• Tidak ada hasil yang ditemukan

Santaria B Sinaga, S.Farm NIM 11320

PENGAMATAN DAN PENATALAKSANAAN

4.2 Pembahasan tanggal 22 – 25 April

Pada tanggal 22-25 April 2012, pasien merasa sesak nafas mulai berkurang, batuk berdahak berkurang dan batuk berdarah berkurang.

Tabel 4.4 Pemeriksaan fisik

No .

Pemeriksaan Tanggal 22 Tanggal 23 Tanggal 24 Tanggal 25 1. Tekanan Darah

(TD)

100/70 mmHg 100/70 mmHg 110/70 mmHg 110/80 mmHg 2. Nadi (HR) 98 kali/menit 98 kali/menit 116 kali/menit 88 kali/menit 3. Pernafasan (RR) 32 kali/menit 32 kali/ menit 40 kali/menit 40 kali/menit 4. Suhu Tubuh (T) 36,8 0C 36,5 0C 35,7 0C 37 0C

Tabel 4.5 Terapi yang diberikan

Tanggal 22-25 April 2012

Jenis Obat Dosis sehari Rute

IVFD RL 20 tetes/menit i.v

Cefotaxime injeksi 1 gr/12 jam Iv Novorapid injeksi 6-6-6 iu i.v

DMP syrup 3x1 cth Oral

Rifampisin 1x450 mg Oral

INH 1x300 mg Oral

Pirazinamid 1x2 (500 mg) Oral

Etambutol 1x2 (500 mg) Oral

4.2.1 Pengkajian tepat pasien

Pada tanggal 22-25 April 2012 pasien diberikan terapi obat-obat tuberkulosis yaitu, rifampisin, INH, pirazinamid dan etambutol. Terapi tanggal 21 April tetap diberikan, tetapi O2

4.2.2 Pengkajian tepat indikasi

tidak diberikan lagi karena pasien sudah merasa tidak terlalu sesak.

4.2.3 Pengkajian tepat obat

Pasien merupakan penderita tuberkulosis kategori -2, yaitu penderita yang sudah pernah menggunakan OAT sebulan atau lebih (putus obat). Pengobatannya terdiri dari 2 bulan fase intensif dengan isoniazid, rifampisin, pirazinamid, etambutol, diminum setiap hari. Setiap kali selesai minum obat langsung diberi suntikan streptomisin. Dilanjutkan 1 bulan pemberian isoniazid, rifampisin, pirazinamid, etambutol diminum setiap hari tanpa suntikan. Diteruskan dengan fase lanjutan selama 5 bulan, dengan isoniazid, rifampisin, etambutol diminum 3 kali seminggu (Dirjen PPM dan PL, 1999).

OAT yang diberikan sudah tepat, tetapi streptomisin tidak diberikan karena streptomisin menimbulkan efek toksik yang serius sehingga digantikan dengan obat yang lebih aman seperti sefalosporin generasi ketiga yaitu cefotaxime (Anonim, 2010).

4.2.4 Pengkajian tepat dosis

Dosis lazim rifampisin untuk dewasa adalah 450-600 mg/hari. Pasien menerima tablet rifampisin setiap hari dengan kekuatan 450 mg/tablet. Pasien mengkonsumsinya setiap pagi. Dosis pemberian rifampisin sudah tepat.

Dosis lazim isoniazid untuk dewasa adalah 300-400 mg/hari. Pasien menerima tablet isoniazid setiap hari dengan kekuatan 300 mg/tablet. Pasien mengkonsumsinya setiap pagi. Dosis pemberian isoniazid sudah tepat.

Dosis lazim pirazinamid adalah 20-30 mg/ Kg BB/ hari. Pasien menerima tablet pirazinamid setiap hari sebanyak 2 tablet dengan kekuatan 500 mg/tablet.

Berat badan pasien adalah 40 kg. Pasien mengkonsumsinya setiap pagi. Dosis pemberian pirazinamid sudah tepat.

Dosis lazim etambutol adalah 15-25 mg/ Kg BB/hari. Pasien menerima tablet etambutol setiap hari sebanyak 2 tablet dengan kekuatan 500 mg/tablet. Berat badan pasien adalah 40 kg. Pasien mengkonsumsinya setiap pagi. Dosis pemberian etambutol sudah tepat.

4.2.5 Pengkajian efek samping

Tabel 4.6 Efek samping obat

Obat Efek Samping

Rifampisin Gangguan saluran cerna, sakit kepala, sesak nafas, gagal ginjal, saliva, sekresi dan urin berwarna orange – merah.

Isoniazid Neuropati perifer, hepatitis, mual, muntah, konstipasi, vertigo dan anemia.

