• Tidak ada hasil yang ditemukan

28 Membaca, Mengkaji, dan Mengamalkan

29. Pembahasan Menyimpang

Syi’ah meyakini

bahwa

ada tangan-tangan jahatyang berusaha mengalihkan

kaum

Muslimin dari melakukan kajian terhadap ayat-ayat al-Quran dan pengamalannya. Pada

masa

Umayyah

dan Abbasiyyah misalnya, tangan-tangan itu menyibukkan

kaum

Muslimin dengan isu kecpdiman dan

AgidahSyi’ab

kebaharuan al-Quran sehingga

membuat umat

Islam pecah menjadi dua

kelompok

yang saling berseteru, yaitu antara

pendukung

keqadiman al-Quran dan

pendukung

kebaharuannya, hingga jatuh korban besar di kedua belah pihak

1 . Padahal perdebatan masalahini

sama

sekalitidak didasarkanpadaprinsip yangbenar,yangberhak mendapatkanperhatian sebesaritu, sampai pertengkaransegala,karenajikayang dimaksud dengan kalam Allah adalah huruf-huruf dan lembaran-lembaran kertasnya,

maka

sudah pastiiaadalahbaharu,tetapijika yang dimaksudadalahilmuAllah,

maka

iaqadimsebagaimana Dzat-Nya.

Namun

parapenguasa dankhalifah-khalifahtiranpada

masa

ituterusmembesar-besarkan masalahinisehingga

kaum

Muslimin terlena selama bertahun-tahun, dan tangan-tangan jahat itu, sampai saat ini pun, terus berusaha dengan berbagai cara

men

galihkan

kaum

Muslimin dari pengkajian al-Quran dan pengamalannya.

30.

Kaidah

Penafsiran al-Quran

Syi’ahmeyakini

bahwa

ayat-ayatal-Quran harus difahami sesuai pengertian

umum

dan

makna

harfiyahyang dikandungnya, kecuali jika ada indikasirasional, qarinahaqliyab, atautertulis, qarinahnaqliyak, didalamataudiluarayat,yang menunjukkan

makna

lain.

Akan

tetapiqarinab atau indikasiyang dimaksudtidak bolehbersifatmeragukanataumasykukah.Demikian pula tidak boleh menafsirkan al-Quran hanya berdasarkan asumsi dan perkiraan.

Sebagaicontoh,kitayakin

bahwa maksud

katacd-amaatau buta dalamayat

Pada beberpa bukusejarahdisebutkanbahwa KhalifahMa’mundengan bantuan salah seorang qhodinya menetapkanbahwasiapayang percayabahwaal-Qur'anbuk* makhluk dicopotdari jabatandan kesaksiannyatidakdapatditerima.(SAo/TonkbJarni'u/-Qtn'arb.260)

49

AgidabSyi’ab

L***'

Barrmgsiapabutadiduniaakanbutapuladi akhirat,(QS. 17:72)

sudahpastibukan dalamartibutafisik,sebagaimana

makna

harfi-yah,karena banyaksekaliorangbuta, tapibaikdansalih.

Dengan

demikian,

maksud

butapadaayatdiatas ialah butahati atau nurani.

Mengapa

kitatafsirkansepertiitu?Karena demikianlah indikasi rasional atau qarinab aqByahnyi.

Demikianpula ketikaal-Quran

menggambarkan sekelom-pok musuh

Islamsebagai

:

Tuli,bisu,buta.Sesungguhnya merekatidak berakal.(QS. 2:171)

Jelassekali

bahwa

yang dimaksud al-Quran dengan sifat-sifattersebut di atasbukansifat-sifatfisik,tapisifat-sifatbatin.

Pemahaman

sepertiiniberdasarkan qarinahyangada Demikianpula ketika Allahberfirman:

Tetapikedua tangan-Nyaterbentang.(QS.5:64)

atau

:

AgidahSyi’ah

\y-p\i

Danbuatlahkapaldenganmata Kami. (QS.11:37)

sama

sekalitidakdapat dipahami dalamartimataatautanganfisik, karenasetiapfisik

mempunyai

bagian-bagian danmemerlukan mang, waktu, danarah sehinggaiaakanpunah, sedangkanAllah mustahil demikian.Kalaubegitu,

maka makna

yangpaling tepat untukkata"kedua tangan-Nya" padaayatdiatasialah

kekuasaan-Nya

yang besar, di

mana semua

alam tunduk pada-Nya.

