• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian yang bersumber dari wawancara informan, maka peneliti mengkategorikan hasil yang diperoleh menjadi dua yaitu, pola komunikasi persuasif pendekatan kognisi dan pola komunikasi persuasif pendekatan afeksi. Pembahasan hasil penelitian akan disajikan, sebagai berikut:

a. Pola Komunikasi Persuasif Pendekatan Kognisi

Hasil penelitian menunjukan bahwa, pimpinan universitas menggunakan pola komunikasi persuasif melalui pendekatan logis, yaitu memaparkan data-data empiris untuk menyelaraskan pengetahuan antara mahasiswa dan pimpinan. data-data ini bersifat fakta, yang menjadi landasan pimpinan mengeluarkan sebuah kebijakan, yang kemudian dijadikan alat untuk memperkuat serta mempertahankan argumentasi dalam menangani demonstrasi.

Sejalan dengan Teori Pengaharan Nilai oleh Perloff (2003) tentang pendekatan expetancy-value yang membagi pola komunikasi persuasif menjadi dua jenis yaitu komunikasi persuasif kognisi dan afeksi. Pola komunikasi persuasif kognisi adalah komunikasi persuasif yang menggunakan metode penjelasan secara logis yang diyakini dapat berpengengaruh terhadap perubahan keyakinan.

Maknanya apabila komunikator ingin meraih kepercayaan komunikan maka komunikator harus menjelaskan sesuatu berdasarkan

fakta logis yang dapat dicerna dan dipahami oleh lawan bicara. Pola komunikasi persuasif kognisi ini juga berkaitan dengan tehnik komunikasi persuasi yang dikemukakan oleh William S. Howell (1986) yang pertama The yes-response yang mengharapkan sikap dan pendapat dari persuadee melalui serangkaian pertanyaan atau pernyataan yang saling terkait. Pernyataan tersebut dibuat berdasarkan data lapangan yang menggambarkan kondisi persuadee saat itu.

Pertanyaan tersebut mendorong persuade untuk menjawab ”ya” atau “setuju”. Karena dianggap benar sesuai dengan fakta. Bandwagon

technique yang bertujuan membujuk sasaran dan meyakinkan sasaran

dengan sedemikian rupa sehingga mereka merasa yakin melalui pemaparan fakta. Kedua teori di atas, sama-sama menggunakan fakta dalam melakukan komunikasi persuasif untuk memperoleh kepercayaan persuadee.

Komunikasi persuasif yang dilakukan oleh Pimpinan cenderung menggunakan fakta, karena sebuah kebijakan dibuat atas dasar survei lapangan. Sehingga membuat komunikasi yang dilakukan oleh pimpinan terkesan kuat dan benar. Selain memuat fakta, pimpinan juga menyelipkan kekhawatiran apa bila kebijakan tersebut tidak diterapkan.

Misalnya pada kebijakan BPP, apabila semua mahasiswa digratiskan BPP, maka Universitas akan sulit untuk mengelola dana pendidikan, karena berdasarkan fakta Universitas Muhammadiyah

merupakan Universitas Swasta. Terakhir pimpinan menyesuaikan pemilihan kata dalam sesuai dengan pengetahun mahasiswa agar mudah untuk dicerna dan dipahami.

Selaras dengan pandangan Burgon dan Huffner (2002) tentang efektifitas komunikasi persuasif yaitu, pesan yang berisi fakta yang terkesan kuat untuk mempertahankan argumentasi, pesan yang berisi ketakutan/kekhawatiran yang memicu gejolak emosi bagi yang menerima pesan, pesan yang berisi humor sehingga pesan terkesan lucu dan memuat emosi yang positif sehingga mudah untuk diterima dan diingat. Terakhir, pesan yang dimuat dengan memilih diksi yang tepat dan mudah diingat.

Artinya, komunikasi yang dilakukan oleh Pimpinan Universitas harus relevan dengan kondisi dan situasi penerima pesan. Keberhasilan komunikasi persusif yang tidak hanya bergantung kepada keberhasilan sumber (persuader) dalam menyampaikan pesan, tetapi juga bergantung kepada semua elemen komunikasi termasuk penerima pesan (persuadee).

Sejalan dengan konsep komunikasi persuasif Sarah Trenholm dan Arthur Jensen (1996), dimana komunikasi persuasif akan efektif apabila didukung oleh pihak-pihak yang terlibat di dalam komunikasi memiliki kemampuan komunikasi yang setara. Penerima pesan yang pandai, memiliki kemampuan untuk memahami pesan dengan baik akan memberikan kontribusi yang besar pada keberhasilan persuasi.

Kesimpulannya adalah efektifitas dari penggunaan pola komunikasi persuasif tergantung pada situasi dan kondisi dari komunikator dan komunikan. Jadi, komunikasi persuasif akan efektif apabila komunikator mengerti akan kemauan, kebutuhan serta situasi dan kondisi dari komunikan.

Pengetahuan dan pemahaman komunikan terhadap permasalahan yang dibahas oleh komunikator juga sangat berperan penting dalam komunikasi dua arah sehingga dapat menghasilkan umpan balik yang sesuai dengan harapan komunikator. Artinya, komunikasi persuasif dikatakan efektif apabila komunikator dapat mencapai kata setuju dari komunikan untuk memenuhi harapannya dengan menggunakan metode pendekatan logis.

b. Pola Komunikasi Persuasif Pendekatan Afeksi

Komunikasi persuasif yang dilakukan Pimpinan Universitas bertujuan untuk mengubah pandangan serta pendapatan mahasiswa sehingga mendorong sikap tidak setuju menjadi setuju, dengan melakukan pendekatan-pendekatan rasional dan emosional. Pendekatan rasional berisi fakta-fakta yang memperkuat alasan sebuah kebijakan dibuat, serta pendekatan afeksi digunakan untuk memanfaatkan hubungan yang terjalin antar kedua pihak.

Sejalan dengan komunikasi persuasif dalam pendangan K. Andeerson (1972:218), sebagai perilaku komunikasi yang mempunyai

tujuan mengubah keyakinan, sikap atau perilaku individu atau kelompok lain melalui transmisi beberapa pesan. Littlejohn (dalam Ritonga 2005 : 5), memandang bahwa dalam komunikasi persuasif terdapat motif manipulasi dengan artian memanfaatkan faktum-faktum yang berkaitan dengan motif-motif khalayak sasaran, sehingga tergerak untuk mengikuti maksud pesan yang disampaikan kepadanya.

Teori di atas mendukung pola komunikasi persuasif afeksi pimpinan universitas terhadap mahasiswa dengan menggunakan teknik manipulasi tanpa menambah atau mengurangi fakta melainkan memanfaatkan motif lain, seperti hubungan dan kepentingan. Dalam hal ini pimpinan menjadikan kepentingan mahasiswa dalam mengeluarkan kebijakan, oleh sebab itu mahasiswa juga ikut tergerak untuk mengikuti kebijakan tersebut.

Nirmana dalam jurnalnya (2008), menjelaskan bahwa komunikasi persuasif pendekatan afektif cenderung menggunakan emotional

appeal, misalnya pengalaman hidup atau kejadian yang menguras air

mata. Daya Tarik yang muncul dalam komunikasi persuasif afeksi terbagi atas empat kategori, yaitu pertama, pendekatan daya tarik kesedihan/penderitaan. Dalam pola ini komunikasi persuasif menggunakan penggambaran suasana kesedihan yang mengharapkan dapat menumbuhkan respon afektif khalayak agar merasa iba dan mencoba untuk membantu. Kedua, adalah pendekatan daya tarik ketakutan/kekhawatiran, dimana pola ini menggambarkan Susana yang

mneakutkan yang menimbulkan kekhawatiran , yang secara emosional akan mendorong khalayak untuk ikut merasa khawatir/takut.

Pendekatan ketiga adalah pendekatan kehangatan, dimana biasanya persuader menggambarkan suatu suasana kebersamaan yang bahagia sehingga mendorong persuade untuk merasa bahagia dan terharu. Daya tarik yang keempat adalah pendekatan persamaan derajat tanpa memandang agama, suku, ras dan golongan serta strata ekonomi sosial.

Berdasarkan hasil penelitian di atas, dapat dijelaskan bahwa, pimpinan menggunakan pendekatan emosional yang sesuai degan pandangan Nirmana (2003) tentang penerapan emosi dalam komunikasi persuasif. Pimpinan menggunakannya dengan tujuan untuk memaksimalkan pendekatan rasional yang mereka lakukan. Pendekatan emosional yang digunakan oleh pimpinan berisi pemilihan kata-kata yang luwes, humor serta kekhawatiran dan membangun suasana kekeluargaan sehingga memperoleh rasa iba, kekhawatiran dan kepercayaan. Dapat dikatakan bahwa dalam pendekatan ini menggambarkan suatu hubungan solidaritas.

