• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS

C. Pembahasan Temuan

Berdasarkan dari hasil observasi, wawancara, dokumentasi serta analisa data yang telah dilaksanakan dan sesuai dengan fokus penelitian, maka peneliti akan menjelaskan masalah-masalah yang ditemukan selama penelitian di Desa Jetis Kecamatan Curahdami Kabupaten Bondowoso

1. Implementasi tradisi Pakbereng

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia menyebutkan arti dari implementsi yaitu pelaksanaan dan penerapan. Sebuah perilaku atau pelaksanaan rancangan yang telah disusun secara sistematis dan rinci (matang). Sedangkan arti dari tradisi ialah adat kebiasaan yang sudah

68Ibu Wahyu,Diwawancarai oleh Robby Suganda, Jetis, 17 Oktober 2022

dilakukan secara turun temurun (dari nenek moyang) dan masih dilakukan dalam masyarakat. Tradisi bisa juga disebut dengan Urf yaitu sesuatu yang dikenal dalam arti adat kebiasaan dan sudah berlangsung dengan terus menerus di tengah masyarakat.

Tradisi Pakbereng merupakan tradisi seserahan dimana seorang laki-laki membawa barang perabotan rumah tangga atau dapat dikatakan dengan istilah seserahan harta yang dibawa seorang suami kepada istri.

Tradisi ini termasuk tradisi yang telah turun temurun sehingga menjadi kebiassan untuk masyarakat Desa Jetis, Kecamatan Curahdami, kabupaten Bondowoso apabila akan menggelar pernikahan.

Sebuah tradisi mucul dari kecondongan suatu kelompok orang baik itu perilaku maupun ucapan tertentu karena kebiasaan dan pengaruh struktur sosial serta lingkungan baik bersifat alamiah maupun normatif seperti agama, doktrin, kepercayaan,. Karena faktor kepercayaan mereka melaksanakannya secara berulang sehingga menjadikan sebuah kebiasaan dan akan diikuti oleh orang-orang di sekitarnya. Pengertian ini selaras dengan tradisi Pakbereng yang terjadi di Desa Jetis Kecamatan Curahdami Kabupaten Bondowoso ada faktor terbentuknya tradisi yaitu faktor kepercayaan, jadi kepercayaan itulah yang menjadi sebab tradisi atau kebiasaan itu dilakukan sampai saat ini.

a. Macam-macam Urf

Urf fi’li adalah kebiasaan yang berlaku didalam perilaku, teori ini relevan dengan tradisi Pakbereng yang merupakan perbuatan atau kegiatan di Desa Jetis dan sudah turun temurun dari nenek moyang b. Dari segi ruang lingkup penggunaannya

Adat atau Urf khusus adalah kebiasaan yang digunakan oleh suatu kelompok individu pada suatu tempat tertentu atau pada waktu tertentu.Hal ini relevan dengan tradisi Pakbereng yang hanya ada di Desa Jetis Kecamatan Curhadami Kabupaten Bondowoso.

2. Implikasi Tradisi Pakbereng Dalam Membentuk Keluarga Sakinah Kata sakinah secara sederhana dapat diartikan sebagai kedamaian.

Pada Dengan adanya tradisi Pakbereng tersebut kebanyakan calon suami keberatan dengan apa yang wajib dibawa saat akan melakukan pernikahan akan tetapi banyak calon suami yang berusaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan menurut ayat-ayat al-Qur’an (QS. Baqarah/ 2:248; QS. At-Taubah/9:26 dan 40; QS. Al-Fath/48: 4, 18, dan 26), sakinah atau kedamaian ini datang dari Allah pada dalam hati para nabi serta orang-orang yang beriman supaya memiliki sifat tabah dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi rintangan apapun.

Maka dari itu menurut arti kata sakinah yang terdapat pada ayat-ayat tersebut, dapat disimpulkan arti sakinah dalam keluarga dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang tetap tenang meskipun menghadapi banyak permasalahan yang dijalani oleh calon suami.

