BAB IV. TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
Pada pembahasan ini penulis akan menjelaskan kesenjangan antara teori yang ada dengan praktik yang dilakukan dilahan. Dalam menjelaskan kesenjangan tersebut penulis menggunakan langkah-langkah dalam manajemen kebidanan yaitu pengkajian, interpretasi data, diagnosa potensial, antisipasi, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
Tujuan dari pembahasan ini adalah untuk dapat mengambil kesimpulan dan pemecahan masalah dari kesenjangan yang ada, sehingga dapat digunakan sebagai tindakan lanjut dalam penerapan asuhan kebidanan yang tepat, efektif dan efisien khususnya pada akseptor KB IUD Copper T 380 A dengan ErosiPortio
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah ini penulis melaksanakan pengkajian untuk dapat mendapatkan data subjektif melalui anamnesa
(wawancara) kepada pasien, selain itu penulis juga melaksanakan pemeriksaan pada pasien untuk mendapatkan data objektif. Pada saat anamnesa diperoleh dari data subjektif yaitu ibu mengatakan mengeluarkan flek darah yang berwarna kecoklatan dan keputihan sejak 3 hari yang lalu. Sedangkan pada data objektif dilakukan pemeriksaan umum antara lain : Keadaan umum : baik, kesadaran : composmentis, tekanan darah: 120 /80mmHg, Respirasi: 22 x/menit, Suhu : 37 ºC, Nadi : 82 x/menit. Palpasi: tidak ada benjolan pada perut bagianbawah,
pemeriksaan dalam dan inspekulo dinding vagina tidak ada benjolan, portio tampak berwarna merah menyala khususnya disekitar mulut rahim dan tampak benang IUD .
Menurut Santoso ( 2008) diagnosa erosi portio adalah adanya perdarahan diluar haid, pendarahan post coitus, keluar flek darah berwarna kecoklatan, dan keputihan yang tidak kunjung sembuh.
Pada langkah iniditemukan kesenjanganantara teori dengan kasus karena dalam pemeriksaan laboratorium yaitu pemeriksaan pap smear dilakukan di teori, tetapi di BPS Kiran Klaten tidak dilakukan pemeriksaan pap smear
2. Interpretasi Data
Data yang telah dikumpulkan diinterprestasikan menurut diagnosa kebidanan, masalah dan kebutuhan.Pada langkah ini dapat ditegakkan diagnosa kebidanan yaitu pada Ny.E umur 29 tahun Akseptor KB IUD Tipe Copper T 380 A dengan Erosi Portio. Masalah yang timbul pada Ny. E adalah merasa cemas dan tidak nyaman karena keluarnya keputihan dan flek darah berwarna kecoklatan. Dari masalah yang timbul maka kebutuhan yang dapat diberikan yaitu menjelaskan tentang kebersihan ( vulvahygene) dan beri dukungan moril.
Menurut Santoso (2008) masalah yang sering ditemukan pada Akseptor KB IUD Tipe Copper T 380 A dengan Erosi Portioyaitu adanya keputihan yang tidak kunjung sembuh, gangguan rasa tidak nyaman dalam melakukan hubungan seksual dan perdarahan diluar haid. Menurut
Hartanto (2003) kebutuhan yangt diperlukan oleh Akseptor KB IUD tipe Copper T 380 A dengan erosi portio antara lain penjelasan tentang efek samping dan komplikasi dari pemakaian KB IUD Tipe Copper T 380A.
dan menurut Santoso (2008) adalah penjelasan tentang kebersihan (Vulva Hygene). Pada langkah ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus.
3. Diagnosa Potensial
Menurut Santoso (2008) diagnosa potential pada kasus Akseptor KB IUD dengan Erosi Portio adalah infeksi.Pada kasus Ny.E tidak terjadi Diagnosa potensial karena dapat ditangani dengan baik sehingga tidak terjadiinfeksi.
4. Antisipasi
Pada kasus Ny. E dengan erosi portio antisipasi yang dilakukan adalah berkolaborasi dengan dr, SPOG untuk memberikan terapi metronidazol dan asam mefenamat 3 x 500mg selama 3 hari.
