Jumlah Sampel 100
3.4 Pembahasan Penelitian
Partisipasi perempuan di indonesia terutama di dalam ranah politik masih sangat minim. Hal ini terbukti dengan keterwakilan perempuan di parlemen dan lembaga-lembaga tinggi negara yang masih terbilang rendah.
Dalam sebuah demokrasi modern, representasi setiap masyarakat menjadi penting, agar kebijakan yang akan dilaksanakan nantinya diterima oleh seluruh masyarakat. Tidak terkecuali untuk representasi perempuan, keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan adalah sebuah sine qua non di dalam demokrasi37.
Gerakan perempuan di indonesia memiliki keterlibatan aktif di bidang politik meskipun hingga saat ini masih ada kesenjangan dalam hal partisipasi dan keterwakilan perempuan di dalam struktur formal38. Saat ini untuk meningkatkan representasi perempuan di parlemen, indonesia telah menjalankan affirmative action ( Tindakan khusus sementara) lewat UU Nomor 7 Tahun 2017 yang mana point pentingnya adalah tentang
“kewajiban” setiap partai politik untuk mengikutsertakan minimal 30% calon
37 Chusnul Mar’iyah dalam julie Ballington (ed), (terj.), “Perempuan di Parlemen:
Bukan Sekedar Jumlah” (Jakarta: International IDEA,2002), hlm.1.
38 Abraham Nurcahyo, “Relevansi Budaya Patriarki Dengan Partisipasi Politik dan Keterwakilan Perempuan di Parlemen” Jurnal Agastya Vol 6.
Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota.”
Namun peraturan tersebut cenderung hanya dijadikan sebagai formalitas agar partai politik bisa lolos pada pemilu dan ditambah oleh pemahaman masyarakat yang masih terbatas tentang pentingnya keterwakilan perempuan dalam suatu kegiatan politik. Terkait keterwakilan perempuan, khofifah indar parawansa mengemukakan, bahwa:
“sejarah tentang representasi perempuan di parlemen indonesia merupakan sebuah proses panjang, tentang perjuangan perempuan di wilayah republik. Kongres wanita indonesia pertama, pada tahun 1928, yang membangkitkan kesadaran dan meningkatkan rasa nasionalisme di kalangan perempuan merupakan tonggak sejarah, karena berperan dalam meningkatkan kesempatan bagi perempuan indonesia untuk berpartisipasi dalam pembangunan, termasuk dalam politik.”39
Berdasarkan pendapat khofifah tersebut, terlihat bahwa jauh sebelum proklamasi kemerdekaan indonesia diproklamirkan, perempuan sudah lama memiliki kesadaran akan ketertinggalannya dibandingkan laki-laki dalam berbagai aspek, dan adanya keinginan untuk membebaskan dirinya dari diskriminasi gender dan berupaya meningkatkan peranan perempuan dalam masyarakat, termasuk di dalam bidang politik.
Berdasarkan Hasil Penelitian lapangan dengan teknik pengumpulan data secara kuesioner memperlihatkan bahwa dari 100 jumlah responden yang menjadi sampel masyarakat di Kota Sungai Penuh, sebanyak 80 responden menyatakan dirinya tidak memilih calon legislatif perempuan dalam pemilihan umum legislatif tahun 2019.
39 Khofifah indar parawansa, “Hambatan Terhadap Partisipasi Politik Perempuan di Indonesia, dalam Perempuan di Parlemen : Bukan sekedar Jumlah” ( Jakarta: international IDEA, 2002), hlm. 46.
No Pernyataan Sangat
3 Laki-laki selalu menjadi pemimpin menjawab tidak setuju apabila “kedudukan perempuan dan laki-laki disamakan di dalam masyarakat”, dan sebanyak 45 orang (45%) dari 100 responden menjawab setuju apabila “perempuan hanya menjadi ibu rumah tangga”, dan sebanyak 40 orang (40%) dari 100 responden menjawab setuju apabila “Laki-laki selalu menjadi pemimpin”. namun sebanyak 82 orang (82%) responden menjawab tidak setuju apabila “perempuan tidak harus berpendidikan tinggi” hal ini menunjukan bahwa masyarakat Kota Sungai Penuh memiliki pandangan bahwa baik laki-laki maupun perempuan harus bisa mendapatkan kedudukan yang sama dari segi pendidikan namun tidak dalam hal kepemimpinan. sikap masyarakat yang dominan memilih untuk memberi jawaban sesuai pertanyaan-pertanyaan berikut memperkuat keyakinan peneliti bahwa masyarakat kerinci masih menganut budaya patriarki terutama dalam berpolitik, karena masyarakat yang menganggap
seharusnya kemungkinan besar keterpilihan perempuan pada saat pemilihan legislatif itu terjadi, selain melihat peluang melalui affirmative action, Daftar Pemilih Tetap pada pemilihan legislatif Tahun 2019 juga didominasi oleh perempuan.
