Hasil penelitian menunjukan bahwa mayoritas responden mempunyai pengetahuan kurang terhadap pasien pasca stroke dalam upaya rehabilitasi di Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh Kabupaten Aceh Barat. Hal ini disebabkankan responden belum mampu menguraikan dan menyebutkan alasan kenapa penderita menjalani beberapa upaya rehabilitasi dan tidak mampu menjelaskan secara benar alasan kegiatan itu diperlukan oleh penderita.
Dalam penyembuhan stroke sering dijumpai masalah dari segi keluarga antara lain adalah kurangnya informasi yang diperoleh keluarga tentang stroke, baik bersifat preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif. Keluarga sering menghabiskan waktu, dana untuk tindakan pengobatan yang belum terbukti khasiatnya dan tidak adanya dana untuk biaya pengobatan penderita. Hal ini sesuai yang diungkapkan oleh Notoatmodjo (2007), Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. menjelaskan bahwa pengetahuan ataukognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang.
Sedangkan menurut Stroke and Heart Foundation (2010), Rehabilitasi merupakan bagian penting dalam proses pemulihan stroke. Tujuan rehabilitasi ini adalah untuk menolong penderita stroke untuk memperoleh kembali apa yang
mungkin dapat dipertahankan untuk memaksimalkan fungsi tubuh pada penderita stroke.
Peneliti berasumsi bahwa responden masih belum menjawab dengan tepat karena upaya rehabilitasi bukan bertujuan menyembuhkan penderita bahkan sebagian besar penderita pasca stroke tidak bisa kembali normal seperti sebelum terkena serangan stroke. Kurang pengetahuan juga disebabkan karena kesibukan atau kurangnya motivasi keluarga untuk mendapatkan informasi. Seharusnya sebagai keluarga sudah selayaknya anggota keluarga yang sehat berperan membantu penderita untuk mendapatkan kesehatan, mulai dari merawat, mencari palayanan kesehatan dan berusaha mencapai tingkat kesehatan yang tertinggi untuk penderita pasca stroke.
4.3.2. Sikap Keluarga
Hasil penelitian menunjukan bahwa mayoritas responden mempunyai sikap positif terhadap pasien pasca stroke dalam upaya rehabilitasi di Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh Kabupaten Aceh Barat.
Hal ini menunjukkan bahwa sikap responden mendukung penderita dalam menjalankan upaya rehabilitasi. Hal ini sesuai yang diungkapkan oleh Wirawan (2009), Keluarga menjadi bagian yang sangat penting untuk proses pemulihan pasien stroke. Keluarga juga harus diberikan pengertian oleh dokter atau psikiatri mengenai apa yang sedang dihadapi oleh anggota keluarganya sehingga mereka menjadi pihak yang ikut dalam program pengobatan.
Sedangkan menurut Sarwono dalam Maulana (2009), sikap merupakan kecenderungan merespons (secara positif atau negatif) orang, situasi atau objek tertentu. Sikap mengandung suatu penilaian emosional atau afektif (senang, benci, dan sedih), kognitif (pengetahuan tentang suatu objek), dan konatif (kecenderung-an bertindak). M(kecenderung-anifestasi sikap tidak dapat dilihat, tetapi h(kecenderung-anya dapat ditafsirk(kecenderung-an. Sikap merupakan kecenderungan yang berasal dari dalam diri individu untuk berkelakuan dengan pola-pola tertentu, terhadap suatu objek akibat pendirian dan perasaan terhadap objek tersebut.
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa seluruh responden mempunyai sikap yang baik terhadap penderita pasca stroke dalam upaya rehabilitasi. Dalam hal ini peneliti berasumsi bahwa sikap responden yang baik ini akan berpengaruh terhadap tindakan responden terhadap penderita pasca stroke dalam upaya rehabilitasi.
4.3.3. Tindakan Keluarga
Hasil penelitian menunjukan bahwa mayoritas responden mempunyai tindakan tidak baik terhadap pasien pasca stroke dalam upaya rehabilitasi di Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh Kabupaten Aceh Barat.
Tindakan responden terhadap upaya rehabilitasi adalah melakukan hal-hal yang mendukung proses terlaksananya upaya rehabilitasi dengan baik dengan memberikan bantuan-bantuan dan bentuk dukungan berupa materi dan non materi untuk meningkatkan kesehatan penderita. Hal ini sesuai yang diungkapkan oleh Notoatmodjo (2007), tindakan adalah gerakan atau perbuatan dari tubuh setelah
mendapatkan rangsangan ataupun adaptasi dari dalam tubuh maupun dari luar tubuh atau lingkungan. Secara logis, sikap akan dicerminkan dalam bentuk tindakan namun tidak dapat dikatakan bahwa sikap dan tindakan memiliki hubungan yang sistematis. Suatu sikap belum tentu terwujud dalam suatu tindakan. Untuk terwujudnya sikap menjadi suatu tindakan diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan antara lain fasilitas dan faktor dukungan dari berbagai pihak.
Hal ini diasumsikan karena sebagian responden memiliki peran pasif terhadap penderita pasca stroke dalam upaya rehabilitasi stroke. Responden memiliki pengetahuan yang kurang dan sikap yang positif terhadap penderita pasca stroke dalam upaya rehabilitasi pasca stroke namun dalam beberapa hal responden tidak bertindak aktif terhadap penderita dalam upaya rehabilitasi, karena ketidakahlian dalam merawat penderita dan keterbatasan waktu dan tenaga, sehingga mengandalakan orang lain untuk membantu penderita pasca stroke dalam upaya rehabilitasi.
4.3.4. Perilaku Keluarga
Hasil penelitian menunjukan bahwa mayoritas responden mempunyai perilaku baik terhadap pasien pasca stroke dalam upaya rehabilitasi di Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh Kabupaten Aceh Barat.
Hal ini sesuai yang diungkapkan oleh Herijulianti (2002), Perilaku manusia (human behavior) merupakan suatu yang penting dan perlu dipahami secara baik. Hal ini disebabkan perilaku manusia terdapat dalam setiap aspek
kehidupan manusia. Perilaku manusia tidak berdiri sendiri. Perilaku manusia mencangkup dua komponen yaitu sikap atau mental dan perilaku (attitude). Perilaku (manusia) adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2007).
Sedangkan menurut Harsono (2000), Rehablitasi Medik pada penderita di mulai sedini mungkin, semakin dini di mulai semakin besar pengembangan fungsinya, komplikasi dapat di cegah serta kecacatan lebih lanjut dapat di hindari sehingga penderita dapat mandiri tanpa tergantung pada orang lain. Untuk mencapai hal ini, peranan keluarga sangat penting, karena anggota keluarga sangat mempengaruhi respon pasien terhadap penyakit yang dideritanya dan keluarga ikut berperan terhadap keberhasilan dan kegagalan upaya pemulihan penderita.
Hal ini diasumsikan bahwa sebagian responden memiliki perilaku baik terhadap penderita pasca stroke dalam upaya rehabilitasi stroke. Responden memiliki sikap yang positif terhadap penderita pasca stroke dalam upaya rehabilitasi pasca stroke namun dalam beberapa hal responden belum mampu menguraikan dan menyebutkan alasan kenapa penderita menjalani beberapa upaya rehabilitasi dan belum mampu menjelaskan secara benar alasan kegiatan diperlukan oleh penderita karena responden tidak bertindak aktif terhadap penderita dalam upaya rehabilitasi, karena ketidakahlian dalam merawat penderita dan keterbatasan waktu dan tenaga, sehingga mengandalakan orang lain untuk membantu penderita pasca stroke dalam upaya rehabilitasi.
48 5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat simpulkan sebagai berikut : 1. Mayoritas responden mempunyai pengetahuan kurang sebanyak 18 responden
(90.0%) terhadap pasien pasca stroke dalam upaya rehabilitasi di Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh Kabupaten Aceh Barat.
2. Mayoritas responden mempunyai sikap positif sebanyak 20 responden (100.0%) terhadap pasien pasca stroke dalam upaya rehabilitasi di Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh Kabupaten Aceh Barat. 3. Mayoritas responden mempunyai tindakan tidak baik sebanyak 14 responden
(70.0%) terhadap pasien pasca stroke dalam upaya rehabilitasi di Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh Kabupaten Aceh Barat.
4. Mayoritas responden mempunyai perilaku baik sebanyak 14 responden (70.0%) terhadap pasien pasca stroke dalam upaya rehabilitasi di Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh Kabupaten Aceh Barat.
5.2. Saran
1. Bagi peneliti selanjutnya agar lebih meneliti lagi dalam tentang keluarga juga untuk pasien pasca stroke juga sebagai acuan untuk referensi peneliti selanjutnya.
2. Diharapkan untuk menambah referensi perpustakaan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan dapat menjadi paduan atau bahan perbandingan untuk melakukan penelitian yang akan datang.
3. Diharapkan kepada instalasi terkait yaitu Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien Meulaboh Kabupaten Aceh Barat untuk tetap mempertahan-kan pelayanan yang sudah baik kepada pengguna pelayanan kesehatan khususnya pelayanan rehabilitasi medik dan tetap memberikan informasi kepada keluarga pasien tentang upaya rehabilitasi supaya meningkatkan pengetahuan keluarga dan tetap berperan aktif terhadap penyembuhan penderita
4. Diharapkan kepada keluarga agar tetap memberikan dukungan kepada penderita pasca stroke untuk menggunakan fasilitas kesehatan dalam meningkatkan kesehatan penderita pasca stroke.
Bobak. 2004.Konsep Keluarga. Jakarta : EGC.
Farizal. 2011. Drug Related Problems (DRPs) Pada Pasien Stroke. Universitas Padang dikutip dari http://pasca.unand.ac.id/id pada tanggal 07 Juli 2012. Harsono. 2000. Upaya Rehabilitasi Medik Pada Penderita Stroke dikutip dari
http://repository.usu.ac.id pada tanggal 07 Juli 2012.
Herijulianti, Eliza dkk. 2002.Pendidikan Kesehatan Gigi. Jakarta: EGC.
Hidayat, A.Alimul. 2007. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Bineka Cipta.
Lusiakusanna. 2011. Stroke Bayangi Belasan Juta Jiwa Kaum Muda dikutip dari http://health.kompas.com/read pada tanggal 07 Juli 2012.
Mansjoer, Arief. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Ed III. Cet 2. Jakarta : Media Aesculapius.
Maulana, Heri D.J. 2009.Promosi Kesehatan. Jakarta : EGC.
Muttaqin, Arif. 2008.Gangguan Sistem Muskuloskeletal. Jakarta. EGC.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Metodelogi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
. 2007. Metodelogi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
Ratnadita. 2011. Cara Berikan Dukungan Bagi Penderita Stroke Yang Pemarah dikutip dari http://health.detik.com/read 2011/ pada tanggal 8 juli 2012. Sarwono, Jonathan. 2006,Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung :
Graha Ilmu.
Slameto, 2006. Belajar dan factor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta : PT Asdi Mahasatya.
Smeltzer, Suzanne C. dan Brenda G. Bare. 2002. Buku Ajar Medikal Bedah Brunner and Suddarth. Ed 8. Jakarta: EGC.
Stroke and Heart Foundation. 2010. Rehabilitasi Stroke dikutip dari http://repository.usu.ac.id/bitstream/ pada tanggal 30 September 2012.
Sebastian, H. Stain. 2009.Sikap dan Dukungan Keluarga.
http://www.medicatte.com/search/label/Stroke. pada tangal 19 Maret 2013
Turana, Yuda Dr. 2002. Tangani Stroke Dengan Cepat. http://tentang penyakit stroke dan pengobatannya.com pada tanggal 18 Maret 2013.
Widagda. 2002.Penilaian Tingkat Ambulasi. Fakultas Kedokteran. Program Studi Rehabilitasi Medik.
Wirawan. 2009. Rehabilitasi Stroke pada Pelayanan Kesehatan Primer. Maj kedokteran Indonesia.