• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor III: Perlakuan bahan organik yang terdiri atas 3 jenis dengan simbol B terdiri dari:

PEMBAHASAN Pertumbuhan

Hasil pengamatan data curah hujan selama pertanaman yang dimulai pada tanggal 17 Mei-18 September 2016 diperoleh data curah hujan seperti tertera pada Gambar 1.

Gambar1. Histogram Curah Hujan pada lokasi penelitian Tahun 2016

Dari Gambar 1 ditunjukkan bahwa selama penelitian budidaya kedelai dari tanggal 17 Mei – 18 September terdapat periode kritis. Cekaman air terjadi pada masa pengisian polong tanaman yaiitu pada bulan Juli yang jumlah curah hujannya hanya 88 mm dan juga terjadi pada saat periode pembentukan bunga dan polong yang mengakibatkan berkurangnya jumlah polong pertanaman. Selama penelitian budidaya kedelai semula dirancang untuk pertanaman pada bulan kering akan tetapi berdasarkan pengamatan lapang terjadi anomali iklim, sehingga pada periode kematangan tanaman berada pada kondisi lapang yang jenuh air

karena peningkatan curah hujan (pada bulan Agustus-September dengan curah hujan 354 mm dan 148 mm).

Efek Varietas Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kedelai Pada Bulan Kering

Hasil penelitian menunjukkan bahwa masing-masing varietas yang digunakan memiliki kemampuan adaptasi yang berbeda-beda dengan pemberian perlakuan. Perbedaan nyata antara varietas tersebut disebabkan oleh perbedaan karakter masing-masing varietas. Grobogan menghasilkan tinggi tanaman, ratio tajuk akar, serapan P, dan bobot 100 biji lebih tinggi dibandingkan dengan varietas lainnya. Berdasarkan deskripsi varietas kedelai (Balitkabi, 2008) diketahui bahwa Grobogan memiliki adaptasi yang baik pada lingkungan tumbuh yang berbeda, varietas ini termasuk kedalam kedelai berbiji besar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan tinggi tanaman diperoleh pada Grobogan. Tinggi tanaman merupakan karakter penting yang menentukan jumlah cabang produktif.

Menurut Somaatmaja (1990), tinggi tanaman ideal kedelai untuk wilayah tropis adalah 75 cm. Tinggi tanaman yang mendekati ideal akan membentuk percabangan optimal sesuai dengan sifat genotipenya. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa Grobogan memiliki jumlah cabang relatif lebih banyak dibanding tiga varietas lainnya.

Grobogan memiliki serapan hara yang lebih tinggi dibandingkan dengan varietas lainnya (Tabel 13). Serapan hara pada hakekatnya adalah jumlah yang masuk ke dalam jaringan tanaman. Serapan hara diperoleh dari perkalian antara kadar hara dengan bobot kering brangkasan. Serapan hara P pada masa vegetatif lebih besar dari masa generatif, karena pada masa generatif, tanaman kedelai

(Supriyadi et al., 2014). Serapan P yang lebih tinggi pada masa generatif disebabkan phosfor, karena phosfor diimobilisasi menuju bagian-bagian generatif tanaman seperti polong tanaman yang sedang dalam proses pengisian biji.

Besarnya serapan P tanaman tergantung dari ketersediaan unsur P dalam larutan tanah dan perakaran tanaman (Basir-Cyio, 2004).

Varietas Grobogan menghasilkan bobot 100 biji tertinggi walaupun tidak berbeda nyata dengan Dena, dan Argomulyo (Tabel 16). Hasil pada Tabel 6 menunjukkan varietas yang memiliki umur berbunga paling cepat adalah Grobogan dan yang paling lambat adalah Wilis. Walaupun Wilis memiliki umur panen yang relative lebih lambat, akan tetapi tidak menghasilkan biji yang besar.

Hal ini disebabkan besar biji tergantung pada sifat genetis.

