• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengacu pada tujuan penelitian, beberapa poin penting dari hasil penelitian ini mencakup besaran permasalahan perilaku berisiko pada pelajar SMP dan SMA; gambaran status gizi remaja; kesadaran pelajar SMP dan SMA terhadap perilaku berisiko; kebutuhan lintas sektor dalam upaya meningkatkan kesehatan remaja; alternatif model yang dapat dikembangkan untuk intervensi kesehatan berbasis sekolah.

Hasil dari survei kesehatan berbasis sekolah menunjukkan beberapa faktor risiko utama pada pelajar SMP dan SMA laki-laki dan perempuan di Indonesia dapat di lihat pada tabel 6.1.

Tabel 6.1. Gambaran sepuluh faktor risiko utama pada laki-laki dan perempuan pelajar SMP dan SMA di Indonesia

No Faktor risko kesehatan pada laki- Faktor risko kesehatan pada

laki perempuan

1. Perokok pasif (81.9%), Dalam 30 hari terakhir konsumsi sayur

atau buah kurang dari 5 porsi sehari

(77.35%),

2. Dalam 30 hari terakhir konsumsi sayur Perokok pasif (73.4%),

atau buah kurang dari 5 porsi sehari

(76.18%)

3. Dalam 30 hari terakhir konsumsi Dalam 30 hari terakhir konsumsi

minuman bersoda >=1 kali sehari minuman bersoda >=1 kali sehari

(67.46%) (57.44%),

4. Dalam tujuh hari terakhir konsumsi Dalam tujuh hari terakhir konsumsi

makanan cepat saji/ „fast food‟ >= 1 makanan cepat saji/ „fast food‟ >= 1 kali

kali (52.58%) (56.17%),

5. Orang tua/wali merokok (51.3%), Orang tua/wali merokok (56.1%)

6. Dalam tujuh hari terakhir kurang Dalam tujuh hari terakhir kurang

aktifitas fisik (43.34%), aktifitas fisik (50.33%),

7. Dalam satu tahun terakhir diserang Dalam 30 hari terakhir tidak selalu

secara fisik >=1 kali (42.2%) sarapan (49.74%),

8. Dalam 30 hari terakhir tidak selalu cuci Merasa orang tua hampir tidak

tangan menggunakan sabun (39.82%) pernah/tidak pernah mengerti masalah

responden (37.7%),

9. Pernah merokok (39.70%), Merasa kesepian dan khawatir

berlebihan atau ingin bunuh diri

(33.18%),

10. Dalam 30 hari terakhir tidak selalu Dalam 30 hari terakhir tidak selalu cuci

Secara umum pola sepuluh faktor risiko utama hampir serupa antara pelajar laki-laki dan perempuan. Konsumsi kurang sayur dan buah cukup tinggi pada perempuan, meskipun masih lebih rendah dibandingkan hasil RISKESDAS 2013. Pada grafik 6.3 pada bab sebelumnya menunjukkan angka proporsi kurang konsumsi sayur dan buah pada populasi yang lebih tinggi usia 13-15 tahun (97.6%) dan pada usia 16-19 tahun (97.1%). Masyarakat Indonesia pada umumnya dan para pelajar SMP dan SMA cenderung jarang makan buah. Proporsi makan buah sayur kurang dari 5 porsi pada studi ini adalah sekitar 76.18% pada laki-laki dan 77.35% pada perempuan. Beberapa faktor yang kemungkinan berkaitan dengan rendahnya konsumsi buah adalah keterbatasan akses, variasi buah lokal dan kebiasaan atau pola asuh yang terbentuk. Keterbatasan akses termasuk dalam aspek harga buah yang mungkin di wilayah Indonesia tertentu, terutama di Indonesia timur, masih cukup tinggi. Kondisi geografis, musim dan pertanian di daerah mempengaruhi produksi buah dan aksesnya bagi masyarakat setempat. Dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya, prevalensi konsumsi sayur dan buah kurang masih

lebih tinggi dibandingkan dengan Thailand (67%) pada tahun 2008 16. Studi pustaka

yang dilakukan oleh Rasmussen dkk (2006) menunjukkan bahwa beberapa studi di berbagai negara menetapakan faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi sayur dan buah pada remaja adalah aspek sosial ekonomi, demografi, preferensi (kesukaan), pola

konsumsi orang tua dan ketersediaan atau akses terhadap sayur dan buah17 .

Konsumsi minuman bersoda merupakan salah satu perilaku berisiko yang juga ternyata banyak dilakukan oleh pelajar SMP dan SMA di Indonesia.Angka proporsinya merupakan urutan kedua tertinggi setelah proporsi kurang konsumsi sayur dan buah, baik pada laki-laki maupun perempuan. Dalam jangka waktu lama, kebiasaan konsumsi minuman bersoda dapat meningkatkan risiko kegemukan dan hiperglikemia. Studi pada pelajar perempuan sekolah tingkat menengah atas di Los Angeles menunjukkan angka proprosi kebiasaan minum soda yang cukup tinggi, sekitar 50% biasa mengkonsumsi

minuman ringan bersoda sebanyak dua kali atau lebih dalam sehari 18, sementara pada

laki-laki proporsinya lebih tinggi, yaitu sebesar 60.2% 19. Studi yang dilakukan di

Minneapolis menunjukkan bahwa kebiasaan minum minuman bersoda pada remaja pelajar sekolah menengah atas berkaitan dengan kebiasaan konsumsi fast food dan

pengaruh teman 20. Dari studi tersebut diatas tergambarkan bahwa peran orang tua dan

akses minuman ringan bersoda di sekolah merupakan faktor yang berkaitan dengan terbentuknya kebiasaan konsumsi minuman bersoda pada remaja.

