• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Saluran Distribusi Sayuran Dataran Tinggi pada Kabupaten Agam, Sumatera Barat

Struktur saluran distribusi sayuran dataran tinggi pada umumnya memiliki karakteristik yang sama. Saluran distribusi sayuran dataran tinggi yang diterapkan pada Gapoktan Kabupaten Agam, Sumatera Barat umumnya mengikuti pola seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 7.

Gambar 7 Saluran distribusi sayuran dataran tinggi pada Gapoktan UPT BP4K2P Kecamatan Baso, Kabupaten Agam (2013) Saluran distribusi sayuran dataran tinggi pada Kabupaten Agam terbagi menjadi tiga saluran yaitu:

1. Struktur distribusi 1

Petani Pedagang Pengumpul  Pasar Tradisional

Pada saluran ini, hasil panen yang diproduksi oleh petani kemudian dijual kepada pedagang pengumpul yang telah melakukan kerjasama sebelumnya dengan petani. Pedagang pengumpul akan menjualnya ke pasar-pasar tradisional di sekitar wilayah Sumatera Barat, terutama di Kabupaten Agam. 2. Struktur distribusi 2

Petani Pedagang Pengumpul Luar Provinsi

Pada saluran ini, pedagang pengumpul setelah memperoleh hasil panen dari petani kemudian mendistribusikan atau menjual hasil panen ke luar provinsi seperti Jambi, Bengkulu, dan Riau.

3. Struktur distribusi 3 PetaniPasar Tradisional

Pada saluran ini, petani langsung menjual hasil panen sayuran kepada konsumen di pasar-pasar tradisional, khususnya di Kabupaten Agam.

Berdasarkan saluran distribusi tersebut, dapat disimpulkan bahwa anggota rantai pasok memiliki peran yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Masing- masing anggota dalam model rantai pasok kelompok tani memiliki peran masing- masing dalam setiap aktivitasnya. Peran yang dilakukan secara umum dapat dijelaskan pada Tabel 5.

Petani Pedagang Pengumpul

Pasar Tradisional

Tabel 5 Peran anggota rantai pasok sayuran dataran tinggi

Tingkatan Anggota Proses Aktivitas

Produsen Petani (Ketua, Wakil, Bendahara, Sekretaris, Wakil Sekretaris, dan Anggota petani) -Pembelian -Budidaya -Distribusi -Penjualan Melakukan pembelian bibit dan sarana produksi dari pemasok, budidaya sayuran dataran tinggi, dan penjualan ke

pedagang pengumpul atau langsung kepada

konsumen di pasar tradisional. Distributor Pedagang Pengumpul -Pembelian

-Sortasi -Grading -Penyimpanan -Penjualan

Melakukan pembelian sayuran dari petani, melakukan proses sortasi dan grading, melakukan penjualan ke luar daerah ataupun end user. Konsumen Masyarakat umum -Pembelian Melakukan pembelian

sayuran dari distributor atau petani secara langsung.

Sumber: UPT Balai Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan, Kehutanan dan Ketahanan Pangan Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (2013)

Saluran Distribusi Sayuran Dataran Tinggi pada Kabupaten Karo Sumatera Utara

Saluran distribusi sayuran dataran tinggi di Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Perbedaan utama saluran distribusi sayuran terdapat pada jenis sayuran dan kualitas yang dihasilkan. Perbedaan kualitas disebabkan oleh penggunaan bibit yang tidak terstandarisasi oleh petani. Meningkatkan kualitas sayuran dapat dilakukan dengan penggunaan bibit yang terstandar oleh petani. Saluran distribusi sayuran dataran tinggi yang ditemukan pada sentra sayuran dataran tinggi Kabupaten Karo, Sumatera Utara, umumnya mengikuti pola seperti ditunjukkan dalam Gambar 8.