Kesimpulan yang dapat ditarik adalah pola komunikasi perusasif afeksi adalah komunikasi persuasif dengan pendekatan emosional, yang dominan dipengaruhi hubungan antar individu. Pendekatan ini berlangsung dari hati ke hati untuk membangun kepercayaan terhadap satu sama lain. Sejalan dengan Teori Pengaharan Nilai oleh Perloff

(2003) tentang pendekatan expetancy-value yang membagi pola komunikasi persuasif menjadi dua jenis yaitu komunikasi persuasif kognisi dan afeksi.

c. Faktor dan pendukung dan faktor penghambat

Dari beberapa jawaban informan diatas sebagai peneliti dapat menyimpulkan bahwa faktor pendukung dalam Pola Komunikasi Persuasif Pimpinan yaitu :

1. Faktor pendukung a. Sarana prasarana

Dari informan diatas menyampikan bahwa pentingnya prasarana yang dilakukan oleh piminan kampus dengan membagi setiap perdivisi yang dibawah naungan Wakil Rektor 3 Unismuh Makassar yang dimana divisi humas yang berperan untuk memberikan informasi terkait permasalahan, dan kebijakan kampus terkhusus lembaga mahasiswa. Maka dari itu divisi humas selaku perpanjangan tangan dari pimpinan dibawah naungan wakil rector 3 berperan untuk memfasilitasi setiap lembaga atau mahasiswa di setiap adanya permasalahan kampus baik itu skala fakultas, jurusan, atapun skala universitas. Fungsi lain dari divisi humas yaitu membukakan ruang diskusi untuk lembaga dan mahasiswa.

b. Kerja sama dengan berbagai media.

Dari informan diatas menyampaikan bahwa adanya kerjasama dengan media, baik itu cetak, elektronik, maupun media online maka dari itu mempermudah divisi humas dan pimpinan kampus untuk memberikan informasi terkait perkembangan universitas muhammadiyah makassar dan pentingnya media juga dapat diakses oleh mahasiswa. Ketika ada permasalahan atau aksi demonstrasi divisi humas dapat menginformasikan dan berkomunikasi untuk memberikan ruang diskusi terhadap mahasiswa yang terlibat aksi demonstrasi. Yang terpenting adalah memberikan kepercayaan kepada divisi humas untuk mediasi setiap permasalahan atau kebijakan kampus yang bertolak belakang dengan pemikiran mahasiswa dan menampung aspirasi ataupun kebutuhan mahasiswa sebelum sampai ke pimpinan universitas maupun fakultas.

2. Faktor penghambat

Dari hasil wawancara informan yang menjadi faktor penghambat dalam pola komunikasi pimpianan meliputi bagaimana memfasilitasi apa yang menjadi problem dan kebutuhan mahasiswa untuk di mediasi agar terjalin hubungan lebih erat antara pimpinan, lembaga, dan mahasiswa. Kurangnya keterlibatan mahasiswa dalam pengambilan kebijakan kampus, bukan hanya mahasiswa yang merasakan itu tetapi lembaga kampus juga merakasan hal yang sama karena tidak merasa

dilibatkan maka dari itu pentingnya suatu wadah untuk menampung aspirasi mahasiswa ataupun lembaga dalam menyikapi dan mengawal kebijakan kampus. Wadah yang dimaksud adalah ruang diskusi mahasiswa supaya mempermudah mendapatkan informasi dari pimpinan universitas. Agar tak memicu konflik yang berkepanjangan ketika tidak adanya ruang diskusi.

Adapun ayat tentang bagaimana komunikasi persuasif Kognitif dan Afektif yaitu :

Kognitif, dalam pengertian komunikator hanya mengharapkan dari komunikan agar mengetahui informasi yang disampaikannya. Komunikasi Ibrahim yang termasuk kelompok ini antara lain:

َنوُمَلۡعَت ۡمُتنُك نِإ ۡمُكهل ٞرۡيَخ ۡمُكِلََٰذ ُُۖهوُقهتٱ َو َ هللَّٱ ْاوُدُب ۡعٱ ِهِم ۡوَقِل َلاَق ۡذِإ َميِه ََٰرۡبِإ َو

“Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya: "Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepada-Nya. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS al-Ankabut: 16).