Efek Pupuk P Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kedelai Pada Bulan Kering

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk P hanya berpengaruh nyata meningkatkan kadar P kedelai (Tabel 14), sedangkan peubah amatan lainnya tidak berpengaruh nyata. Walaupun tidak berpengaruh nyata akan tetapi pemberian pupuk P meningkatkan tinggi tanaman, rasio tajuk akar, umur panen, jumlah bintil akar, berat kering, biji per tanaman, dan produksi per plot.

Sedangkan parameter luas daun, diameter batang, bobot kering akar, umur berbunga, jumlah cabang, jumlah polong hampa, serapan P, dan bobot 100 biji per tanaman menurun sejalan dengan penambahan pupuk P.

Pasokan fosfor ke tanaman dipengaruhi oleh kandungan P pada tanah, kondisi lingkungan, kemampuan phytoavailibility dan pertumbuhan akar.

Pemberian pupuk pada tanah akan mempengaruhi jumlah dan phytoavailability P dalam sistem. Hasil pengamatan data curah hujan diketahui bahwa pengambilan

data berada pada bulan Juni dengan curah hujan sebesar 106 mm. Kondisi ini menggambarkan bahwa bulan Juni tersebut curah hujannya cukup tinggi dan tergolong bulan basah. Tanaman yang mengalami kelebihan air akan mengalami gangguan dalam penyerapan air dan hara. Hal ini yang diduga mengapa perlakuan pupuk P tidak berpengaruh nyata pada parameter lainnya. Hasil ini berbeda dengan temuan Wang et al, (2015) menemukan peningkatan distribusi bahan kering ke tajuk tanaman sebagai akibat pemberian pupuk P.

Pengaruh nyata akibat pemberian pupuk P diduga disebabkan, pengamatan kadar P dilakukan pada masa vegetative akhir. Grant et al, (2001) juga menyatakan bahwa tanaman lebih banyak mengambil P pada saat pertumbuhan vegetative dibandingkan dengan masa perkembangan lainnya. Hal inilah yang menyebakan pemberian pupuk P hanya nyata pada peningkatan kadar P tanaman.

Penelitian budidaya kedelai yang semula dirancang untuk pertanaman pada bulan kering akan tetapi berdasarkan pengamatan lapang terjadi anomali iklim, peningkatan curah hujan, sehingga selama pertanaman, kedelai mengalami jenuh air pada beberapa waktu. Penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk P memiliki hasil yang berbeda. Perlakuan pupuk P yang nyata pada parameter kadar P tanaman. Yuda (2010) melaporkan bahwa terjadi perbedaan berat biji yang dihasilkan antara hasil biji pada tanaman yang diberi pupuk fosfor dengan yang tidak diberi pupuk fosfor sehingga disimpulkan bahwa pupuk fosfor mempengaruhi ukuran biji. Menurut Suprapto (2007), berat 100 biji tergolong kedalam sifat yang memiliki variasi yang rendah dan sangat ditentukan oleh genetik tanaman.

Jika tanah bersifat masam, kedelai tidak dapat tumbuh dengan optimal.

Selain itu, menurut Salisbury dan Ross (1995), tanah masam mengandung konsentrasi Al yang tinggi sehingga dapat meracuni tanaman secara langsung dan juga mempengaruhi ketersediaan P tanah. Masalah lain pada tanah masam, adalah kandungan Fe yang berlebihan sehingga dapat meracuni tanaman (Notohadiprawiro, 1986).

Hasil analisis kesuburan kimia tanah diperoleh bahwa pH tanah yang digunakan adalah 4.2. ph tanah yang rendah berakibat pada rendahnya ketersediaan hara. Walaupun tanah tersebut diberi pupuk P akan tetapi pupuk tersebut tidak tersedia bagi tanaman. Hinsinger, (2001) menyatakan bahwa kemampuan tanaman mengambil P disamping dipengaruhi oleh kemampuan rhizosfir akar, spesies tanaman, status hara dalam tanaman, serta kondisi pH tanah. pH optimum utk pengambilan P adalah 4,5-5 (Raghothama, 1999). Kondisi pH tanah yang rendah dalam penelitian ini menyebabkan tanaman tdk mampu mengabsorbsi P. Hasil ini yang menyebabkan pemberian pupuk P tidak mempengaruhi bobot kering akar.

