METODOLOGI PENELITIAN
Tebel 3.3 Kategori Kelayakan Dokumen Penilaian Otentik 1
B. Pembahasan terhadap Temuan Penelitian
Penilaian setiap mata pelajaran meliputi kompetensi pengetahuan, kompetensi keterampilan, dan kompetensi sikap. Cakupan penilaian dalam kurikulum 2013, Kompetensi Inti (KI) dirumuskan sebagai berikut:
a. KI-1: kompetensi inti sikap spiritual b. KI-2: kompetensi inti sikap sosial c. KI-3: kompetensi pengetahuan d. KI-4: kompetensi keterampilan2
Oleh karena itu, penilaian yang dibuat oleh guru harus beracuan pada KI yang hendak dicapai. Kompetensi pengetahuan dan kompetensi keterampilan menggunakan skala 1-4, sedangkan kompetensi sikap menggunakan skala sangat baik (SB), Baik (B), Cukup (C), dan Kurang (K), yang dapat dikonversi ke dalam predikat A-D.3 Penelitian terhadap 12 SMA Negeri se Kota Tangerang Selatan ditemukan bahwa 50% atau sebanyak enam sekolah telah memiliki dokumen penilaian otentik, terdapat empat sekolah yang memiliki dokumen penilaian pada kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan.
2
Salinan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 81A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum, h. 53, (Tersedia online: www.sman78-jkt.sch.id. Pada 17/12/2014).
3
1. Dokumen Penilaian Sikap
Dokumen yang diperoleh untuk penilaian sikap dari guru SMAN C memiliki persentase kelayakan sebesar 95%. Dalam merumuskan penilaian sikap, guru mengacu KI-2 yaitu aspek sikap sosial. Penilaian aspek relevansi konten mendapat skor tertinggi karena dalam instrumen penilaian sikap, terdapat perilaku dan sikap yang diamati atau dinilai oleh guru. Perilaku tersebut antara lain: tanggung jawab, jujur, peduli, kerja sama, santun, percaya diri, dan disiplin. Perilaku-perilaku tersebut sesuai dengan KD 2.1 yang terdapat dalam Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yaitu berbunyi “berperilaku ilmiah: teliti, tekun,
jujur terhadap data dan fakta, disiplin, tanggung jawab, dan peduli dalam observasi dan eksperimen, berani dan santun dalam mengajukan pertanyaan dan beragumentasi, peduli lingkungan, gotong royong, bekerjasama, cinta damai, berpendapat secara ilmiah dan kritis, responsif, dan proaktif dalam setiap tindakan dan dalam melakukan pengamatan dan percobaan di dalam kelas/laboratorium
maupun di luar kelas/laboratorium”. Indikator yang dikembangkan dari KD 2.1 yaitu peserta didik menunjukkan perilaku kerja sama, santun, toleran, responsif, dan proaktif serta bijaksana sebagai wujud kemampuan memecahkan masalah dan membuat keputusan. Selain penilaian dikembangkan sesuai KD dan indikator, jenis instrumen yang digunakan juga sesuai dengan ranah sikap yang dinilai yakni dengan menggunakan lembar observasi yang diisi guru saat pembelajaran dengan menggunakan skor yang layak digunakan yaitu skor 1-4 (1=jika tidak pernah berperilaku dalam kegiatan; 2= jika kadang-kadang berperilaku dalam kegiatan; 3= jika sering berperilaku dalam kegiatan; dan 4= jika selalu berperilaku dalam kegiatan).
Dokumen SMAN C dalam aspek kelengkapan unsur instrumen memperoleh skor tertinggi, tentunya disebabkan instrumen yang dibuat guru telah memuat KI, KD, indikator yang hendak dicapai, bersifat holistik atau mencakup semua ranah kompetensi yang salah satunya kompetensi sikap, dan terdapatnya rubrik serta pedoman penskoran dalam instrumen tersebut. Instrumen penilaian sikap SMAN C juga dalam penulisannya menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar, kalimat yang digunakan mudah dimengerti dan spesifik sehingga memudahkan
dalam menggunakannya. Dalam hal tampilan, instrumen ini sudah praktis digunakan dengan tampilan yang terstruktur antara rubrik dan pedoman penskoran sehingga terlihat menarik. Namun ada beberapa penulisan yang belum jelas sehingga mengurangi sedikit dalam aspek penilaian tampilan instrumen.
Persentase kelayakan untuk dokumen penilaian sikap milik guru SMAN E yaitu 85%. Instrumen yang digunakan dalam menilai ranah sikap yaitu menggunakan skala 1-4. Indikator penilaian terdiri dari disiplin, kerjasama, kejujuran, kepedulian dan tanggung jawab. Skala yang digunakan untuk skor 4= jika peserta didik selalu konsisten memperlihatkan perilaku yang tertera dalam indikator; 3= sering konsisten; 2= mulai konsisten; dan 1= kurang konsisten. Dari lima indikator maka nilai 100 merupakan nilai tertinggi dengan skor maksimal 20. Instrumen ini praktis digunakan karena telah terdapat ketentuan penskoran dan rubrik penilaian. Selain itu dengan kalimat yang spesifik membuat instrumen mudah digunakan. Tampilan instrumen ini juga menarik, penyajiannya dengan tabel yang terstruktur dan tulisan maupun gambar jelas. Namun, persentase kelayakan dokumen penilaian sikap SMAN E termasuk rendah dari persentase kelayakan dokumen sekolah lain karena dalam instrumen penilaian sikap tidak terdapat KD yang berisi kompetensi sikap yang hendak dicapai dalam pembelajaran. Hal tersebut membuat acuan dalam penyusunan instrumen menjadi kurang jelas, karena instrumen yang disusun oleh guru harus mengacu dan sesuai dengan KI dan KD. Dalam hal ini, instrumen sikap harus mengacu pada KI-1 dan KI-2 untuk sikap spiritual dan sosial.
SMAN I juga memiliki dokumen dengan persentase kelayakan 95%. Persentase tersebut diperoleh karena instrumen penilaian sikap yang dimiliki guru dalam instrumen ini terdapat kriteria penilaian observasi antara lain kerja keras, teliti, jujur, tanggung jawab, rasa ingin tahu, kerjasama dan demokratis. Kriteria-kriteria tersebut sesuai dengan KD-2.1 yang terdapat dalam RPP yaitu berperilaku ilmiah: teliti, tekun, jujur terhadap data dan fakta, disiplin, tanggung jawab, dan peduli dalam observasi dan eksperimen, berani dan santun dalam mengajukan pertanyaan dan beragumentasi, peduli lingkungan, gotong royong, bekerjasama, cinta damai, berpendapat secara ilmiah dan kritis, responsif, dan proaktif dalam
setiap tindakan dan dalam melakukan pengamatan dan percobaan di dalam kelas/laboratorium maupun di luar kelas/laboratorium. Instrumen penilaian sikap yang digunakan guru berupa lembar pengamatan observasi yang cocok digunakan untuk menilai sikap dengan kriteria penskoran skala 1-4 (4 merupakan skor tertinggi). Selain lengkap, dokumen penilaian sikap SMAN I juga mudah dimengerti karena kalimatnya spesifik sehingga tidak membingungkan saat menggunakannya dengan penyajian yang terstruktur dan praktis digunakan. Tetapi untuk penampilan instrumen masih ada gambar yang kurang jelas dan menyebabkan kurang menarik.
Dokumen penilaian sikap yang dimiliki guru SMAN K memiliki persentase kelayakan sebesar 90%. Instrumen penilaian sikap ini digunakan saat pembelajaran berlangsung dengan skor 1-5 (1= jika peserta didik sangat kurang konsisten memperlihatkan perilaku yang tertera dalam indikator; 2= kurang konsisten; 3= mulai konsisten; 4= konsisten dan 5= selalu konsisten). Instrumen tersebut memiliki kriteria-kriteria pencapaian sikap disiplin, kerjasama, kejujuran, kepedulian dan tanggung jawab dalam pembelajaran yang relevan dengan KI-2 yakni mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli, santun ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam interaksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. Selain itu, instrumen tersebut juga relevan dengan KD-2.1 yaitu menuntut siswa untuk berperilaku ilmiah. Instrumen berupa skala sikap ini sesuai dengan ranah penilaian yang dituju dengan seluruh penulisan dan gambar yang jelas sehingga instrumen mudah dimengerti. Akan tetapi, rubrik penilaian dalam instrumen ini tidak ada, sehingga membuat instrumen menjadi kurang lengkap dan mengurangi kepraktisan dalam menggunakannya.
Persentase kelayakan setiap dokumen dari keempat sekolah termasuk layak digunakan. Jika dilihat dari setiap aspek penilaian untuk keempat dokumen, penulisan instrumen memperoleh nilai kelayakan tertinggi yang disebabkan dari segi bahasa, pengolahan kata dan kespesifikan kalimat keempat dokumen dari
keempat sekolah sangat baik. Dokumen penilaian sikap yang ditampilkan sudah baik, hanya saja beberapa penulisan atau gambar yang kurang jelas.
Konsep pembelajaran yang sama untuk instrumen penilaian sikap milik guru SMAN E dan SMAN K tidak membuat persentase kelayakan dokumen menjadi sama. Perbedaan persentase kelayakan kedua instrumen terjadi karena pada instrumen milik guru SMAN E tidak terdapat KD-2.1 yang menjadi acuan penilaian sikap seperti pada instrumen guru SMAN K. Sedangkan pada rubrik penilaian sikap dokumen SMAN E, terdapat aktifitas-aktifitas siswa yang perlu dinilai dan semestinya mengacu pada KD-2.1 tersebut. Hal tersebut menyebabkan persentase kelayakan dokumen penilaian SMAN E lebih rendah dari persentase kelayakan dokumen penilaian SMAN K.
Kekurangan-kekurangan instrumen yang dibuat guru terjadi karena memang dalam pembuatannya setiap guru hanya mengandalkan pengetahuan yang didapat dari pelatihan atau workshop yang diselenggarakan oleh pemerintah terkait implementasi kurikulum 2013. Selain dalam penyusunan instrumen, guru juga mendapat kendala dalam menggunakan instrumen penilaian sikap untuk menilai setiap siswa dalam pembelajaran. Hal tersebut dikarenakan guru dituntut mengamati apa yang dilakukan setiap siswa, apakah telah mencirikan indikator yang hendak dinilai atau belum. Beberapa guru mengatasinya dengan menggunakan satu instrumen penilian sikap untuk satu konsep, dimana satu konsep tersebut memiliki dua hingga tiga kali pertemuan. Setiap pertemuan guru dapat menilai atau mengamati sikap dari sepertiga jumlah siswa dalam kelas, maka dalam tiga kali pertemuan diperoleh nilai seluruh siswa bersamaan dengan tuntasnya satu konsep pembelajaran tertentu.
2. Dokumen Penilaian Pengetahuan
Dalam menilai pengetahuan siswa mengenai suatu konsep tertentu harus menyesuaikan tuntutan dari materi tersebut yang mengacu pada KI-3 untuk aspek pengetahuan. Untuk itu seorang guru dapat menggunakan berbagai jenis instumen yang sesuai, apakah dengan pilihan ganda, isian singkat atau uraian. Masing-masing jenis instrumen memiliki jangkauan pengetahuan siswa yang berbeda,
pengetahuan yang bersifat hafalan, pemahaman atau pengaplikasian. Guru SMAN C memiliki dokumen penilaian pengetahuan dengan persentase kelayakan yang tinggi yaitu 95%. Suatu instrumen akan sangat sesuai dengan ranah kompetensi yang ingin dicapai jika berpatokan pada KI, KD dan indikator pembelajaran. Instrumen guru SMAN C yang digunakan pada konsep virus ditampilkan dalam bentuk tabel yang memuat indikator pencapaian, teknik penilaian, ranah penilaian, bentuk instrumen, contoh instrumen, kunci jawaban dan skor. Indikator pencapaian yang terdiri dari empat indikator telah relevan dengan KD-3.3 (menerapkan pemahaman tentang virus berkaitan tentang ciri, replikasi, dan peran virus dalam aspek kesehatan manusia) dan KD-4.3 (menyajikan data tentang ciri, replikasi, dan peran virus dalam aspek kesehatan dalam bentuk model/charta). Bentuk instrumen yang digunakan dalam konsep virus ini yaitu pilihan ganda dan uraian. Pemilihan bentuk instrumen pilihan ganda sesuai dengan tiga indikator pencapaian yaitu indikator 3.3.3 mengidentifikasi ciri-ciri virus; indikator 3.3.4 menjelaskan replikasi virus secara teliti dan sistematis. Sedangkan instrumen bentuk uraian digunakan untuk indikator pencapaian 3.3.2 berdasarkan gambar yang disajikan peserta didik mampu menentukan bagian yang ditunjuk. Penskoran dari setiap indikator juga disesuaikan dengan tingkat pemahaman dan bentuk instrumennya, skor 2 untuk setiap pertanyaan dalam bentuk pilihan ganda dan skor 4 untuk setiap pertanyaan uraian. Teknik penilaian yang digunakan dalam materi virus ini dengan berbagai teknik yaitu tes tulis, tes lisan dan penugasan. Selain instrumen disesuaikan dengan KI, KD dan indikator, instrumen ditampilkan menarik dan mudah digunakan karena disajikan dengan terstruktur, tetapi gambar yang disajikan dengan petunjuk pertanyaan masih kurang jelas terlihat.
Dokumen penilaian pengetahuan yang dimiliki guru SMAN E pada konsep protista disajikan dalam bentuk uraian yang terdiri dari lima pertanyaan. Instrumen penilaian ini berdasarkan KI-3 yaitu memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, peradaban terkait
fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. Kompetensi Dasar yang menjadi acuan dalam instrumen ini yaitu KD-3.5 menerapkan prinsip klasifikasi untuk menggolongkan protista berdasarkan ciri-ciri umum kelas dan perannya dalam kehidupan melalui pengamatan secara teliti dan sistematis. Berdasarkan KD-3.5 maka dikembangkannya menjadi tiga indikator pembelajaran yang diantaranya mengidentifikasi ciri-ciri umum karakteristik, cara hidup, habitat dan perkembangbiakan dari kingdom protista; mengidentifiksi penggolongan kingdom protista berdasarkan ciri-ciri umum kelas dan perannya dalam kehidupan melalui pengamatan secara teliti dan sistematis; menjelaskan peranan kingdom protista dalam penyakit, industri dan kedokteran. Bentuk instrumen essai atau uraian dilengkapi dengan kunci jawaban yang jelas objektifitasnya. Instrumen penilaian pengetahuan milik guru SMAN E dituliskan dengan menggunakan kalimat spesifik.
Instrumen ini menjadi kurang praktis karena rubrik penilaian untuk setiap siswa tidak ditampilkan. Selain itu penskoran dan ketentuan penilaian disajikan hanya dengan simbol angka yang berada dalam kurung seperti (4), yang berarti skor yang diperoleh siswa empat. Ketika memberikan skor atau nilai menjadi sulit karena tidak terdapatnya rubrik penilaian dan membuat penilaian tidak objektif.
Dokumen penilaian pengetahuan milik guru SMAN I dengan konsep virus memperoleh persentase kelayakan sebesar 80%. Konten atau materi untuk instrumen penilaian pengetahuan ini telah sesuai dengan KI-3 dan KD-3.3 yaitu menerapkan pemahaman tentang virus berkaitan dengan ciri, replikasi, dan peran virus dalam aspek kesehatan masyarakat. Berdasarkan KD tersebut diperoleh lima indikator pencapaian. Indikator-indikator tersebut memuat ciri, cara replikasi, peran virus dalam kehidupan serta beberapa jenis penyakit yang disebabkan oleh virus dengan penanganan dan pencegahannya. Kelima indikator tersebut dijabarkan dalam lembar kerja siswa untuk mengamati daur hidup virus. Instrumen penilaian disajikan dalam bentuk tes tulis lima pilihan ganda dan empat essai. Penggunaan instrumen tes sudah sesuai dengan ranah pembelajaran yang hendak dicapai. Dalam penggunaan instrumen penilaian pengetahuan ini terdapat
kesulitan, yaitu dalam mengoreksi hasil kerja siswa, memberi skor siswa hingga mengubah skor menjadi nilai. Beberapa hal tersebut menyulitkan dalam menilai dan menjadikan instrumen tidak praktis untuk digunakan karena tidak lengkapnya unsur-unsur instrumen. Kendala dalam menggunakan instrumen penilaian terjadi karena instrumen tidak memuat keterangan penskoran, rubrik penilaian, serta tidak memuatnya kunci jawaban dan pedoman penskoran yang jelas. Oleh sebab itu, persentase kelayakan dokumen SMAN I memiliki selisih yang cukup jauh dengan persentase kelayakan dokumen SMAN C dalam konsep pembelajaran yang sama yaitu konsep virus.
Sama dengan dokumen milik guru SMAN I, dokumen penilaian pengetahuan milik guru SMAN K memperoleh persentase kelayakan sebesar 80%. Instrumen ini digunakan dalam konsep protista yakni dengan beracuan pada KI-3 dan KD-3.5 yaitu menerapkan prinsip klasifikasi untuk menggolongkan protista berdasarkan ciri-ciri umum kelas dan peranannya dalam kehidupan melalui pengamatan secara teliti dan sistematis. Dari KD tersebut didapat empat indikator pencapaian yang diantaranya mendiskusikan hasil pengamatan; mendiskusikan ciri umum protista mirip jamur, protista mirip alga, protista mirip hewan; membandingkan hasil pengamatan dengan gambar/charta/foto/film berbagai jenis organisasi golongan protista; dan membuat kesimpulan tentang ciri dan peran protista berdasarkan kajian literatur, hasil diskusi dan hasil pengamatan. Keempat indikator tersebut tertuang dalam instrumen penilaian yang berbentuk lembar percobaan yang dilakukan secara berkelompok. Dalam lembar percobaan juga memuat pertanyaan-pertanyaan sebagai tes tertulis dalam kegiatan pembelajaran. Pertanyaan tersebut berbentuk pertanyaan analisis terkait pengamatan yang dapat dijawab dengan berdiskusi dan pertanyaan berbentuk uraian.
Instrumen ini menjadi tidak mudah untuk digunakan, terutama dalam mengoreksi hasil kerja siswa dan mengolah skor yang didapat siswa. Selain itu, penyajian instrumen juga kurang menarik menjadikan instrumen kurang praktis digunakan. Kendala dalam menggunakan instrumen disebabkan tidak terdapatnya rubrik penilaian, petunjuk penskoran dan kunci jawaban yang jelas
objektifitasnya. Tampilan instrumen yang tidak terstruktur dan tidak tertata menjadikan instrumen tidak praktis digunakan. Jika dibandingkan, persentase kelayakan antara SMAN E dan SMAN K berselisih 15%. Karena dokumen penilaian SMAN E lebih lengkap dengan terdapatnya rubrik penilaian dan pedoman penskoran.
Dalam menilai pemahaman siswa dibutuhkan jenis instrumen yang sesuai dengan ranah pemahaman yang hendak dicapai, dan untuk menunjang hal tersebut penting pula menentukan jenis penilaian apa yang akan digunakan. Penentuan jenis penilaian dan ranah penilaian pengetahuan dapat ditentukan berdasarkan KI, KD dan indikator pencapaian sehingga setiap tujuan pembelajaran dapat tercapai. Dokumen penilaian SMAN C, SMAN E, SMAN I dan SMAN K telah berlandaskan pada KI dan KD yang sesuai, meskipun dengan indikator pencapaian yang tidak sama persis. Hal lain yang menjadi penting untuk memperoleh suatu nilai seorang siswa adalah ketentuan penskoran yang layak dan jelas, karena untuk memberikan nilai pada setiap siswa haruslah bersifat objektif. Maka suatu instrumen menjadi baik untuk digunakan jika ketentuan penskoran telah tercantum dalam instrumen penilaian.
Praktis tidaknya suatu instrumen penilaian memang termasuk relatif, tetapi jika instrumen telah disajikan terstruktur dengan pengolahan bahasa yang baik dan benar serta penyajian kalimat yang spesifik dan tidak menimbulkan penafsiran lain maka instrumen tersebut sudah praktis untuk digunakan.
3. Dokumen Penilaian Keterampilan
Kompetensi yang perlu dinilai oleh guru dalam pembelajaran tidak hanya sikap dan pengetahuan saja, akan tetapi keterampilan setiap siswa dalam berkomunikasi, berpendapat atau berdemonstrasi dalam kelas juga perlu diketahui oleh guru. Kemampuan siswa dalam hal keterampilan harus diketahui oleh guru karena terdapat dalam KI-4 yaitu mengolah, menalar, dan menyajikan dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan diri yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. Dengan demikian siswa dikatakan telah tuntas kompetensi
keterampilannya jika telah mampu mengolah, menalar dan menyajikan suatu data baik dalam ranah konkret atau abstrak. Oleh karena itu dibutuhkan suatu instrumen yang tepat dan mampu mengungkap kemampuan-kemampuan tersebut dengan berbagai bentuk instrumen yang menuntut siswa terampil.
Pada konsep virus, SMAN C dan SMAN I menggunakan instrumen penilaian kompetensi yang berbeda. Berdasarkan penilaian dari berbagai aspek, dokumen penilaian kompetensi milik guru biologi SMAN C mendapat persentase kelayakan yang tinggi yaitu sebesar 95% yang artinya hanya terdapat sedikit kekurangan pada aspek penilaian tertentu. Pada konsep virus, dokumen terdapat dua bentuk penilaian yaitu daftar cek untuk presentasi dan instrumen penilaian proyek pembuatan model/charta/poster virus. Berdasarkan KI-4 dan KD-4.3 (menyajikan data tentang ciri, replikasi, dan peran virus dalam aspek kesehatan dalam bentuk model/charta), maka disusunlah instrumen penilaian projek. Dari KD tersebut dibuatlah dua indikator pencapaian yaitu (1) menyajikan data tentang replikasi virus dalam bentuk model/charta dan (2) menyajikan data tentang peran virus dalam aspek kesehatan dalam bentuk artikel/tabel. Penilaian keterampilan presentasi merupakan indikator pencapaian pertama, yang disajikan dalam instrumen berupa daftar cek dengan tujuh aspek yang dinilai. Bentuk penilaian lain agar KD-4.3 tercapai, guru menggunakan penilaian projek. Projek tersebut berupa model atau replika dari bentuk virus yang disertai dengan laporan.
Maka instrumen yang dibuat guru telah sesuai dengan KD-4.3 berupa penyajian model dan penyajian data tentang virus dalam bentuk laporan. Instrumen penilaian projek ini termasuk kategori lengkap, karena memuat rubrik penilaian yang disajikan dalam bentuk tabel dengan aspek penilaian mulai dari perencanaan, produk dan laporan. Dalam memberikan skor hingga didapat nilai, petunjuknya tertera dalam tabel skor dengan mengacu pada kriteria-kriteria penilaian. Penampilan rubrik penilaian dan petunjuk penilaian yang jelas dengan penyajiannya yang terstruktur membuat instrumen mudah digunakan. Namun, instrumen yang ditampilkan, tepatnya pada rubrik penilaian proyek terdapat beberapa tulisan yang kurang tepat peletakannya yakni pada kolom nilai yang
kurang sejajar dengan keterangannya, sehingga dikhawatirkan terjadi kesalahan dalam memberi nilai.
Guru SMAN E menggunakan suatu metode penilaian untuk mengetahui keterampilan siswa melalui instrumen penilaian projek. Kemampuan siswa untuk memahami dan kreatifitas siswa mengenai suatu materi dapat diketahui dengan penilaian projek. Berdasarkan KI-4, siswa juga dituntut menyajikan ranah konkret dan abstrak dan melalui penilaian projek siswa diminta guru untuk menyajikan ranah konkret berupa bahan persentasi dan laporan percobaan, sehingga instrumen yang digunakan telah tepat atau sesuai antara jenis instrumen sesuai ranah penilaian. Instrumen penilaian disajikan dalam check list dengan tiga aspek utama yaitu perencanaan, pelaksanaan dan laporan projek. Masing-masing aspek memiliki beberapa indikator yang dapat dianalisis melalui lima rentang skor. Instrumen ini telah disajikan rubrik penskoran dengan bahasa indonesia baik dan benar serta dilengkapi petunjuk lain mengenai kapan digunakannya instrumen tersebut. Suatu instrumen praktis digunakan apabila tersedia petunjuk dan keterangan pengisian, tetapi pada instrumen penilaian projek milik guru SMAN E tidak dilengkapi dengan keterangan penskoran atau kriteria-kriteria perolehan skor 1-5. Oleh karena itu, dalam menentukan skor projek yang dibuat setiap siswa menjadi tidak objektif dan menyebabkan instrumen memiliki kriteria penskoran yang tidak layak.
Instrumen penilaian keterampilan SMAN I dalam bentuk tabel yang berisi kriteria penilaian observasi dan kriteria penilaian produk. Tabel tersebut berisi kolom kriteria penilaian, nama siswa, skor dan nilai, yang ditampilkan secara terstruktur. Tabel 4.5 telah menunjukkan bahwa dokumen penilaian keterampilan SMAN I memiliki persentase yang terendah karena hanya pada aspek kelengkapan unsur instrumen saja yang memperoleh skor 5. Hal tersebut menunjukkan instrumen yang dibuat guru SMAN I telah lengkap dengan memuat KI, KD dan indikator pencapaian keterampilan siswa, rubrik penilaian dan petunjuk penskoran yang jelas objektifitasnya. Penyusunan instrumen tentunya disesuaikan dengan KI, KD dan indikator. KD-4.3 siswa dituntut menyajikan data tentang ciri, replikasi, dan peran virus dalam aspek kesehatan dalam bentuk
model/charta. KD tersebut kemudian dikembangkan menjadi dua indikator yaitu