Bab 4. Metodologi penelitian
5.2 Pembahasan
5.2.1. Toilet Training Pada Anak
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh toilet training yang dilakukan pada anak mayoritas masih dalam kategori kurang yaitu 15 orang (40,5%) dan minoritas dalam kategori baik yaitu 10 orang (27,0%). Hal ini disebabkan karena orang tua tidak pernah melatih anak untuk merangsang rasa mengejan dalam waktu 5 sampai 10 menit. Orangtua jarang menggunakan pot kecil untuk melatih anak pada saat ke toilet. Selain itu orangtua jarang mengajarkan anak untuk mengatakan mengucapkan kata-kata yang berhubungan dengan BAK dan BAB, sehingga anak menjadi tidak terbiasa. Toilet training pada anak merupakan suatu usaha untuk melatih anak agar mampu mengontrol dalam melakukan buang air kecil dan buang air besar. Dan toilet training ini dapat berlangsung pada fase kehidupan anak yaitu umur 18 bulan sampai 24 bulan (Hidayat, 2005).
Untuk itu para orangtua hendaknya turut dalam proses belajar anak pada saat di toilet sehingga anak menjadi terbiasa untuk melakukan BAK dan BAB. Hal ini sesuai dengan pendapat Gupte (2004) bahwa usaha untuk melatih anak dalam buang air kecil dan buang air besar dapat dilakukan dengan cara
memberikan contoh dan anak menirukannya secara benar, mengobservasi saat memberikan contoh toilet training, memberikan pujian saat anak berhasil dan tidak memarahi saat anak gagal dalam melakukan toilet training. Hasil studi ini di dukung oleh pendapat Yahya (2007) bahwa toilet training juga dapat menjadi awal terbentuknya kemandirian anak secara nyata sebab anak sudah bisa untuk melakukan hal-hal yang kecil seperti buang air kecil dan buang air besar.
Diperlukan proses pembelajaran pada anak agar bisa belajar pada saat ada respon untuk BAK dan BAB. Orangtua juga harus memberikan contoh dan pengawasan agar anak bisa mengontrol dirinya pada saat proses eliminasi terjadi. Hal ini sejalan dengan pendapat Wong (2000) yang mengemukakan bahwa biasanya sejalan dengan anak mampu berjalan maka kemampuan sfingter uretra dan sfingter ani sudah mulai berkembang untuk mengontrol rasa ingin berkemih dan defekasi. Oleh karena itu orangtua harus diajarkan bagaimana cara melatih anak untuk mengontrol rasa ingin berkemih, diantaranya dengan menggunakan pot kecil yang bisa diduduki anak, atau langsung ke toilet pada jam tertentu secara regular untuk berkemih (Supartini, 2004).
5.2.2. Kemampuan Anak Dalam Melakukan Eliminasi
Berdasarkan hasil penelitian sebagian besar anak mampu melakukan eliminasi sebanyak 22 orang (59,5%). Anak mampu melakukan eliminasi karena anak sudah dilatih sebelumnya oleh orangtua. Sebab pada awalnya anak terlihat sulit untuk melakukan eliminasi secara mandiri, tetapi karena pembelajaran dan perhatian yang diberikan oleh orangtua secara terus menerus, selain itu orang tua memberikan pujian pada saat anak mampu melakukannya dengan baik. Hal itu
membuat anak menjadi mampu dan lebih mandiri saat melakukan eliminasi. Hal ini juga sejalan dengan pendapat Gupte (2004) bahwa usaha untuk melatih anak dalam buang air kecil dan buang air besar dapat dilakukan dengan cara memberikan contoh dan anak menirukannya secara benar, mengobservasi saat memberikan contoh toilet training, memberikan pujian saat anak berhasil dan tidak memarahi saat anak gagal dalam melakukan toilet training.