Ketersediaan fosfor untuk tanaman terbilang sulit karena pada tanah yang diberikan pupuk terjadi pengikatan oleh partikel-partikel tanah. Retensi fosfat dapat terjadi pada tanah masam. Pada tanah-tanah yang bereaksi masam kelarutan dari Al, Fe dan Mn sangat tinggi dan banyak di dalam tanah (Damanik et al., 2011). Pada tanah masam unsur hara fosfat terikat Al dan Fe dan pada tanah basa fosfat diikat oleh Ca. Sehingga efisiensi pemupukan P pada umumnya rendah hingga sangat rendah mengakibatkan tanaman mengalami kekurangan unsur hara.

Efek Bahan Organik Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kedelai Pada Bulan Kering

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian bahan organik berpengaruh tidak nyata pada semua parameter pertumbuhan (tinggi tanaman, total luas daun, diameter batang, ratio tajuk akar, dan bobot kering akar). Hasil yang tidak nyata pada peubah amatan pertumbuhan vegetative ini diduga disebabkan bahwa untuk awal pertumbuhan tanaman lebih membutuhkan hara nitrogen dibandingkan dengan hara lainnya.

Respons yang tidak berpengaruh ini juga disebabkan oleh kondisi media tanam yang jenuh air. Data curah hujan yang di keluarkan BMKG diperoleh bahwa kedelai yang ditanam pada bulan Mei sampai panen September (Gambar 1) kondisi pertanaman mengalami jenuh air. Efek utama genangan air adalah rendahnya keberadaan O2 di bagian tanaman yang terendam, karena gas O2

berdifusi 10.000 lebih cepat di udara dibandingkan di dalam air. Pengaruh terbatasnya O2 pada metabolisme sel tergantung pada konsentrasinya dan penurunan ketersediaan O2 secara gradual pada akar memiliki berbagai pengaruh pada metabolisme tanaman: i) normoxia memungkinkan respirasi aerobik dan metabolisme normal dan sebagian besar ATP dihasilkan melalui fosforilasi oksidatif, ii) hipoksia terjadi ketika penurunan O2 yang tersedia mulai menjadi faktor pembatas untuk produksi ATP melalui fosforilasi oksidatif dan, iii) anoxia ketika ATP hanya dihasilkan melalui glikolisis fermentasi, karena tidak ada O2

yang tersedia lagi. Dengan demikian, karena kondisi anaerobik berkembang di tanah tergenang air, maka ada peningkatan jumlah produk sampingan dari metabolisme fermentasi yang terakumulasi di lingkungan perakaran dan kadar

CO2, metana, dan asam lemak volatile meningkat (Pezeshki, 2001). pH tanah juga mempengaruhi perombakan bahan organik tanah dan proses seperti mineralisasi, nitrifikasi, dan hidrolisis urea (Probert dan Keating, 2000).

Adanya penggenangan akan menurunkan absorbsi makro-nutrient (terutama N, P dan K) dari tanaman intoleran penggenangan. Nitrogen nitrat turun dengan cepat karena adanya proses denitrifikasi pada tanah yang kekurangan oksigen (hipoxia). Penghambatan absorbsi nitrat selalu berkaitan dengan pengaruh rendahnya tekanan oksigen pada metabolisme akar (Kozlowski dan Pallardy, 1984). Fe dan Mn adalah logam yang dalam keadaan tereduksi berbentuk Fe2+

dan Mn2+ yang lebih mudah larut dalam air. Bila teroksidasi, besi dan manganmenjadi sukar larut sehingga sukar diserap oleh tanaman (Hardjowigeno, 1987). Kandungan total Fe dan Mn pada tanaman biasanya menurun karena pertumbuhan yang lebih lambat pada tanaman yang mengalami penggenangan dibandingkan tanaman yang tidak tergenang (Ponnamperuma, 1972). Ion ferro (Fe2+) dan Mangano (Mn2+) yang berlebihan pada tanah tergenang akan membuat toxic pada kebanyakan tanaman (Crawford, 1989).