Ketidakterpilihan perempuan di kawasan Kota Sungai Penuh cukup mengecewakan, karena kekosongan perempuan di parlemen sudah berlangsung selama dua periode yakni sejak tahun 2014-2019 hingga periode 2019-2024. Pentingnya perempuan di lembaga legislatif seperti di DPRD juga akibat adanya perbedaan pandangan kedudukan antara laki-laki dan perempuan di dalam masyarakat. Laki-laki di anggap tidak akan mampu mewakili perempuan, karena perempuan akan lebih mengerti tentang kepentingan dan kebutuhan sesama perempuan.
Di sisi lain kebijakan 30% keterwakilan perempuan sebenarnya sangat menguntungkan bagi perempuan karena diharapkan bisa meningkatkan partisipasi dan keterwakilan perempuan di ranah politik.
Tetapi di sisi lain, banyak partai politik yang meyakini bahwa perempuan di anggap belum siap dan belum mampu untuk terjun di dunia politik sehingga partai hanya bertujuan untuk memenuhi kuota 30% dari kebijakan yang sudah ditetapkan secara kuantitas.40
40 Bylesjo, cecilia & Francisia seda 2006, “indonesia : the struggle for Gender Quotas in the world’s) larges muslim country.” hlm. 259-265 dalam women, quotas and politics di edit oleh drude dahlerup routledge, New York.
laki lebih pantas menjadi pemimpin dibanding perempuan” . sebanyak 25 orang (31%) memilih “laki-laki lebih dikenal dibandingkan calon legislatif perempuan”. Sebanyak 13 orang (16%) memilih “pemimpin dan pengurus partai politik kebanyakan laki-laki”. Sebanyak 7 orang (9%) memilih “calon legislatif laki-laki berada pada urutan pertama” .
Berdasarkan data yang telah dipaparkan dan merujuk pada teori terkait patriarki Walby, menggambarkan bahwa patriarki mempengaruhi kegagalan caleg perempuan, dilihat dari beberapa instrumen penelitian yang menggambarkan tentang pandangan masyarakat Kota Sungai Penuh terhadap perempuan di Parlemen.
membuat kesempatan perempuan menjadi terbatas untuk bisa menjadi seorang anggota legislatif.
4.2 Saran
1. Kepada Lembaga Penyelenggara Pemilu KPU harus mampu memberikan sosialisasi yang tidak hanya tefokus pada peningkatan partisipasi tetapi juga fokus pada ketewakilan 30% perempuan, dan apabila tidak terjadi juga perubahan yang signifikan maka harus dibuatkan pembaharuan peraturan mengenai kuota anggota DPRD khusus perempuan. Kepada Pemerintah diharapkan dapat membuat beberapa kebijakan yang membuat masyarakat mengerti dan paham bahwa dalam politik kesetaraan Gender itu diperlukan terutama hak setiap warga negara dalam berpolitik sebagai pemilih maupun sebagai yang mencalonkan diri.
Kepada Masyarakat juga harus cerdas dalam memahami isu terkait kesetaraan gender terutama di ranah non Domestik, karena Budaya Patriarki ini sangat tidak relevan untuk digunakan pada saat pemilu.
Pemahaman terkait pendidikan gender ini harus dilakukan dan diperjuangkan secara bersama-sama tidak hanya dikhususkan untuk laki-laki tetapi juga terhadap sesama perempuan agar bisa timbul rasa saling dukung atar sesama perempuan, dan ini tidak hanya menjadi tanggung jawab partai pengusung atau LSM yang memiliki konsen terhadap pemilu dan perempuan saja, tetapi masyarakat juga dituntut untuk bisa aktif terhadap pentingnya peranan perempuan di masyarakat termasuk di dalam organisasi politik atau non-politik. Bekerjasama untuk bisa merubah
xvi
DAFTAR PUSTAKA