Gambar 8 Saluran distribusi sayuran dataran tinggi di Desa Gurusinga, Kecamatan Brastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara

Saluran distribusi sayuran dataran tinggi diatas dibagi menjadi beberapa saluran, sebagai berikut:

1) Saluran distribusi 1

Petani  Pengumpul  Pedagang pasar induk Kecamatan Brastagi.

Petani menjual sayur kepada pengumpul yang akan dibawa ke pasar tradisional. Pada penelitian, ditemukan satu orang petani yang juga berprofesi sebagai pengumpul sehingga bisa langsung membawa hasil panennya ke pasar induk Kecamatan Brastagi. Pembeli yang ada di pasar induk Kecamatan Brastagi merupakan pembeli grosiran yang akan menjual lagi produknya ke luar daerah.

2)Saluran distribusi 2

Petani  Pengumpul  Perusahaan Eksportir  Pasar luar negeri.

Para pengumpul yang ada di Desa Gurusinga juga menjalin kerjasama dengan eksportir yaitu PT Alamanda Sejati Utama. Perusahaan ini memasarkan kentang ke Singapura. Kentang dikirim ke Singapura paling lama dalam waktu seminggu. Sedangkan, kentang dari pengumpul dalam satu hari langsung diserahkan pada eksportir.

Setelah itu dari eksportir ke Singapura biasanya sayuran masuk ke gudang selama dua hari untuk proses pencucian, pemberian grade, dan packaging, dari gudang eksportir ke Pelabuhan Belawan memakan waktu enam hingga sepuluhjam, dan berada di Pelabuhan Belawan satu hari. Eksportir dan pengumpul telah memiliki kontrak kerjasama dalam jangka panjang. Kontrak tersebut memuat jumlah pesanan, kualitas dan harga. Meskipun demikian, pelaksanaan kontrak tersebut belum optimal karena masalah pada petani. Petani terkadang tidak memenuhi jumlah produksi yang disyaratkan karena telah menjual sayurannya pada pihak lain yang menawar lebih tinggi. Akibatnya pengumpul kesulitan memenuhi jumlah produksi yang harus diberikan kepada PT. Alamanda Sejati Utama.

3)Saluran distribusi 3

Petani  Perusahaan Eksportir  Pasar Luar Negeri.

Petani-petani sayuran dataran tinggi yang ada di Kecamatan Brastagi, Kabupaten Karo juga memiliki kerjasama langsung dengan Gudang Eksportir. Kerjasama ini berisi kontrak kuantitas, harga, dan kualitas. Banyak petani yang

Pasar luar negeri (Singapura) Pengumpul Petani aa Perusahaan eksportir Pedagang Pasar Induk

Kecamatan Berastagi

Perusahaan eksportir

Pedagang Pasar Induk Kecamatan Berastagi

lebih memilih menjual sayuran hasil panennya pada eksportir dalam jumlah yang lebih banyak karena berapapun supply sayuran yang petani miliki, harganya akan tetap sama. Harga jual di eksportir juga lebih tinggi dibandingkan harga jual di pasar. Pada struktur distribusi ketiga, sayuran dari petani langsung masuk gudang tanpa dilakukan sortasi oleh petani terlebih dahulu.Sortasi dilakukan oleh gudang eksportir. Pihak eksportir biasanya membagi sayuran dari petani ke dalam tiga bagian yaitu mini berisi sayurangrade B, Medium yaitu sayuangrade A, dan terakhir XL dengan sayurangrade super. Gudang Eksportir yang ditemukan pada penelitian adalah PT Alamanda Sejati Utama yang melakukan ekspor khusus untuk perusahaan NTUC Fairprice Cooperative Ltd, Singapura.

