• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV: DESKRIPSI, ANALISIS DATA, INTERPRETASI HASIL

C. Pembahasan Temuan Penelitian

Penelitian ini diawali dengan mengamati kondisi sekolah dan siswa melalui tahapan wawancara terhadap guru, selanjutnya peneliti memberikan tes kemampuan penalaran induktif matematika yaitu dikelas XI Akuntasi 2. Hasil tes kemampuan penalaran induktif matematika ini peneliti gunakan untuk mengambil tindakan selanjutnya.

Dari hasil wawancara guru pada observasi awal diketahui bahwa kemampuan penalaran induktif matematika siswa masih rendah. Dilihat dari kemampuan menggeneralisasi, siswa belum mampu memberikan dugaan terhadap suatu pola, dan siswa belum mampu untuk menarik suatu kesimpulan dari

beberapa fakta yang dibuat. Dilihat dari kemampaun analogi matematik siswa belum terbiasa mengkaitkan suatu masalah dari dua kasus yang berbeda.

Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa kemampuan penalaran induktif matematika siswa masih rendah. Sehingga peneliti menghendaki untuk memperbaiki proses pembelajaran matematika tersebut, yaitu dengan menerapkan model pembelajaran Cooperative Learning (CL) tipe group investigasi sehingga kemampuan penalaran induktif matematik siswa meningkat.

Model pembelajaran Cooperative Learning (CL) tipe group investigation dapat meningkatkan kemampuan penalaran induktif matematik siswa, karena pada model pembelajaran ini siswa diarahkan oleh guru melalui beberapa tahapan. Diantara tahapan dari model pembelajaran ini adalah mengidentifikiasi topik dan mengatur kedalam kelompok penelitian, merencanakan investigasi didalam kelompok, melaksanakan investigasi, menyiapkan laporann akhir, mempresentasikan laporan akhir, dan evaluasi. Pada model pembelajaran ini materi disajikan melalui soal-soal terapan ataupun contoh-contoh serta informasi yang berkaitan dengan keseharian siswa. Sehingga siswa menjadi terbiasa untuk berfikir dan menggunakan kemampuan penalaran induktifnya dalam menarik suatu kesimpulan.

Berdasarkan data yang diperoleh pada siklus I, rata–rata hasil tes kemampuan penalaran induktif siswa dengan diterapkannya model pembelajaran Cooperative Learning(CL) tipe group investigation selama proses pembelajaran siklus I sebesar 57,00, hasil ini belum memenuhi kriteria yang telah ditetapkan oleh peneliti yaitu rata–rata hasil tes kemampuan penalaran induktif siswa lebih dari sama dengan 70. Selama proses pembelajaran berlangsung siswa masih banyak yang terlihat pasif, mereka takut dan malu–malu dalam bertanya dan mengajukan pendapat selama proses pembelajaran, siswa juga masih kesulitan dalam menarik kesimpulan dari pola barisan yang diberikan.

Pada siklus II seluruh hasil penelitian mengalami peningkatan. Pertama adalah rata–rata respon positif siswa dalam menerapkan model pembelajaran Cooperative Learning (CL) tipe group investigation pada siklus II sebesar 85,47%, hasil ini sudah meningkat dibandingkan dengan rata-rata persentase

77

respon positif siswa dalam menerapkan model pembelajaran Cooperative Learning (CL) tipe group investigation pada siklus I sebesar 72,74%. Selama proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran Cooperative Learning (CL) tipe group investigation pada siklus II, siswa mulai menunjukkan antusias dalam belajar matematika, siswa sudah tidak malu-malu dalam bertanya, mengungkapkan pendapatnya maupun melakukan presentase kelompok didepan kelas, siswa juga sudah tidak mengalami kesulitan dalam menarik kesimpulan dan menemukan pola bilangan. Karena pada siklus II rata-rata respon positif siswa dalam menerapkan model pembelajaran Cooperative Learning (CL) tipe group investigation sebesar 85,47% hasil ini sudah melewati persentase yang telah ditetapkan oleh peneliti yaitu rata-rata respon positif siswa dalam menerapkan model pembelajaran Cooperative Learning (CL) tipe group investigation lebih dari sama dengan 75%. Kedua, rata–rata tes kemampuan penalaran induktif siswa pada siklus II mengalami peningkatan menjadi 72,77 dari siklus I yaitu sebesar 57,00. Hal ini menunjukan bahwa rata-rata tes kemampuan penalaran induktif matematika siswa telah mencapai indikator keberhasilan yaitu skor rata-rata tes kemampuan penalaran induktif matematika siswa mencapai 70. Berdasarkan hasil yang dihimpun dari data tersebut maka penelitian berhenti sampai pada siklus II.