Konsumsi makanan siap saji juga merupakan kebiasaan berisiko kesehatan yang umumnya dilakukan para pelajar di Indonesia. Urutan proporsi konsumsi makannan siap saji satu kali atau lebih dalam tujuh hari terakhir adalah urutan ke empattertinggi baik pada laki-laki dan maupun pada perempuan (Tabel 6.1), dan proporsinya sedikit lebih tinggi pada perempuan (52.58% vs 56.17%). Sementara studi di Michigan, menunjukkan proporsi kebiasaan konsumsi makanan ‟fast food‟ secara rutin dua kali atau lebih dalam seminggu pada populasi dewasa muda adalah sebesar 28%. Pada studi yang sama juga menunjukkan adanya hubungan yang significant antara konsumsi ‟fast food‟ dengan obesitas21.

Hasil studi ini juga menggambarkan bahwa sebagian dari pelajar SMP dan SMA mempunyai orang tua yang merokok (51.3% pada laki-laki dan 56.1% pada perempuan). Hal ini tidak berbeda jauh dari hasil Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa prevalensi

merokok pada usia 15 tahun ke atas adalah sebesar 56.7% pada laki-laki22, sementara

survei kesehatan anak sekolah ini menunjukkan 48% pelajar laki-laki dan 54.4% remaja perempuan mengakui mempunyai ayah yang merokok. Merokok pada usia muda sudah merupakan masalah kesehatan karena semakin muda umur mulai merokok semakin tinggi risiko mejadi perokok berat dan terkena beberapa penyakit kronik. Pada umumnya orang tua merupakan ‟model‟ bagi anak-anak yang dibesarkan, termasuk perilaku, sikap dan konsep pemikiran yang ditanamkan pada anak. Kebiasaan merokok pada remaja dapat dicegah dengan hubungan yang baik antara anak dan orang tua, tetapi tidak bisa menjadi

fator protektif untuk merokok bila orang tua merokok 23. Hubungan antara orang tua dan

anak merupakan salah satu faktor penting dalam membentuk perilaku anak yang lebih

baik 24. Hasil studi ini juga menunjukkan permasalahan hubungan antara anak dan orang

tua yang kurang optimal, terutama pada pelajar perempuan yang merasa kurang mendapat perhatian orang tua (25.3%).

Kurang aktifitias fisik merupakan salah satu perilaku berisiko yang dialami oleh setidaknya hampir sebagian dari pelajar SMP dan SMA dimana proporsinya lebih tinggi pada pelajar perempuan. Angka ini cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan hasil Riskesdas 2013, yang menunjukkan proporsi kurang aktifitas fisik sebesar 43.5% pada populasi usia 13-15 tahun dan 34.2% pada usia 16-18 tahun (Grafik 6.2). Studi di Arab Saudi tahun 2009-2010 di tiga kota dengan jumlah sampel 2908 pelajar sekolah menengah usia 14-19 tahun menunjukkan angka proporsi yang cukup tinggi untuk aktifitas sedentari

(menghabiskan waktu lebih dari dua jam berada di depan layar setiap hari) yaitu sebesar 84% laki-laki dan 91.2% perempuan, serta sebanyak sebagian dari laki-laki dan tige

perempat perempuan tidak melakukan aktifitas fisik sesuai dengan yang dianjurkan 25 .

Higienis perorangan atau kebiasaan hidup bersih juga masih menjadi masalah bagi sebagian pelajar SMP dan SMA. Meskipuan interensi kebiasaan hidup bersih sudah mulai difokuskan pada murid SD, kebiasaan mencuci tangan dengan benar masih perlu diperhatikan di tingkat SMP dan SMA. Hasil studi ini menunjukkan angka proporsi tidak selalu cuci tangan pakai sabun yang relatif lebih rendah dibandingkan survei serupa tahun 2007 dan 2008. Perlu diketahui bahwa survei tahun 2015 ini mencakup sampel yang lebih luas memawakili Indonesia (nasional) sementara GSHS tahun 2007 dan 2008 hanya mewakili Sumatra dan Jawa. Analisis data GSHS tahun 2007 dan 2008 yang dilakukan oleh Peltzer dkk terhadap perilaku cuci tangan di empat negara (India, Indonesia, Myanmar, Thailand) menunjukkan angka proporsi tidak selalu cuci tangan pakai sabun pada pelajar di Indonesia (64%) yang lebih rendah dibandingkan proporsi pada pelajar di Thailand (67%) tetapi masih lebih tinggi dibandingkan dengan India (57%) dan Myanmar

(38%) 16. Studi terhadap 720 anak sekolah di Palestina menunjukkan angka proporsi

sekitar 6.25% tidak pernah cuci tangan sebelum makan 26 .Kebiasaan cuci tangan dengan

benar diketahui dapat mengurangi risiko terjadinya penyakit infeksi seperti diare. Survey yang dilakukan di Bangladesh, menunjukkan bahwa indikator cuci tangan mempunyai

hubungan yang bermakna dengan kejadian diare pada anak 27.

Kebiasaan sarapan dengan makanan bergizi merupakan perilaku hidup sehat yang penting bagi anak dan remaja terutama pada masa sekolah agar dapat secara optimal mengikuti proses belajar di sekolah. Kebiasan tidak sarapan pagi merupakan salah satu kebiasaan berisiko kesehatan pada sebagian dari pelajar perempuan SMP dan SMA dan sektiar sepertiga pelajar laki-laki SMP dan SMA tidak selalu sarapan. Beberapa faktor yang mungkin berkaitan dengan perilaku tidak biasa sarapan adalah kebiasaan keluarga atau peran orang tua serta ketersediaan makanan sehat pada saat waktu terbatas di pagi hari

Dokumen terkait