Kemampuan anak melakukan eliminasi pada anak dibutuhkan kesabaran dari seorang ibu, agar anak bisa belajar untuk terbiasa melakukannya. Karena kurangnya kesabaran dan perhatian dari orangtua. Maka anak akan merasa takut dan tidak lagi mau melakukannya, selain itu faktor-faktor lain yang bisa menyebabkan kemunduran pada seorang anak yang sudah belajar yaitu disebabkan karena anak merasa takut dan tertekan karena orangtua tidak sabar untuk melatih anak. Untuk itu perlu adanya dorongan agar anak secara ramah untuk mengatasi kesulitan dan kembali ke kondisi normal seperti yang sudah diberikan dalam latihan, merasa tenang dan nyaman dalam melakukan eliminasi (Supartini, 2004).
Berdasarkan hasil penelusuran dari jawaban responden yang diperoleh, banyak anak-anak yang merasa takut sewaktu masuk ke dalam kamar mandi. Kemungkinan rasa takut yang muncul pada anak-anak dikarenakan anak merasa di paksakan untuk lama berada di dalam kamar mandi, sehingga hal itu membuat anak menjadi jenuh, selain itu orangtua yang tidak sabar menunggu ketika anak berada di dalam kamar membuat anak merasa tertekan dengan kondisi tersebut. Hasil studi ini didukung oleh pendapat Hidayat (2005) bahwa perlakuan atau
aturan yang ketat bagi orangtua kepada anaknya yang dapat mengganggu kepribadian anak atau cenderung bersifat retentif di mana cenderung bersikap keras kepala. Hal ini dapat dilakukan oleh orangtua apabila sering memarahi anak pada saat buang air besar atau buang air kecil, atau melarang anak saat berpergian. Bila orangtua santai dalam memberikan aturan dalam toilet training maka akan dapat mengalami kepribadian ekspresif dimana anak lebih tega, cenderung ceroboh, suka membuat masalah, emosional dan sesuka hati dalam melakukan kegiatan sehari-hari.
5.2.3. Hubungan Toilet Training Dengan Kemampuan Anak Dalam Melakukan Eliminasi
Toilet training merupakan sesuatu yang harus diperhatikan sebelum anak melakukan buang air kecil dan buang air besar. Berdasarkan hasil penelitian menggunakan hasil uji Chi-square menyatakan Ho ditolak jika probabilitas < 0,05. Hasil analisa dengan uji Chi-square diperoleh X2
Kemampuan anak dalam melakukan eliminasi pada saat toilet training dilakukan tentunya akan mengalami proses keberhasilan dan kegagalan, selama buang air kecil dan buang air besar. Proses tersebut akan dialami oleh setiap anak. Untuk mencegah terjadinya kegagalan maka dilakukan sesuatu pengkajian sebelum melakukan toilet training yang meliputi pengkajian fisik, pengkajian psikologis, dan pengkajian inteletual. Hal ini sesuai dengan pendapat Wong (2000) yang mengemukakan bahwa biasanya sejalan dengan anak mampu berjalan hitung 7,200 dan nilai probabilitas (p = 0,027 < 0,05) maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya terdapat hubungan yang signifikan antara toilet training dengan kemampuan anak dalam melakukan eliminasi.
maka kemampuan sfingter uretra dan sfingter ani sudah mulai berkembang untuk mengontrol rasa ingin berkemih dan defekasi. Oleh karena itu orangtua harus diajarkan bagaimana cara melatih anak untuk mengontrol rasa ingin berkemih, diantaranya dengan menggunakan pot kecil yang bisa diduduki anak, atau langsung ke toilet pada jam tertentu secara regular untuk berkemih.
Hal ini sejalan dengan pendapat Administrator (2009) bahwa yang mempengaruhi toilet training pada anak adalah kesiapan fisik anak dan kemampuan anak dalam eliminasi. Tanda-tanda dari kesiapan fisik anak adalah usia telah mencapai 24 bulan sampai 28 bulan, dapat duduk atau jongkok kurang lebih 2 jam, ada gerakan usus yang regular, tahu waktu untuk buang air kecil dan buang besar, tidak betah memakai popok yang basah dan kotor, bisa memegang alat kelaminnya sambil minta ke kamar mandi kecil jika ingin buang air, bisa memakai dan melepas celana sendiri, bisa memakai kata pipis atau pup, berhasil membuat popoknya bersih dan kering selama 3 jam sampai 4 jam, memperlihatkan ekspresi fisik misalnya meringis, merah atau jongkok buang air (Administrator, 2009)
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang berjudul “Hubungan Toilet Training Dengan Kemampuan Anak Dalam Melakukan Eliminasi Di Kelurahan Dwikora Kecamatan Medan Helvetia Tahun 2010” maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Toilet training yang dilakukan pada anak mayoritas masih dalam kategori kurang yaitu 15 orang (40,5%) dan minoritas dalam kategori baik yaitu 10 orang (27,0%).