4)Saluran distribusi 4

Petani  Pasar Induk Kecamatan Brastagi

Pada stuktur ini, biasanya sayuran yang telah dibawa oleh petani ke Pasar Induk Kecamatan Brastagi ditimbang dan langsung dihargai saat itu juga dengan sistem lelang. Sayuran yang telah dibeli oleh pembeli grosir akan dijual ke daerah seperti Medan, Aceh, ataupun Jakarta apabila supply sayuran di Jakarta tidak dapat memenuhi kebutuhan. Sayuran yang dibawa oleh petani hanya dipisahkan antara sayuran yang bagus dengan sayuran rindilan yang memang tidak laku dijual dan langsung dibuang. Petani mengatakan bahwa belakangan harga beberapa sayuran salah satunya seperti kentang anjlok di pasaran karena masuknya kentang dari Bangladesh, India. Akibatnya petani akan membiarkan saja kentang yang seharusnya sudah bisa dipanen sampai harga akan stabil kembali.

Model Optimasi dan Manajemen Resiko pada Saluran Distribusi Rantai Pasok Sayuran Dataran Tinggi Wilayah Sumatera dengan Menggunakan

Analytic Hierarchy Proccess (AHP)

Analytic Hierarchy Process (AHP) merupakan suatu teknis analisis keputusan dengan menggunakan perbandingan berpasangan dalam suatu diagram bertingkat yang umumnya dimulai dari fokus (sasaran), kemudian kriteria level pertama, lalu sub kriteria dan seterusnya. Analisis keputusan ini merupakan hasil gabungan analisis keputusan dari dua kota di Sumatera yaitu Kabupaten Agam, Sumatera Barat dan Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Gambar 9 menunjukan kerangka umum AHP yang terdiri dari 4 (empat) level. Level pertama menunjukkan fokus atau ultimate goal, yaitu ―Model Optimasi dan Manajemen Risiko pada Saluran Distribusi Rantai Pasok Sayuran Dataran Tinggi wilayah Sumatera‖. Level kedua pada struktur hirarki menunjukkan kendala yang dihadapi pada saluran distribusi rantai pasok yang terdiri dari keterampilan SDM, bahan baku kurang baik, alat pertanian kurang baik, penanganan distribusi kurang baik, kenaikan ongkos transportasi, dan sistem pemesanan dan pembayaran yang kurang jelas. Level ketiga pada struktur hirarki menunjukkan tujuan dari model optimasi dan manajemen risiko yang terdiri dari peningkatan kualitas petani, peningkatan kualitas sayuran, peningkatan akses ke sumberdaya, dan peningkatan kesejahteraan petani. Level keempat pada struktur hirarki menunjukkan pelaku

dari model optimasi dan manajemen risiko rantai pasok yang terdiri dari PEMDA, perbankan dan lembaga keuangan terkait, perguruan tinggi, dan LSM. Level kelima menunjukkan segmen masyarakat terdampak dari model optimasi dan manajemen risiko, yaitu pemilik lahan, pengusaha/UKM, buruh pertanian, dan Gapoktan. Hasil dari analisis ini akan digunakan sebagai dasar dalam menentukan model optimasi dan manajemen risiko pada saluran distribusi rantai pasok sayuran dataran tinggi wilayah Sumatera yang akan ditelaah secara mendalam.

Gambar 9 Struktur hirarki model optimasi dan manajemen risiko pada saluran distribusi rantai pasok sayuran dataran tinggi di Sumatera

Model Optimasi dan Manajemen Risko pada Saluran Distribusi Rantai

Pasok Sayuran Dataran TinggiWilayah Sumatera Barat dan

Sumatera Utara Fokus Bahan baku kurang baik (0,058) Keteram pilan SDM kurang baik (0,484) Alat pertanian kurang baik (0,048) Penanga nan distribusi kurang baik (0,25) Sistem pemesanan dan pembaya ran kurang jelas (0,112) Peningka tan biaya transporta si (0,048) Kendala Tujuan Peningkatan mutu petani (0,314) Peningkatan kualitas sayuran (0,399) Peningka tan akses ke sumber daya (0,074) Peningka tan kesejahteraa n petani (0,213) Pelaku LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) (0,040) Pemerintah daerah (0,573)

Bank dan lembaga keuangan terkait (0,308) Universitas (0,079) Pemilik lahan (0,509) Segmen masyarakat terdampak Pengusaha/ UKM (0,102) Buruh tani (0,082) Gabungan kelompok tani (0,307)

Hasil Pengolahan dengan AHP

Berdasarkan hasil kuesioner pakar dengan menggunakan Analytic Hierarchy Process (AHP) diperoleh perbandingan berpasangan antara fokus utama sebagai kontrol dan kendala kemudian akan dilihat mana yang memiliki pengaruh paling besar. Pada tabel 6 menunujukkan bobot dari masing-masing variabel pada setiap hiraki. Tabel 7 menunjukkan pada hirarki kendala yang paling berpengaruh adalah keterampilan SDM yang terbatas. Variabel ini keterampilan SDM yang terbatas (KST) memiliki bobot 0,484. Kemudian pada hirarki kedua, yaitu tujuan yang diperoleh dari perbandingan antara kendala sebagai kontrol utama dan tujuan, didapatkan hasilvariabel yang memiliki pengaruh paling besar adalah peningkatan kualitas sayuran (PKS) dengan bobot 0,399. Hirarki keempat yang diperoleh dari hasil perbandingan antara tujuan sebagai kontrol dan pelaku, memberikan hasil PEMDA (PMDA) dengan bobot 0,573 sebagai pemberi pengaruh terbesar, dan pada hirarki terakhir yang diperoleh dari hasil perbandingan antara pelaku sebagai kontrol dan segmen masyarakat terdampak memberikan hasil pemilik lahan (PL) dengan bobot 0,509 sebagai pengaruh terbesar pada hirarki keempat.

Tabel 6 Hasil prioritas dan bobot variabel dari setiap hirarki

Hirarki Variabel Bobot

Kendala

Keterampilan SDM terbatas 0,484

Bahan baku yang kurang baik 0,058 Alat pertanian yang kurang

baik 0,048

Penanganan distribusi kurang

baik 0,25

Kenaikan ongkos transportasi 0,048 System pemesana pembayara

kurang jelas 0,112

Tujuan

Peningkatan kualitas petani 0,314

Peningkatan kualitas sayuran 0,399

Peningkatan akses ke sumbersaya 0,074 Peningkatan kesejahteraan petani 0,213 Pelaku PEMDA 0,573 PLKT 0,308 PT 0,079 LSM 0.040

Segmen masyarakat terdampak

Pemilik lahan 0,509

Pengusaha atau UKM 0,102 Buruh pertanian 0,082

Tabel 7 Hasil prioritas yang paling berpengaruh pada masing-masing hirarki

Hirarki Variabel Bobot

Kendala Keterampilan SDM terbatas 0,484 Tujuan Peningkatan kualitas sayuran 0,399

Pelaku PEMDA 0,573

Segmen Masyarakat

Terdampak Pemilik lahan 0,509

Model Optimasi dan Manajemen Risiko

Setelah dilakukan penilaian dengan menggunakan AHP, maka disusunlah suatu model optimasi dan manajemen risiko dengan mengkombinasikan yang menjadi prioritas pada setiap hirarki. Pada hirarki pertama yaitu hirarki kendala variabel yang menjadi prioritas adalah keterampilan SDM terbatas, kemudian pada hirarki kedua, hirarki tujuan yang menjadi prioritas adalah peningkatan kualitas sayuran. Pada hirarki ketiga yaitu hirarki pelaku yang menjadi prioritas adalah PEMDA (Pemerintah Daerah). Pada hirarki terakhir yaitu hirarki segmen masyarakat terdampak yang menjadi prioritas adalah pemilik lahan. Hasil dari mengkombinasikan variabel yang menjadi prioritas pada setiap hirarki adalah terciptanya suatu model optimasi dan manajemen risiko yaitudalam upaya peningkatan kualitas sayuran, PEMDA setempat membuat suatu program mengenai pendidikan dan pelatihan guna membangun keterampilan SDM (petani) yang harus diikuti oleh seluruh pemilik lahan yang sekaligus berprofesi sebagai petani yang bergabung dalam Gapoktan Bersaudara.