Dalam ayat ini diperlihatkan bahwa Ibrahim sebagai komunikator hanya sebatas memberitahu kaumnya agar bertaqwa kepada Allah SWT, tidak diperlihatkan bagaimana respon dari kaumnya sebagai komunikan.

Afektif, dalam pengertian komunikator mengharapkan komunikan merespon message yang disampaikan,. Komunikasi Ibrahim yang termasuk kelompok ini antara lain:

ِه ََٰرۡبِإ َلاَق ۡذِإ َو

َلاَق ُۖنِم ۡؤُت ُۖنِم ۡؤُت ۡمَل َوَأ َلاَق َُٰۖىَت ۡوَمۡلٱ ِي ۡحُت َفۡيَك يِن ِرَأ ِ ب َر ُم ۧ

ۡلَع ۡجٱ همُث َكۡيَلِإ هنُه ۡرُصَف ِرۡيهطلٱ َنِ م ٗةَعَب ۡرَأ ۡذُخَف َلاَق ُۖيِبۡلَق هنِئَم ۡطَيِ ل نِكََٰل َو َٰىَلَب

ۡنِ م ٖلَبَج ِ لُك َٰىَلَع

ٌزي ِزَع َ هللَّٱ هنَأ ۡمَل ۡعٱ َو ۚاٗيۡعَس َكَنيِتۡأَي هنُهُعۡدٱ همُث ا ٗء ۡزُج هنُه

ٞميِكَح

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati". Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu?" Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: "(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): "Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera". Dan ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS al-Baqarah: 260)

Dalam ayat ini terjadi komunikasi antara Ibrahim (komunikator) dan Allah SWT (komunikan). Allah SWT sebagai komunikan mersepon message yang dikirimkan Ibrahim yaitu tentang menghidupkan yang mati. Dalam komunikasi ini Ibrahim berhasil “membujuk” Allah agar menjelaskan menghidupkan yang mati. Komunikasi yang termasuk kelompok ini antara lain (QS Asyu’ara 70-77).

72 BAB V

PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan dari hasil penelitian yang dilakukan penulis mengenai Pola Komunikasi Persuasif Pimpinan Universitas Dalam Mengatasi Demonstrasi Pada Universitas Muhammadiyah Makassar, penulis menarik kesimpulan yaitu dalam penanganan demonstrasi tersebut merujuk pada 2 aspek yaitu:

1. Pola Komunikasi Persuasif Kognitif, dimana pada pola ini Pimpinan Universitas dalam menangani demosntrasi berusaha merasionalkan dan memaparkan data-data yang bersifat logis serta memberikan pemahaman terkait isu atau permasalahan yang diangkat demosntran kemudian memperkuat argumentasi mereka tentang kebijakan atau isu yang diambil. Pola Komunikasi Persuasif Afektif, adalah pola dimana Pimpinan Universitas dalam menangani aksi demonstrasi Mahasiswa yaitu melakukan pendekatan emosional kepada para demonstran dengan membangun kepercayaan agar bisa saling memahami satu sama lain, sehingga membuat perasaan simpati dan empati yang kemudian memberikan respon yang diinginkan.

2. Faktor Pendukung terbagi atas 2 yaitu pertama adanya sarana dan prasarana untuk menunjang informasi ataupun kebijakan-kebijakan kampus. Yang kedua yaitu adanya kerja sama dengan media baik itu cetak,elektronik maupun cetak sehingga kebijakan-kebijakan kampus bisa terpublish.

Faktor penghambat yaitu apa yang menjadi problem sehingga pola komunikasi tidak tersampaikan dengan baik.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan yang telah dikemukakan di atas, maka berikut ini dikemukakan saran atau masukan bagi Pimpinan Universitas khususnya pada Universitas Muhammadiyah Makassar agar penanganan demosntrasi yang dilakukan oleh pimpinan lebih efektif yaitu:

1. Kepada Pimpinan Universitas Muhammaadiyah Makassar sebaiknya lebih memaksimalkan penerapan komunikasi persuasif dalam penangan demonstrasi.

2. Kepada Pimpinan Universitas Muhammadiyah Makassar guna mencapai efektivitas komunikasi persuasif sebaiknya menggunakan pendekatan kognitif dan afektif.