2. Mayoritas anak yang mampu melakukan eliminasi sebanyak 22 orang (59,5%) dan minoritas yang tidak mampu melakukan eliminasi sebanyak 15 orang (40,5%).
3. Hasil uji Chi-square diperoleh nilai X2
6.2. Saran-saran
hitung 7,200 dan nilai probabilitas (p = 0,027 < 0,05) maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya ada hubungan yang signifikan antara toilet training dengan kemampuan anak dalam melakukan eliminasi.
Adapun saran-saran yang dapat disampaikan peneliti adalah: 1. Bagi Orangtua
Sebagai bahan masukan bagi para orangtua yang memiliki balita dan batita
2. Bagi Pendidikan Keperawatan
Agar dapat menambah informasi dan pengetahuan mengenai faktor-faktor kegagalan dalam proses toilet training
3. Bagi Posyandu
Memberikan pengetahuan tentang pentingnya toilet training pada anak batita kepada ibu yang memiliki anak batita.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S.2006. Prosedur penelitian prakek. Jakarta: Rineka cipta. Danim, S. 2003. Riset keperawatan. Jakarta: EGC
Depkes RI. 2000. Pedoman Deteksi Dini Tumbuh Kembang Balita. Dikstat. Jakarta.
Dempsey, P.A. (2002). Riset Keperawatan Buku Ajar dan Latihan, Edisi 4. Jakarta: EGC.
Hadisubrata , Drs. M.A. 2004. Meningkatkan Inteligensia Anak Balita. PT. BPK Gunung Mulia. Jakarta.
Hidayat. (2007). Pengantar konsep dasar keperawatan. Salemba medika: Jakarta.
Hurlock, E., 1978. Perkembangan anak. Jilid I. Jakarta; EGC.
Jabal. 2007. Memperkuat Daya Tahan Tubuh Balita. Bone Pustaka. Surabaya. Murkoff, H., 2006. Batita. Jakarta: Arcan
Notoatmodjo, Soekidjo, Dr. Prof. 2003. Pendidikan Dan Penelitian Kesehatan. PT. Rineka Cipta. Jakarta.
Nursalam. 2003. Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Ed. Ke-1.
Salemba Medika.Jakarta.PB Triton. 2006. Mengasuh Dan Perkembangan Balita. Oryza. Jakarta.
Setiadi. (2007). Riset Keperawatan. Graha ilmu: Yogyakarta. Steven, 2002. Perawatan untuk bayi dan balita. Jakarta Sudjana. (2004). Metode Statistik. Ed 3. Bandung: Tarsito.
Lampiran 1
Formulir persetujuan menjadi responden penelitian hubungan
toilet training terhadap kemampuan anak dalam melakukan
eliminasi
Saya adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas sumatera Utara. Nama : RIRIN SUWINUL ARIFIN
Nim : 091121075
Akan melakukan penelitian tentang hubungan toilet training terhadap kemampuan anak dalam melakukan eliminasi di Kelurahan Dwikora Kecamatan Medan Helvetia. Penelitian ini dilaksanakan sebagai salah satu kegiatan penyelesaian tugas akhir.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan toilet training terhadap kemampuan anak dalam melakukan eliminasi.
Partisipasi Saudara dalam penelitian ini bersifat sukarela, untuk ikut serta menjadi responden penelitian ini, saudara diharapkan menandatangani surat ini. Jika Saudara tidak bersedia menjadi responden kami akan menghargainya dan tidak akan mempengaruhi apapun.
Peneliti akan menjamin identitas dan kerahasiaan jawaban yang Saudara berikan. Informasi yang Saudara berikan akan saya simpan di tempat yang aman. Saudara bebas menanyakan tentang penelitian ini.