Untuk parameter perkembangan dan komponen agronomi lainnya respons yang ditunjukkan masing masing bahan organik berbeda. Pemberian bahan organik (Tabel 8), jumlah polong berisi per tanaman (Tabel 9), serapan P tanaman (Tabel 13), bobot kering biji per tanaman (Tabel 15), dan produksi kedelai per plot (Tabel 17). Respons positif dari pemberian blotong ini diduga disebabkan blotong tebu mempunyai komposisi humus, N-total, C/N, P2O5, K2O, CaO dan MgO, cukup baik untuk dijadikan pupuk organik. Blotong merupakan bahan yang cukup baik untuk dijadikan sebagai bahan pupuk organik, karena bahan tersebut

dapat berfungsi untuk memperbaiki kesuburan tanah melalui perbaikan tekstur tanah yang dicirikan dari sifat fisik tanah, khususnya meningkatkan kapasitas menahan air, menurunkan laju pencucian hara dan memperbaiki drainase tanah.

Manfaat lain dari blotong yakni berfungsi untuk menetralisir pengaruh Aldd, yang dapat menyebabkan ketersediaan P dalam tanah lebih tersedia (Leovici, 2012).

Kandungan P total maupun P tersedia yang tinggi pada kompos blotong akan meningkatkan ketersediaan hara P dalam tanah, sehingga semakin banyak hara yang dapat diserap oleh tanaman. Sutanto (2002), menyatakan bahwa proses dekomposisi dari penambahan bahan organik akan berpengaruh terhadap sifat kimia tanah, salah satunya yaitu menyebabkan ketersediaan P meningkat. Menurut Utami dan Handayani (2003), asam humat dan fulfat yang dihasilkan dari pelapukan bahan organikakan melepaskan P dari kompleks jerapan, sehingga P-tersedia dalam tanah meningkat. Kandungan fosfor pada kompos blotong dapat meningkatkan kandungan lemak dan protein biji kedelai (Hanum, 2013).

Efek Varietas dan Pupuk P Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kedelai Pada Bulan Kering

Hasil penelitian menunjukkan masing-masing varietas memiliki respons yang berbeda dengan pemberian pupuk P. Perbedaan ini diduga disebabkan oleh perbedaan sifat genetik atau adanya pengaruh lingkungan. Selain itu, perbedaan susunan genetik merupakan salah satu faktor penyebab keragaman penampilan tanaman.

Grobogan adalah salah satu varietas yang mempunyai respons positive pada pupuk P dibandingkan dengan varietas lainnya. Manajemen pemupukan P bertujuan untuk mengoptimalkan efisiensi absorbsi P untuk mengamankan hasil

produksi dengan tetap menjaga tingkat P tanah dalam batas yang dapat diterima dengan menghindari penipisan atau akumulasi dan, pada saat yang sama, membatasi transportasi P ke permukaan dan atau air tanah. Menurut Hanafiah (2010), ketersediaan P dipengaruhi oleh beberapa faktor yang meliputikomposisi pelikat tanah, pH tanah, kandungan liat dan kandungan bahan organik.

Pemberian pupuk fosfat dalam penelitian ini terbukti dapat meningkatkan ratio tajuk akar, jumlah bintil akar, dan serapan hara tan pada varietas Grobogan.

Meskipun begitu perlakuan tersebut belum cukup mendukung pertumbuhan tanaman (tinggi dan laju pertumbuhan) di tengah kondisi lingkungan yang kurang mendukung. Pertumbuhan tanaman itu sendiri merupakan hasil interaksi yang kompleks antara faktor internal (dalam) dan eksternal (luar). Faktor internal meliputi faktor intrasel (sifat genetik/hereditas) dan intersel (hormonal dan enzim). Faktor eksternal meliputi air tanah dan mineral, kelembaban udara, suhu udara, cahaya dan sebagainya (Junaidi, 2009).

