB: Pertambahan Bobot Badan.

Pertambahan bobot badan domba pada penelitian ini sebesar P1(128 g/ekor/hari); P2 (91 g/ekor/hari); P3 (108 g/ekor/hari). Hasil yang diperoleh tersebut lebih rendah dari hasil penelitian Setyono (2006); Purbowati et al. (2007); Mahapura et al. (2003) yaitu masing-masing sebesar 261,67 g/ekor/hari; 291,67 g/ekor/hari; 155 g/ekor/hari. Lebih rendahnya PBB yang diperoleh pada penelitian ini dapat disebabkan karena tingkat palatabilitas ransum yang berbeda yang disebabkan oleh berbedanya komposisi bahan pakan yang digunakan dari masing-masing penelitian sehingga jumlah pakan yang dikonsumsi pun berbeda. Rataan bobot badan domba selama penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 4. Grafik Rataan Bobot Badan Domba BALIBU selama Pemeliharaan

Secara umum dari Gambar 3 dapat dilihat bahwa rataan bobot badan domba dari ketiga perlakuan mengalami peningkatan selama masa pembesaran. Hal tersebut terjadi karena domba dari ketiga perlakuan sedang dalam masa pertumbuhan yaitu umur 2-5 bulan. Menurut Mathius (1989), bobot badan domba akan meningkat dengan cepat hingga mencapai umur dewasa kelamin yaitu umur 6-8 bulan dan akan mulai lambat pada saat umur dewasa tubuh. Perlakuan ransum dengan sumber energi onggok (P2) menunjukkan rataaan bobot badan yang lebih rendah dibandingkan perlakuan ransum dengan sumber energi jagung (P1) dan ransum dengan sumber energi kombinasi jagung dan onggok (P3). Hal tersebut diduga disebabkan oleh konsumsi bahan kering domba yang mendapatkan ransum P2 cenderung lebih rendah bila dibandingkan dengan kedua perlakuan lainnya. Kualitas dan kuantitas pakan sangat mempengaruhi pertambahan bobot badan karena menurut Cheeke (1999), peningkatan dan penurunan konsumsi serta kandungan zat makanan pakan biasanya akan diikuti dengan peningkatan dan penurunan bobot badan setiap minggunya.

Konversi Pakan

Nilai konversi pakan menunjukkan tingkat efisiensi penggunaan pakan oleh ternak yang mencerminkan kualitas pakan tersebut. Konversi pakan merupakan jumlah pakan yang dikonsumsi untuk menghasilkan satu unit produksi ternak (Katongole et al., 2009). Nilai konversi pakan yang semakin rendah menunjukkan

bahwa efisiensi penggunaan pakan semakin baik, karena jumlah pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu kilogram PBB semakin sedikit.

Penggunaan ketiga jenis ransum tidak berpengaruh yang nyata (p>0,05) terhadap konversi pakan (Tabel 7). Hal tersebut sejalan dengan besarnya konsumsi ransum, dan pertambahan bobot badan dari ketiga perlakuan yang diberikan. Konversi pakan khususnya pada ternak ruminansia dapat dipengaruhi juga oleh kualitas pakan. Menurut Hasnudi dan Wahyuni (2005), melalui pemberian pakan berkualitas baik, ternak akan tumbuh lebih cepat dan angka konversinya akan lebih baik juga. Kualitas pakan yang diberikan dapat dicerminkan dari kandungan nutrien ransum, ketiga perlakuan pada penelitian ini mengandung ransum dengan kandungan TDN dan PK yang hampir sama (Tabel 5). Selain itu, kualitas pakan dapat dinilai juga dari tingkat kecernaan pakan tersebut. Hasil penelitian Suci (2011) melaporkan bahwa kecernaan nutrien oleh domba dengan menggunakan jenis ransum yang sama pada penelitian ini adalah tidak berbeda nyata. Tidak berbeda nyatanya kecernaan oleh domba tersebut menandakan bahwa ketiga ransum yang diberikan memiliki kualitas pakan yang hampir sama.