No. Responden :
Tanggal :
Lampiran 2
KUESIONER DEMOGRAFI PENELITIAN
HUBUNGAN TOILET TRAINING TERHADAP KEMAMPUAN ANAK DALAM MELAKUKAN ELIMINASI
Petunjuk Pengisian
1. Jawablah pertanyaan dibawahi ini dengan memberikan tanda check list (√) pada kotak pilihan jawaban yang menurut anda benar.
2. Isilah pertanyaan pada kuesioner A (data demografi) sesuai dengan identitas didi anda.
3. Untuk bagian B dan C berilah tanda check list ( ) pada tabel kosong yang disediakan.
4. Jawablah pertanyaan dengan jujur sesuai dengan pengetahuan ibu. 5. Jika ada yang kurang silahkan ditanyakan langsung pada peneliti.
Data Demografi
Kode kuesioner : Umur Ibu : …….Tahun
Umur Anak : ...Tahun
Penghasilan : ( ) < 500 ribu ( ) 1 juta – 1,5 juta ( ) 500 ribu – 1 juta ( ) > 1,5 juta
Pekerjaan : ( ) IRT ( ) PNS ( ) SWASTA ( ) dll,…… Jumlah batita : ( ) 1 orang ( ) 2 orang ( ) 3 orang ( ) atau,...
KUESIONER KEMAMPUAN ANAK DALAM MELAKUKAN ELIMINASI
Petunjuk penelitian :
Beri tanda cheklist (√ ) pada pernyataan yang sesuai dengan pendapat anda : Keterangan :
1. YA 2. TIDAK
Pernyataan YA TIDAK
1. Apakah anak dapat jongkok kurang dari 2 jam?
2. Apakah anak mampu mengkomunikasikan secara verbal dan nonverbal jika merasa ingin berkemih?
3. Apakah anak merasa betah dengan kondisi basah dan adanya benda padat dicelana?
4. Apakah anak berhasil bangun tidur tanpa mengompol? 5. Apakah anak mampu tidak mengompol dalam waktu
beberapa jam sehari minimal 3 sampai 4 jam?
6. Apakah pada perkembangan anak, anak mampu berjalan, melompat, dan jongkok dengan sendirinya tanpa bantuan orang lain?
7. Apakah anak pernah melakukan memainkan tinjanya saat BAB?
8. Apakah anak merasa ketakutan bila masuk ke dalam kamar mandi?
9. Apakah anak saat mau BAK dan BAB memberitahukan orang tua nya?
INSTRUMEN CARA ORANG TUA MENGAJARI ANAK DALAM MELAKUKAN TOILET TRAINING
Jawablah pertanyaan berikut tentang pernyataan cara orang tua dalam mengajarkan anak terhadap toilet training dengan pilihan jawaban:
Ketentuan menjawab:
SL : Selalu dilakukan SR : Sering dilakukan
KK : Kadang-kadang dilakukan TP : Tidak pernah dilakukan
Pernyataan TP KK SR SL
1. Orang tua melatih untuk merangsang rasa mengejan dalam waktu 5 sampai 10 menit.
2. Orang tua mendudukkan anak di toilet atau pot yang bisa diduduki dengan cara menapakkan kaki dengan kuat pada lantai sehingga dapat membantunya untuk mengejan.