Dengan pemberian pupuk fosfat hanya varietas Grobogan yang dapat memberikan hasil lebih baik dibandingkan dengan varietas lainnya. Somaatmadja (1990) mengemukakan bahwa salah satu peranan penting dari faktor genetis adalah kemampuan suatu tanaman untuk berproduksi tinggi maka hubungan antara jenis dan kebutuhan unsur hara yang diperlukan oleh varietas-varietas unggul sangat erat. Fosfor adalah hara makro esensial yang memegang peranan penting dalam berbagai proses, seperti fotosintesis, asimilasi, dan respirasi. Fosfor merupakan komponen struktural dari sejumlah senyawa molekul pentransfer energi ADP, ATP, NAD, NADH, serta senyawa sistem informasi genetik DNA dan RNA (Gardner et al.1985). Kedelai menyerap 10% dari kebutuhan fosfor

selama fase vegetatif dan 40–50% pembungkusan sisanya diambil selama pengisian biji. Dapat dipahami sebagai batasan penelitian bahwa dosis pupuk fosfat terbesar yang diberikan adalah 150 kg/ha. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa parameter pertumbuhan, parameter hasil tanaman, dan parameter lingkungan (bintil akar) mengalami peningkatan seiring dengan dosis pupuk yang semakin besar.

Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara genetis, karakteristik varietas, penyerapan P dan jumlah bintil akar. Grobogan adalah kedelai tergolong dalam biji besar, hal ini mengindikasikan diantara sekian varietas yang digunakan Grobogan membutuhkan P lebih besar. Hasil juga menunjukkan bahawa varietas ini memeiliki serapan P yang tinggi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Grobogan dengan pemberian pupuk P memiliki jumlah bintil akar tertinggi (Tabel 11). Mahmud, (1979) menyatakan bahwa terbentuknya bintil akar karena ada rangsangan pada permukaan akar yang menyebabkan bakteri Rhizobium menginfeksi akar kedelai, pada saat akar kedelai masih muda. Terdapat hubungan antara jumlah bintil akar pada tiap varietas dengan aktivitas penambatan nitrogen yang difiksasi oleh bintil akar pada tanaman kedelai. Masing masing varietas memiliki genetik berbeda akan menghasilkan sistem perakaran yang berbeda pula. Menurut Saraswati dan Kobayashi (1992) beberapa bakteri mampu berasosiasi dalam pembentukan akar serta efektif dan efisien dalam membentuk bintil akar pada tanaman dan melarutkan hara tanah, serta jumlah populasi mikroba yang membentuk bintil akar.Mulder et. al., (2005) menunjukkan bahwa terdapat beberapa phytohormon yang mempengaruhi pembentukan nodul akar tanaman legum yaitu etilen, auksin,

dan sitokinin. Menurut Brewin dan Kardailsky (1977) selama perkembangan bintil akar, gen lektin berada ditiga tempat yaitu di permukaaan akar rambut, di dalam bintil akar muda, dan di dalam bintil dewasa serta di permukaan akar rambut. Gen lektin berfungsi merangsang berkumpulnya bakteri untuk melakukan infeksi akar, dan di bintil akar muda gen lektin berfungsi untuk merangsang aktivitas mitosis dan di bintil akar dewasa berfungsi untuk menyalurkan

cadangan nitrogen sehingga jumlah bintil yang terbentuk lebih banyak

Laju fiksasi N2 pada rhizobium selain dipengaruhi adanya mikroorganisme lain juga tergantung faktor lingkungan dan tahap pertumbuhan tanaman. Perkembangan bintil akar sangat dipengaruhi faktor lingkungan, salah satunya suhu. Pada saat penelitian suhu dilapangan berkisar 25-35oC (BMKG Sampali), sementara suhu optimal untuk peningkatan kinerja rhizobium pada kisaran suhu 25-300C (Soedarjo, 2016). Suhu terlalu tinggi akan mempengaruhi laju pembentukan eksudat akar dan berakibat pada laju fiksasi N2.

