• Tidak ada hasil yang ditemukan

KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

Skema 3.1 Kerangka Konsep

B. PEMBAHASAN PENELITIAN

Pada pembahasan ini diuraikan tentang kesesuaian ataupun ketidaksesuaian antara konsep teoritik dengan hasil penelitian di lapangan mengenai Gambaran Tingkat Kemandirian pada Anak Usia Prasekolah di TKIT Darussalam Bogor tahun 2017

1. Karakteristik Responden a. Usia

Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan bahwa responden yang mandiri terbanyak berasal dari usia 5 tahun yaitu sebanyak 35 responden (55%). Hal ini dikarenakan responden yang berumur 5 tahun paling banyak didapatkan pada setiap kelas, penelitian yang dilakukan oleh Maryani mengenai Gambaran Tingkat Kemandirian anak Prasekolah pada Ibu yang Bekerja tahun 2014, dengan hasil bahwa 64% responden berusia 5 tahun. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dadang mengenai Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia Prasekolah di Taman Kanak-Kanak Aba 1 Lamongan tahun 2015, bahwa hampir sebagian responden 47,92% berusia 5 tahun.

Responden yang tidak mandiri terbanyak berasal dari usia 3 tahun, dari 5 responden, seluruhnya (100%) tidak mandiri. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Rista mengenai Hubungan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dengan Perkembangan Kemandirian Anak Usia Prasekolah di Kelurahan Tinjomoyo Kecamatan Banyumanik Semarang tahun 2009 bahwa sebanyak 46,3% anak usia 3

tahun memiliki kemandirian dibawah rata-rata. Penelitian ini juga dikuatkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Febri mengenai Hubungan Pola Asuh Orangtua dengan Tingkat Kemandirian Personal Hygiene Anak Usia Prasekolah di Desa Balung Lor Kecamatan Balung Kabupaten Jember tahun 2012 bahwa sebanyak 67% anak usia 3 tahun belum mandiri. Hal ini dapat disebabkan karena faktor internal yaitu faktor perbedaan individu, menurut Ali dan Ansori (2004) menyatakan bahwa adanya perbedaan tingkat kemampuan kognitif sesuai masa perkembangan, maka kemampuan anak dalam melakukan aktivitas akan sesuai dengan tingkatan kemampuan kognitif pada tahap perkembangan anak.. Berdasarkan hal diatas peneliti dapat menyimpulkan bahwa tingkat kemandirian dapat dipengaruhi oleh perbedaan usia sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Ali dan Ansori (2004) dan seiring bertambahnya usia kemampuan dan daya pikir anak juga berkembang, jika kemandirian anak dilatih dan dikembangkan, maka kemandiriannya akan semakin baik. Sesuai pada data tabel berikut:

Tabel 5.5

Tingkat kemandirian berdasarkan usia di TKIT Darussalam Bogor Tahun 2017 (n=64)

No USIA Mandiri Tidak

mandiri Jumlah Persentase

n % n %

1. 3 tahun 0 0% 5 100% 5 8%

2. 4 tahun 2 67% 1 33% 3 5%

3. 5 tahun 31 89% 5 11% 36 56%

4. 6 tahun 18 90% 2 10% 20 31%

Jumlah 51 13 64

b. Jenis Kelamin

Responden pada penelitian ini didominasi berjenis kelamin perempuan dengan jumlah 33 responden (52%) dan sebanyak 31 responden (48%), pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Maryani (2014) bahwa 58%

responden berjenis kelamin perempuan, hal serupa juga didapatkan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Febri (2012), bahwa lebih dari setengahnya 51,8 % responden berjenis kelamin perempuan. Hal tersebut dapat dikarenakan jenis kelamin perempuan paling banyak hadir saat pengumpulan data.

Pada tingkat kemandirian sebanyak, 6 responden laki-laki (19%) tidak mandiri dan 7 responden perempuan (21%) yang tidak mandiri, selisih antara responden yang tidak mandiri antara laki-laki dan perempuan hanya 1 responden. Dari hasil penelitian tidak ada perbedaan kemandirian yang signifikan antara laki-laki dengan perempuan. Hal tersebut tidak sesuai dengan teori tentang tingkat kemandirian berdasarkan jenis kelamin, menurut Hurlock (2005), mengatakan jenis kelamin anak laki-laki menunjukkan kreativitas yang lebih besar dari anak perempuan. Hal ini disebabkan oleh perbedaan perlakuan terhadap anak laki-laki dan untuk lebih inisiatif dan orisinalitas mengambil resiko dan didorong oleh para orangtua dan guru. Disamping itu, hasil penelitian ini sesuai dengan Oktaviana mengenai Kemandirian Ditinjau dari Urutan Kelahiran dan Jenis Kelamin tahun 2014, bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara

kemandirian perempuan dan kemandirian laki-laki. Menurut Steinberg (2002) menyatakan bahwa jenis kelamin bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi perkembangan kemandirian Tidak terdapatnya perbedaan yang sigifikan tersebut mungkin disebabkan masih ada faktor lain yang perlu dipertimbangkan seperti pola asuh orangtua yang selalu memanjakan anaknya, kebiasaan serba dibantu atau dilayani, kurangnya kegiatan diluar rumah yang membuat anak bosan dan menjadi malas serta tidak mandiri (Markum 1985). Sesuai dengan data pada tabel berikut:

Tabel 5.6

Tingkat kemandirian berdasaran jenis kelamin di TKIT Darussalam Bogor Tahun 2017 (n=64)

2. Tingkat Kemandirian

Dari hasil penelitian tingkat kemandirian, didapatkan bahwa dari 64 responden yang diteliti, sebagian besar 51 responden (80%) mandiri. Hasil penelitian yang sama juga ditunjukkan oleh Maryani (2014) sebanyak 60% anak mandiri. Hal ini dapat dikarenakan karena responden masih bersekolah dan tinggal bersama orangtuanya. Dengan demikian, adanya faktor dukungan dan interaksi orang lain, seperti keluarga dan teman dapat meningkatkan kemandirian anak.

No JENIS

KELAMIN

Mandiri Tidak

mandiri Jumlah Persentase

n % n %

1. Laki-laki 25 81% 6 19% 31 48%

2. Perempuan 26 79% 7 21% 33 52%

Jumlah 51 13 64 100%

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa sebagian kecil 13 responden (20%) tidak mandiri. Menurut Ali dan Ansori hal ini dapat disebabkan karena faktor internal (fisik dan perbedaan individu) dan faktor eksternal (pola asuh orangtua, hubungan ibu dengan anak, pembiasaan, pengenalan diri, pendidikan orangtua, sistem pendidikan di sekolah dan sistem kehidupan di masyarakat ).

Dari hasil observasi yang berisikan 18 kegiatan kemandirian anak, nilai terendah yaitu 2 (11%) dan nilai tertinggi yaitu 17 (94%), nilai yang paling banyak adalah 15 (83%). Kegiatan yang paling banyak anak tidak bisa adalah pergi ke sekolah sendiri, pulang ke rumah sendiri dan mengikat tali sepatu sendiri, hal tersebut dapat dikarenakan faktor internal yaitu perbedaan individu, seperti usia dan jenis kelamin dan faktor eksternal, yaitu pola asuh orangtua, hubungan ibu dengan anak pembiasaan, pengenalan diri, sistem pendidikan di sekolah seperti peraturan yang diterapkan oleh pihak sekolah bahwa setiap anak tidak boleh pulang sekolah tanpa orangtua/ wali yang menjemput dan sistem kehidupan di masyarakat, dimana sudah menjadi suatu kebiasaan jika orangtua mengantar/

menjemput anaknya apalagi jika jarak rumah dengan sekolah jauh.

Sedangkan untuk mengikat tali sepatu kebanyakan orangtua mengaku kalau anaknya belum bisa menggunakan sepatu yang bertali, menurut Muscari (2005) anak bisa mengikat tali sepatu pada usia 5 tahun, selain itu menurut orangtua sepatu tanpa tali lebih mudah dan praktis, jadi anak belum diberi kesempatan untuk mencoba menggunakan sepatu yang bertali karena dianggap ribet dan menyusahkan. Saat ditanya mengenai tingkat kemandirian, orangtua mengaku

tidak tahu jika mengikat tali sepatu termasuk dalam kegiatan perkembangan kemandirian anak.

Dokumen terkait