Minimisasi Risiko dengan ISM (Interpretive Structural Modeling)

Setelah dibahas mengenai model optimasi dan manajemen risiko pada saluran distribusi rantai pasok sayuran dataran tinggi di Sumatera, maka selanjutnya penelitian ini akan membahas mengenai bagaimana minimisasi risiko dengan cara memperbaiki variabel yang berada pada bottom level. Variabel yang berada pada bottom level memiliki sifat driving power atau pengaruh yang kuat terhadap variabel yang berada di atasnya (middle level dan top level) dan bersifat independent. Kemudian variabel yang berada pada bottom level akan digabungkan atau dikombinasikan dengan model optimasi dan manajemen risiko yang telah dirancang dengan mengunakan AHP maka dapat dilakukan minimisasi risiko. Empat elemen ISM (Interpretive Structural Modelling) terdiri dari kendala, tujuan, pelaku, dan segmen masyarakat terdampak yang dijelaskan pada Tabel 8.

Tabel 8 Elemen dan subelemen berdasarkan ISM

Elemen Sub elemen

Kendala

1. Keterampilan SDM yang terbatas 2. Mutu bahan baku yang kurang baik 3. Mutu alat pertanian yang kurang baik 4. Keterlambatan waktu pengiriman 5. Jumlah sayuran yang dikirim tidak sesuai 6. Penanganan distribusi pasca panen yang

kurang baik

7. Kenaikan BBM mempengaruhi biaya transportasi

8. Sistem pembayaran danpemesanan yang kurang jelas

Tujuan

1. Peningkatan kualitas SDM

2. Peningkatan kualitas sayuran dataran tinggi 3. Peningkatan akses ke sumber daya (modal,

teknologi, dan bahan baku) 4. Peningkatan kesejahteraan petani 5. Kemandirian petani

Aktor

1. PEMDA

2. Bank dan lembaga keuangan 3. Universitas

4. Lembaga penjamin keuangan khusus petani 5. LSM

6. Lembaga Pendidikan dan Keterampilan (LPK)

Segmen Masyarakat Terdampak

1. PEMDA 2. Pemilik lahan

3. Pengusaha/UKM di sektor pertanian 4. Pengusaha/UKM di sektor informal 5. Buruh petani

6. Gapoktan Bersaudara

Elemen yang paling mempengaruhi pada model optimasi dan manajemen risiko saluran distribusi rantai pasok sayuran dataran tinggi berdasarkan gambar 10 adalah elemen segmen masyarakat terdampak (4). Variabel yang berada pada top level ini memiliki driving power yang rendah dan ketergantungan antar variabel yang artinya akan memiliki ketergantungan dengan variabel yang berada di middle level dan bottom level.

Variabel-variabel yang berada pada middle level ini akan memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap variabel yang berhubungan dengan variabel terhubung. Pelaku (3), dan tujuan (2) pada middle level hanya dapat dicapai dengan bila melakukan perbaikan pada bottom level terlebih dahulu. Variabel yang berada pada bottom level ini memiliki sifat driver atau pengaruh yang kuat terhadap variabel yang berada di level atasnya sehingga memperbaiki variabel kendala (1) yang ada pada saluran distribusi rantai pasok secara tidak langsung dapat meningkatkan kinerja model optimasi dan manajemen risiko pada saluran distribusi rantai pasok sayuran dataran tinggi dalam meminimisasi risiko. Model dasar interaksi antar elemen pada ISM dapat dilihat pada Gambar 10.