Perlakuan pemberian pupuk P pada beberapa varietas kedelai menghasilkan perbedaan yang nyata terhadap parameter serapan P. Karakteristik dari jenis tanaman mempengaruhi responnya terhadap pemberian pupuk P.

Varietas Grobogan mengalami peningkatan serapan dengan penambahan pupuk P.

Peningkatan pemberian pupuk P meningkatkan serapan hara P juga ditemukan Hanum (2013). Peningkatan serapan ini disebabkan hara yang terkandung dalam blotong turut mempengaruhi keseimbangan hara P dalam tanah, sehingga meningkatkan serapan phospor. Prawiranata et. al., (1988) juga menambahkan bahwa di antara jenis tumbuhan yang satu dengan yang lain terdapat perbedaan kemampuan dalam penyerapan unsur hara, di antara sesama jenis perbedaan dapat

terjadi di dalam hal serapan P yang dihasilkan sebagai akibat adanya perbedaan genotipe.

Efek Varietas dan Bahan Organik Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kedelai Pada Bulan Kering

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi varietas kaba dengan bahan organic blotong meningkatkan jumlah cabang produktif, jumlah polong berisi pertanaman, serapan hara P tanaman, dan berat kering biji pertanaman.

Phosphor merupakan bahan dasar penyusun struktur sel seperti membrane sel, informasi genetic dan system energi bagi tanaman. Tanaman yang kekurangan P akan mengalami kekurangan energi sehingga menghambat pertumbuhan dan perkembangannnya. Pergerakan hara dalam tubuh tanaman juga membutuhkan energi yang keseluruhannya tergantung pada ATP (Theodorou et al., 1991).

Pemberian bahan organik blotong dapat meningkatkan serapan P dan pertumbuhan tanaman karena blotong mampu menambah P tersedia didalam tanah, sehingga aplikasi blotong kedalam tanah mampu meningkatkan ketersediaan P yang dapat diserap tanaman Peningkatan serapan P pada tanaman menyebabkan pertumbuhan tanaman semakin meningkat . Menurut Wahyudi (2009) menyatakan bahwa jika unsur hara makro dalam tanah meningkat maka jumlah yang dapat diabsorpsi oleh tanaman juga akan meningkat, disertai pembentukan jaringan tanaman. Peningkatan kadar P tersedia didalam tanah akibat pemberian pupuk P dengan kombinasi bahan organik blotong sehingga jumlah cabang produktif, jumlah polong berisi pertanaman, jumlah polong hampa,berat kering biji pertanaman serta serapan P pada tanaman meningkat.

Berbeda halnya dengan Kaba jika diberi TKKS akan meningkatkan jumlah polong hampa. Bobot kering polong kedelai merupakan hasil representasi berat basah polong tanpa kadar air. Seperti halnya pada berat basah polong, berat kering polong pada tanaman kedelai sangat dipengaruhi oleh proses fotosintesis yang terjadi. Proses fotosintesis pada tanaman, terjadi pada daun dengan bantuan sinar matahari. Bahan dasar yang diperlukan bagi proses fotosintesis berupa carbon dioksida (CO2) dan air (H2O). Hasil dari proses fotosintesis nantinya berupa senyawa kompleks berupa karbohidrat, lemak, protein dan oksigen. Timbunan hasil fotosintesis tanaman berupa karbohidrat, protein dan lemak, umumnya disimpan pada batang, buah, biji ataupun polong. Pada tanaman kedelai, timbunan hasil proses fotosintesis disimpan dalam polong tanaman. Optimalisasi timbunan hasil proses fotosintesis, memerlukan asupan bahan organik dan air yang cukup bagi tanaman. Jenis tanah bagi perkembangan tanaman kedelai juga sangat berpengaruh.

Perlakuan varietas berpengaruh nyata terhadap parameter jumlah cabang produktif dimana jumlah cabang produktif tertinggi diperoleh pada varietas Kaba.

Perlakuan bahan organik berpengaruh nyata terhadap parameter jumlah cabang produktif dimana jumlah cabang produktif tertinggi diperoleh pada penambahan bahan organik blotong.

