BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN
2. Pembahasan
5.2.1 Karakteristik Demografi Responden
Berdasarkan hasil penelitian, peneliti dapat menjawab pertanyaan mengenai efektivitas terapi kognitif (Cognitif Behavior Therapy Relaksasi and
Distraksi) pada pasien kanker di RSUP Haji Adam Malik Medan.
Karakteristik demografi responden menunjukkan hampir tiga perempat adalah perempuan (81.2%) namun menurut Gill (1990) tidak ada perbedaan yang signifikan antara laki-laki dan perempuan dalam merespon nyeri. Usia responden dalam penelitian ini lebih dari setengah berada pada rentang usia 35-44 tahun (43.8%) yang adalah kelompok usia dewasa yang mana berdasarkan pendapat Gill (1990) orang dewasa kadang melaporkan nyeri jika sudah patologis dan mengalami kerusakan fungsi. Responden menganut agama Islam dan Kristen Protestan sebanyak masing-masing 43.8%. Agama mempengaruhi respon individu terhadap nyeri yang dirasakannya. Individu dapat merespon nyeri dengan kegiatan spiritual seperti berdoa, beribadah, dan kegiatan spiritual lainnya. Kurang dari dua perlima responden tingkat pendidikan terakhirnya adalah SMU. Tingkat pendidikan juga mempengaruhi individu dalam merespon nyeri. Hal ini terkait dengan tingkat pengetahuan dan pengalamannya dalam menangani nyeri yang dirasakannya (Gill, 1990). Kerusakan fungsi yang lebih dominan adalah
Jihan Rabi’al : Efektivitas Terapi Perilaku Kognitif (Cognitive Behaviour Therapy) Relaksasi dan Distraksi pada Pasien Kanker dengan Nyeri Kronis di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan, 2010.
dikarenakan kanker dan jenis kanker yang lebih dominan adalah kanker payudara (43.8%). Lima perdelapan responden adalah suku batak (62.5%). Suku batak merupakan suku yang apresiatif dalam mengungkapkan nyeri yang dirasakannya. Hal ini didukung oleh Gill (1990) yang menyatakan bahwa orang belajar dari budayanya, bagaimana seharusnya mereka berespon terhadap nyeri. Suatu daerah menganut kepercayaan bahwa nyeri adalah akibat yang harus diterima karena mereka melakukan kesalahan, jadi mereka tidak mengeluh jika ada nyeri.
5.2.2 Intensitas nyeri sebelum dan sesudah terapi relaksasi pada pasien kanker nyeri kronis
Berdasarkan pengukuran nyeri yang dilakukan sebelum terapi, lebih dari sepertiga responden menunjukkan nyeri pada rentang 8-10 (berat) (37.5%, M=6.38, SD=2.13). Sedangkan sesudah terapi, nyeri yang dirasakan oleh responden berkurang skalanya sehingga nyeri pada rentang 8-10 (berat) adalah 0% (M=3.75, SD=1.58). Terapi relaksasi bertujuan untuk membantu pasien menurunkan intensitas nyeri yang dirasakan. Karena terapi relaksasi adalah teknik untuk mengurangi ketegangan otot skeletal dan menurunkan kecemasan (Ramali, 2000). Sesuai dengan pendapat Gill (1990) kecemasan dapat meningkatkan persepsi seseorang terhadap nyeri yang dirasakan. Hal ini merupakan hubungan timbal balik yang dapat dialami penderita nyeri. Bayangan akan rasa nyeri yang hebat tentu saja membuat cemas. Terapi relaksasi ini merupakan metode yang efektif terutama pada pasien yang mengalami nyeri kronis (McCaffery, 1989).
Jihan Rabi’al : Efektivitas Terapi Perilaku Kognitif (Cognitive Behaviour Therapy) Relaksasi dan Distraksi pada Pasien Kanker dengan Nyeri Kronis di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan, 2010.