Temuan menarik selama penelitian berlangsung adalah kemampuan penalaran induktif matematika siswa meningkat dengan menggunakan model pembelajaran Cooperative Learning (CL) tipe group investigation, hal ini didapat berdasarkan hasil pengamatan, wawancara, dan tes kemampuan penalaran induktif matematika.

78

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa, secara umum penggunaan model pembelajaran cooperative learning tipe group investigation dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan kemampuan penalaran induktif matematik siswa. Hal ini terlihat dari peningkatan rata-rata hasil tes kemampuan penalaran induktif sebesar 57,00 pada siklus I menjadi 72,77 pada siklus II. Kemampuan penalaran induktif yang meningkat dengan model pembelajaran cooperative learning tipe group investigation meliputi kemampuan menarik kesimpulan, kemampuan mengajukan dugaan/conjeture, kemampuan untuk menemukan pola/sifat umum untuk membuat generalisasi, serta menemukan keserupaan pola atau sifat dari gejala matematik untuk membuat analogi. Adapun peningkatan masing-masing indikator kemampuan penalaran induktif dapat dilihat pada hal-hal berikut:

1. Kemampuan menarik kesimpulan pada siswa meningkat melalui model pembelajaran cooperative learing tipe group investigation. Hal ini terlihat dari kenaikan persentase indikator kemampuan menarik kesimpulan dari sebesar 69% (cukup) pada siklus I menjadi 73.5% (baik) pada siklus II. 2. Peningkatan kemampuan menyusun dugaan/conjecture pada siswa

diketahui pada saat siswa mampu menentukan suku selanjutnya dari suatu barisan bilangan atau gambar. Hal ini didukung oleh peningkatan hasil persentase kemampuan mengajukan dugaan/conjecture pada siswa yaitu sebesar 61% (cukup) pada siklus I menjadi 78.2% (baik) pada siklus II. 3. Model pembelajaran kooperatif tipe group investigation dapat

meningkatkan kemampuan menemukan pola untuk membuat generalisasi yaitu, pada siklus I sebesar 60% dengan kategori cukup menjadi 74% dengan kategori baik pada siklus II.

79

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh, peneliti dapat memberikan saran-saran sebagai berikut:

1. Bagi sekolah dan pihak guru pada khususnya, hendaknya menggunakan model pembelajaran cooperative learning tipe group investigation sebagai alternatif dalam proses pembelajaran khususnya dalam meningkatkan kemampuan penalaran Induktif.

2. Sebaiknya proses pembelajaran yang dilakukan dengan model pembelajaran cooperative learning tipe group investigation lebih sering diterapkan, sehingga aktivitas siswa lebih meningkat.

3. Model pembelajaran cooperative learning tipe group investigation dalam pembelajaran matematika masih harus dikembangkan guna meningkatkan kemampuan penalaran matematik lainnya.

4. Pada penelitian ini, penerapan model pembelajaran cooperative learning tipe group investigation dalam meningkatkan kemampuan penalaran induktif hanya menggunakan kegiatan generalisasi. Bagi peneliti selanjutnya, hendaknya dapat mengembangkan model pembelajaran cooperative learning yang lain melalui kegiatan-kegiatan induktif lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Adjie , Nahrowie dan Deti Rostika. Konsep Dasar Matematika, Bandung: UPI PRESS, 2009.

Anggriamurti, Ranty Aditya. Pembelajaran transformasi geometri dengan pendekatan kontruktivistik ntuk meningkatkan penalaran logis siswa kelas XII SMA BPI 2 Bandung, 2009. Dari http://matematika.upi.edu.index.php/ diakses pada 17 maret 2011, pukul 22.31

Arikunto, Suharsimi. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, Cet IV, 2010.