Batang tanaman kedelai berasal dari poros embrio yang terdapat pada biji.

Pola percabangan batang kedelai dipengaruhi oleh varietas dan lingkungan,

seperti panjang hari, jarak tanam, dan kesuburan tanah (Adie dan Krisnawati, 2004). Cabang pada tanaman kedelai akan muncul pada batang utama. Tanaman kedelai dapat memiliki cabang sedikit atau banyak

tergantung kultivar dan lingkungan tempat hidupnya. Pola percabangan pada tanaman kedelai sangat bervariasi (Hidajat, 1985; Adie dan Krisnawati, 2007).

Hal ini diduga karena adanya perbedaan sifat genetik dari masing-masing varietas unggul yang berbeda baik itu dari segi adaptasi tanaman terhadap lingkungan sehingga terdapat respons yang bervariasi. Menurut Sadjad (1993), perbedaan daya tumbuh antar varietas yang berbeda ditentukan oleh faktor genetiknya. Selain itu, potensi gen dari suatu tanaman akan lebih maksimal jika didukung oleh faktor lingkungan. Perbedaan varietas mempengaruhi perbedaan dalam hal keragaman penampilan tanaman. Akibat perbedaan sifat dalam tanaman (genetik) atau adanya pengaruh lingkungan. Selain itu, perbedaan susunan genetik merupakan salah satu faktor penyebab keragaman penampilan tanaman.

Bahan organik berpengaruh nyata terhadap jumlah cabang produktif dan jumlah polong berisi pertanaman. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pemberian bahan organik Blotong (B1) pada pertanaman kedelai akan meningkatkan produksi tanaman kedelai yang lebih baik dibandingkan dengan TKKS (B2) dan kontrol (B0). Manfaat lain dari blotong dapat menetralisir pengaruh Aldd, sehingga ketersediaan P dalam tanah lebih tersedia (Santoso et.

al., 2003).

Pada dasarnya, pemberian bahan organik ke dalam tanah akan berpengaruh pada sifat fisik, biologi, dan kimia tanah. Peran bahan organik terhadap sifat fisik tanah diantaranya merangsang granulasi, memperbaiki aerasi tanah, dan meningkatkan kemampuan menahan air. Peran bahan organik terhadap sifat biologi tanah adalah meningkatkan aktivitas mikrorganisme yang berperan pada fiksasi nitrogen dan transfer hara tertentu seperti N, P, K, dan S. Peran bahan

organik terhadap sifat kimia tanah adalah meningkatkan kapasitas tukar kation sehingga dapat mempengaruhi serapan hara oleh tanaman (Leovici, 2012).

Interaksi Varietas dengan Bahan Organik berpengaruh nyata terhadap jumlah cabang produktif dan jumlah polong berisi pertanaman begitu juga pada Interaksi Varietas dengan Bahan Organik dan pupuk P berpengaruh nyata jumlah polong hampa. Menurut Gardner et. al., (1991) menyatakan bahwa tinggi rendahnya pertumbuhan dan hasil tanaman sangat dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang dipengaruhi oleh sifat genetik atau sifat turunan seperti umur tanaman, morfologi tanaman, daya hasil, kapasitas menyimpan cadangan makanan, ketahanan terhadap penyakit dan lain-lain. Faktor eksternal merupakan faktor lingkungan, seperti iklim, tanah dan faktor biotik. Perbedaan pertumbuhan dan hasil yang diperoleh dipengaruhi oleh satu atau lebih dari faktor tersebut. Perbedaan susunan genetik merupakan salah satu faktor penyebab keragaman penampilan tanaman dan perbedaan susunan genetik akan selalu terjadi sekalipun bahan tanaman yang digunakan berasal dari jenis tanaman yang sama (Sitompul dan Guritno, 1995).

Perlakuan varietas berpengaruh nyata terhadap parameter jumlah polong

Perlakuan varietas berpengaruh nyata terhadap parameter jumlah polong

Dokumen terkait