HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Deskripsi Lokasi Penelitian
5.3. Pembahasan Penelitian
Dari hasil penelitian telah diperoleh, pembahasan dilakukan untuk menjawab pertanyaan penelitian tentang hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan kepuasan pasien.
5.3.1. Komunikasi Terapeutik Perawat di RSUD Doloksanggul dan RSU HKBP Balige
Berdasarkan penelitian pada 30 orang responden di RSUD Doloksanggul dan 30 orang responden di RSU HKBP Balige bahwa komunikasi terapeutik yang dilakukan perawat di RSUD Doloksanggul sebagian baik (43,3%), dan di RSU HKBP Balige sebagian baik (43,3%).
Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan Salman (2010) yang berjudul pengaruh komunikasi terapeutik perawat terhadap kepuasan pasien di RSU Haji Medan didapatkan hasil komunikasi terapeutik yang diterapkan oleh perawat saat berkomunikasi dengan pasien keterampilannya sangat baik sebanyak 43 responden (67,2%). Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Manurung (2004) yang berjudul hubungan karakteristik individu perawat dan organisasi dengan penerapan komunikasi terapeutik di ruang rawat inap Perjan RS Persahabatan Jakarta dimana penerapan komunikasi terapeutik perawat masih relative kurang (46,3%).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Diana dkk (2006) yang berjudul hubungan pengetahuan komunikasi terapeutik terhadap kemampuan komunikasi perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan di rumah sakit Elisabeth Purwokerto, bahwa ada hubungan antara pengetahuan komunikasi terapeutik terhadap kemampuan komunikasi perawat.
Hal ini di dukung penelitian yang dilakukan Sigalingging (2012) yang berjudul hubungan pengetahuan perawat tentang komunikasi terapeutik terhadap perilaku perawat saat berkomunikasi dengan pasien di RSUD Dr. Pirngadi Kota
Medan bahwa pengetahuan perawat tentang komunikasi terapeutik di RSUD Dr.Pirngadi Kota Medan terhadap 93 orang perawat, didapat sebanyak 85 orang (91.4 %) adalah dalam kategori baik dan sebanyak 8 orang (8,6 %) adalah dalam kategori cukup.
Menurut Hidayat (2008) komunikasi sangat berperan penting dalam pelayanan keperawatan, yaitu bagaimana seorang perawat menyampaikan informasi dan memberikan tanggapan atas keluhan-keluhan pasien dan bagaimana cara perawat dalam mengatasi keluhan-keluhan pasien, seperti memberikan informasi atas penyakit yang diderita pasien serta tindakan keperawatan yang akan dilakukan. Dalam berkomunikasi sikap juga sangat berpengaruh terhadap keberhasilan komunikasi terapeutik. Hal ini dilihat dari perawat masih jarang memperkenalkan diri sebelum memulai tindakan keperawatan, perawat juga masih jarang dalam membuat kontrak terlebih dahulu sebelum berinteraksi dengan perawat, dan jarang tersenyum. Berarti keberhasilan intervensi perawatan tergantung pada komunikasi karena proses keperawatan ditujukan untuk merubah perilaku mencapai tujuan.
Sepuluh langkah untuk memperbaiki kualitas menurut Juran dalam Pramono (2004) adalah membentuk kesadaran terhadap kebutuhan akan perbaikan dan peluang untuk melakukan perbaikan, menetapkan tujuan perbaikan, mengorganisasikan pencapaian tujuan, menyediakan pelatihan, melaksanakan proyek-proyek yang ditujukan untuk pemecahan masalah, melaporkan perkembangan, memberikan penghargaan, mengkomunikasikan hasil-hasil,
menyimpan dan mempertahankan hasil yang dicapai dan memelihara kesempatan dengan melakukan perbaikan dalam sistem regular perusahaan.
5.3.2. Kepuasan Pasien di Ruang Rawat Inap RSUD Doloksanggul dan RSU HKBP Balige
Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar pasien merasa puas dengan pelayanan keperawatan yang dilakukan di RSUD Doloksanggul dengan responden sebanyak 15 orang (50,0%) dan di RSU HKBP Balige dengan responden sebanyak 16 orang (53,3%).
Sejalan dengan penelitian Ibnu (2009) yang berjudul hubungan pelaksanaan komunikasi terapeutik dengan kepuasan klien dalam mendapatkan pelayanan keperawatan di instalasi gawat darurat RSUD Dr. Soedarso Pontianak Kalimantan Barat juga memberikan hasil yang sama, dari 108 responden dimana pasien merasa puas sebanyak 72 orang (66,7). Hal ini di dukung oleh Jakson (2010) Tingkat Kepuasan Pasien Rawat Inap Terhadap Pelayanan Keperawatan di Rumah Sakit Umum Estomihi Medan didapat kepuasan pasien rawat inap adalah puas (52,5%).
Hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan Salman (2010) yang berjudul pengaruh komunikasi terapeutik perawat terhadap kepuasan pasien di RSU Haji Medan bahwa mayoritas pasien sangat puas terhadap pelayanan keperawatan yang diberikan dengan responden sebanyak 55 orang (85,9%).