Pirazinamid Hepatotoksisitas termasuk demam, gagal hati, mual, muntah, kemerahan, anemia dan ruam

Etambutol Neuritis optik, buta warna merah/hijau, ruam (jarang terjadi) , pruritus, urtikaria dan trombositopenia.

Tabel 4.7 Pemeriksaan fisik No . Pemeriksaan Tanggal 26 Tanggal 27 Tanggal 28 Tanggal 29 Tanggal 30 1. Tekanan Darah (TD) 110/70 MmHg 110/70 mmHg 120/70 mmHg 120/80 mmHg 120/80 mmHg 2. Nadi (HR) 72 kali/menit 64 kali/menit 92 kali/menit 100 kali/menit 96 kali/menit 3. Pernafasan (RR) 40 kali/menit 36 kali/ menit 32 kali/menit 36 kali/menit 38 kali/menit 4. Suhu Tubuh (T) 34,9 0C 35,3 0C 36,2 0C 36,2 0C 35,7 0C

Tabel 4.8 Terapi yang diberikan

Tanggal 26-30 April 2012

Jenis Obat Dosis sehari Rute

IVFD RL 20 tetes/menit i.v

Cefotaxime injeksi 1 gr/12 jam i.v Novorapid injeksi 6-6-6 iu i.v

DMP syrup 3x1 cth Oral

Rifampisin 1x450 mg Oral

INH 1x300 mg Oral

Pirazinamid 1x2 (500 mg) Oral

Etambutol 1x2 (500 mg) Oral

Aminofusin 1 botol/hari Infus

4.3.1 Pengkajian tepat pasien

Pasien merasa lemas dan nyeri pada otot, sehingga diberi terapi aminofusin dan vitamin B Complex.

4.3.2 Pengkajian tepat indikasi

Pemberian aminofusin L-600/ hari sudah tepat, hal ini karena kondisi pasien yang sangat lemah sehingga membutuhkan nutrisi.

Vitamin B Complex diberikan untuk mengatasi nyeri otot dan kelelahan pasien. Vitamin B Complex juga diberikan untuk mengatasi efek samping dari pirazinamid yaitu neuropati perifer.

4.3.3 Pengkajian tepat obat

Terapi tanggal 25 April 2012 tetap diberikan. Aminofusin L-600 dapat memberikan suplai protein, elektrolit, energi, vitamin dan air. Tiap bagian Vitamin B complex melakukan fungsinya masing-masing dalam tubuh, tetapi ketika unsur utama tersebut bekerja sama sebagai vitamin B complex, vitamin ini memberikan manfaat penting bagi tubuh untuk tetap sehat.

4.3.4 Pengkajian tepat dosis

BAB V

KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan

1. Hasil diagnosa menunjukkan bahwa pasien menderita tuberkulosis paru dan DM tipe 2, tetapi diagnosis TB paru belum tepat pasien, karena tidak dilakukan pemeriksaan mikrobiologi untuk penegakan diagnosis.

2. Penggunaan rifampisin dan isoniazid dapat menyebabkan hepatotoksik.

3. Penggunaan etambutol dapat menyebabkan neuritis optica. Keadaan pasien yang juga menderita DM Tipe II dapat memperburuk keadaan tersebut. 4. Pemberiaan obat kepada pasien belum dilakukan oleh petugas depo farmasi,

sehingga pemberian obat kepada pasien tidak disertai konseling

5. Apoteker dapat meningkatkan pemahaman dan dorongan kepada pasien untuk mematuhi terapi yang ditetapkan dokter dengan cara melakukan pekerjaan farmasi klinis, yaitu melakukan Pelayanan Informasi Obat (PIO), Konseling dan Monitoring Efek Samping Obat (MESO).

5.2 Saran

1. Sebaiknya apoteker memantau penggunaan obat dalam terapi pasien demi meningkatkan rasionalitas penggunaan obat di rumah sakit agar sesuai dengan diagnosis dokter.

2. Sebaiknya dilakukan uji mikrobiologi untuk penegakan diagnosis TB.

3. Sebaiknya pasien diberikan obat batuk expectorant untuk mengurangi batuk berdahak yang dideritanya

4. Pemeriksaan fungsi hati melalui pemeriksaan laboratorium patologi klinik harus dilakukan secara intensif agar terhindar dari hepatotoksik akibat penggunaan rifampisin dan isoniazid.

5. Kesehatan mata pasien harus dipantau secara intensif untuk mencegah terjadinya kerusakan mata pada pasien akibat DM tipe 2 yang diderita pasien dan penggunaan etambutol dalam jangka waktu yang lama.

Dokumen terkait