Bimo walgito.2010. Psikologi Kelompok cetakan ke-3. Yogyakarta : CV Andi Offset

Burhan Bungin.2011. Sosiologi Komunikasi cetakan ke-5. Jakarta : Prenada Media Grup

Daryanto, 2016. Teori Komunikasi, penerbit gava media. Yogyakarta

Effendi, Onong Uchjana.2011. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek Cetakan ke-23. Bandung : PT.Remaja Rosdakarya

Hafied Cangara.2015. Pengantar Ilmu Komunikasi Cetakan ke-15. Depok : PT.Rajagrafindo Persada

Hendri, Ezi.2019. KomunikasiPersuasif, Bandung: PT RemajaRosdakarya.

Liliweri, Alo.2011. Komunikasi Serba Ada Serba Makna. Jakarta : Kencana

Onong Uchjana Effendi.2009. Human Relation & Public Relation cetakan ke-9. Bandung : Mandar Maju

Sugiyono.2013. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif R dan D. Yokyakarta : Rajawali Pers

Sumirat & Suryana, Soleh & Asep.2014. Komunikasi Persuasif. Banten : Universitas Terbuka

Thomas, Santoso. 2002.Teori-teoriKekerasan Jakarta : Ghalia

Skripsi

Aen istianah. 2015.Komunikasi persuasif Dalam pembentukan Sikap.

Ejurnal.Diakses pada14 Mei 2019. http://digilib.uin suka.ac.id/19625/1/11730119_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf

Budi Indra.2017. Komunikasi Persuasif Humas PT Tungga Perkasa Plantation Dalam

Latifa Karomah.2016. Strategi Komunikasi Persuasif Pekerja Sosial Dalam Pembinaan Remaja

Putus Sekolah Panti Sosial Bina Remaja Rumbai. Ejurnal. Diakses 30 maret 2019.

https://media.neliti.com/media/publications/124692-ID-strategi-komunikasi-persuasif-pekerja-so.pdf

Nurjannah, 2015. Peran komunikasi persuasif dalam penyelesaian konflik antara nelayan.

Ejurnal diakses 11 maret 2019.

https://www.google.co.id/search?safe=strict&hl=id&source=hp&ei=sAB5XeaJM4WgvQT d4JCAAw&q=implementasi+konikasi+persuasi+dalam+mengatasi+konflik&oq=impleme ntasi+konikasi+persuasi+dalam+mengatasi+konflik&gs_l=psy- ab.3..0i131l2j0l8.5592.28215..28872...1.0..1.3942.19374.6-1j9-6...0....1..gws- wiz...0.Juwkommqj_k&ved=0ahUKEwjmoanW-cjkAhUFUI8KHV0wBDAQ4dUDCAU&uact=5 Jurnal

Handoko, Tri.2003. Ilustrasi Iklan Cetak Dengan Pendekatan Afektif Dalam Hubungannya

Dengan Penerimaan Dan Ingatan Khalayak.. Ejurnal. Diakses 20 Februari 2021.

http://scolar.google.co.id

Na Pradito,Sukarelawati,AA Kusumadinata.2017. Pengaruh Komunikasi Persuasif Dalam

Meningkatkan Kesadara Solidaritas Anggota Scooter Mods Bogor Indonesia. Ejurnal.

Diakses 30 Maret 2019.

https://www.researchgate.net/publication/324634422_PENGARUH_KOMUNIKASI_PER SUASIF_DALAM_MENINGKATKAN_KESADARAN_SOLIDARITAS_ANGGOTA_S COOTER_MODS_BOGOR_INDONESIA

Siti Maryam.2018. Komunikasi Persuasif Elephant Flying Squad Dalam Meminimalisir Konflik

Antar Manusia dan Gaja Sumatrera di Taman Nasional Tesso Nilo Pelalawan.diakses 30

maret 2019. https://jom.unri.ac.id/index.php/JOMFSIP/article/view/17301

Sentosa, Amrin Tegar. 2015. Pola Komunikasi Dalam Proses Interaksi Sosial Di Pondok

Pasantren Nurul Islam Samarinda. Ejurnal ilmu komunikasi. Vol.3 No. 3 2015: 491-503

Surawan, Awang. 2016. Penegakan Hukum Terhadap Demonstran Yang Melakukan

Pengrusakan Fasilitas Negara Sesuai Dengan Pasal 408 KUHP Di Wilayah Hukum Resort Pontianak Kota. Compressed/15411-46473-1-PB/COVER%20BAB%20I-BAB%20II.pdf.

1. Bagaimana peran humas dalam meningkatkan citra perguruan tinggi? Jawab :

2. Sebagai fasitator informasi langkah apa saja yang diambil oleh humas dalam menyebarkan informasi baik diranah perguruan tinggi hingga publik luas?

3. Apakah dalam rapat pembahasan kebijakan, pimpinan universitas melibatkan humas? 4. Kemudian, apakah pimpinan dan humas ketika memutuskan sebuah kebijakan

memperhitungkan reaksi yang akan diterima dari mahasiswa?.

5. Apabila kebijakan yang dikeluarkan pimpinan tidak disetujui, maka mahasiswa cenderung melakukan demonstrasi, pertanyaannya apakah pihak humas telah memikirkan solusi ataupun alternatif untuk menyelesaikan aksi demonstrasi?atau hanya bekerja dibelakang komputer serta menjalin hubungan dengan media?

6. Humas selalu identik dengan persuasif, maka dalam menyusun langkah menangani demonstrasi, teknik komunikasi persuasif apa yang digunakan?

7. Apakah langkah yang diambil oleh pihak humas dalam menangani demonstrasi cenderung efektif?

8. Bagaimana menurut bapak demonstrasi-demonstrasi yang dilakukan mahasiswa saat ini?

Staff Humas

1. Bagaimana peran Humas universitas dalam meningkatkan citra perguruan tinggi? 2. Sebagai fasilitator informasi langkah apa saja yang diambil oleh Humas dalam

menyebarkan informasi baik di ranah perguruan tinggi hingga publik luas? 3. Apakah dalam rapat pembahasan kebijakan, pimpinan univ melibatkan Humas?

cenderung melakukan demonstrasi, pertanyaannya apakah pihak humas telah memikirkan solusi ataupun alternative untuk menyelesaikan aksi demonstrasi? Atau hanya bekerja dibelakang computer serta menjalin hubungan dengan media?

6. Apakah pihak humas turun tangan langsung dalam menangani demonstan?

7. Humas selalu identic dengan persuasive, maka dalam menyusun langkah menangani demonstrasi, teknik komunikasi persuasive apa yang digunakan?

8. Apakah langkah yang diambil oleh pihak humas dalam menangani demonstrasi cenderung efektif?

WD 3

1. Pendekatan apa yang bapak lakukan untuk mengatasi demonstrasi ?

2. Apakah pendekatan rasional atau kah pendekatan emosional yang bapak gunakan? 3. Lebih efektif mana rasional kah atau emosional?

4. Alasan memilih keduanya?

Ketua Korkom

1. Isu apa yang bisa menyebabkan demonstrasi ?

2. Apakah selama melakukan demonstrasi tuntutannya terpenuhi ?

3. Apakah ada kasus yang meskipun tidak terpenuhi tetapi tidak lagi melakukan aksi demosntarsi?

4. Bagaimana respon dari pimpinan ?

Wawancara dengan Wakil Rektor 3 Universitas Muhammadiyah

Makassar

Wawancara dengan Staff Humas Universitas Muhammadiyah

Makassar

tanggal 18 April 1997, dari pasangan Ayahanda ABBAS dan Ibunda SAHARIA. Penulis masuk sekolah dasar pada tahun 2003 di SD Inpres Kanite dan tamat pada tahun 2009, masuk sekolah menengah pertama di SMP Islam Darul Hikmah Makassar dan tamat tahun 2012, melanjutkan kembali pendidikan sekolah menengah atas di SMAN 1 Pallangga Gowa dan tamat pada tahun 2015. Kemudian penulis melanjutkan Pendidikan pada Program Sarjana (S1) Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Makassar dan selesai tahun 2021.

➢ Riwayat Organisasi yang pernah di ikuti yakni Organisasi internal Kampus Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), pernah di amanahi sebagai Departemen Media dan Komunikasi (MEKOM) Pikom IMM FISIP periode 2016/2017, kemudian pernah di amanahi sebagai Sekertaris Bidang Ekonomi Masyarakat (EMAS) Pikom IMM FISIP periode 2017/2018, dan terakhir pernah di amanahi sebagai Sekretaris Umum di Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi 2017/2018.

➢ Pernah mengikuti Darul Arqam Dasar (DAD) di Rumah Adat Toraja benteng somba opu tahun 2015.

Dokumen terkait