Menurut Pohan (2007) aspek-aspek yang mungkin memengaruhi kepuasan pasien rawat inap adalah perawat memberi kesempatan bertanya, perawat melayani dengan sopan, ramah dan tanggap, perawat selalu memberi obat pasien
sesuai dengan prosedur pemberian obat. Jika aspek-aspek tersebut dapat dipenuhi tentu pasien akan merasa puas.
Jika dilihat dari pekerjaan responden di RSUD Doloksanggul sebagian besar bekerja sebagai petani 36,7% dan di RSU HKBP Balige sebagian besar wiraswasta 40,0% dengan pendidikan rata-rata tingkat pendidikan SMA di RSUD Doloksanggul 40,0% dan di RSU HKBP Balige 56,7%. Pasien tidak mementingkan nama rumah sakit (label), namun pasien lebih menekankan yang utama dia harus mendapat pengobatan, apapun nama rumah sakitnya tidak menjadi masalah. Siagian (2006) bahwa peningkatan pendidikan seseorang akan meningkatkan keinginan meningkatkan ketrampilan dan pengetahuannya. Ketrampilan di sini yang dimaksud adalah ketrampilan dalam memilih rumah sakit saat pasien membutuhkan pelayanan. Jadi dengan pendidikan pasien yang rendah, maka pasien tidak mempunyai banyak kemampuan untuk memilih atau membandingkan rumah sakit yang dipakai untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
5.3.3. Hubungan Komunikasi Terapeutik Perawat dengan Kepuasan Pasien di Ruang Rawat Inap RSUD Doloksanggul dan RSU HKBP Balige
Hasil penelitian ada hubungan yang signifikan antara komunikasi terapeutik perawat dengan kepuasan pasien di ruang rawat inap RSUD Doloksanggul (p=0,008, α=0,05; r=0,473) dan RSU HKBP Balige (p=0,012,
α=0,05; r=0,452). Artinya pernyataan hipotesa adanya hubungan antara komunikasi terapeutik perawat dengan kepuasan pasien dapat diterima. Sejalan dengan penelitian Eva (2007) yang berjudul hubungan komunikasi terapeutik
perawat-pasien dengan kepusan pasien terhadap pelayanan Rumah Sakit AI-Islam Bandung. Terdapat hubungan yang signifikan antara komunikasi terapeutik perawat-pasien dengan kepuasan pasien nilai r=0,514 dan p=0,000. Pola hubungan linier positif yang berarti semakin baik pelaksanaan komunikasi terapeutik maka pasien akan semakin merasa puas.
Stuart, G.W dalam Suryani, (2005), ada beberapa faktor yang mempengaruhi komunikasi terapeutik perawat antara lain: (1) Pendidikan dimana semakin tinggi pendidikan semakin mudah menerima informasi, ( 2) Lama bekerja artinya semakin lama bekerja semakin banyak pengalaman dalam berkomunikasi, (3) Pengetahuan artinya semakin banyak pengetahuan yang didapat dari proses belajar dan semakin banyak keterampilan yang didapat dalam berkomunikasi, (4) Sikap apa yang diperlihatkan dari sikap akan berpengaruh terhadap komunikasi yang dilakukan, (5) Kondisi psikologis dibutuhkan kondisi psikologis yang baik untuk menjadikan komunikasi bersifat terapeutik, (6) Situasi/suasana Situasi/suasana yang hiruk pikuk atau penuh kebisangan akan mempengaruhi baik/tidaknya pesan diterima oleh komunikan, suara bising yang diterima komunikan saat proses komunikasi berlangsung membuat pesan tidak jelas, kabur, bahkan sulit diterima, (7) Kejelasan pesan Kejelasan pesan akan sangat mempengaruhi keefektifan komunikasi. Pesan yang kurang jelas dapat ditafsirkan berbeda oleh komunikan sehingga antara komunikan dan komunikator dapat berbeda persepsi tentang pesan yang disampaikan.
Didukung dengan Nasir (2009) yang mengatakan dalam melaksanakan komunikasi terapeutik, perawat harus memiliki kemampuan- kemampuan antara
lain : pengetahuan yang cukup, keterampilan yang memadai serta teknik dan etika komunikasi yang baik. Hary (1996 dalam Hendra 2008) menyatakan bahwa tingkat pendidikan turut menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami pengetahuan yang mereka peroleh. Hal ini dilihat dari data demografi perawat di RSUD Doloksanggul dan RSU Balige rata-rata pendidikan perawatnya D-III dan SPK. Pada umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin baik pula pengetahuannya.
Hal ini berbeda dengan penelitian Salman (2010) yang berjudul pengaruh komunikasi terapeutik perawat terhadap kepuasan pasien di RSU Haji Medan. Didapat hasil uji analisis Spearman’n correlation pada penelitian ini menunjukkan nilai r = 0,004 dan P= 0,972 yang berarti tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara komunikasi terapeutik perawat dengan kepuasan pasien.
BAB VI
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI