• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Limbah Air Thawing Industri Pemindangan

Limbah air thawing diperoleh dari ikan yang dikeluarkan dari cold storage kemudian dilakukan thawing sebelum diproses pindang. Proses thawing dilakukan dengan mengalirkan air pada ikan. Pengukuran sampel limbah air thawing dilakukan analisis protein dengan Uji Bradford beserta parameter kualitas air meliputi pH, kekeruhan, TSS, TDS, BOD dan COD. Hasil pengujian karakteristik limbah dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Karakteristik limbah air thawing

Parameter Nilai Air cucian

surimi* Baku Mutu

pH 6,1 6,7 ± 0 6-9

Kekeruhan (NTU) 256 ± 3,54 20 ± 0 Tidak ditemukan TSS (mg/L) 0,25 ± 0,02 55 ± 0,0032 100 TDS (mg/L) 5990 ± 2,12 1633 ± 20,8 Tidak ditemukan COD (mg/L) 7373 ± 4,24 4233 ± 115,47 200

BOD (mg/L) 2399,19 Tidak dilakukan 100

Protein (mg/mL) 0,977 ± 0,03 410 ± 0 Tidak ditemukan *sumber : Uju et al. (2009)

Karakterisasi limbah menunjukkan nilai beberapa parameter menunjukkan angka melebihi baku mutu yang sudah ditetapkan seperti COD dan BOD. Karakteristik air thawing memiliki kandungan bahan organik yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan air cucian surimi hasil pengujian Uju et al. (2009). Baku mutu yang digunakan sesuai dengan Permen LH No. 06 tahun 2007, tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan/atau Kegiatan Pengolahan Hasil Perikanan. Hal tersebut menandakan bahwa limbah harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke lingkungan. Tray et al. (2006) operasi pengolahan menunjukkan produksi BOD per ton produk sebesar 1-72 kg, sedangkan pemfilletan ikan memproduksi 12,5-37,5 kg BOD per ton produk. Keberadaan BOD dikarenakan hasil proses pembersihan dan adanya nitrogen berasal dari darah yang terdapat pada limbah cair.

Pengolahan Limbah Cair dengan Metode Elektrokoagulasi

Elektrokoagulasi merupakan proses koagulasi atau penggumpalan dengan tenaga listrik melalui proses elektrolisis untuk mengurangi partikel-partikel

9

pencemar di dalam air. Sampel yang digunakan sebanyak 500 mL air thawing ikan salem industri pemindangan dengan sistem batch (Gambar 3a). Perlakuan yang diberikan terhadap limbah cair dengan metode elektrokoagulasi merupakan kombinasi variasi tegangan dan waktu kontak. Perubahan limbah cair selama proses elektrokoagulasi dapat dilihat pada Gambar 3b.

(a) Sampel sebelum diproses dengan elektrokoagulasi

(b) Pembentukan koagulasi protein selama proses (c) Flok diakhir proses Gambar 3 Pengolahan limbah cair dengan elektrokoagulasi

Prinsip dasar dari elektrokoagulasi ini merupakan reaksi reduksi dan oksidasi (redoks). Reaksi oksidasi pada anoda akan menghasilkan gugus Al(OH)3 sebagai koagulan hasil dari reaksi ion Al3+ dan ion OH-. Ion OH- dihasilkan melalui reduksi air (H2O) di katoda, sedangkan ion AL3+ terbentuk melalui reduksi elektroda alumunium di anoda (Juriah 2011).

Pengaruh Elektrokoagulasi terhadap pH

Derajat keasaman atau pH merupakan nilai yang menunjukkan aktivitas ion hidrogen dalam air. Nilai pH juga dapat mencerminkan keseimbangan antara asam dan basa dalam air limbah (Ropi 2015). Limbah air thawing memiliki pH awal 6,1. Nilai pH air limbah setelah proses elektrokoagulasi dengan tegangan 6V dan waktu kontak 30, 60 dan 90 menit berturut-turut 6,92; 7,13; 8,68. Perlakuan tegangan 9V dan waktu kontak 30, 60 dan 90 menit menunjukkan nilai pH berturut-turut 6,86; 7,36; 8,51; serta perlakuan tegangan 12V dengan waktu kontak 30, 60 dan 90 menit nilai pH yang ditunjukkan berturut-turut 7,47; 7,82; 8,87. Grafik pengaruh teknik elektrokoagulasi terhadap pH limbah cair dapat dilihat pada Gambar 4.