Gambar 10 Model dasar interaksi antar elemen pada ISM

Hasil Minimisasi Risiko pada Kabupaten Agam, Sumatera Barat dengan Menggunakan ISM (Interpretive Structural Modelling)

Kabupaten Agam terbentang seluas 2.232,30 km², atau setara dengan 5,29% dari luas provinsi Sumatera Barat yang mencapai 42.297,30 km². Kabupaten Agam memiliki ketinggian yang sangat bervariasi, yaitu antara 0 meter sampai 2.891 meter di atas permukaan laut dengan gunung Marapi di Kecamatan Banuhampusebagai titik tertinggi. Topografibagian baratkabupaten ini relatif datar dengan kemiringan kurang dari 8%, sedangkan bagian selatandan tenggararelatif curam dengan kemiringan lebih dari 45%.

Seperti daerah lainnya di Sumatera Barat, Kabupaten Agam beriklim tropisdengan kisaran suhu minimun 25 °C dan maksimum 30 °C. Tingkat curah hujan di kabupaten Agam mencapai rata-rata 3.200 mm per tahun, dimana daerah sekeliling gunung lebih tinggi curah hujannya dibanding daerah pantai. Sedangkan kecepatan angin minimun di kabupaten ini adalah 4 km/jam dan maksimum 20 km/jam.

Sumber daya utama di daerah dataran tinggi antara lain cengkeh, kentang, kol, sawi, buncis, bawang prei, kopi, nilam, gambir, dan buah-buahan. Hasilnya sebagian dipasarkan ke luar kabupaten Agam, seperti Jambi, Riau dan Bengkulu. Karakteristik penduduk daerah ini yang merupakan sebagian penduduknya berprofesi sebagai petani adalah mempertahankan lahan mereka yang dijadikan sebagai lahan pertanian. Adat setempat melarang untuk menjual lahan pertanian yang mereka miliki. Lahan tersebut diwariskan turun temurun pada garis keturunan wanita. Keturunannya wajib menjaga dan melestarikan budaya pertanian dalam keluarga mereka. Mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti kebutuhan pangan dari lahan mereka sendiri sehingga mereka pun termotivasi untuk mengolah tanaman apapun pada lahan tersebut dengan sebaik mungkin. Penyuluh pada Kabupaten Agam sangat berperan aktif dalam memberikan pengetahuan mengenai pertanian pada para petani sehingga terjalin hubungan yang baik antara keduanya. Petani memiliki sekolah sendiri yang disediakan oleh para penyuluh. Sekolah ini bertujuan mendidik para petani menjadi petani yang lebih mandiri. Hasil panen sayuran dataran tinggi pada

3

1 2 4

daerah ini dinilai sudah cukup baik, namun masih belum bisa untuk mengekspor ke pasar luar negeri.

Minimisasi Risiko pada Elemen Kendala di Kabupaten Agam, Sumatera Barat

Pada elemen kendala, variabel mutu peralatan pertanian yang kurang baik (3), waktu pengiriman yang tidak tepat waktu (4), jumlah sayuran yang dikirim tidak sesuai (5), dan kenaikan harga BBM mempengaruhi biaya transportasi (7) adalah variabel yang paling mempengaruhhi pada elemen kendala. Variabel yang berada pada top level ini memiliki driving power yang rendah dan ketergantungan antar variabel yang artinya akan memiliki ketergantungan dengan variabel yang berada di middle level dan bottom level.

Variabel-variabel yang berada pada middle level ini akan memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap variabel yang berhubungan dengan variabel terhubung. Mutu bahan baku yang kurang baik (2), penanganan distribusi pasca panen yang kurang baik (6), dan sistem pembayaran dan pemesanan yang kurang jelas (8) pada middle level hanya dapat dicapai dengan bila melakukan perbaikan pada bottom level terlebih dahulu. Variabel yang berada pada bottom level adalah variabel keterampilan SDM yang terbatas (1). Variabel yang berada pada bottom level ini memiliki sifat driver atau pengaruh yang kuat terhadap variabel yang berada di level atasnya sehingga dengan menggabungkan variabel atau elemen yang berada di bottom level dengan model optimasi dan manajemen risiko dapat mengurangi timbulnya kendala. Penggabungan variabel yang berada pada bottom level dengan model optimasi dan manajemen risiko adalah sebagai berikut PEMDA setempat membuat suatu program mengenai pendidikan dan pelatihan guna membangun keterampilan SDM (petani) yang harus diikuti oleh seluruh pemilik lahan yang sekaligus berprofesi sebagai petani yang tergabung dalam Gapoktan Bersaudara dalam upaya peningkatan kualitas sayuran. Hasil Initial Reachability Matrix (IRM) dan Clustering Diagram dapat dilihat pada Lampiran 5. Model dasar interaksi antar subelemen atau variabel kendala pada ISM dapat dilihat pada Gambar 11.