Tradisi Pakbereng di Desa Jetis menjadi kebiasaan yang wajib dilakukan sebelum calon suami hendak menikahi calon istrinya sebagai bentuk rasa cinta dan kasih sayang calon suami untuk masa depannya. Dan kebanyakan calon suami menyanggupi apa yang telah ditentukan oleh pihak istri untuk masa depannya untuk menghindari dari sesuatu hal yang tidak di inginkan dan tradisi tersebut sebagai langkah awal sebuah pernikahan sebagai bentuk keseriusan yang jangka panjang untuk membentuk keluarga yang sakinah/harmonis

Tradisi Pakbereng ini masih dilakukan karena merupakan bentuk tanggung jawab calon suami kepada calon istri bahwa dia sudah siap untuk menikah, selain itu juga sebagai bentuk pembuktian bahwa suami telah melaksanakan kewajiban seorang suami dengan memberikan barang-barang tersebut. Hal ini sesuai dengan teori faktor terbentuknya keluarga sakinah yaitu 1) mengetahui hak dan kewajiban suami kepada istri serta kewajiban istri kepada suami seperti menjadikan suami yang memiliki tanggung jawab kepada calon istrinya. 2) mengerti akan hak istri kepada suami serta kewajiban suami kepada istri, seperti mendapatkan mahar, mendapatkan perhatian dan pemenuhan kebutuhan lahir dan batin, mendapatkan perlakuan baik, lembut dan penuh kasih sayang.69

Ada dua implikasi/dampak dari tradisi Pakbereng yang terjadi di Desa Jetis Kecamatan Curahadami Kabupaten Bondowoso ialah dampak positif dan dampak negatif.

69Yunita, Faktor-Faktor Pembentukan Keluarga Sakinah, diakses pada 31 Juni 2022,

http://psikologisukanitha.blogspot.co.id/2011/09/faktor-faktor-pembentukankeluarga.html?m1

a. Implikasi/dampak positif dari tradisi Pakbereng adalah:

1) Sebagai bentuk tanggung jawab seorang sumai terhadap istri dalam keseriusan untuk menikah

2) Dengan tradisi Pakbereng membuat keluarga menjadi tenang, aman, tentram dan damai

3) Tradisi Pakbereng merupakan salah satu bentuk nafkah seorang suami

4) Pakbereng adalah salah satu bentuk rasa kepuasan seorang istri ketika suami mampu membawa barang tersebut.

b. Implikasi/dampak negatif dari tradisi Pakbereng adalah:

1) Tradisi Pakbereng apabila calon suami tidak membawa Pakbereng tersebut maka akan timbul permasalahan seperti mendapatkan pembicaraan yang tidak enak oleh masyarakat terhadap pasangan yang baru menikah terutama calon suami.

2) Pakbereng dapat menjadi sebuah beban bagi seorang suami terutama yang perekomoniannya menengah ke bawah beban moral atau menjadi perbincangan dikalangan masyarakat sekitar. Hal itu yang menyebabkan suasana dalam keluarga yang tidak nyaman sehingga memicu ketidak harmonisan antara suami istri.

Dalam perspektif hukum islam ditinjau dari baik dan buruk Urf termasuk dalam Urf Sahih. Urf sahih ialah Urf yang berlangsung secara berulang dan diterima oleh masyarakat, tidak berlawanan dengan

norma agama, sopan santun dan budaya yang luhur.70 Syarat-syarat dari Urf Sahih yaitu:

1) Tidak berlawanan dengan Nash dan Qoth’i. Jika dilihat dari pelaksanaan dari tradisi Pakbereng di Desa Jetis tidak bertentangan dengan Al-Qur’an yang qoth’i hal ini disebabkan hukum untuk pelaksaan ini tidak disebut di dalam Al-Qur’an.

2) Dilakukan secara umum dan menyeluruh pada kalangan individu yang berada di lingkungan tersebut.

3) Sudah dilakukan pada saat itu dan bukan yang muncul kemudian.71 Sehingga tidak adanya pertentangan dari tradisi Pakbereng dengan syarat-syarat Urf sahih dan tradisi Pakbereng diperbolehkan dalam melakukannya.

Untuk menanggapi berbagai macam tradisi yang terdapat pada masyarakat ada sebuah kaidah fiqih yang menjadi tolak ukur dasar yang disetujui oleh ulama’ fiqih untuk menanggapi kedua katageri tersebut sebagai berikut:

عاضبلَا فِو ,نذلَاو تحابلاا تاداعلا فِو ,فيقوتلاو عنلما تادابعلا فِ لصلااو عنلما لاوملَا فِو ,يمرحتلا

Artinya: hukum asal dalam ibadah dilarang dan pengajaran langsung (alqur’an dan Hadist). Hukum asal tradisi adalah boleh dan idzin. Sedang hukum asal kemaluan adalah haram. Hukum asal harta yang terlarang adalah terlarang.