3. Orang tua mengajarkan anak untuk memakai dan melepas celana sendiri.
4. Orang tua memberikan contoh bagaimana cara melakukan eliminasi dengan baik dan benar.
5. Orang tua mengajarkan pada anak untuk mengucapkan kata-kata yang berhubungan dengan BAK dan BAB.
6. Orang tua selalu melibatkan diri dalam proses toilet training anak.
7. Orang tua melakukan rutinitas ke kamar mandi sebelum tidur pada anak.
8. Orang tua sering memuji anak saat anak melakukan BAK dan BAB dengan baik dan benar.
9. Orang tua mengajarkan pada anak untuk jongkok dari waktu 5 sampai 10 menit tanpa berdiri dulu.
Lampiran 3
Distribusi Frekuensi Item Pertanyaan Mengenai Toilet Training Pada Anak Di Kelurahan Dwikora Kecamatan Medan Helvetia Tahun 2010
No Pernyataan Tidak
Pernah
Kadang-kadang Sering Selalu
1. Orang tua melatih untuk merangsang rasa mengejan dalam waktu 5 sampai 10 menit
20 (54,1%) 8 (21,6%) 2 (5,4%) 7 (18,9%) 2. Orang tua mendudukkan anak di
toilet atau pot yang bisa diduduki dengan cara
menapakkan kaki dengan kuat pada lantai sehingga dapat membantunya untuk mengejan
1 (2,7%) 12 (32,4%) 18 (48,6%) 6 (16,2%)
3. Orang tua mengajarkan anak untuk memakai dan melepas celana sendiri 1 (2,7%) 10 (27,0%) 17 (45,9%) 9 (24,3%) 4. Orang tua memberikan contoh
bagaimana cara melakukan eliminasi dengan baik dan benar
18 (48,6%) 13 (35,1%) 3 (8,1%) 3 (8,1%) 5. Orang tua mengajarkan pada
anak untuk mengucapkan kata-kata yang berhubungan dengan BAK dan BAB
3 (8,1%) 16 (43,2%) 6 (16,2%) 12 (32,4%)
6. Orang tua selalu melibatkan diri dalam proses toilet training anak
3 (8,1%) 10 (27,0%) 14 (37,8%) 10 (27,0%) 7. Orang tua melakukan rutinitas
ke kamar mandi sebelum tidur pada anak 3 (8,1%) 9 (24,3%) 13 (35,1%) 12 (32,4%) 8. Orang tua sering memuji anak
saat anak melakukan BAK dan BAB dengan baik dan benar
5 (13,5%) 6 (16,2%) 15 (40,5%) 11 (29,7%)
anak untuk jongkok dari waktu 5 sampai 10 menit tanpa berdiri dulu
(21,6%) (32,4%) (32,4%) (13,5%)
Lampiran 4
Distribusi Frekuensi Item Pertanyaan Mengenai Kemampuan Anak Dalam Melakukan Eliminasi Di Kelurahan Dwikora Kecamatan Medan Helvetia Tahun 2010
No Pernyataan Ya Tidak
1. Apakah anak dapat jongkok kurang dari 2 jam? 19 (51,4%)
18 (48,6%) 2. Apakah anak mampu mengkomunikasikan secara
verbal dan nonverbal jika merasa ingin berkemih?
26 (70,3%)
11 (29,7%) 3. Apakah anak merasa betah dengan kondisi basah
dan adanya benda padat dicelana
21 (56,8%)
16 (43,2%) 4. Apakah anak berhasil bangun tidur tanpa
mengompol?
28 (75,7%)
9 (24,3%) 5. Apakah anak mampu tidak mengompol dalam
waktu beberapa jam sehari minimal 3 sampai 4 jam?
30 (81,1%)
7 (18,9%) 6. Apakah pada perkembangan anak, anak mampu
berjalan, melompat, dan jongkok dengan sendirinya tanpa bantuan orang lain?
30 (81,1%)
7 (18,9%) 7. Apakah anak pernah melakukan memainkan
tinjanya saat BAB?
18 (48,6%)
19 (51,4%) 8. Apakah anak merasa ketakutan bila masuk ke
dalam kamar mandi?
17 (45,9%)
20 (54,1%) 9. Apakah anak saat mau BAK dan BAB
memberitahukan orang tuanya?