Menurut Depkes RI (2002) Akeptor KB IUD Tipe CopperT 380 A dengan erosi portio tindakan yang dilakukan bidan adalah dengan memberikan amphicilin tiap 6 jam dan metronidazol 3x 500 mg dan asam mafenamat atau paracetamol 3 x 500 mg selama 3 hari.Pada langkah ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dengan kasus.
5. Rencana Tindakan
Perencanaan yang dibuat pada Ny. E adalah menjelaskan pada Ibu tentang efek samping dan komplikasi pada KB IUD, menjelaskan pada ibu
tentang erosi portio, memberi KIE tentang Vulva Hygine, memberikan KIE tentang hubungan seksual, memberikan terapi Albothyl konsentrasi 36% yang dioleskan pada luka erosi disekitar mulut rahim, dideep ± 5 menit. memberi terapi obat dan informasikan cara minum obat, anjurkan pada ibu untuk kontrol secara teratur.
Menurut Santoso (2008) rencana tindakan yang dilakukan pada Akseptor KB IIUD dengan erosi portio adalah menjelaskan tentang efek samping dan komplikasi dari pemakaian KB IUD, menjelaskan sebab terjadinya,memberikan informasi vulva hygene dari hubungan seksual memberikan terapi Albothyl konsentrasi36% yang dioleskan pada luka erosi. Amphicilin atau metronidazol 3 x 500 mg diberikan selama 3 – 5 hari, analgetik untuk mengurangi rasa nyeri antalgin atau paracetamol 3x 500mg selama 3 hari, anjurkan untuk kontrol ulang 3 hari sekali sampai erosi sembuh.
Pada langkah ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus.
6. Implementasi
Pada langkah ini penulis melaksanakan tindakan yang telah direncanakan pada klien yaitu memberikan KIE tentang efek samping dan komplikasi KB IUD, menjelaskan pada ibu tentang erosi portio, memberikan KIE tentang vulva hygene, memberikan KIE tentang hubungan seksual, beri terapi Albothyl konsentrasi 36% yang dioleskan pada luka erosi disekitar mulut rahim dideep ± 5 menit, beri terapi
obatasam mafenamat 3 x 500mg dan metronidazol 3x 500 mg selama 3 hari, informasikan cara minum obat, anjurkan pada ibu untuk kontrol secara teratur.
Di dalam teori implementasi merupakan pelaksanaaan dari asuhan yang telah direncanakan secara efisien dan aman.Pada kasus ini keterlibatan bidan dalam menejemen asuhan pasien adalah tetap bertanggung jawab terhadap pelaksanaan asuhan bersama yang menyeluruh (varney, 2004). Pelaksanaan asuhan kebidanan pada Akseptror KB IUD Tipe CopperT 380 A dengan erosi portio sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat.
Pada langkah ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus.
7. Evaluasi
Pada langkah ini dilakukan evaluasi sebagai proses akhir dari asuhan untuk mengetahui keefektifan dari asuhan yang telah diberikan.
Setelah dilakukan asuhan kebidanan selama 6 Hari Mulai tanggal 18 Agustus 2012 sampai dengan tanggal 23 Agustus 2012 Ny. E Umur 29 tahun dengan erosi portio di BPS Kiran Klaten, maka hasil asuhan yang didapat yaitu erosi sembuh, ibu mengerti dan bersedia menjaga kebersihan genetalia, IUD tetap dipakai, Ibu bersedia kontrol ulang secara rutin.
Menurut Hartanto, (2003). evaluasi asuhan kebidanan pada Akseptor KB IUD dengan erosi portio adalah ibu mengerti tentang efek
samping dan komplikasi KB IUD, erosi dapat disembuhkan, ibu bersedia menjaga kebersihan (vuva hygene) dan IUD tetap dipakai.
Dengandemikian ditemukan kesenjangan antara teori dengan kasus karena kurangnya faktor kebersihan pada pasien.