70Jaih Mubarok, Kaidah Fiqh sejarah dan Kaidah-Kaidah Asasi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persida, 2002), 17.

71Amir Syarifuddin. Ushul Fiqh,(jakarta: Kencana, 2011), 425

Arti dari kaidah fiqih diatas yaitu pada sebuah masalah ibadah kita tidak boleh membuat sendiri tanpa adanya dasar Al-Qur’an dan hadist. Serta tidak diperbolehkan untuk mengurangi ataupun menambahi ibadah yang telah ditentukan. Sedangkan tradisi dasar hukumnya yaitu boleh serta dimaafkan. Maksudnya manusia diberi kebebasan oleh islam untuk berinovasi serta berkreasi pada uatu kebiasaan dan hal ini diperbolehkan asalkan di dalamnya tidak terdapat unsur yang berlawanan dengan syariah. Ini relevan dengan tradisi Pakbereng yang terjadi di Desa Jetis yaitu tradisi pernikahan yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat selama tidak berkaitan dengan masalah ibadah dan tidak berlawanan dengan prinsip syariat (tidak ada nash yang dilanggar) adalah boleh saja dilakukan (ibahah).

Terkadang adat yang sudah dilaksanakan pada suatu kalanganan tidak atas dasar kebutuhan, para individu melakukan tradisi dikarenakan tradisi tersebut merupakan warisan dari generasi sebelumnya, seperti yang dilakukan dalam kepercayaan umat jahiliyah dahulu. Allah SWT berfirman dalam surat Az-Zuhkruf ayat 22:

َنْوُدَتْهُّم ْمِهِرٰثٰا ىٰلَع اَّنِاَّو ًٍ َّمُا ىٰلَع اَنَءۤاَبٰا اَنْدَجَو اَّنِا اْوُلاَق ْلَب

Artinya: Bahkan mereka berkata: “sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka.

Banyaknya tradisi pernikahan yang terjadi di masyarakat indonesia membuat perkawinan tidak hanya menjadi suatu ikatan antara seorang laki-laki dan perempuan sebagai suami istri tetapi

pernikahan suami istri bermaksud untuk mendapatkan keturunan dan membangun serta membina kehidupan keluarga rumah tangga. Seperti hal nya tradisi Pakbereng yang terjadi di Desa Jetis yang sudah menjadi kebiasaan jaman dulu sampai saat ini karena mereka yakini dan sebagai bentuk awal keserius dalam berumah tangga. Berdasarkan tradisi atau adat perkawinan juga berarti hubungan hukum yang berkaitan dengansemua anggota saudara dari pihak istri dan pihak suami. Dengan terlaksananya perkawinan maka akan berlaku sebuah ikatan kekerabatan untuk dapat saling membantu serta menunjang tali persaudaraan yang rukun dan damai.

63 BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN

Dari hasil penelitian yang dilakukan di lapangan dan mengacu pada hasil observasi, wawancara, dokumentasi dan analisis data yang telah dilaksanakan serta mengacu pada fokus penelitian, sehingga peneliti akan menjelaskan penemuan masalah selama penelitian tradisi Pakbereng di Desa Jetis Kecamatan Curahdami Kabupaten Bondowoso. Berikut kesimpulan dari hasil penelitian dengan judul “ Implementasi Tradisi Pakbereng dalam membentuk keluarga sakinah prespektif hukum islam di Desa Jetis Kecamatan Curahdami Kabupaten Bondowoso”

1. Tradisi Pakbereng yang terjadi di Desa Jetis Kecamatan Curahdami merupakan tradisi yang sudah menadarah daging serta turun temurun dari zaman dahulu sampai saat ini dan sudah menjadi kebiasaan di Desa tersebut sebelum hendak melakukan pernikahan. Tradisi Pakbereng merupakan tradisi seserahan dimana seorang laki laki yang akan melakukan pernikahan membawa harta bawaan atau dapat dikatakan dengan seserahan harta yang akan dibawa calon suami kepada calon istri.

Dalam istilah masyarakat Desa Jetis Pakbereng diartikan dengan empat barang dan barang itu diartikan dengan seisi rumah seperti lemari, meja, kursi, dan tempat tidur

2. Tradisi Pakbereng ini memiliki Implikasi/dampak positif dan negatif terhadap masyarakat. Dampak positif yang dirasakan adalah sebagai

bentuk tanggung jawab seorang suami terhadap istri dalam keseriusan untuk menikah, dengan tradisi Pakbereng membuat keluarga menjadi tenang, aman tentram dan damai, tradisi Pakbereng merupakan salah satu bentuk kepuasan bagi seorang istri ketika suami mampu membawa Pakbereng tersebut. Sedangkan Implikasi/dampak negatif yang dirasakan adalah tradisi Pakbereng apabila calon suami tidak membawa Pakbereng tersebut maka akan terjadi sebuah pembicaraan dari kalangan masyarakat terhadap pasangan suami istri terutama calon suami, Pakbereng dapat dikatakan salah satu beban bagi seorang suami terutama yang perekomoniannya menengah ke bawah beban moral atau menjadi perbincangan dikalangan masyarakat sekitar. Hal itu yang menyababkan suasana yang tidak nyaman dalam keluarga serta memicu terjadinya ketidakharmonisan dalam keluarga.

3. Perspektif Hukum islam terhadap tradisi Pakbereng di Desa Jetis Kecamatan Curahadami Kabupaten Bondowoso dilihat dari segi baik dan buruk Urf termasuk Urf sahih. Adapun syarat dari Urf sahih adalah tidak bertentangan dengan Nash dan Qot’i, berlaku umum dan merata dikalangan orang yang berada dilingkungan tersebut dan telah ada pada saat itu dan bukan muncuk kemudian sehingga tidak adanya pertentangan tradisi Pakbereng yang terjadi di Desa Jetis dengan syarat-syarat Urf Sahih dan tradisi Pakbereng diperbolehkan dalam melakukannya.

B. SARAN

Dari hasil penelitian ini maka peneliti akan memaparkan saran-saran yang diharapkan akan memberikan manfaat untuk semua pihak khususnya masyarakat desa Jetis Kecamatan Curahdami Kabupaten Bondowoso. saran saran tersebut yaitu:

1. Tradisi Pakbereng di Desa Jetis memang sudah menjadi kebiasaan dan menjadi keharusan untuk membawa barang bawaan saat pernikahan akan tetapi sebaiknya tradisi ini tidak dijadikan keharusan melihat perekonomian masyarakat disana tidak sama.

2. Seharusnya pihak keluarga juga melihat kondisi calon suaminya dikhawatirkan ekonominya rendah jadi pernikahan tetap dilakukan tetapi barang barang berupa lemari, meja kursi dan tempat tidur nanti diusahakan setelah pernikahan. Disamping meringankan fikiran dan beban calon suami juga meringankan pihak keluarga calon suami.

66

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Abdul, Abdul Hayy, Pengantar Ushul Fikih. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, 2014.

Abd.Rahman Dahlan, Ushul Fiqh. Jakarta: AMZAH, 2014.

Ahmad Rafi Baihqi, Membangun Surga Rumah Tangga. Surabaya: Gita Media Press, 2016.

Ahmad Azhar Basyir, dan Fauzi Rahman, Keluarga Sakinah Keluarga Syurgawi.

Yogyakarta: Titan Illahi Press, 1994.

Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh. Jakarta: Kencana, 2011.

Burhan Bungin, Metodologi Penelitian KualitatiF. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007.

Cholid Narbuko, dkk, Metodelogi Penelitian. Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2010.

D.A Pakihsati, Panduan Lengkap Pernikahan(Fiqih Munakahat Terkini).

Yogyakarta:Bening, 2011.

Dedi Junaedi, Bimbingan Perkawinan, Membina Keluarga Sakinah Al-Quran dan As Sunnah. Jakarta: Akapress, 2022.

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama,2008.

Hasan Basri, Keluarga Sakinah: Tinjauan Psikologi dan Agama. Yogyakarta:

Pustaka Pelajar, 1995.

Hilam Kusuma, Hukum Perkawinan Adat. Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1995.

Jaih Mubarok, Kaidah Fiqh sejarah dan Kaidah-Kaidah Asasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persida, 2002.

Kanwil Departemen Agama Provinsi Riau, Pedoman Gerakan Keluarga Sakinah.

Pekanbaru: Proyek Pembinaan Keluarga Sakinah, 2004.

Khoiruddin Nasution, Hukum Perkawinan 1. Yogyakarta: Tazzafa, 2005.

Kutbudin Aibak, Metodelogi Pembaruan Hukum Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008.

Lexy J, Moelong, Metodologi Penulisan Kualitatif Edisi Revisi. Bandung: Remaja Rosda Karya, 2007.

M, Djamal, Paradigma Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015.

Machrus, Adi,. Fondasi Keluarga Sakinah. Jakarta: Subdit Bina Keluarga Sakinah, 2017.

Muhammad Abu Zahra, Ushul Fiqh. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000.

Nursyam, Madzhab Antropolo. Jogjakarta: LKIS, 2007.

Satria Efendi, dan M. Zein, Ushul Fiqh. Jakarta: Kencana, 2009.

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:

Alfabeta, 2017.

Suharismi Aeikunto, prosedur penelitian suatu pendekatan Praktek. Jakarta:

Rikena Cipta, 2022), 126

Sahmini Zaini, Membina Rumah Tangga Bahagia. Jakarta: Kalamulia, 2004.

Universitas Islam Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember. Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah. Jember: UIN Jember 2021.

Skripsi

Ali Firdaus, “Tradisi Perkawinan masyarakat Kendal Serrut Kecamatan Pangkah Kabupaten Teggal dan Relevansinya Terhadap Maslahah Mursalah” UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2018.

Carles Ari Sonta, “Tradisi Lenguai Perspektif Urf(Studi Terhadap Kebiasaan Masyarakat Karang Tinggi Dalam Menyelenggarakan Upacara Lamaran”UIN Fatmawati Sukarno, Bengkulu, 2022.

Dwi Pujianti, “Konstruksi Sosial Tradisi Lamaran Ndudut Mantu pada Masyarakat Desa Centini Lamongan”Universitas Airlangga, Surabaya, 2017 Evi Sofia, Agus Moh. Najib, Membengun Keluarga Sakinah dan Maslahah,(PSW

UIN Kalijaga, Yogyakarta, 2016.

Masyakuratus Syarifah, dkk, “Tradisi Bhen Ghiben (Seserahan) dalam Perniakahan (Studi Kasus di Desa Bakeong Kecamatan Gulug Gulug Kabupaten Madura), IAI Nazhtut Thullab, Sampang, 2019.

Muchammad Shofiel Muhtar,” Tradisi Seserahan Adat Jawa Dalam Perspektif Dalil Urf di Desa Cabeankunti, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali”

IAIN Surakarta, Surakarta 2019.

Nuri Intovia, Wahyuningtias”Pandangan Masyarakat Terhadap Tradisi Pakbereng dan Implementasinya dalam Membentuk Keluarga Sakinah (Studi Kasus di Desa Kejawan Kecamatan Grujugan Kabupaten Bondowoso) UIN Malik Ibrahim Malang 2016.

Website

Abdul Djamal, Peraturan Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Di akses tanggal 1 juni 2022.

Yunita, “Faktor Faktor Pembentukan Keluarga Sakinah”, di Akses Pada 31 Juni

2022http://psikologisukanitha.blogspot.co.id/2011/09/faktor-faktor-pembentukankeluarga.html?m1.

PEDOMAN WAWANCARA

1. Siapa nama Bapak/Ibu ? 2. Usia Bapak/Ibu berapa ?

3. Apakah bapak/ ibu penduduk asli Desa Jetis Kecamatan Curahdami Kabupaten Bondowoso ?

4. Bapak/ ibu sudah berapa lama tinggal di Desa Jetis Kecamatan Curahdami Kabupaten Bondowoso ?

5. Apa yang dimaksud dengan Tradisi Pakbereng ?

6. Sejak kapan tradisi Pakbereng dilaksanakan di Desa Jetis ?

7. Bagaimana proses terjadinya tradisi Pakbereng di Desa Jetis Kecamatan Curahdami Kabupaten Bondowoso ?

8. Mengapa Tradisi Pakbereng dilakukan sampai saat ini ?

9. Apakah pihak laki-laki diharuskan membawa Pakbereng tersebut?

10. Bagaimana jika tidak membawa Pakbereng ?

11. Apa dampak bagi pihak laki-laki jika tidak membawa Pakbereng tersebut?

12. Apabila laki-laki membawa seorang istri, apakah perlu dilakukan tradisi pakbereng?

13. Bagaimana pandangan Hukum islam terkait dengan tradisi Pakbereng yang terjadi di Desa Jetis Kecamatan Curahdami Kabupaten Bondowoso ?

DOKUMENTASI PENELITIAN DI DESA JETIS KECAMATAN CURAHDAMI KABUPATEN BONDOWOSO

1. Dokumentasi Pakbereng Di Desa Jetis Kecamatan Curahdami Kab.

Bondowoso

2. Proses Penyerahan Pakbereng di Desa Jetis Kecamatan Curahdami Kab.

Bondowoso

Dokumen terkait