• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 Hasil dan Pembahasan

2. Pembahasan Penelitian

2.1 Karakteristik Demografi Responden

Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berada pada rentang usia 20 - 40 tahun sebanyak (57%), dimana pada usia ini pikiran dan penilaian seseorang terhadap pandangan mengenai profesi atau pekerjaan semakin kompleks, dan pada usia ini seseorang mempunyai kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan yang baik dan buruk dari informasi yang tersedia secara moral bagi dirinya dan orang lain (Papalia, et, al. 2007).

Mayoritas responden adalah perempuan (59%) dibandingkan laki-laki (49%). Hal ini menunjukkan perempuan lebih sering mengunjungi puskesmas dan lebih banyak menerima pelayanan keperawatan, sehingga pengalaman

untuk menilai perawat dari aspek sikap dan ketrampilan dapat di ukur sesuai harapan pasien.

Status perkawinan menunjukkan bahwa mayoritas responden yang mengunjungi puskesmas memiliki status menikah (75%), umumnya pasien yang berkunjung ke puskesmas didampingi istri/suami dan anaknya.

Sedangkan mayoritas responden beragama Islam (92%), karena penganut agama terbanyak di Kota Padangsidimpuan dan Kabupaten Tapsel adalah beragama Islam. Sekitar (8%) beragama Kristen dan Budha juga tidak berbeda pandangan terhadap pelayanan keperawatan yang diberikan di Puskesmas.

Mayoritas responden bersuku Batak dengan jumlah (88%), mengingat bahwa penduduk asli Kota Padangsidimpuan adalah warga bersuku Batak, sehingga berdasarkan sensus rata-rata warga adalah bermarga di sekitar puskesmas., dan sekitar (12%) warga bukanlah penduduk asli setempat.

Responden memiliki pendidikan terakhir adalah mayoritas setingkat SMA (54%), tidak berbeda jauh dengan responden dengan pendidikan terakhirnya setingkat sarjana (40%). Hal ini menunjukkan kemampuan intelektual dan pemahaman terhadap penilaian abstrak mendukung responden untuk memahami instrumen penelitian yang diisi sewaktu penelitian.

Mayoritas responden mempunyai pekerjaan wiraswasta (34%), hal ini menunjukkan banyaknya sektor usaha yang ada di Kecamatan Padangsidimpuan Utara tergolong mapan, sehingga kesempatan

mendukung..

Pada jenis layanan kesehatan responden paling banyak menggunakan fasilitas Askes sebanyak (40%), hal ini terkait banyaknya responden yang mempunyai anggota keluarga yang bekerja sebagai PNS dan dapat memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang diberikan oleh pemerintah. Kemudian responden menggunakan jenis layanan umum sebanyak (35%), sebagian besar responden menungkapkan bahwa biaya untuk berobat di puskesmas masih mampu untuk ditanggung oleh masyarakat. Dari hasil tersebut didapatkan gambaran demografi responden yang menilai citra perawat puskesmas meliputi aspek sikap dan ketrampilan perawat yang diharapkan oleh masyarakat di masa akan datang di Puskesmas Sadabuan Kecamatan Padangsidimpuan Utara.

2.2 Pencitraan perawat puskesmas yang diharapkan oleh masyarakat di masa akan datang

Berdasarkan penelitian tentang pencitraan perawat puskesmas yang diharapkan oleh masyarakat di masa akan datang diperoleh hasil bahwa citra perawat puskesmas yang diharapkan oleh masyarakat di Puskesmas Sadabuan termasuk kategori sangat tinggi. Hal ini Sangat mendukung dengan penelitian Rifa’i (2005) bahwa pandangan masyarakat yang positif terhadap mutu pelayanan keperawatan yang ditampilkan kepada masyarakat sebagai elemen penting yang mendukung pelayanan kesehatan masyarakat, dimana perawat