66 PENUTUP
Setelah penulis melakukan asuhan kebidanan pada Ny.X Akseptor KB IUD Copper T 380 A dengan Erosi Portio di BPS Kiran Klaten, maka penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan dan saran untuk meningkatkan asuhan kebidanan khususnya untuk Akseptor KB IUD Erosi Portio.
A. Kesimpulan
Setelah dilaksanakan Asuhan Kebidanan pada Akseptor KB IUD Copper T 380 A dengan Erosi Portio secara menyeluruh dengan menggunakan manajemen kebidanan menurut Varney, maka penulis dapat menyimpulkan:
1. Pada pengkajian Akseptor KB IUD dengan Erosi Portio didapatkan data subyektif dan obyektif. Data subyektif diperoleh dari hasil wawancara pasien, dimana keluhan utama adalah pada kemaluanya keluar keputihan dan flek berwarna kecoklatan sejak 3 hari yang lalu, sedangkan data obyektif diperoleh dari hasil pemeriksaan fisik yaitu: keadaan umum Baik, Tekanan darah: 120/80 mmHg, Nadi: 84 x/menit, Respirasi: 24 x/menit, Suhu: 37 ºCBB: 55 kg, TB: 160 cm.
Pada pemeriksaan inspekulo didapatkan portio berwarna merah menyala dan sekitar mulut rahim terdapat erosi.
2. Pada interprestasi data didapatkan diagnosa pada asuhan kebidanan Ny. E Akseptor KB IUD Tipe Copper T 380 A dengan Erosi Portio adalah ibu merasa cemas dan tidak nyaman karena keluar keputihan dan flek darah
berwarna kecoklatan. Dari masalah yang timbul maka kebutuhan yang diberikan yaitu suport mental, menjelaskan efek samping dan komplikasi KB IUD, menjelaskan tentang kebersihan (vulva higyene).
3. Pada kasus erosi portio tidak ditemukan diagnose potensia berupa infeksi karena tidak ada yang mengarah kepada hal tersebut.
4. Pada kasus erosi portio perencanaan yang penulis buat adalah memberi KIE tentang efek samping dan komplikasi KB IUD, jelaskan pada ibu tentang erosi portio, jaga kebersihan personal hygiene khusunya daerah genetalia, hindari hubungan seksual selama pengobatan, dan memberikan terapi alborthyl konsentrasi 36% di deep ± 5menit. memberikan terapi obat asam mefenamat dan metronidazol 3 x 500mg selama 3 hari.
5. Hasil evaluasi pada Ny. E erosi dapat disembuhkan setelah 8 hari ibu mengerti dan mampu melaksanakan pendidikan kesehatan tentang vulva hygyne, ibu tetap memakai alat kontrasepsi IUD dan ibu bersedia kontrol ulang secara rutin.
6. Dalam pemberian Asuhan Ny. E dengan erosi portio tidak ada kesenjangan antara teori dengan praktik.
B.Saran
1. Bagi Tenaga Kesehatan
Disarankan hendaknya bidan selalu meningkatkan ketrampilan, kemampuan dan menambah, ilmu pengetahuan melalui pendidikan formal / mengikuti seminar pelatihan, sehingga dapat memberikan asuhan kebidanan pada akseptor KB IUD dengan erosi portio secara lebih baik.
2. Bagi BPS
Diharapkan BPS dapat meningkatkan mutu pelayanan, terutama dalam memberikan Asuha Kebidanan kepada Akseptor KB IUD dengan Erosi Portio
3. Bagi Akseptor KB IUD ( klien )
Pada Akseptor KB IUD untuk tetap menjaga kebersihan diri khususnya daerah genetalia, control secara rutin dan apabila ada keluhan segera datang ketenaga kesehatan.
4. Bagi pendidikan
Diharapkan KaryaTulis Ilmiah ini bisa bermanfaat untuk referensi dan tidak ditemukan kesenjangan antara teori dengan praktik dan diharapkan dapat dijadikan sebagai referensi bagi institusi pendidikan.