29 (78,4%)
8 (21,6%)
Lampiran 6
Kemampuan Eleminasi
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Tidak Mampu 15 40.5 40.5 40.5
Mampu 22 59.5 59.5 100.0
Lampiran 5
Toilet Training
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Kurang 15 40.5 40.5 40.5
Cukup 12 32.4 32.4 73.0
Baik 10 27.0 27.0 100.0
Lampiran 7
Frequency Table
training1
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Tidak Pernah 20 54.1 54.1 54.1
Kadang-kadang 8 21.6 21.6 75.7
Sering 2 5.4 5.4 81.1
Selalu 7 18.9 18.9 100.0
Total 37 100.0 100.0
training2
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Tidak Pernah 1 2.7 2.7 2.7
Kadang-kadang 12 32.4 32.4 35.1
Sering 18 48.6 48.6 83.8
Selalu 6 16.2 16.2 100.0
Total 37 100.0 100.0
training3
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Tidak Pernah 1 2.7 2.7 2.7
Kadang-kadang 10 27.0 27.0 29.7
Sering 17 45.9 45.9 75.7
Selalu 9 24.3 24.3 100.0
training4
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Tidak Pernah 18 48.6 48.6 48.6
Kadang-kadang 13 35.1 35.1 83.8
Sering 3 8.1 8.1 91.9
Selalu 3 8.1 8.1 100.0
Total 37 100.0 100.0
training5
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Tidak Pernah 3 8.1 8.1 8.1
Kadang-kadang 16 43.2 43.2 51.4
Sering 6 16.2 16.2 67.6
Selalu 12 32.4 32.4 100.0
Total 37 100.0 100.0
training6
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Tidak Pernah 3 8.1 8.1 8.1
Kadang-kadang 10 27.0 27.0 35.1
Sering 14 37.8 37.8 73.0
Selalu 10 27.0 27.0 100.0
training7
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Tidak Pernah 3 8.1 8.1 8.1
Kadang-kadang 9 24.3 24.3 32.4
Sering 13 35.1 35.1 67.6
Selalu 12 32.4 32.4 100.0
Total 37 100.0 100.0
training8
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Tidak Pernah 5 13.5 13.5 13.5
Kadang-kadang 6 16.2 16.2 29.7
Sering 15 40.5 40.5 70.3
Selalu 11 29.7 29.7 100.0
Total 37 100.0 100.0
training9
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Tidak Pernah 8 21.6 21.6 21.6
Kadang-kadang 12 32.4 32.4 54.1
Sering 12 32.4 32.4 86.5
Selalu 5 13.5 13.5 100.0
Lampiran 8
Frequency Table
kemampuan1
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Tidak 18 48.6 48.6 48.6
Ya 19 51.4 51.4 100.0
Total 37 100.0 100.0
kemampuan2
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Tidak 11 29.7 29.7 29.7
Ya 26 70.3 70.3 100.0
Total 37 100.0 100.0
kemampuan3
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Tidak 16 43.2 43.2 43.2
Ya 21 56.8 56.8 100.0
Total 37 100.0 100.0
kemampuan4
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Tidak 9 24.3 24.3 24.3
Ya 28 75.7 75.7 100.0
kemampuan5
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Tidak 7 18.9 18.9 18.9
Ya 30 81.1 81.1 100.0
Total 37 100.0 100.0
kemampuan6
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Tidak 7 18.9 18.9 18.9
Ya 30 81.1 81.1 100.0
Total 37 100.0 100.0
kemampuan7
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Tidak 19 51.4 51.4 51.4
Ya 18 48.6 48.6 100.0
Total 37 100.0 100.0
kemampuan8
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Tidak 20 54.1 54.1 54.1
Ya 17 45.9 45.9 100.0
kemampuan9
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent
Valid Tidak 8 21.6 21.6 21.6
Ya 29 78.4 78.4 100.0
Lampiran 9
Reliability
Scale: ALL VARIABLES
Case Processing Summary
N %
Cases Valid 30 100.0
Excludeda 0 .0
Total 30 100.0
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
.891 9 Item Statistics Mean Std. Deviation N toilet1 1.73 1.311 30 toilet2 1.70 1.179 30 toilet3 1.60 1.303 30 toilet4 1.50 1.280 30 toilet5 1.40 1.192 30 toilet6 1.57 1.251 30 toilet7 1.43 1.194 30 toilet8 .93 1.143 30 toilet9 1.37 1.273 30
Item Statistics Mean Std. Deviation N toilet1 1.73 1.311 30 toilet2 1.70 1.179 30 toilet3 1.60 1.303 30 toilet4 1.50 1.280 30 toilet5 1.40 1.192 30 toilet6 1.57 1.251 30 toilet7 1.43 1.194 30 toilet8 .93 1.143 30 toilet9 1.37 1.273 30 Item-Total Statistics
Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Correlation Cronbach's Alpha if Item Deleted toilet1 11.50 54.672 .509 .891 toilet2 11.53 53.499 .659 .878 toilet3 11.63 49.620 .814 .865 toilet4 11.73 52.409 .659 .878 toilet5 11.83 56.971 .437 .895 toilet6 11.67 54.299 .564 .886 toilet7 11.80 50.097 .871 .861 toilet8 12.30 55.045 .584 .884 toilet9 11.87 50.947 .753 .870 Scale Statistics
Mean Variance Std. Deviation N of Items
Reliability
Scale: ALL VARIABLES Case Processing Summary
N %
Cases Valid 30 100.0
Excludeda 0 .0
Total 30 100.0
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
.891 9 Item Statistics Mean Std. Deviation N kemampuan1 1.57 1.223 30 kemampuan2 1.17 1.262 30 kemampuan3 1.47 1.279 30 kemampuan4 1.60 1.192 30 kemampuan5 1.77 1.040 30 kemampuan6 1.47 1.224 30 kemampuan7 1.50 1.253 30 kemampuan8 1.43 1.223 30 kemampuan9 1.60 1.192 30 Item-Total Statistics
Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Correlation Cronbach's Alpha if Item Deleted kemampuan1 12.00 46.759 .911 .857 kemampuan2 12.40 54.455 .400 .899
kemampuan3 12.10 51.748 .549 .887 kemampuan4 11.97 53.895 .467 .893 kemampuan5 11.80 51.614 .723 .874 kemampuan6 12.10 50.783 .643 .879 kemampuan7 12.07 47.995 .803 .866 kemampuan8 12.13 48.395 .800 .866 kemampuan9 11.97 52.033 .584 .884 Scale Statistics
Mean Variance Std. Deviation N of Items
Lampiran 10
Crosstab
Toilet Training * Kemampuan Eleminasi Crosstabulation
Kemampuan Eleminasi
Total
Tidak Mampu Mampu
Toilet Training Kurang Count 10 5 15
% within Toilet Training 66.7% 33.3% 100.0%
Cukup Count 3 9 12
% within Toilet Training 25.0% 75.0% 100.0%
Baik Count 2 8 10
% within Toilet Training 20.0% 80.0% 100.0%
Total Count 15 22 37
% within Toilet Training 40.5% 59.5% 100.0%
Chi-Square Tests Value df Asymp. Sig. (2-sided) Pearson Chi-Square 7.200a 2 .027 Likelihood Ratio 7.361 2 .025 Linear-by-Linear Association 5.920 1 .015 N of Valid Cases 37
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Ririn Suwinul Arifin
Tempat/Tanggal Lahir : Medan/ 15 Mei 19987 Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Jln. Bakti Luhur Gg. Mantri No 2, Medan Helvetia Riwayat Pendidikan :
1. SD ST.THOMAS I/II MEDAN : Tahun 1993-1999 2. SLTP NEGERI I BATAM : Tahun 1999-2002 3. SMA HUSNI THAMRIN MEDAN : Tahun 2002-2005 4. DIII KEPERAWATAN COLUMBIA ASIA : Tahun 2005-2008 5. S1 KEPERAWATAN USU : Tahun 2009-2011
TAKSASI DANA
1. Persiapan Proposal
− Biaya tinta dan kertaprint proposal Rp 120.000,- − Fotokopi Sumber-sumber tinjauan pustaka Rp 15.000,- − Biaya buku sumber tinjauan pustaka Rp 150.000,
− Perbanyak Proposal Rp 50.000,-
− Biaya internet Rp 50.000,
− Konsumsi saat sidang proposal Rp 50.000,-
2. Pengumpulan Data
− Izin Penelitian Rp 75.000,
− Penggandaan Kuesioner Rp 32.000,-
− Biaya Transportasi Rp 20.000,-
3. Analisa Data & Penyusunan Laporan Perbaikan.
− Biaya kertas dan tinta print Rp 100.000,-
− Penjilidan Rp 35.000,-
− Penggandaan Rp 50.000,-
− Biaya tidak terduga
JUMLAH Rp 897.000 ,