6v 9v 12v

kontrol

6v 9v 12v 12v

kontrol protein terkoagulasi air limbah endapan

Gambar 4 menunjukkan peningkatan pH limbah cair. Hasil analisis ragam terhadap nilai pH dengan taraf nyata 95% menunjukkan bahwa perbedaan voltase yang digunakan dan lama waktu perlakuan berpengaruh nyata terhadap nilai pH, artinya semakin tinggi voltase yang digunakan serta semakin lama waktu yang digunakan terjadi peningkatan nilai pH. Interaksi antara voltase dan lama waktu perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap nilai pH (Lampiran 1). Peningkatan nilai pH disebabkan adanya akumulasi ion OH- (Niam et al. 2007).

Gambar 4 Pengaruh variasi tegangan dan waktu kontak terhadap pH limbah air

thawing: 6V; 9V; 12V; kontrol

Ion OH- mengindikasikan kebasaan yang dihasilkan pada anoda dengan rumus kimia:

3H2O + 3e 3/2H2 + 3OH

-Kadar ion OH- yang meningkat dari hasil reaksi reduksi air pada katoda dalam proses elektrokoagulasi maka nilai pH akan meningkat. Nilai pH yang dihasilkan dari proses elektrokoagulasi memenuhi baku mutu limbah cair menurut Permen LH No. 6 Tahun 2007 tentang baku mutu air limbah bagi usaha dan/atau kegiatan pengolahan hasil perikanan menyebutkan bahwa batas nilai pH limbah cair yaitu 6-9. Nilai pH limbah yang tidak sesuai dengan baku mutu lingkungan dapat mempengaruhi kehidupan organisme didalamnya (Ibrahim et al. 2009).

Pengaruh Elektrokoagulasi terhadap Kekeruhan

Kekeruhan atau turbidity digunakan untuk menyatakan derajat kekeruhan di dalam air yang disebabkan oleh bahan-bahan yang melayang umumnya bahan organik dan inorganik (Effendi 2003). Semakin pekat atau keruh suatu limbah cair yang dibuang maka kualitas limbah dan keamanannya semakin buruk (Gameissa 2012). Nilai kekeruhan limbah air thawing sebelum perlakuan sebesar 256 NTU. Elektrokoagulasi dengan perlakuan tegangan 6V dan waktu kontak

30, 60 dan 90 menit menunjukkan nilai kekeruhan berturut-turut 8,97; 3,66; 3,08 NTU. Nilai kekeruhan limbah air thawing dengan perlakuan

11

tegangan 9V dan waktu kontak 30, 60 dan 90 menit berturut-turut 6,86; 4,57; 2,24 NTU, sementara perlakuan tegangan 12V dan waktu kontak yang

sama dengan perlakuan sebelumnya menunjukkan nilai kekeruhan berturut-turut 4,61; 2,74; 2,29 NTU. Grafik pengaruh elektrokoagulasi terhadap nilai kekeruhan limbah cair dapat dilihat pada Gambar 5a.

a)

b)

Gambar 5 Pengaruh variasi tegangan dan waktu kontak terhadap kekeruhan limbah air thawing : [a] Penurunan nilai kekeruhan [b] Efektifitas penyisihan

6V; 9V; 12V; kontrol

Gambar 5a menunjukkan semakin tinggi tegangan dan waktu kontak maka penurunan nilai kekeruhan semakin besar, serta efektifitas penurunan kekeruhan akan semakin tinggi seperti pada Gambar 5b. Data hasil analisis ragam terhadap nilai kekeruhan limbah air thawing menunjukkan bahwa perbedaan voltase dan lama waktu kontak yang digunakan berpengaruh nyata terhadap nilai kekeruhan akan tetapi tidak adanya interaksi diantara keduanya.