Sedangkan

makna

"mata",ialahpengetahuan-Nya terhadapsegala sesuatu.

Oleh karenaituSyi’ahtidakdapat

membenarkan

sikap jumudatau kaku terhadap kalimat-kalimat di atas, baikyang menyangkutsifat-sifatAllah ataubukan,demikianpula sikap tidak mengindahkangarinahagltyahdannaqliyah,karenapatuhkepada qarinahmerupakansikap para uqala\orang-orangberakal,bahkan al-Quran

pun

menganutsikapini,sepertiyangditegaskan-Nya:

s' , * ,<

....

Kamitidakmengirimseorang rasul kecualidenganbahasa kaumnya.

(QS.14:4)

Hanya

sajaperludiingat

bahwa

qarinahyang dimaksud harusjelasdanpasti,sepertiyangtelahkami singgung sebelumini.

51

31.

Bahaya

Tafsirbi al-Ra'yi

Syi’ahpercaya

bahwa

tafsirbial-m'yiataumenafsirkan

al-Quran

berdasarkanpandangansendirimerupakansalah satu hal yangpaling riskanterhadap al-Quran. Hadis-hadis menggolong-kannyasebagaisalahsatudosabesar,kabimh, sedangkan pela-kunyadiusir dari hadirat Allah

Swt

Misalnya dalam sebuahhadis qudsi disebutkan

bahwa

AllahSwtberfirman:

Tidaklahberimankepadakuorangyang menafsirkan ucapan-Ku denganpandangannyasendiri.(Wasail,28:18,hadis no.22)

Iniamatjelaskarena seorang

mukmin

yangbaiktidak akan menafsirkan ucapanAllahsemaunya.

Dalam

hadislain,yang banyak dimuat oleh kitab-kitab utama hadis seperti Turmuy, Nasai,A.bu Daud, dansebagainya disebutkanbahwa:

Barangsiapa mengatakansesuatupadaAl-Qunmdengan panda-ngannyasendinataudengan sesuatuyangia tidak ketahuimaka tempatnya adalah neraka.(MahahitsJiUlumil-quran :304)

Adapun

yang dimaksud dengan tafsir bi al-m'yiatau menafsirkan al-Quran dengan pandangannyasendiriialah menaf-sirkan al-Quran semaunya, sesuai kepentingan dirinya kepentingan kelompoknya, tanpadisertaiqarinah atau buktiyang menyertai

makna apt

itu.Penafsir sepertiinipada dasarnya bukan mengikutial-Quran, tapibermaksudagaral-Quranmengikutinya.

AgidabSyi’ah

Dan

tentusaja,orang yangmemilikiiman yang utuh kepada

al-Quran

tidakakan melakukanhalini.

Selainitu,jikapintutafsirbial-m'yi inidibuka

maka

al-Quran

akan kehilanganjati dirinya, sebab setiap orangakan menafsirkannya semaunya dan menerapkan al-Quranatas berba-gaiaqidahyang menyimpang.

Dengan

demikian,tafsirbial-m'yiialahpenafsiran yang

menyimpang

dari kaidah bahasa,sastra,dan

pemahaman

pemilik bahasa,sertamenerapkan al-Quranatas pandangan-pandangan yang sesat, kemauan-kemauan pribadi dankelompok, sesuatu yang dapat mengakibatkan penyimpangan

makna

al-Quran.

Masih terdapatbeberapa bentuktafsirbial-m'yi. Salah satunyaialahmemilihayat-ayatyangsesuaidengan pandangannya saja. Misalnya, ketika ia menjelaskan masalah syafaat, tauhid, imamah, dansebagainya,

maka

iahanya memilihayat-ayat terkait yangsesuaidengan pandangannyasajadan meninggalkan ayat-ayatlainyangtidaksesuaidenganpandangannya, yangjusteru dapat berfUngsi sebagai penjelas ayat-ayatlain.

Singkatkata,jumudataukaku terhadapayat-ayatal-Quran dantidakmengindahkanqarinahaqliyahdannaqliyahyang benar merupakan bagian dan penyimpangan terhadap al-Quran.

Demikianpulatafsir bi al-m'yi.Keduanya

membuat

kitajauh dari ajarandannilai-nilaial-Quran yang amattinggi.