• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

5 PEMBAHASAN UMUM

Penelitian ini di lakukan di kawasan rawa di Kalimantan Selatan yaitu wilayah Kecamatan Danau Panggang dan Kecamatan Labuan Amas. Berdasarkan jumlah curah hujan wilayah ini termasuk kedalam klasifikasi type iklim B (basah) menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson. Menurut klasifikasi Oldemen termasuk tipe iklim C2. Yaitu bulan basah berturut-turut selama 4.67 bulan, yaitu mulai bulan Nopember hingga maret, sedangkan bulan kering berturut-turut selama 3.13 bulan, yaitu mulai bulan Juli hingga Oktober. Rataan curah hujan tahunan sebesar 2 484 mm dengan jumlah hari hujan 109.67 hari (BPS 2013). Fluktuasi level air berpengaruh besar terhadap tumbuhan rawa, ketersediaan nutrisi sangat baik pada pasang kecil yaitu terjadi secara harian (1-2 kali sehari) sejumlah unsur tertentu terlarut lebih banyak pada waktu air pasang terutama tersedianya unsur nitrogen, sedangkan pada pasang besar hanya terjadi sekali setahun (flood water phase) rumput rawa kurang tersedia, kecuali spesies adaptif (Rachman et al., 2010). Level air tanah merupakan faktor utama yang sangat penting karena membetuk 70-90% (Fitter & Hay 2002) dari bobot segar tumbuhan, (Kramer & Boyer 1995) 80 – 95% dari bobot segar tanaman, sedangkan Taiz & Zeiger (2002) kandungan air pada tanaman yang sedang tumbuh sebesar 35-75%.

Pada penelitian ini diidentifikasi 18 spesies hijauan rawa yang tumbuh pada musim pasang dan musim surut. Umumnya pada beberapa spesies hijauan rawa terjadi penurunan keragaman vegetasi akibat pergantian musim, 3 spesies

tidak tumbuh pada musim pasang yaitu tanaman Jajagungan (Brahiaria

plantaginea), Rumput Ginting (Cynodon dactylon (L) Pers) dan Banta (Lersia hexandra), sedangkan pada saat musim surut tidak tumbuh tanaman Supan-supan

(Neptunia oleracea Lour), Jungkut Berang (Echinochloa crass-galli), Kumpai Miang

(Hymenachne interrupia Buese) dan Dadangsit (Ludwigia adscendens (L). H. Hara). Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua tumbuhan rawa dapat tumbuh pada kedua musim yang berbeda. Hasil penelitian ini senada dengan Pielou (1999) bahwa pengaruh iklim dapat menyebabkan keanekaragaman spesies yang tinggi dan pola penyebaran tanaman.

Penurunan produksi biomasa (hijauan) dari musim pasang ke musim surut sebesar 30%. Penurunan produksi ini akan menyebabkan penurunan kapasitas tampung, dan penurunan kualitas. Kandungan serat kasar menjadi lebih tinggi sehingga kecernaan juga akan menurun. Hijauan yang tinggi produktivitas seperti kumpai juga mengalami penurunan pada saat musim surut, oleh karena itu perlu strategi dalam pengawetan hijauan pakan seperti pada penelitian ini yang bermanfaat pada musim surut.

Air sebagai faktor pembatas proses fotosintesa, air dibutuhkan untuk donor elektron dalam pembentukan ATP dan ADPH. Dalam proses ini air akan dipecah menjadi 2H+ dan gas oksigen (O2) sehingga dihasilkan ATP dan NADPH.

Setelah energi terbentuk berupa ATP dan NADPH akan digunakan sebagai sumber energi untuk membentuk pembentukan karbohidrat melalui siklus calvin. Dimana pada kondisi kekurangan air mengakibatkan penutupan stomata sehingga menghambat proses masuknya CO2 ke dalam daun, dapat menurunkan laju fotosintesa. Penurunan laju fotosintesa akan menurunkan hasil fotosintesa berupa karbohidrat (Taiz & Zeiger 2002)

44

Kualitas suatu hijauan pakan tidak konstan, ada perubahan - perubahan yang terjadi disebabkan oleh beberapa faktor antara lain: kesuburan tanah, keadaan cuaca dan keadaan persedian air umur tanaman. Pada musim surut pertumbuhan tanaman akan mengalami hambatan, sehingga akan menyebabkan penurunan kualitas dan cepat tua (Whitehead 2000). Umur tanaman merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi nilai nutrisi, dan pada umumya kadar protein akan turun sesuai dengan meningkatnya umur tanaman, kadar serat kasar

akan mengalami peningkatan (Susetyo 1980). Secara umum kandungan nutrien

hijauan pada musim pasang kualitas nutrisi lebih tinggi dibandingkan dengan musim surut (Tabel 2.2 dan 2.3).

Penurunan kandungan protein kasar pada musim surut yaitu Kumpai Batu (Ischaemum polystachyum. J. Presl) pada musim pasang memberikan kandungan protein sebesar 14.36% sedangkan pada musim surut hanya 12.60%, Kumpai Minyak (Hymeneche amplexicaulis Haes) PK 10.88% menjadi 9.37%, Beberasan (Polygonum barbatum L) PK 16.45% menjadi 14.10%, dan Pipisangan (Ludwigia hyssopifolia) PK 15.92% menjadi 13.52%, begitu juga pada hijauan lainnya. Hal ini disebabkan adanya luapan air pasang yang membawa bahan- bahan organik yang dapat meningkatkan kandungan nutrien hijauan, sedangkan pada musim surut kadar tanah rawa mengalami penurunan pH menjadi 3.9-4.8 sehingga menyebabkan ketersediaan unsur hara makro menurun, akibatnya serapan mineral juga menurun yang menyebabkan kualitas nutrien menurun. Bila tanah dalam keadaan asam mineral phospor tidak tersedia karena kelarutan Al untuk metabolieme energi, sehingga tanaman tidak mendapat suplai hara yang optimal, selain itu ketersediaan air bagi hijauan rawa merupakan faktor yang sangat penting, karena air terlibat dalam proses penyerapan unsur hara, fotosintesis, respirasi, serta pembentukan dan translokasi karbohidrat.