Hal tersebut menunjukkan semakin tinggi voltase yang digunakan dan semakin lama waktu kontak yang diberikan nilai kekeruhan semakin rendah (Lampiran 2). Elektrokoagulasi dapat menurunkan kekeruhan sebagai fungsi dari waktu (Aulianur 2013), artinya semakin lama waktu yang diberikan maka penurunan nilai kekeruhan pada limbah akan semakin besar. Penelitian Chen (2004) menyatakan bahwa koagulan yang dihasilkan mengurangi polutan yang menyebabkan kekeruhan dan menyebabkan terjadinya ketidakstabilan muatan sehingga membentuk flok yang tidak larut untuk mencapai kestabilannya kembali.

Nilai efektifitas penyisihan kekeruhan tertinggi sebesar 99,13% pada perlakuan tegangan 9V dan waktu kontak selama 90 menit. Penelitian yang

dilakukan oleh Ni’am et al. (2007) proses elektrokoagulasi yang dilakukan pada 2 L limbah cair sintetik dari susu menggunakan elektroda besi dapat menurunkan nilai kekeruhan sebesar 98% pada arus 5,62 mA/cm2 selama 50 menit sementara penelitian Gameissa et al. (2012) menggunakan plat stainless steel sebagai elektroda pada pengolahan tersier limbah cair industri pangan mampu menurunkan nilai kekeruhan sebesar 76,85% dengan tengangan 24V selama 60 menit. Variasi tegangan dan waktu kontak yang digunakan dalam proses elektrokoagulasi mempengaruhi nilai efektifitas penyisihan kekeruhan yang dihasilkan. Nilai efektifitas meningkat seiring meningkatnya variasi tegangan serta waktu kontak yang diberikan (Aulianur 2013).

Pengaruh Elektrokoagulasi terhadap TSS

Total Suspended Solid (TSS) merupakan jumlah bobot bahan tersuspensi yang dalam suatu volume air terdiri atas komponen terendapkan, bahan melayang dan komponen tersuspensi koloid. Padatan tersuspensi mengandung bahan organik berupa padatan biologi seperti bakteri dan anorganik berupa liat dan butiran pasir (Pujiastuti et al. 2013). Padatan tersuspensi sangat berhubungan dengan kekeruhan air, semakin tinggi kandungan bahan tersuspensi tersebut maka air akan semakin keruh (Metcalf dan Eddy 2003). Limbah air thawing sebelum diproses dengan elektrokoagulasi memiliki nilai TSS sebesar 0,25 mg/L. Hasil pengujian elektrokoagulasi dengan tegangan 6V dan waktu kontak 30, 60 dan 90 menit menunjukkan nilai TSS limbah air thawing berturut-turut 0,23; 0,12; 0,08 mg/L. Nilai TSS limbah air thawing yang dihasilkan dengan perlakuan tegangan 9V dan waktu kontak 30, 60 dan 90 menit menunjukkan penurunan berturut-turut 0,11; 0,08; 0,08 mg/L sementara perlakuan dengan tegangan 12V dan waktu kontak 30, 60 dan 90 menit menunjukkan nilai TSS berturut-turut 0,15; 0,11; 0,08 mg/L. Grafik pengaruh elektrokoagulasi terhadap nilai TSS limbah cair dapat dilihat pada Gambar 6a.

Gambar 6a menunjukkan seiring dengan peningkatan tegangan dan waktu kontak yang diberikan, maka semakin besar nilai penurunan TSS. Analisis ragam diketahui bahwa variasi tegangan dan perlakuan waktu kontak mempunyai pengaruh yang berbeda nyata terhadap nilai TSS limbah air thawing, artinya semakin tinggi voltase dan waktu kontak yang diberikan penurunan nilai TSS semakin tinggi. Interaksi diantara keduanya berpengaruh nyata terhadap nilai TSS (Lampiran 3).

Proses elektrokoagulasi terdapat 2 tahap, yakni destabilitas dan koleksi partikel yang berlangsung dalam waktu singkat (Sadeddin et al. 2011). Koagulan aluminium hidroksida (Al(OH)3) dapat mengadsorbsi zat organik dan inorganik sehingga menyebabkan ketidakstabilan muatan dan membuat padatan tersuspensi membentuk flok yang tidak larut untuk mencapai kestabilannya kembali (Chen 2004). Sarala (2012) menambahkan bahwa konsentrasi total suspensed solid diketahui menurun seiring peningkatan arus dan lama waktu kontak. Penurunan ini disebabkan adanya flokulan yang dihasilkan selama peningkatan waktu yang memberikan kontribusi untuk penghapusan komponen tersuspensi.

13

Hal ini sejalan dengan efektifitas penyisihan nilai TSS pada limbah air thawing semakin tinggi. Besar efektifitas penyisihan nilai TSS pada limbah air thawing dapat dilihat pada Gambar 6b.

a)

b)

Gambar 6 Pengaruh variasi tegangan dan waktu kontak terhadap nilai TSS limbah air thawing : [a] Penurunan nilai TSS [b] Efektifitas penyisihan

6V; 9V; 12V; kontrol

Hasil pengukuran efektifitas nilai penurunan TSS yang dihasilkan dari elektrokoagulasi mencapai 71,15%. Penilitian Aulianur (2013) proses elektrokoagulasi yang dilakukan pada pengolahan limbah cair industri penyamakan kulit dengan elektroda alumunium mampu menurunkan nilai TSS sebesar 87,93%. Nilai tersebut memenuhi baku mutu sesuai Permen LH No. 6 Tahun 2007 tentang baku mutu air limbah bagi usaha dan/atau kegiatan pengolahan hasil perikanan menyebutkan bahwa batas nilai TSS limbah cair yaitu 100 mg/L.

Pengaruh Elektrokoagulasi terhadap TDS

Padatan terlarut total (Total Dissolved Solid) adalah bahan-bahan terlarut dan koloid yang berupa senyawa-senyawa kimia dan bahan-bahan lain yang tidak tersaring oleh kertas saring berdiameter 0,45 µm (Effendi 2003). Grafik pengaruh elektrokoagulasi terhadap nilai TDS limbah cair dapat dilihat pada Gambar 7a.

Gambar 7a menunjukkan peningkatan tegangan dan waktu kontak yang diberikan, mempengaruhi nilai penurunan TDS. Nilai TDS limbah air thawing sebelum perlakuan elektrokoagulasi mencapai 5990 mg/L. Nilai TDS air limbah setelah proses elektrokoagulasi dengan tegangan 6V dan waktu kontak 30, 60 dan 90 menit berturut-turut 1087; 918,5; 579 mg/L. Perlakuan tegangan 9V dan waktu kontak 30, 60 dan 90 menit menunjukkan nilai TDS berturut-turut 608,11; 15,56; 564 mg/L, serta perlakuan tegangan 12V dengan waktu kontak 30, 60 dan 90 menit nilai TDS yang ditunjukkan berturut-turut 1155,5; 918,5; 548,5 mg/L.

a)

b)

Gambar 7 Pengaruh variasi tegangan dan waktu kontak terhadap nilai TDS limbah air thawing : [a] Penurunan nilai TDS [b] Efektifitas penyisihan

6V; 9V; 12V; kontrol

Efektifitas yang dihasilkan terhadap penurunan nilai TDS air thawing meningkat seiring peningkatan variasi tegangan dan waktu kontak. Hasil pengukuran efektifitas yang dicapai elektrokoagulasi terhadap penurunan TDS dapat dilihat pada Gambar 7b. Analisis ragam diketahui bahwa variasi tegangan tidak memiliki pengaruh yang berbeda nyata, artinya perbedaan tegangan yang diberikan pada limbah air thawing mampu menurunkan nilai TDS dengan nilai penuruan yang relatif sama. Hal tersebut berbeda dengan perlakuan waktu kontak yang mempunyai pengaruh yang berbeda nyata terhadap nilai TDS limbah air thawing, artinya semakin lama waktu kontak yang diberikan maka nilai TDS dalam limbah cair semakin menurun, serta tidak ada interaksi diantara keduanya (Lampiran 4). Sarala (2012) menyatakan bahwa penurunan nilai TDS disebabkan fenomena restabilitasi yang terjadi karena kelebihan dosis koagulan dan membawa kembali kedalam suspensi. Babu et al. (2007) menambahkan, gas

15

hidrogen yang dilepaskan hasil reaksi pada katoda membantu penghapusan TDS dengan mengangkatnya kepermukaan.

Perbedaan tegangan dan waktu kontak yang digunakan dalam proses elektrokoagulasi mempengaruhi nilai efektifitas penyisihan TDS yang dihasilkan. Nilai efektifitas penyisihan TDS tertinggi sebesar 90,84% pada perlakuan tegangan 12V dan waktu kontak selama 90 menit, namun nilai TDS tersebut masih belum memenuhi standar baku air bersih. Nilai TDS air bersih menurut Djuhariningrum (2005) berkisar 100 mg/L - 500 mg/L.

Pengaruh Elektrokoagulasi terhadap BOD

Kandungan bahan organik yang tinggi dalam suatu perairan dapat dilihat dari besaran kadar BOD. Kadar BOD tidak menunjukkan jumlah bahan organik yang sebenarnya diperairan, tetapi hanya mengukur secara relatif jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan-bahan buangan tersebut (Dirgayusa 2013). Parameter BOD merupakan salah satu parameter yang di lakukan dalam pemantauan parameter air, khusunya pencemaran bahan organik yang tidak mudah terurai. Grafik pengaruh elektrokoagulasi terhadap kadar BOD limbah air thawing dapat dilihat pada Gambar 8a.

a)

b)

Gambar 8 Pengaruh variasi tegangan dan waktu kontak terhadap nilai BOD limbah air thawing : [a] Penurunan nilai BOD [b] Efektifitas penyisihan

Gambar 8a menunjukkan peningkatan tegangan dan waktu kontak yang diberikan, mempengaruhi kadar BOD limbah cair. Kadar BOD limbah air thawing sebelum perlakuan elektrokoagulasi sebesar 2399,19 mg/L. Perlakuan elektrokoagulasi dengan tegangan 6V dan waktu kontak 30, 60 dan 90 menit menunjukkan kadar BOD berturut-turut 369,11; 461,39; 184,55 mg/L. Pengukuran kadar BOD juga dilakukan pada perlakuan 9V dan 12V dengan variasi waktu kontak yang sama yakni 30, 60 dan 90 menit menunjukkan kadar BOD berturut-turut 738,21; 738,21; 553,66 dan 738,21; 738,21; 645,94 mg/L. Hasil analisis ragam bahwa variasi tegangan dan waktu kontak yang diberikan memiliki pengaruh yang berbeda nyata terhadap kadar BOD dalam limbah, artinya semakin tinggi voltase dan lama waktu kontak yang diberikan kadar BOD semakin menurun. Interaksi diantara keduanya berpengaruh nyata terhadap kadar BOD serta efektifitas penyisihannya (Lampiran 5). Grafik pengukuran efektifitas penurunan BOD dengan elektrokoagulasi dapat dilihat pada Gambar 8b.

Penurunan kadar BOD pada limbah air thawing menunjukkan nilai efektifitas tertinggi sebesar 92,31% pada tegangan 6V dengan waktu kontak 90 menit. Hasil pengukuran kadar BOD setelah perlakuan masih belum sesuai Permen LH No. 6 Tahun 2007 tentang baku mutu air limbah bagi usaha dan/atau kegiatan pengolahan hasil perikanan menyebutkan bahwa batas nilai BOD limbah cair yaitu 100 mg/L.

Pengaruh Elektrokoagulasi terhadap COD

Chemical oxygen demand (COD) atau kebutuhan oksigen kimia menurut Wardana (2005) merupakan jumlah oksigen yang dibutuhkan agar senyawa organik dalam air dapat teroksidasi melalui reaksi kimia dalam sampel terlarut. Kadar COD yang tinggi menunjukkan bahwa adanya bahan pencemar berupa senyawa organik dan inorganik yang cukup besar yang dapat mengakibatkan tumbuhan air, ikan dan hewan air lainnya yang membutuhkan oksigen tidak dapat hidup (Gameissa 2012).

Limbah air thawing sebelum perlakuan memiliki kadar COD sebesar 7373 mg/L. Perlakuan elektrokoagulasi dengan tegangan 6V dan waktu kontak 30, 60 dan 90 menit menunjukkan kadar COD berturut-turut 5323,34; 5106,67; 4740 mg/L. Pengukuran kadar COD juga dilakukan pada perlakuan 9V dan 12V dengan variasi waktu kontak yang sama yakni 30, 60 dan 90 menit menunjukkan kadar COD berturut-turut 5456,67; 4523,33; 4306,67 dan 5023,34; 3823,34; 4006,67 mg/L. Grafik pengaruh elektrokoagulasi terhadap kadar COD limbah air thawing dapat dilihat pada Gambar 9a.

Gambar 9a menunjukkan adanya penurunan kadar COD seiring dengan peningkatan variasi tegangan dan waktu kontak yang diberikan terhadap limbah cair. Hasil analisis ragam diketahui bahwa variasi tegangan dan perlakuan waktu kontak mempunyai pengaruh yang berbeda nyata terhadap kadar COD limbah air thawing, serta interaksi diantara keduanya berpengaruh nyata terhadap kadar COD (Lampiran 6). Grafik pengukuran efektifitas penurunan COD dengan elektrokoagulasi dapat dilihat pada Gambar 9b.

Penurunan kadar COD pada limbah air thawing (Gambar 9b) menunjukkan nilai efektifitas tertinggi sebesar 48,14% pada tegangan 12V dengan waktu kontak

17

60 menit. Hal tersebut menunjukkan semakin tinggi voltase dan waktu kontak yang diberikan penurunan kadar COD serta efektifitas penyisihannya semakin tinggi.

a)

b)

Gambar 9 Pengaruh variasi tegangan dan waktu kontak terhadap nilai COD limbah air thawing : [a] Penurunan nilai COD [b] Efektifitas penyisihan

6V; 9V; 12V; kontrol

Penurunan kadar COD dikarenakan adanya netralisasi ion negatif yang terkandung dalam limbah ketika bergabung dengan aluminium dan polimer hidroksida sebagai kation membentuk massa yang mengendap (Sharma 2014) serta pembentukan Al(OH)3 dan polimer hidroksida pada pH basa yang membentuk koagulan (Layhans et al. 2006).

Penurunan kadar COD pada limbah air thawing menunjukkan nilai efektifitas tertinggi sebesar 48,14% pada tegangan 12V dengan waktu kontak 60 menit. Pengujian pada setiap parameter dengan metode elektrokoagulasi dengan menggunakan aluminium terdapat fenomena terjadinya penurunan efektifitas parameter pencemar kekeruhan, TSS, TDS, BOD dan COD. Hal ini disebabkan karena pembentukan koagulan dari reaksi oksidasi anoda plat aluminium. Penelitian El-Ashtoukhy et al. (2013) menjabarkan reaksi utama yang terjadi pada anoda:

Al(s) Al3+(aq) + 3e

-O2(g) + 4H+(aq) + 4e- 2H2O Pada katoda:

3H2O + 3e 3/2H2 + 3OH

-Ion Al3+ dan OH- yang dihasilkan pada elektroda akan bereaksi dalam air limbah membentuk aluminium hidroksida.