__________. Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2007.

Dwirahayu, Gelar. “Pengaruh Pendekatan Analogi terhadap Peningkatan Kemampuan Penalaran Matematika Siswa SMP”, dalam Algoritma Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Vol. 1, No.1, Juni 2006. _________. “Penerapan Contextual Teaching Learning dalam pembelajaran

matematika” dalam Gelar Dwirahayu (Ed), Pendekatan Baru dalam proses pembelajaran Matematika dan Sains Dasar, Jakarta: IAIN Indonesian Social Equity Project, 2007.

Herdy. Kemampuan Generalisasi Matematika, 2010. Dari http://herdy07.wordpress.com, akses pada 24 Oktober 2010 09:32

Johnson, Elanie B. Contextual Teaching Learning menjadikan kegiatan belajar-mengajar mengasyikan dan bermakna, Bandung:Mizan, Cet VIII, 2009. Jufri, Muhammad dan Abdul Saman. “CTL: Inovasi Pembelajaran dan

Implikasinya”, dalam Skolar jurnal kependidikan, Vol. 8, No.1, Juni 2007.

Kunandar. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas sebagai pengembangan profesi guru, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008.

Kurniawan, Rudy. “Pembelajaran Dengan Pendekatan Kontektual Untuk Meningkatkan Kemampuan Koneksi Matematik Siswa SMK”, dalam

Algoritma Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, No. 002, Desember 2006.

Kurniawati, Lia. “Pembelajaran dengan Pendekatan Pemecahan Masalah untuk Meningkatkan Kemampuan Penalaran Matematik siswa SMP” dalam,

Algoritma Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, Vol 1, No.1, Juni 2006.

Listiani, Welas. “Jurnal Ilmiah Pendidikan Teori dan Penelitian”, dalam PARADIGMA Jurnal Ilmiah Pendidikan Teori dan Penelitian, No 22, Tahun XI, Desember 2006.

Mulhayatia, Diah. “Kontekstual dalam model-model pembelajaran IPA” dalam

Gelar Dwirahayu (Ed), Pendekatan Baru dalam Proses Pembelajaran Matematika dan Sains Dasar, Jakarta: IAIN Indonesian Social Euity Project, 2007.

Mundiri. Logika, Jakarta: Rajawali Pers, Cet ke XIII, 2010.

Murtono, Tri. “Keefektifan Pendekatan Pembelajaran Contextual Teaching

Learning terhadap penalaran matematika pada materi Komposisi dan

fungsi invers pada siswa kelas XI 1A SMA Negeri 1 Semarang”, Skripsi FPMIPA UNES: Tidak Diterbitkan 2007.

Muslich, Masnur. KTSP Pembelajaran Berbasis Kontemporer dan Kontekstual, Jakarta: Bumi aksara, 2009.

Nizhar, Achmad. “Kontribusi Matematika Dalam Membangun Daya Nalar dan Komunikasi Siswa” dalam Jurnal Pendidikan Inovatif, Vol 2 , Nomor 2, Maret 2007.

Rachmawati, Suci. “Pembelajaran Matematika melalui Pemecahan Masalah Kontekstual Untuk Meningkatkan Kemampuan Penalaran Induktif Siswa

SMP”, Skripsi FPMIPA UPI: Tidak Diterbitkan, 2005.

Rahim, Utu dan Hasnawati. “Perbandingan Hasil Tes Keterampilan Penalaran

Formal Mahasiswa sebelum dan sesudah perkuliahan pengantar dasar

Matematika” dalam Majalah Ilmiah Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan, No 1, Vol 6, Februari 2007.

Rochmad. Penggunaan Pola Pikir Induktif-deduktif dalam pembelajaran matematika beracuan Kontruktivisme makalah disampaikan pada seminar nasional Pend Matematika UNNES, 2008. Dari http://rochmad unnes.blogspot.com/, akses pada 22 Agustus 22.10

Roslina dkk. “Kemampuan Penalaran Matematika dan Pemahaman Konsep IPA pada siswa SMA”, Laporan Penelitian Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh: Tidak Diterbitkan, 2007.

Sanjaya, Wina. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Pendidikan, Jakarta: Kencana, 2009.

Shadiq, Fadjhar. Inovasi pembelajaran matematika dalam rangka menyongsong sertifikasi guru dan persaingan global, 2007. Dari http//www.docstoc.com, akses pada 1 Agustus 22.00

Shadiq, Fadjhar. Kemahiran Matematika, Yogyakarta: Departeman Pendidikan Nasional, 2009.

___________ dan Widyaiswara. “Pemecahan Masalah, Penalaran dan Komunikasi” dalam Diklat Instruktur Pengembangan Matematika SMA di PPPG Matematika, Yogyakarta, 2004. Dari http://p4mtkmatematika.org/ diakses pada 2 Juli 2010, 22.00

Simangungsong, Wilson dan Fredrik. Matematika PKS Kelas 1 SMA tahun kedua, Jakarta: Gematama, 2002.

Sternberg, Robert J. Psikologi Kognitif, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Cet I, 2008.

Sumarmo, Utari. “Berfikir dan disposisi matematik : Apa, Mengapa dan Bagaimana dikembangkan pada peserta didik", Bandung: FPMIPA UPI, 2010. Dari: http://math.sps.upi.edu/ diakses pada 1 Agustus 2010 22:20

_____________. Kecenderungan Pembelajaran Matematika pada Abad 21, dalam seminar pend Matematika: FPMIPA UPI, September, 2000.

Suprijono, Agus. “Cooperative Learning Teori & aplikasi PAIKEM” Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.

Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2008), hlm. 330

Surajiyo dkk. Dasar-dasar Logika, Cet III, Jakarta: Bumi Aksara, 2008.

Soekadijo. Logika Dasar tradisonal, simbolik, dan induktif, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1991.

Trianto. Model-Model Pembelajaran Inovatif berorientasi Konstruktivitik, Jakarta: Prestasi Pustaka, Cet I, 2007.

Turmudi. “Pembelajaran Matematika Kini Dan Kecenderugan Masa Mendatang”

dalam Bunga Rampai Pembelajaran MIPA, JICA: FPMIPA, 2010.

Wijaya, Ariyadi, “Pendidikan Matematika Realistik Suatu Alternatif Pendekatan Pembelajaran Matematika”, Yogyakarta, Graha Ilmu, 2011

Wahyudin. Pembelajaran dan model-model pembelajaran, IPA ABONG, 2008.

Wardhani, Sri. Analisis SI dan SKL mata pelajaran Matematika SMP/ MTS untuk Optimalisasi Tujuan mata pelajaran matematika. Yogyakarta: P4TK Matematika, 2008.

Lampiran 1

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) siklus I

A. Identitas Mata Pelajaran

Nama Sekolah : SMK N 13 Jakarta Mata Pelajaran : Matematika Kelas / Program : XI / Akuntansi Jumlah Pertemuan : 4 pertemuan Alokasi Waktu : 8 x 45 menit Semester : Genap

B. Standar Kompetensi

Menggunakan konsep barisan dan deret dalam pemecahan masalah melalui proses generalisasi dan analogi

C. Kompetensi Dasar

a. Mengidentifikasi dugaan/conjekture pada pola, barisan, dan deret b. Menerapkan konsep barisan dan deret untuk membuat generalisasi dan

analogi

c. Menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan untuk membuat generalisasi

D. Tujuan Pembelajaran

Setelah pembelajaran diharapkan siswa dapat :

a. Menjelaskan ciri dari barisan dan deret aritmatika

b. Membuat pola unsur ke-n suatu barisan berdasarkan sifat/pola yang dimiliki

c. Menemukan suku-suku dari suatu barisan jika rumus suku ke n diketahui

d. Menentukan pola n suku pertama suatu barisan jika rumus suku ke n barisan itu diketahui

e. Menentukan pola suku ke n suatu barisan berdasarkan sifat/pola yang dimiliki oleh barisan terkait

f. Membuat model matematika dari masalah yang berkaitan dengan barisan aritmatika

g. Memahami konsep rumus suku ke n dan jumlah suku ke n pada deret aritmatika

81

E. Materi Ajar

Pola bilangan, Notasi Sigma, Barisan Aritmatika, dan Deret Aritmatika. (terlampir)

F. Pendekatan dan Metode pembelajaran

Pendekatan pembelajaran : pendekatan investigasi Setting : diskusi kelompok

Metode pembelajaran :Tanya jawab, penugasan, penemuan terbimbing

G. Kegiatan Pembelajaran

Pertemuan Pertama (Pola Barisan dan Deret Bilangan)

Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran Waktu Kegiatan awal :

1. Penyampaian tujuan pembelajaran 2. Penyampaian pokok-pokok materi 3. Memberikan motivasi dengan penjelasan

keterkaitan tentang pola, barisan dan deret bilangan dalam kehidupan sehari-hari maupun bidang kejuruan

10 menit

Kegiatan inti :

1. Pemilihan topik

a. Siswa diorganisasikan kedalam 6 kelompok (1 kelompok terdiri atas 4-5 orang yang dipilih secara heterogen)

b. Guru menuliskan masalah-masalah yang berisi data kualitatif dan kuantitatif yang perlu diinvestigasi, antara lain :

- Pola barisan dan deret suatu bilangan c. Tiap kelompok diminta mengambil masalah

yang telah guru sajikan

d. Guru menentukan 1 masalah untuk diinvestigasi oleh 2 kelompok dengan sampel yang berbeda

2. Perencanaan kooperatif

a. Guru menugaskan tiap kelompok untuk mengumpulkan data berdasarkan sampel yang ditentukan dengan cara mensurvei b. Guru menginformasikan tiap kelompok untuk melengkapi sumber belajar terkait dengan sampel dari masing-masing

70 menit

kelompok 3. Implementasi

a. Kelompok diminta untuk mengidentifikasi pola dan barisan yang diminta sesuai dengan masalah yang mereka pilih dan

menuliskannya dalm lembar investigasi b. Tiap kelompok dapat mendiskusikan

pembagian tugas dari masing-masing anggota kelompok dan mulai

menginvestigasikan lembar permasalahan yang mereka peroleh

c. Guru berkeliling untuk memfasilitasi kelompok yang mengalami kesulitan 4. Analisis dan sintesis

a. Guru menggabungkan 2 kelompok yang menginvestigasikan maslah yang sama b. Kedua kelompok bergabung untuk

mengoreksi dan menganalisis langkah-langkah yang mereka lakukan dalam

menjawab maslaah dan menyatukan seluruh informasi yang mereka dapat dalam langkah sebelumnya sehingga diperloh sebuah kesimpulan

c. Setelah tiap kelompok memperoleh sebuah kesimpulan, kelompok merencanakan bagaimana informasi yang mereka peroleh dapat disajikan dengan menarik sebagai bahan untuk dipersentasikan kepada seluruh kelas

d. Guru berkeliling untuk memfasilitasi kelompok yang mengalami kesulitan 5. Penyajian hasil akhir

a. Secara acak, guru meminta 2 kelompok yang membahas masalah yang sama untuk

mempersentasikan hasil investigasi mereka. Masing-masing kelompok diberi waktu sekitar 20 menit untuk mempersentasikan hasil investigasi mereka

6. Evaluasi

83

masing-masing kelompok

b. Guru menyimpulkan hasil penyelidikan mengenai pengertian pola dan barisan yang merupakan hasil dari investigasi dari tiap-tiap kelompok

Kegiatan akhir :

1. Guru memberiikan PR kepada siswa

2. Guru menginformasikan kepada masing-masing kelompok untuk mencatat hasil survei yang akan digunakan pada pertemuan berikutnya dalam lembar investigasi

20 menit

Pertemuan kedua (barisan arimatika)

Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran Waktu Kegiatan awal :

1. Penyampaian tujuan pembelajaran 2. Penyampaian pokok-pokok materi 3. Memberikan motivasi dengan penjelasan

keterkaitan tentang pola, barisan dan deret bilangan dalam kehidupan sehari-hari maupun bidang kejuruan

10 menit

Kegiatan inti :

4. Pemilihan topik

a. Siswa diorganisasikan kedalam 6 kelompok (1 kelompok terdiri atas 4-5 orang yang dipilih secara heterogen)

b. Guru menuliskan masalah-masalah yang berisi data kualitatif dan kuantitatif yang perlu diinvestigasi, antara lain :

- Pola barisan dan deret suatu bilangan c. Tiap kelompok diminta mengambil masalah

yang telah guru sajikan

d. Guru menentukan 1 masalah untuk diinvestigasi oleh 2 kelompok dengan sampel yang berbeda

5. Perencanaan kooperatif

a. Guru menugaskan tiap kelompok untuk mengumpulkan data berdasarkan sampel

70 menit

yang ditentukan dengan cara mensurvei b. Guru menginformasikan tiap kelompok untuk melengkapi sumber belajar terkait dengan sampel dari masing-masing kelompok

6. Implementasi

a. Kelompok diminta untuk mengidentifikasi pola dan barisan yang diminta sesuai dengan masalah yang mereka pilih dan

menuliskannya dalm lembar investigasi b. Tiap kelompok dapat mendiskusikan

pembagian tugas dari masing-masing anggota kelompok dan mulai

menginvestigasikan lembar permasalahan yang mereka peroleh

c. Guru berkeliling untuk memfasilitasi kelompok yang mengalami kesulitan 7. Analisis dan sintesis

a. Guru menggabungkan 2 kelompok yang menginvestigasikan maslah yang sama b. Kedua kelompok bergabung untuk

mengoreksi dan menganalisis langkah-langkah yang mereka lakukan dalam

menjawab maslaah dan menyatukan seluruh informasi yang mereka dapat dalam langkah sebelumnya sehingga diperloh sebuah kesimpulan

c. Setelah tiap kelompok memperoleh sebuah kesimpulan, kelompok merencanakan bagaimana informasi yang mereka peroleh dapat disajikan dengan menarik sebagai bahan untuk dipersentasikan kepada seluruh kelas

d. Guru berkeliling untuk memfasilitasi kelompok yang mengalami kesulitan 8. Penyajian hasil akhir

a. Secara acak, guru meminta 2 kelompok yang membahas masalah yang sama untuk

mempersentasikan hasil investigasi mereka. Masing-masing kelompok diberi waktu

85

sekitar 20 menit untuk mempersentasikan hasil investigasi mereka

9. Evaluasi

a. Siswa dan guru mengevaluasi pekerjaan masing-masing kelompok

b. Guru menyimpulkan hasil penyelidikan mengenai pengertian pola dan barisan yang merupakan hasil dari investigasi dari tiap-tiap kelompok

Kegiatan akhir :

10.Guru memberiikan PR kepada siswa

11.Guru menginformasikan kepada masing-masing kelompok untuk mencatat hasil survei yang akan digunakan pada pertemuan berikutnya dalam lembar investigasi

20 menit

Pertemuan ketiga (deret aritmatika)

Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran Waktu Kegiatan awal :

1. Penyampaian tujuan pembelajaran 2. Penyampaian pokok-pokok materi 3. Memberikan motivasi dengan penjelasan

keterkaitan tentang pola, barisan dan deret bilangan dalam kehidupan sehari-hari maupun bidang kejuruan

10 menit

Kegiatan inti :

4. Pemilihan topik

a. Siswa diorganisasikan kedalam 6 kelompok (1 kelompok terdiri atas 4-5 orang yang dipilih secara heterogen)

b. Guru menuliskan masalah-masalah yang berisi data kualitatif dan kuantitatif yang perlu diinvestigasi, antara lain :

- Pola barisan dan deret suatu bilangan c. Tiap kelompok diminta mengambil masalah

yang telah guru sajikan

d. Guru menentukan 1 masalah untuk diinvestigasi oleh 2 kelompok dengan

70 menit

sampel yang berbeda 5. Perencanaan kooperatif

a. Guru menugaskan tiap kelompok untuk mengumpulkan data berdasarkan sampel yang ditentukan dengan cara mensurvei b. Guru menginformasikan tiap kelompok untuk melengkapi sumber belajar terkait dengan sampel dari masing-masing kelompok

6. Implementasi

a. Kelompok diminta untuk mengidentifikasi pola dan barisan yang diminta sesuai dengan masalah yang mereka pilih dan

menuliskannya dalm lembar investigasi b. Tiap kelompok dapat mendiskusikan

pembagian tugas dari masing-masing anggota kelompok dan mulai

menginvestigasikan lembar permasalahan yang mereka peroleh

c. Guru berkeliling untuk memfasilitasi kelompok yang mengalami kesulitan 7. Analisis dan sintesis

a. Guru menggabungkan 2 kelompok yang menginvestigasikan maslah yang sama b. Kedua kelompok bergabung untuk

mengoreksi dan menganalisis langkah-langkah yang mereka lakukan dalam

menjawab maslaah dan menyatukan seluruh informasi yang mereka dapat dalam langkah sebelumnya sehingga diperloh sebuah kesimpulan

c. Setelah tiap kelompok memperoleh sebuah kesimpulan, kelompok merencanakan bagaimana informasi yang mereka peroleh dapat disajikan dengan menarik sebagai bahan untuk dipersentasikan kepada seluruh kelas

d. Guru berkeliling untuk memfasilitasi kelompok yang mengalami kesulitan 8. Penyajian hasil akhir

87

a. Secara acak, guru meminta 2 kelompok yang membahas masalah yang sama untuk

mempersentasikan hasil investigasi mereka. Masing-masing kelompok diberi waktu sekitar 20 menit untuk mempersentasikan hasil investigasi mereka

9. Evaluasi

a. Siswa dan guru mengevaluasi pekerjaan masing-masing kelompok

b. Guru menyimpulkan hasil penyelidikan mengenai pengertian pola dan barisan yang merupakan hasil dari investigasi dari tiap-tiap kelompok

Kegiatan akhir :

10.Guru memberiikan PR kepada siswa

11.Guru menginformasikan kepada masing-masing kelompok untuk mencatat hasil survei yang akan digunakan pada pertemuan berikutnya dalam lembar investigasi

20 menit

Pertemuan keempat (barisan dan deret aritmatika)

Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran Waktu Kegiatan awal :

1. Penyampaian tujuan pembelajaran 2. Penyampaian pokok-pokok materi 3. Memberikan motivasi dengan penjelasan

keterkaitan tentang pola, barisan dan deret bilangan dalam kehidupan sehari-hari maupun bidang kejuruan

10 menit

Kegiatan inti :

4. Pemilihan topik

a. Siswa diorganisasikan kedalam 6 kelompok (1 kelompok terdiri atas 4-5 orang yang dipilih secara heterogen)

b. Guru menuliskan masalah-masalah yang berisi data kualitatif dan kuantitatif yang perlu diinvestigasi, antara lain :

- Pola barisan dan deret suatu bilangan

70 menit

c. Tiap kelompok diminta mengambil masalah yang telah guru sajikan

d. Guru menentukan 1 masalah untuk diinvestigasi oleh 2 kelompok dengan sampel yang berbeda

5. Perencanaan kooperatif

a. Guru menugaskan tiap kelompok untuk mengumpulkan data berdasarkan sampel yang ditentukan dengan cara mensurvei b. Guru menginformasikan tiap kelompok untuk melengkapi sumber belajar terkait dengan sampel dari masing-masing kelompok

6. Implementasi

a. Kelompok diminta untuk mengidentifikasi pola dan barisan yang diminta sesuai dengan masalah yang mereka pilih dan

menuliskannya dalm lembar investigasi b. Tiap kelompok dapat mendiskusikan

pembagian tugas dari masing-masing anggota kelompok dan mulai

menginvestigasikan lembar permasalahan yang mereka peroleh

c. Guru berkeliling untuk memfasilitasi kelompok yang mengalami kesulitan 7. Analisis dan sintesis

a. Guru menggabungkan 2 kelompok yang menginvestigasikan maslah yang sama b. Kedua kelompok bergabung untuk

mengoreksi dan menganalisis langkah-langkah yang mereka lakukan dalam

menjawab maslaah dan menyatukan seluruh informasi yang mereka dapat dalam langkah sebelumnya sehingga diperloh sebuah kesimpulan

c. Setelah tiap kelompok memperoleh sebuah kesimpulan, kelompok merencanakan bagaimana informasi yang mereka peroleh dapat disajikan dengan menarik sebagai bahan untuk dipersentasikan kepada seluruh

89

kelas

d. Guru berkeliling untuk memfasilitasi kelompok yang mengalami kesulitan 8. Penyajian hasil akhir

a. Secara acak, guru meminta 2 kelompok yang membahas masalah yang sama untuk

mempersentasikan hasil investigasi mereka. Masing-masing kelompok diberi waktu sekitar 20 menit untuk mempersentasikan hasil investigasi mereka

9. Evaluasi

a. Siswa dan guru mengevaluasi pekerjaan masing-masing kelompok

b. Guru menyimpulkan hasil penyelidikan mengenai pengertian pola dan barisan yang merupakan hasil dari investigasi dari tiap-tiap kelompok

Kegiatan akhir :

10.Guru memberiikan PR kepada siswa

Dokumen terkait