5.2.3 Intensitas nyeri sebelum dan sesudah terapi distraksi pada pasien kanker nyeri kronis
Dari hasil pengukuran diperoleh bahwa lebih dari sepertiga responden menunjukkan nyeri pada rentang 8-10 (berat) (37.5%, M=6.38, SD=2.13) dan hanya seperdelapan responden menunjukkan nyeri pada rentang 2-4 (ringan) (12.5%, M=6.38, SD=2.13). Sedangkan sesudah dilakukan terapi diperoleh bahwa jumlah responden yang menunjukkan skala nyeri pada rentang 8-10 (berat) menjadi tidak ada (0%, M=3.75, SD=1.58), dan jumlah responden pada rentang nyeri 2-4 (ringan) bertambah hingga lebih dari tiga perlima (62.5%, M=3.75, SD=1.58). Hasil ini menunjukkan bahwa intensitas nyeri menurun setelah terapi distraksi diberikan. Tamsuri (2007) mengatakan bahwa teknik distraksi adalah pengalihan dari fokus perhatian terhadap nyeri ke stimulus yang lain. Teknik distraksi dapat mengatasi nyeri berdasarkan teori bahwa aktivasi retikuler menghambat stimulus nyeri. Jika seseorang menerima input sensori yang berlebihan dapat menyebabkan terhambatnya impuls nyeri ke otak (nyeri berkurang atau tidak dirasakan oleh pasien) (Priharjo, 1993).
5.2.4 Perbedaan intensitas nyeri sebelum dan sesudah terapi relaksasi dan distraksi pada pasien kanker nyeri kronis
Dari hasil penelitian pada terapi relaksasi yang dianalisa dengan uji paired t- test, secara signifikan terdapat penurunan intensitas nyeri pada responden tersebut dengan nilai p<0,05 yaitu 0,000. Hasil ini juga didukung oleh pendapat McCaffery (1989) bahwa terapi relaksasi ini merupakan metode yang efektif dalam menurunkan intensitas nyeri yang dirasakan pasien terutama pada pasien yang mengalami nyeri kronis. Terapi relaksasi mengurangi ketegangan otot
Jihan Rabi’al : Efektivitas Terapi Perilaku Kognitif (Cognitive Behaviour Therapy) Relaksasi dan Distraksi pada Pasien Kanker dengan Nyeri Kronis di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan, 2010.
skeletal dan menurunkan kecemasan sehingga pasien lebih relaks dan fokus terhadap nyeri yang dirasakannya berkurang (Ramali, 2000). Efek positif terapi relaksasi pada pasien yang menderita nyeri kronis adalah memperbaiki kualitas tidur, memperbaiki kemampuan pemecahan masalah, menurunkan fatigue, meningkatkan kepercayaan diri dan self control dalam koping terhadap nyeri, meningkatkan efektifitas terhadap tindakan lain untuk mengurangi nyeri, memperbaiki kemampuan dalam toleransi (Priharjo, 1993).
Berdasarkan hasil uji paired t-tes pada responden yang mendapatkan terapi distraksi, secara signifikan terdapat penurunan intensitas nyeri dengan nilai p<0,05 yaitu 0,000. Hasil ini didukung oleh pendapat Priharjo (1993) bahwa teknik distraksi dapat mengatasi nyeri melalui aktivasi retikuler menghambat stimulus nyeri.
Stimulus yang menyenangkan dari luar juga dapat merangsang sekresi endorfin, sehingga stimulus nyeri yang dirasakan oleh pasien menjadi berkurang. Peredaan nyeri secara umum berhubungan langsung dengan partisipasi aktif individu, banyaknya modalitas sensori yang digunakan dan minat individu dalam stimulasi, oleh karena itu, stimulasi otak akan lebih efektif dalam menurunkan nyeri (Tamsuri, 2007).
Hasil uji independen t-test dengan membandingkan intensitas nyeri antara kelompok responden yang mendapatkan terapi relaksasi dengan yang mendapatkan terapi distraksi menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna/ signifikan. Hal ini ditunjukkan dengan nilai p>0,05 yaitu 0.868. Dari hasil ini dapat dibuat analisa bahwa tidak ada perbedaan antara terapi relaksasi dengan distraksi dalam menurunkan intensitas nyeri dan kedua terapi sama-sama efektif
Jihan Rabi’al : Efektivitas Terapi Perilaku Kognitif (Cognitive Behaviour Therapy) Relaksasi dan Distraksi pada Pasien Kanker dengan Nyeri Kronis di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan, 2010.
dalam menurunkan intensitas nyeri. Terapi relaksasi dan distraksi adalah merupakan bagian dari terapi perilaku kognitif hal ini dikarenakan kedua metode ini sama-sama merupakan jenis terapi yang mengendalikan nyeri dengan melakukan aktifitas-aktifitas tertentu dan membuat pasien penderita nyeri dapat mengendalikan rasa nyeri yang dialaminya (Stewart, 1996).
Jihan Rabi’al : Efektivitas Terapi Perilaku Kognitif (Cognitive Behaviour Therapy) Relaksasi dan Distraksi pada Pasien Kanker dengan Nyeri Kronis di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan, 2010.