Nilai konversi ransum pada penelitian ini sebesar 4,2±0,7. Nilai konversi ransum pada ketiga ransum (Tabel 7) menunjukkan bahwa nilai yang diperoleh jauh lebih rendah dari yang dilaporkan oleh Tomaszewaska et al. (1993) dan Gatenby (1986), namun bila dibandingkan dengan standar NRC (2006), hasil yang diperoleh hampir sesuai dengan standar. NRC (2006) melaporkan bahwa konversi untuk domba lepas sapih sebesar 4, sedangkan Tomaszewaska et al. (1993) melaporkan bahwa domba dengan bobot badan domba 15-25 kg konversinya adalah 7,7 dan menurut Gatenby (1986), konversi pakan domba di daerah tropis berkisar antara 7-15. Nilai konversi yang lebih rendah tersebut mengindikasikan bahwa pemberian ketiga jenis ransum sangat efisien untuk diberikan dalam usaha pembesaran domba BALIBU.

Income Over Feed Cost (IOFC)

Tujuan akhir dari usaha pembesaran domba BALIBU adalah mendapatkan keuntungan ekonomi yang maksimal. Efesiensi dari usaha peternakan dapat dilihat melalui indikator pendapatan setelah dikurangi biaya pakan. IOFC merupakan selisih pendapatan usaha peternakan dengan biaya pakan. Menurut Hermanto (1996),

pendapatan diperoleh dari perkalian pertambahan bobot badan dengan harga jual ternak dalam bobot hidup, sedangkan biaya pakan adalah jumlah biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan pertambahan bobot badan tersebut.

Tabel 9. Rataan Income Over Feed Cost (IOFC) Domba BALIBU dengan Ransum Sumber Energi yang Berbeda

Uraian Perlakuan Rataan

P1 P2 P3

---Rp/ekor/hari---

Pendapatan 5119±974 3651±1395 4325±2131 4365±1505

Biaya pakan 1088±325 771±296 868±435 909±340

IOFC 4103±657 2880± 1120 3457± 1719 3456±1187

Keterangan : P1: Ransum dengan sumber energi jagung; P2: Ransum dengan sumber energi onggok; P3: Ransum dengan sumber energi jagung dan onggok; IOFC: Income Over Feed Cost. Perlakuan ransum dengan sumber energi yang berbeda tidak berpengaruh nyata (p>0,05) terhadap nilai IOFC (Tabel 9). Hal ini disebabkan karena tidak berbeda nyatanya pertambahan bobot badan domba BALIBU, konsumsi pakan, dan harga pakan yang hampir sama yaitu, P1: Rp 2177/kg; P2: Rp 1827/kg; P3: Rp 2002/kg dengan asumsi harga jual bobot hidup domba Rp 40.000/kg. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Kasim (2002) bahwa faktor yang mempengaruhi nilai perhitungan IOFC antra lain PBB, konsumsi pakan, dan harga pakan saat pemeliharaan. Tabel 9 juga menunjukkan bahwa dari ketiga ransum yang diberikan ransum P1 menghasilkan nilai IOFC paling tinggi. Hal ini dapat disebabkan oleh paling tingginya PBB yang dicapai oleh domba dibandingkan ransum P2 atau P3, selain itu rendahnya konversi ransum P1 dibandingkan kedua ransum lainnya (Tabel 8). Menurut Setyono (2006), pertambahan bobot badan yang tinggi belum tentu menjamin keuntungan maksimum, tetapi pertumbuhan yang baik dan disertai dengan konversi pakan yang baik pula serta biaya pakan yang minimum akan mendapatkan keuntungan yang maksimum.

Hasil IOFC yang diperoleh pada penelitian ini lebih tinggi dari yang dilaporkan oleh Kasim (2002) yang menggunakan ransum komplit berbahan baku onggok, jerami padi dengan penambahan cairan rumen pada domba lokal jantan lepas sapih, IOFC yang diperoleh sebesar Rp 267-1461/hari. Perbedaan hasil tersebut

diduga disebabkan karena adanya perbedaan tingkat palatabilitas ransum antara penelitian ini dengan penelitian Kasim (2002) yang disebabkan karena berbedanya komposisi pakan yang digunakan.

Dokumen terkait