diharapkan lebih peka terhadap kebutuhan pasien secara fisik dan psikologis. Akan tetapi berbeda dengan hasil penelitan Widyarini (2005) dimana pada kenyataan bahwa masih banyak keluhan masyarakat (pasien dan keluarga pasien) terhadap pelayanan perawat. Seharusnya perawat menjalin hubungan kerja sama dengan individu, keluarga, dan masyarakat, khususnya dalam mengambil prakarsa dan mengadakan upaya pelayanan kesehatan, serta upaya kesejahteraan pada umumnya sebagai bagian dari tugas dan kewajiban yang diharapkan masyarakat (Rahmadi, 2009). Sesungguhnya dengan kedekatannya perawat dan masyarakat sampai pada kondisi dan daerah yang paling perifer dengan segala keterbatasan yang ada, maka pelayanan kesehatan yang komprehensif tetap harus dilakukan (Masfuri, 2009).

Pada aspek sikap dan ketrampilan yang dinilai pada penelitian di Puskesmas Sadabuan menunjukkan citra perawat sesuai yang diharapan masyarakat saat ini dan memiliki citra yang sangat tinggi di masa akan datang, sejalan dengan penelitian yang dilakukan Kuntjoro & Iriani (2007) yang menyatakan masyarakat menilai bahwa sikap, profesionalisme, dan keahlian lebih penting dari penampilan fisik perawat. Kinerja Perawat di Puskemas secara umum adalah baik, baik dari penilaian masyarakat, pimpinan dan karyawan maupun evaluasi perawat sendiri, namun untuk Puskesmas Sadabuan perlu lebih disempurnakan mengingat masih ada persentase yang menyatakan kinerja perawatnya yang belum sesuai dengan harapan pasien.

Perawat memberikan perhatian yang penuh pengertian yang mencakup mendengarkan dengan sabar semua kekhawatiran dan ketakutan pasien serta

sependapat dengan hasil penelitian di Puskesmas Sadabuan bahwa empati dan kepekaan memiliki nilai paling tinggi dalam penelitian ini. Perilaku perawat dalam merawat sangat menentukan mutu pelayanan keperawatan disamping aspek lain. Untuk itu dalam memberikan pelayanan perawat juga harus menunjukkan perilaku asertif sehingga dengan demikian pelayanan yang dberikan dapat dinilai bermutu (Grahacendekia, 2009). Menurut Budi Sampurna (2003), Pakar Hukum Kesehatan dari Universitas di Indonesia, mengemukakan bahwa setiap profesi pada dasarnya memiliki tiga syarat utama, yaitu kompetensi yang diperoleh melalui pelatihan yang ekstensif, komponen intelektual yang bermakna dalam melakukan tugasnya, dan memberikan pelayanan yang penting kepada masyarakat.

Membangun citra perawat berhubungan dengan profesionalisme seorang perawat dalam menangani klien dan memenuhi kewajibannya, kewajiban lain yang jarang diperhatikan dengan serius yaitu menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu keperawatan dalam meningkatkan profesionalisme (Budirnan, 2008). Puskesmas sebagai pemberi pelayanan kesehatan terdekat bagi masyarakat berusaha untuk meningkatkan mutu pelayanan dengan berbagai upaya, faktor-faktor yang mendukung pandangan yang positif terhadap pelayan kesehatan antara lain peningkatan kualitas pelayanan, peningkatan kompetensi petugas, dan peningkatan sarana- prasarana (Handayaningsih, 2008).

2.2.1 Pencitraan perawat puskesmas berdasarkan sikap dan ketrampilan perawat

Pada hasil penelitian menunjukkan sikap yang ditampilkan rata- rata diatas 80% yang menyatakan perawat memberikan pelayanan dengan baik terhadap pasien, yaitu pada sikap tanggung jawab (99%) perawat sangat menghargai dan menghormati pasien yang datang ke puskesmas. Menurut Yosef (2001) Responsibility to Client and Society (tanggung jawab terhadap klien dan masyarakat) perawat memiliki peran dan fungsi yang sudah disepakati. Perawat sudah berjanji dengan sumpah perawat bahwa akan senantiasa melaksanakan tugas-tugasnya yang bertanggung jawab. Sedangkan pada sikap kepekaan hasilnya (100%) perawat selalu menanggapi keluhan masalah kesehatan pasien yang berobat, hasil ini berbeda dengan penelitian oleh Fitri dan Kuntjoro (2007) dimana pada aspek kepekaan perawat terdapat kesenjangan antara pandangan dan harapan pelanggan terhadap mutu pelayanan. Hal ini dapat diartikan bahwa pelanggan belum puas terhadap mutu pelayanan yang diberikan oleh perawat.

Kepastian pelayanan didapatkan hasil bahwa pelayanan yang diberikan mendukung proses kesembuhan pasien (90%), namun untuk sikap kerja perawat yang tidak sesuai dengan harapan pasien sebanyak (26%). Hal ini menjadi sangat penting untuk diperhatikan mengingat kepastian layanan yang diberikan harus maksimal untuk mendukung kesembuhan pasien (Widyarini, 2005). Sikap empati yang ditampilkan

dengan ramah dan sopan, tentang kondisi penyakit yang diderita (85%). Hasil penelitian ini akan mendukung keberhasilan pelayanan kesehatan di puskesmas karena dari hasil penelitian Tjiptono (2000) menunjukkan bahwa seorang klien yang tidak puas sikap ramah perawat akan menceritakan pengalamannya kepada 8 sampai 10 orang lain (keluarga, teman dan sejawat). Dengan demikian citra buruk jasa pelayanan kesehatan dengan mudahnya berkembang, dan ini berdampak terhadap citra perawat sendiri.

Menurut klien perawat puskesmas terampil dalam pengkajian dan intervensi keperawatan (95%) dan asuhan keperawatan diberikan dengan benar sesuai harapan dan cita-cita puskesmas. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perawat telah memenuhi tuntutan peran perawat (Mubarok, 2005) berdasarkan kebutuhan klien dengan menggunakan tahapan proses keperawatan untuk mengidentifikasi masalah keperawatan mulai dari masalah fisik sampai masalah psikologis. Selanjutnya komunikasi dalam memberikan petunjuk penggunaan obat dengan benar (97%) dan memberikan informasi tentang penyakit yang dialami dengan benar dan tepat (83%) memberikan gambaran citra perawat yang positif. Hal ini berbeda dengan hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kualitas pelayanan informasi kesehatan yang dilakukan oleh perawat pada pasien dan keluarganya kurang baik (Ekowulan, 2003).

Sedangkan dalam kemampuan berpikir kritis memberikan alternatif mengatasi kesulitan pasien dinyatakan responden (75%), pada ketrampilan ini sudah dilakukan sesuai dengan prioritas pasien dan perawat memberikan pemahaman sisi baik dan sisi buruknya (Muninjaya, 2004). Hal yang sama juga menunjukkan bahwa ketrampilan manajemen perawat membuat dan memantau hasil rekam medik dengan tepat dan jelas pada pelayanan administrasi (67%). Seiring dengan hasil penelitian Kuntjoro & Iriani (2005) menyatakan ketrampilan manajemen terhadap tugas/pekerjaan perawat sudah sesuai harapan masyarakat dengan skor tinggi dalam kinerjanya.

Kepemimpinan perawat yaitu memiliki kreatifitas dan asertif dalam hal menghadapi pasien yang sulit diatur (57%), untuk itu dalam memberikan pelayanan keperawatan perawat harus menunjukkan perilaku asertif sehingga dengan demikian pelayanan yang dberikan dapat dinilai bermutu. Namun tidak terlepas kemungkinan bahwa dalam memberikan pelayanan keperawatan, perawat dapat menunjukkan perilaku yang tidak asertif karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya jenjang pendidikan, pengalaman kerja, jenis kelamin dan lain-lain terhadap perilaku asertif perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan (Grahacendikia, 2009). Pada ketrampilan pengajaran masyarakat kurang merasakan penyuluhan kesehatan baik di puskesmas maupun di luar puskesmas (41%) hal ini dapat dimungkinkan dari faktor kesiapan petugas dan kurangnya

dengan cakupan wilayah kerja puskesmas, padahal salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam keperawatan adalah adalah aspek pendidikan (peran edukator), karena perubahan tingkah laku merupakan salah satu sasaran dari pelayanan keperawatan (Lokarnas, 1983).

Dokumen terkait