Hijauan rawa ini memiliki kandungan fraksi serat yang terdiri dari NDF, ADF, selulosa, hemiselulosa dan lignin pada hijauan rawa yang tumbuh pada musim pasang memberikan kandungan NDF berkisar antara 26.62 -70.95%, ADF berkisar antara 20.89 -58.47%, sedangkan pada musim surut kandungan NDF berkisar antara 52.72 – 88.12%, ADF berkisar antara 29.00 – 76.72%, hasil tertinggi kandungan ADF pada rumput Jungkut Berang (Echinochloa crass-galli) sebesar 70.95% sedangkan pada musim surut pada hijauan Babatungan (Persicaria barbata (L) H, Hara) yaitu sebesar 88.12%. Hasil penelitian ini tidak jauh berbeda dengan Fahriani (1996) menyatakan bahwa kandungan ADF dan NDF pada beberapa hijauan rawa kandungan NDF berkisar antara 66.30 - 72.30%, ADF berkisar antara 38.03 -41.07%. Sedangkan rumput tropika memiliki kandungan NDF berkisar antara 45-85% dan ADF 21-55% (Minson 1990) .

Kandungan NDF dan ADF pada hijauan rawa dipengaruhi oleh musim, pada saat keadaan surut dimana tanaman kekurangan air akan menyebabkan menjadi tua sehingga kandungan serat kasar menjadi lebih tinggi, sehingga berpengaruh terhadap komponen serat, hal ini sesuai dengan pendapat Susetyo (1980) bahwa Kandungan fraksi serat suatu tanaman dipengaruhi oleh spesies tanaman, iklim, kesuburan tanah, dan manajemen. Menurut Hendriks & Zaeman (2009) bahwa kandungan NDF dan ADF dipengaruhi oleh faktor genetis, spesies hijauan dan faktor lingkungan yaitu tanah dan iklim, sedangkan menurut Jones & Wilson (1996) kandungan struktural setiap komponen serat yang terdapat pada

45

tanaman berbeda tergantung pada kemampuan tanaman memetabolisme nutrisi. Menurut Tillman et al. (1999) komponen fraksi serat dipegaruhi jumlah kandungan serat tanaman dan kesuburan tanah dimana tanaman itu tumbuh. Kualitas dan kuantitas dari rumput dipengaruhi oleh suhu dan curah hujan (Reksohadiprodjo 1985). Kandungan ADF dan NDF hijauan rawa ini masih dalam area batas normal rumput tropika

Estimasi Kapasitas tampung merupakan gambaran kemampuan suatu lahan untuk menampung sejumlah ternak dalam satuam luas tertentu. Kapasitas tampung hijauan rawa sebagai sumber pakan ternak dihitung berdasarkan asumsi kebutuhan bahan kering satu (1) Satuan Ternak adalah 6.25 kg BK/hari (NRC 2006). Jika diasumsikan berdasarkan curah hujan maka lama musim pasang, peralihan dan musim surut berturut-turut adalah 5, 4 dan 3 bulan, interval pemotongan pada musim pasang, peralihan dan kemarau masing-masing 40 hari,

30 dan 50 hari hari sekali. “proper use factor” (puf) 40 – 60% ( Purnomo 2006). Secara umum apabila satu wilayah rawa diasumsikan satu komoditas dimana ternak mampu menjelajahi ke seluruhan lokasi, maka dengan produksi biomasa 12 394,27 kg BK ha-1 tahun-1 dan puf sebesar 68% maka dihasilkan kapasitas tampung pada musim pasang sebesar 2.85 ST /ha. Kecamatan Labuan Amas utara seluas 6 629 ha mampu menyediakan pakan sebanyak 82 161,61 Ton/thn sehingga mampu mendukung sebanyak 18 892,65 ST sepanjang tahun. Kecamatan Danau Panggang yang memiliki luas rawa seluas 15 920 ha mampu menyediakan hijauan 188 495.15 Ton/thn sehingga mampu mendukung 45.372 ST per tahun.

Populasi ternak ruminansia di Kabupaten Hulu Sungai Tengah adalah 15 208, 25 ST pada tahun 2012, peningkatan populasi sebesar 14.25%/tahun (Dinas Peternakan Propinsi Kalsel 2013). Dengan demikian proyeksi populasi pada tahun 2014 sebesar 17 375,42 ST. Bila diasumsikan terkonsentrasi di gembalakan di lahan rawa, dengan demikian dapat meningkatkan populasi ternak sebesar 27 997 ST. Hal ini bisa dicapai apabila kelebihan dari produksi hijauan rawa pada musim pasang dan peralihan ini diawetkan untuk persediaan musim surut sehingga kebutuhan ternak akan terpenuhi sepanjang tahunnya.

Kebutuhan ternak distandarkan dengan kebutuhan zat makanan sapi pedaging pada umur, bobot hidup dan pertambahan bobot hidup yang relatif sama (Purnomo 2006). