• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS DATA

C. Pembahasan temuan

71

72

ketentuan Undang-undang yang ada. Sebagaimana yang telah di atur batasan minimal sesorang bisa melaksanakan pernikahan berumur sekurang-kurangnya 16 tahun, dan laki-laki sekurang-kurangnya 19 tahun hal ini terdapat di dalam impress presiden No 1 tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam di dalam pasal 15 ayat (1).

Sedangkan menurut hukum islam tidak ditentukan secara jelas tentang batasan minimal usia dalam perkawinan. Dalam hukum islam sesorang dikatakan baligh (kedewasaan), laki-laki disebut dewasa di tandai dengan mimpi basah sedangkan perempuan dengan menstruasi. Ketika seseorang mencapai usia baligh maka sudah mulai dibebani atau ditaklifi dengan beberapa hukum syara’.

Dari hasil wawancara dan observasi di lapangan bahwasanya mereka sebenarnya enggan mau menerima untuk menikah karena mereka merasa belum siap mereka mau untuk dinikahkan karena takut durhaka dan factor ekonomi dari orang tua, meskipun sebenarnya sebagaian mereka tidak ada rasa sayang dan cinta. Berbeda dengan keterangan lain, dia mau menerima karena adanya kekerasan dalam pemaksaan tersebut yang dilakuka oleh ayahnya.

Pemaksaan seperti ini termasuk ikrah yang dijelaskan dalam bab sebelumnya.Ikrah dapat dikatakan sebagai pemaksaan kehendak dalam menentukan pilihan dengan adanya suatu ancaman yang membahayakan jiwa atau tubuhnya. Dalam pandangan fuqoha, pemaksaan suatu ikroh menyebabkan ketidakabsahan suatu pernikahan. Wahbah Az-zuhaili,

73

dengan mengutip pendapat para ulama madzab fiqih, mengatakan tidak sah perkawinan dua orang calon mempelai tanpa kerelaan mereka berdua.

Jika salah satunya dipaksa secara ikroh dengan suatu ancaman misalnya memukul, membunuh, atau memenjarakan , maka akad pernikahan tersebut menjadi fasad (rusak).

Sementara dari hasil keterangan dari pihak orang tua mereka menjodohkan dengan yang sederajat(sekufu) dan memaksa untuk menikah mereka karena demi kebaikan mereka (kafa’ah). Selain alasan untuk kebaikan anak ternyata dalam praktik yang dilakukan orang tua juga di dasari dengan persoalan ekonomi dan budaya. Yang mayoritas pekerjaan dari orang tua mereka adalah seorang petani, selain itu masyarakat sekitar masih menjaga kearifan budaya lokal dari nenek moyang mereka yang beranggapan bahwasanya perempuan kalau tidak menikah di usia muda maka mereka nantinya akan nikah dengan orang tua bahkan tidak akan laku sampai tua, seperti halnya apa yang dikatakan.

Dari semua pernikahan dibawah umur karena paksaan ini tanpa semuanya tanpa adanya pencatatan di Kantor Urusan Agama karena umur mereka yang belum mencapai dari ketentuan undang-undang yang berlaku.

Dari kasus ijbar di atas menurut pandangan peneliti meskipun ijbar nikah dilakukan karena untuk kebaikan sang anak. Idealnya, pernikahan itu dilaksanakan oleh laki-laki dengan perempuan yang masing-masing sudah berumur dewasa Siap secara mental maupun fisik.

74

2. Dampak ijbar nikah anak di bawah umur di Desa Harjomulyo Kecamtan Silo Kabupaten jember

Setelah perkawinan paksa benar-benar terjadi, perempuan dalam hal ini istri menjadi korban utama dalam persoalan ini. Meningat dari awal terjadinya prnikaan dilakukan tidak dengan rasa suka sama suka ataurasa kasih sayang melainkan karena paksaan dari orang tua. Seperti halnya yang di jelaskna pada bab sebelumnya tentang bagaimana imlpikasi yang nantinya akan di alami oleh pihak yang mendapat paksaan dari orang tua, yaitu yang berdampak pada psikologis, ketergantungan ekonomi, dan implikasi sosial. Konsekuensi psikologis muncul saat pertama kali pada saat perjodohan yang tidak di inginkan dilangsungkan oleh orang tua. Saat perempuan dijodahkan dengan laki-laki yang tidak ia kehendaki mulailah timbul pertentangan dalam batinya. Seperti perasaan kaget, marah ingin menolak, takut, dan was-was.

Seperti yang ditemukan peneliti dalam penelitian ini, dampak tentang adanya ijbar nikah (paksaan nikah) yang di alami berdampak terhadap psikologis, sosial dan kelangsungan pernikahan mereka.

Perempuan yang mengalami paksaan menikah, mereka merasakan kecemasan, kebingungan, merasa tidak siap ketika di hadapkan kepada persoalan pernikahan perasaan seperti ini dirasakan mulai pertama di mintai izin, sampai dengan masuk awal-awal pernikahan.

Sebagaimana telah di jelaskan dalam bab sebelumnya tentang dasar perkawinan dalam salah satu firman Allah SWT:

75











































Artinya: “Diantara tanda-tanda kekuasan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isterimu dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasakan tentram kepadanya, dan di jadikannya diantara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”.

Ayat diatas menunjukan mengenai tujuan perkawinan, yang berarti persoalan tujuan perkawinan juga menjadi lingkup pembahasan hukum islam. Tujuan yang benar dalam perkawinan sesuai dengan hukum islam dapat memberikan pengaruh yang besar dalam kehidupan, kebahagiaan dan kelangsungan rumah tangga suami-isteri. Apabila dalam rumah tangga tidak terwujud rasa kasih sayang antara suami dan isteri maka berarti tujuan rumah tangga tidak sempurna kalau tidak dapat dikatakan telah gagal.

Menurut peneliti dampak-dampak seperti ini harus dipertimbangan besar sebelum perkawinan berlangsung dari kesiapan mental maupun fisik dari seorang calon pasangan.Perkawinan yang baik seharusnya didasari oleh sikap mau sama mau, suka sama suka dan saling pengertian diantara laki-laki dan seutuhnya menjadi dasar hidup berumah tangga, perasaan cinta kasih setiap pasangan akan meminimalisir terjadinya konflik perselisihan dalam rumah tangga,sesuai dengan tujuan pernikahan membentuk keluarga yang sakinah mawaddah dan warohmah.

76

3. Tinjaun hukum islam terhadap praktik ijbar nikah di bawah umur di Desa Harjomulyo

Dari penelitian observasi dan wawancara tentang bagaimana praktik ijbar nikah di bawah umur ternyata masih berlaku dan masih ada di kalangangan masyarakat Harjomulyo kecamatan Silo Kabupaten Jember.

Tentang masalah ijbar ini tidak lepas dari peranan orang tua yang dalam hal ini di miliki oleh seorang wali mujbir (sesorang wali yang memiliki hak untuk menikahkan perempuan yang diwalikan tanpa menanyakan pendapat mereka). Sesuai dengan pendapat kalangan imam madzhab yang sepakat bahwa Ayah merupakan pemilik hak ijbar.

Praktik ijbar nikah yang terjadi di Desa harjomulyo terhadap mereka, pernikahan terjadi karena dorongan dari paksaan ayah. Peniliti berpendapat hal ini sesuai dengan pendapat para imam madzab tentang siapa yang memiliki hak memaksa anaknya untuk menikah yakni ayah.

Mengenai mereka yang di kenai wilayah ijbar padahal usia mereka masih kecil, disini sesuai dengan pendapat Imam syafi’I bapak di beri hak menikahkan anaknya yang perawan dengan tidak meminta izin anak terlebih dahulu. Yaitu dengan orang yang dipandangnya baik(sekufu).

Kecuali anak yang sayib (bukan perawan lagi), tidak boleh dinikahkan kecuali dengan izinnya. Sama halnya dengan pandangan menurut madzhab maliki selama masih gadis, dapat di tetapkan wilayah ijbar dari ayahnya meskipun telah menjadi gadis tua.

77

Sedangkan untuk persetujuannya adalah diamnya, sesuai dalam praktinya mereka yang ketika dimintai persetujuan mereka diam, meskipun diamnya karena ada rasa ketidak relaan, hadistNabi:

َو اَهِسافَن ىِف ُنَذااَتاسُت ُراكِبالا َو اَهِ يِل َو انِم اَهِسافَنِب َّقَحَا ُمَّي َ الَْا هُتاَمَص اَهُناذِا

Artinya: “janda itu lebih berhak kepada dirinya dari pada walinya, dan gadis itu dimintai izinnya untuk pernikahanya dan tanda izinya adalah diamnya”.

اَه ْوُبَأ اَهُجِّ وَزُي ُرْكِّبلا َو اَهِّ يِّلو ْنِّم اَهِّسْفَنِّب ُّقَحَأ ُبِّ يَثلا .

Artinya: “perempuan janda lebih berhak terhadap dirinya dari pada walinya,sedangkan anak perawan dikawinkan oleh bapaknya.

ْت َرَكَذَف م لسو هيلع الله ى لص الله لوسر ْتَتَا ًارْكِّب ًةيراَج َّنَا ٍسا بَع ِّنْبا ِّنَع .م لسو هيلع الله ى لص ُّيِّبَّنلا اَهَرَّيَخَف ٌةَه ِّراَك َيِّه َو اَهَج َّوَز اَهاَبَا َّنَا

Dari ibnu abbas. Ia berkata, “sesungguhnya seorang perawan telah mengadukan halnya kepada Rasulullah Saw. Bahwa ia telah dinikahkan oleh bapaknya dan tidak menyukainya. Maka nabi saw. Memberi kesempatan kepada perawan itu untuk meneruskan atau membatalkan pernikahan itu”.( riwayat Ahmad abu dawud Ibnu Majah dan daruqutni)

Hadist di atas menjelaskan bahwa para wali mempunyai hak atas orang-orang yang ada dibawah perwalianya, dan untuk anak gadis diamnya adalah tanda izinya. Serta Rasulullah memberikan kesempatan memilih kepada perawan itu, hal ini menunjukan bahwa pernikahan yang dilakukan bapaknya itu sah sebab Nabi saw tidak Menjelaskan bahwa pernikahan itu tidak sah atau beliau menyuruh menikah dengan laki-laki lain. Mengenai masalah umur pernikhan sesuai dengan hukum islam yang

78

ada bahwa islam tidak engatur secara jelas umur sesorang bisa melangsungkan pernikahan. Batas usia terletak pada kesiapan sesorang di bebani hukum (taklif), sehingga secara islam pernikahan yang dialami mereka yang usianya belum mencapai ketentuan dalam syarat pernikahan yang terdapat di dalam Pasal 15 Kompilasi hukum islam maupun Undang- undang perkawinan sudah sesuai dalam pandangan islam. Mengenai kebolehan memaksa anak untuk menikah,sesuai dengan pendapat Imam sayfi’I memperbolehkan adanya peksaan nikah dengan berbagai macam syarat:

a. Jangan sampai ada permusuhan yang jelas kelihatan Antara dia dengan anak perempuaanya.

b. Dia dikawinkan dengan orang yang setara dengannya, disini sudah sesuai dengan apa yang terjadi dilapangan bahwasanya para orang tua beralasan mereka menikahkan buah hatinya karena mempertimbangkan masa depan anaknya.

c. Dikawinkan dengan mahar mitsil

d. Suami jangan sampai yang sulit untuk memeberi mahar.

e. Jangan sampai dikawinkan dengan orang yang sulit untuk hidup dengannya, misalnya orang buta dan orang yang telah tuna netra.

f. Jangan sampai anak perempuan ini orang yang diwajibkan untuk melaksanakana haji, karena haji adalah Ibadah yang dilaksanakan dalam jangka waktu yang panjang.

79

Mengenai pernikahan paksa atau ijbar nikah juga dijelaskan dalam pasal 16 sampai dengan 17 yang di dalamnya menjelaskan tentang pernikahan yang harus didasarkan atas persetujuan calon mempelai,dan apabila perkawinan tidak di setujui oleh salah seorang mempelai maka perkawinan tidak dapat dilakukan. Akan tetapi dalam poin berikutnya juga di jelaskan bahwasanya bentuk persetujuan berupa pernyataan tegas dan nyata baik dengan tulisan maupun lisan atau dengan isyarat berupa diam dalam arti selama tidak ada penolakan yang tegas. Sesuai dengan beberapa literatur yang sudah di bahas dalam bab sebelumnya dan juga dilihat dari keterangan responden bahwasanya mereka tidak memberikan penolakan yang jelas mereka hanya diam ketika dimintai persetujuan maka sudah sesuai dengan syarat dibolehkannya suatu ijbar ditetapkan kepada mempelai pernikahan.

Sesuai dengan hasil keterangan berikutnya bahwa pernikahan yang dialami mereka mau menerima paksaan nikah oleh ayahnya karena mendapat kekerasan, disini mengakibatkan ikrah atau rusaknya pernikahan. Ikrah dapat dikatakan sebagai pemaksaan kehendak dalam menentukan pilihan dengan adanya suatu ancaman yang membahayakan jiwa atau tubuhnya. Dalam pandangan fuqoha, pemaksaan suatu ikroh menyebabkan ketidak absahan suatu pernikahan. Wahbah Az-zuhaili, dengan mengutip pendapat para ulama madzab fiqih, mengatakan tidak sah perkawinan dua orang calon mempelai tanpa kerelaan mereka berdua.

Jika salah satunya dipaksa secara ikroh dengan suatu ancaman misalnya

80

memukul, membunuh, atau memenjarakan, maka akad pernikahan tersebut menjadi fasad (rusak).

Dari semua hasil pemaparan diatas peneliti berpendapat disini sesuai dengan hasil keterangan dan tinjauan Hukum islam tentang bagaimana tinjuan hukum islam mengenai praktik ijbar nikah yang terjadi kepada sudah sesuai dengan ajaran islam meskipun ada unsur keterpaksaan namun syarat paksaan nikah dan pernikahan sudah terpenuhi dengan adanya mahar saksi dan wali nikah.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan penyajian data dan hasil analisa data, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Praktik ijbar nikah yang terjadi di Desa Harjomulyo terjadi karena paksaan dari orang tua (ayah), adanya faktor perjodohan (kafa’ah) dari orang tua, faktor ekonomi, dan budaya yang menyebabkan mereka menikahkan anaknya di usia yang belum cukup umur.

pernikan yang dilakukan tanpa adanya pencatatan dikantor Urusan Agama. Dan alasan mereka menerima perjodohan diam mau menerima karena ada perasaan takut dikataan sebagai anak durhaka. Paksaan dengan kekerasan dialami oleh ulvi menyebabakan fasad nya akad pernikahan.

2. Dampak tentang adanya ijbar nikah Di Desa harjomulyo, berdampak bagi psikologi dan kelangsungan pernikahan mereka.

Perempuan yang mengalami paksaan menikah, mereka merasakan kecemasan, kebingungan, merasa tidak siap ketika dihadapkan pada persoalan pernikahan. Perasaan seperti ini di rasakan mulai dari pertama dengar adanya perjodohan ketika di mintai izin, sampai dengan masuk awal-awal pernikaan. Bahkan ijbar nikah berdampak sampai dengan berakhirnya pernikahan atau sebuah percereraian.

81

82

3. Tinjauan Hukum Islam mengenai praktik ijbar nikah di Desa Harjomulyo, sesuai dengan praktik yang ada di sana ijbar nikah dilakukan oleh orang tua (ayah). Mengenai praktik ijbar nikah yang terjadi di Desa Harjomulyo Kecamtan Silo sudah sesuai dengan ajaran islam meskipun ada unsur keterpaksaan namun syarat paksaan nikah dan pernikahnya sah. Sedangkan untuk pernikahan yang di dalamnya terdapat ikrah paksaan dengan kekerasan. Mengakibatkan akad pernikahan menjadi fasad (rusak).

B. Saran

1. Bagi pelaku kawin Paksa

Dalam hal ini perempuan yang menjadi praktik kawan paksa haruslah tegas bisa memberikan pendapatnya mengenai paksaan untuk menikah, dengan mempertimbangkan persasaan maupun kesiapan mentalnya,agar lebir berani mengutarakan apa yang menjadi keinginanya, apakah mau menerima paksaan yang di berikan orang tua apa tidak.

2. Bagi masyarakat Desa Harjomulyo

Meskipun ijbar nikah dilakukan karena untuk kebaikan sang anak seharusnya orang tua juga memperhatikan psikologi, kesiapan mental sang anak, sesuai dengan usia anak dan kemauan anak untuk membina rumah tangga. Alangkah baiknya pernikahan itu dilaksanakan oleh laki-laki dengan perempuan yang masing-masing sudah berumur dewasa. Dan seharusnya Perkawinan yang

83

baik seharusnya didasari oleh sikap mau sama mau, suka sama suka dan saling pengertian diantara laki-laki dan seutuhnya menjadi dasar hidup berumah tangga, perasaan cinta kasih setiap pasangan akan meminimalisir terjadinya konflik perselisihan dalam rumah tangga , sesuai dengan tujuan pernikahan membentuk keluarga yang sakinah mawaddah dan warohmah.

3. Bagi pemerintah setempat

Pemerintah setempat baik dari pihak KUA dan Pemerintah Desa, harusnya juga ikut andil dalam masalah ini. Dengan memberikan sosialisasi tentang nikah dan pra nikah, sehingga dengan adanya sosialisasi semacam ini memberikan pemahaman orang tua mengenai dampak-dampak yang nantinya akan timbul setelah adanya pernikahan, sehingga harapan kedepan pernikahan dibawah umur khususnya karena paksaan orang tua bias berkurang di Desa tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Alam syamsul Andi, 2005. Usia Ideal Memasuki Dunia perkawinan( sebuah ikhtiar mewujudkan keluarga sakinah.Jakarta:kencana Mas Publising House

.

Ali al-syurbaji,Musthofa al-Khann, Musthofa al Bugha,2008. Fiqih manhaj jilid 1 terj.Kitab Fiqih Lengkap Imam asy-syafi’i. Yogyakarta:Darul Uswah.

Aminudin dan Abidin Slamet, 1999.Fiqih Munakahat 1..Bandung:Cv Pustaka Setia.

Arikunto Suharsini, 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek Adisi Revisi V. Jakarta:Rineka Cipta.

Az-Zuhaili Wahbah, 2011.fiqih islam wa adillatuhu, terj. Abdul Hayyi Al-Kattan.Jakarta: Gema.

Busriyanti, 2013. Fiqih munakahat.Jember:STAIN Press.

Depag RI, 1990.Al Qur’an dan terjemahanya. Semarang: Toha Putra

Hakim Rahmat, 2000.Hukum Perkawinan Islam. Bandung:Cv. Pustaka Setia.

Huberman dan Miles, 2002.Metode Penelitian Kulitatif. Jakarta:Gramedia.

Huda Miftahul, 2009.Kawin Paksa(Ijbar Nikah dan Hak-hak Reproduksi Perempuan). Ponorogo:STAIN Ponorogo Press.

Isnandar, 2004.Fiqih Ham dalam perkawinan:Cv Fauzan inti kreasi.

Mardani, 2008. Kejahatan Pencurian dalam Hukum Pidana.Jakarta:In Hill co.

Margono, 2002. Metodologi Penilitian Pendidikan.Bandung:CV Pustaka.

Moeloeng Lexy, 2013. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:CV. Pustaka.

Moh.Salomon,Moh.Rifai, 1978.Terjemahan Khuslasah Kifayatul Akhyar.Semarang:Toha Putra.

STAIN.2013.Pedoman Karya Tulis Ilmiah. Jember: stain Jember Press.

Mundir,2013. Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif.Jember:STAIN Jember Press.

84

85

Muchtar Kamal.1974. Asas-asas Hukum Islam Tentang Pernikahan.Jakarta:Bulan Bintang.

________Munakahat.Bandung:Cv Pustaka Setia.

Rahmat Hakim, 2002.Hukum Perkawinan Islam.cv Pustaka setia Bandar.

Rasjid Sulaiman, 2013.Fiqih Islam(Hukum Fiqih Lengkap).Bandung:Sinar Baru Algensindo.

Riduwan, 2010.belajar Mudah Penelitian untuk guru-karyawan dan peneliti pemula Bandung:Alfabeta.

Saebani Ahmad Beni, 2013.Fiqih Munakahat.Bandung:Cv pustaka Setia.

Satria Efendi M Zein,2008. Ushul Fiqih.Jakarta:Kencana.

Sekertariat Negara RI,Undang-undang No 7 tahun 1994 tentang perkawinan.

Sekertariatan Negara RI. Kompilasi Hukum Islam.2013:Unsul Huda.

Soimin Soedaharyo.2003.Kitab Undang-undang Hukum perdata.Jakarta:Cv Sinar Grafika.

Sugiono, 2013. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.Bandung:Alfabeta.

Yanggo Huzaemah Tahidyo, 2004. Fiqih anak.Jakarta:PT.Almawarti Prima.

http://andibooks.worpress.com//definisi anak.

http://hizbut tahrir.or.id/2008/menggugat definisi anak.

www.suwarnatha.byethost13.com/web_documen/definisi.pdf.

http:/kbbi.web.id.

http//dedekuswoyo.worpress.com/2009/11/04hak memilih pasangan nikah.

BIOGRAFI PENULIS

Nama : Ahmad Zaki Mubarok Auton

Tempat / Tanggal / Lahir : 03 September 1994 Nim : 083121026

Alamat : Dsn. Mangunsari, Ds. Mbatembat, Kecamatan Pace Kabupaten Nganjuk RIWAYAT PENDIDIKAN

1. TK PERTIWI : 1999-2000

2. SDN JAMPES II : 2000-2006

3. SMPN 1 BERBEK : 2006-2009

4. SMAN 1 LOCERET : 2009-2012

5. INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER (IAIN JEMBER): 2012-2016

Dokumen terkait