Progressive Cavity Pump merupakan salah satu metode artificial lift dengan pompa yang diletakkan di bawah permukaan saat pengoperasiannya, elemen utama dari pompa progressive Cavity pump ( PCP ) ialah rotor dan stator.
Rotor (besi spiral) berfungsi untuk mengangkat fluida kepermukaan dibantu dengan stator sebagai tempat berputarnya Rotor. Mekanisme kerja dari PCP yaitu dengan pemindahan rongga-rongga yang terbentuk antara rotor dan stator dimana proses ini berlangsung terus menerus. Pola aliran fluida pada PCP ialah Positive displacement artinya aliran tersebut hanya satu arah dan fluida tidak akan turun jika pompa dalam keadaan off.
Pemasangan pompa PCP pada sumur CKM-01 terletak pada lapangan brantas sekitar 20 km sebelah tenggara dari pusat kota jambi. Sumur CKM-01 terletak pada formasi Air benakat dengan tebal formasi sekitar 200 m sampai 1300 m, berupa batu pasir dengan perlapisan batu lempung, serpih, dolomit dan lignit.
Interval dikedalaman 200 meter sampai dengan 850 meter mewakili umur miosen awal hingga Miosen Tengah, mempunyai harga TOC pada umumnya diatas 0.6%,”organic metter” tipe III dan II. Sumur ini aktif berproduksi sejak November 1997 dengan total Depth (TD) pada sumur ini 3578,26 ft, saat ini berproduksi pada kedalaman 2608,39 ft Dalam kondisi existing pompa PCP bekerja pada kedalaman (PSD) 1906,56 ft serta berproduksi sebesar 536 BFPD.
Langkah-langah perhitungan dimulai dengan mengumpulkan data sumur, letak geografis lapangan, kondisi geologi lapangan, stratigrafi lapangan, nama lokasi, nama sumur, dan daerah/region. Data produksi antara lain gross production, water cut (Wc), net production, static fluid level (SFL). Data reservoir antara lain pressure static (Ps), pwf, temperature (T), specific gravity oil (SGo), dan Specific gravity water (SGw). Data Progressive Cavity Pump 75-750.
Selanjutnya menganalisa produktifitas formasi untuk mengetahui kemampuan
60
sumur dalam berproduksi, oleh karena itu pentingnya mengetahui perilaku sumur jika nantinya untuk mendesain Progressive Cavity Pump (PCP) agar dapat diminimalkan penggantian pompa terhadap waktu kontrak dengan pertimbangan segi ekonomis. Pada sumur ini menggunakan metode Pudjo Sukarno karena factor skin dianggap tidak ada atau 0 dan sumur memiliki 3 fasa yaitu oil, water dan gas dalam kondisi ini nilai gas dapat diabaikan.
Berdasarkan analisa potensi sumur yang ditunjukkan oleh IPR (Inflow Performance Relationship) dengan water cut (WC) sebesar 96,67% didapat laju produksi maksimal (Qmaks) sebesar 725,237 BFPD dengan pompa Progressive Cavity Pump 75-750 existing yang bekerja pada 125 RPM pada laju alir 536 BFPD didapatkan harga TDH 1180,184 ft serta efisiensinya sebesar 57% pada PSD 1906,56 ft, sedangkan untuk perhitungan optimumnya saat 80 % dari total produksi dan menaikkan PSD pada kedalaman 1232,24 ft didapat nilai TDH sebesar 1178,307 ft dan efisiensinya volumetrisnya naik menjadi 62% dari sebelumnya 57%,
Berdasarkan data yang diperoleh hasil analisa dapat disimpulkan bahwa laju actual belum mencapai laju optimum sehingga problem kepasiran yang terjadi pada sumur CKM-01 memang benar adanya. Dengan naiknya efisiensi pompa menjadi 62% dapat dikatakan problem kepasiran pada sumur CKM-01 sudah tertanggulangi dengan naiknya PSD yang sudah tidak berada di zona perforasi dan juga produksi naik menjadi 580,189 BFPD dari sebelumnya 536 BFPD. Hasil sehingga diindikasikan pompa langsung bersentuhan langsung dengan solid content yang mana memungkinkan ikut terproduksinya lumpur dan pasir yang berdampak pada berkurangnya life time dari elastomer, rotor dan stator.
Meskipun pompa PCP memiliki ketahanan terhadap pasir dibanding dengan
artificial lift lainnya lambat laun nantinya jika pompa PCP ini bersentuhan langsung dengan solid content tersebut maka akan menimbulkan problem juga seperti Abrasi dan korosi sehingga perlu dilakukan evaluasi dari letak PSD untuk meminimalisir problem agar life time dari elastomer bisa lebih lama.
62 BAB VI KESIMPULAN
1. Sumur CKM-01 dengan artificial lift PCP 75-750 menghasilkan perolehan minyak 536 BFPD pada kedalaman 3578,26 ft (1090,6 m) dengan water cut 96,67%, analisa potensi sumur yang ditunjukkan oleh IPR (Inflow Performance Relationship) didapat laju produksi maksimal (Qmax) sebesar 580,189 Bfpd. Jika dilihat dari kedalaman PSD existing 1906,56 ft PSD berada di zona perforasi pada Kedalaman 1948,91 ft dimana dapat menyebabkan problem, sehingga diketahui kedalaman pompa tidak sesuai.
2. Berdasarkan hasil evaluasi pompa PCP 75-750, terdapat perbedaan submergen, TDH dan untuk efisiensi volumetric pompa tedapat perbedaan 5% antara pompa existing dengan pompa saat kondisi optimum. Perbedaan kedalaman submergen sebesar 674,32 ft, perbedaan TDH yang sebelumnya 1180,184 ft menjadi 1178,307 ft, efisiensi volumetric pompa 57% untuk kondisi existing dan 62% saat optimum, yang bekerja pada 125 RPM dimana penentuan RPM ini dilihat dari Pump Performance Curve 75-750 dengan plot antara TDH dan laju alir (q).
3. Hasil analisa dapat disimpulkan bahwa laju actual belum mencapai laju optimum sehingga problem kepasiran yang terjadi pada sumur CKM-01 memang benar adanya. Dengan naiknya efisiensi pompa menjadi 62% dapat dikatakan problem kepasiran pada sumur CKM-01 sudah tertanggulangi dan juga dengan naiknya PSD 1232,24 ft dari sebelumnya 1906,56 ft yang sudah tidak berada di zona perforasi dan juga laju produksi naik menjadi 580,189 BFPD dari sebelumnya 536 BFPD.
63
DAFTAR PUSTAKA
Brown, K. E., 1979, “The Technology of Artificial Lift Methods”, Vol. I,II & IV, Pennwell Publishing Company, Tulsa.
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, PK, Teknik Produksi Migas semester 3.
NOV, catalog Artificial Lift 2016 “Completion and Production Solution PCP pump”
Oscar Becerra Moreno, petrobras enegia S,A and maria Eugenia mena romero, Pertamina Asset 1 field jambi, file lapangan
Pertamina Jambi, Workshop., 2009
Robbin and Myers., “down hole Pump specification” , Brosur Robbin and Myers Company 2005
Robbin and Myers., “PC Pumps Technology” course robbin and myers in Indonesia 2012
Universidad simon bolivar “Integrated Analysis for PCP System” SPE, 107889.
……. Catalog “maintenance and troubleshooting of Progressive Cavity Pumps”
Moyno
……. Petroskills “Progressive cavity Pumping System”
LAMPIRAN
LAMPIRAN A FLOWCHART
Perhitungan Penggunaan PCP Pada Sumur CKM-01 Lapangan Brantas
Rekomendasi Prosedur Pemilihan Artificial Lift
Data GnG
Memilih pompa yang efektif sesuai dengan problem yang ada
Plot IPR dengan pompa Pembuatan IPR
Pompa terpasang sudah efisien
Tida k Progressive Cavity
Pump
Penggunaan Pompa PCP sudah tepat
Ya
LAMPIRAN B Tabel B-1
Sejarah Produksi Sumur CKM-01
Tabel B-2
Sejarah Produksi CKM-01
Gambar B.1. Plot grafik Sejarah Produksi
01-Mar-16 08-Mar-16 15-Mar-16 22-Mar-16 29-Mar-16 05-Apr-16 12-Apr-16 19-Apr-16 26-Apr-16 03-May-16 10-May-16 17-May-16 24-May-16 31-May-16
Date