Al3+ + 3OH- Al(OH)3

Aluminium hidroksida akan mendestabilisasi partikel pencemar dan membentuk flok yang berfungsi sebagai adsorben dan dapat menyebabkan presipitasi ion logam sehingga dapat menurunkan parameter pencemaran tersebut (Adhoum et al. 2004). Gugus Al(OH)3 sebagai koagulan mempunyai kemampuan untuk mengadsorpsi partikel pencemar (Layhans et al. 2006). Hasil pengukuran kadar COD setelah perlakuan masih belum sesuai Permen LH No. 6 Tahun 2007 tentang baku mutu air limbah bagi usaha dan/atau kegiatan pengolahan hasil perikanan menyebutkan bahwa batas nilai COD limbah cair yaitu 200 mg/L.

Pengaruh Elektrokoagulasi terhadap penyisihan protein

Protein mempunyai struktur yang tidak stabil sehingga mudah mengalami denaturasi yang meliputi presipitasi dan koagulasi. Ishiwatari et al. (2013) menyebutkan bahwa beberapa faktor yang dapat menyebabkan denaturasi protein seperti perubahan pH yang drastis, penambahan garam dan garam logam berat. Proses denaturasi protein menyebabkan perubahan struktur jaringan, tekstur dan warna (Tornberg 2005; Garcia-Segovia et al. 2007). Dekomposisi pada protein juga dapat menyebabkan bau busuk akibat tingginya kandungan asam amino bersulfur (sistein) serta asam sulfida, gugus thiol dan amoniak (Oktavia et al. 2012). Karakteristik awal protein yang dihasilkan dari limbah air thawing mencapai 0,977±0,03 mg/mL. Nilai tersebut mendekati kadar protein yang dihasilkan dari limbah air surimi sebesar 1.23±0.08 mg/mL (Bourtoom et al. 2009).

Grafik pengaruh elektrokoagulasi terhadap kadar protein limbah air thawing dapat dilihat pada Gambar 10a. Pengukuran kadar protein juga dilakukan pada perlakuan 6V, 9V dan 12V dengan variasi waktu kontak yang sama yakni 30, 60 dan 90 menit menunjukkan kadar protein berturut-turut 0,12; 0,60; 0,17 dan 0,05; 0,38; 0,08 mg/mL. Hal tersebut menunjukkan adanya penyisihan kadar protein setelah dilakukan proses elektrokoagulasi.

Hasil analisis ragam diketahui bahwa variasi tegangan dan perlakuan waktu kontak mempunyai pengaruh yang berbeda nyata dalam penyisihan protein limbah air thawing, serta interaksi diantara keduanya berpengaruh nyata terhadap penyisihan kadar protein (Lampiran 7). Hal tersebut menunjukkan semakin tinggi voltase dan waktu kontak yang diberikan penyisihan protein serta efektifitas penyisihannya semakin tinggi. Kadar protein terlarut limbah air thawing berasal dari darah, lendir dan serpihan daging yang bercampur saat proses thawing. Perlakuan elektrokoagulasi dilakukan untuk memisahkan protein secara optimal

19

dari limbah air thawing. Grafik pengukuran efektifitas penyisihan protein dengan elektrokoagulasi dapat dilihat pada Gambar 10b.

a)

b)

Gambar 10 Pengaruh variasi tegangan dan waktu kontak terhadap nilai protein limbah air thawing : [a] Penurunan nilai protein [b] Efektifitas penyisihan

6V; 9V; 12V; kontrol

Penyisihan protein pada limbah air thawing menunjukkan nilai efektifitas tertinggi sebesar 95,87% pada tegangan 12V dengan waktu kontak 30 menit. Ion H+ serta ion OH- yang terdapat dalam larutan protein dapat mengganggu struktur tersier protein yang diakibatkan oleh ikatan elektrostatik dan menyebabkan denaturasi protein. Protein yang terdenaturasi dapat dicirikan dengan terbentuknya gumpalan atau endapan (deMan 1997).

Dokumen terkait