Gambar 11 Model dasar interaksi antar subelemen kendala pada ISM 8 1 7 6 4 3 5 2

Minimisasi Risiko pada Elemen Tujuan di Kabupaten Agam, Sumatera Barat Pada elemen tujuan, variabel peningkatan kualitas SDM (1) dan kemandirian petani (5) merupakan variabel yang berada pada top level dan paling mempengaruhi elemen tujuan. Variabel yang berada pada top level ini memiliki driving power yang rendah dan ketergantungan antar variabel yang artinya akan memiliki ketergantungan dengan variabel yang berada pada middle level dan bottom level.

Variabel-variabel yang berada pada middle level ini akan memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap variabel yang berhubungan dengan variabel terhubung. Peningkatan kesejahteraan petani (4) pada level ini hanya dapat dicapai dengan bila melakukan perbaikan pada bottom level terlebih dahulu. Variabel yang berada pada bottom level adalah peningkatan kualitas sayuran (2) dan peningkatan akses ke sumber daya (modal, teknologgi, dan bahan baku) (3) yang memiliki sifat driver atau pengaruh yang kuat terhadap variabel yang berada di level atasnya sehingga dengan menggabungkan variabel atau elemen yang berada pada bottom level dengan model optimasi dan manajemen risiko dapat mempermudah tercapainya tujuan. Penggabungan variabel yang berada pada bottom level dengan model optimasi dan manajemen risiko adalah sebagai berikutPEMDA setempat membuat suatu program mengenai pendidikan dan pelatihan guna membangun keterampilan SDM (petani) yang harus diikuti oleh seluruh pemilik lahan yang sekaligus berprofesi sebagai petani yang tergabung dalam Gapoktan Bersaudara untuk tercapainya peningkatan kualitas sayuran dan peningkatan akses ke sumber daya (modal, teknologi, dan bahan baku). Reachability Matrix (IRM) dan Clustering Diagram dapat dilihat pada Lampiran 5. Model dasar interaksi antar subelemen tujuan pada ISM dapat dilihat pada Gambar 12.

Gambar 12 Model dasar interaksi antar subelemen tujuan pada ISM

Minimisasi Risiko pada Elemen Pelaku di Kabupaten Agam, Sumatera Barat Pada elemen pelaku, variabel perguruan tinggi (3) dan LSM (5) merupakan variabelyang berada pada top level dan paling mempengaruhi elemen pelaku. Variabel yang berada pada top level ini memiliki driving power yang rendah dan ketergantungan antar variabel yang artinya akan memiliki ketergantungan dengan variabel yang berada di middle level dan bottom level.

Variabel-variabel yang berada pada middle level ini akan memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap variabel yang berhubungan dengan variabel terhubung.

3 4 1 5

Variabel yang berada pada middle level ini adalahPEMDA (1), perbankan dan lembaga keuangan terkait (2), dan lembaga penjamin keuangan khusus petani (4). Variabel yang berada pada bottom level adalah Lembaga Pendidikan dan Keterampilan (LPK) (6). Variabel yang berada pada bottom level ini memiliki sifat driver atau pengaruh yang kuat terhadap variabel yang berada di level atasnya sehingga dengan menggabungkan variabel atau elemen yang berada padabottom level dengan model optimasi dan manajemen risiko dapat mendorong besarnya kontribusi atau peran dari variabel-variabel yang terdapat pada elemen pelaku.

Dokumen terkait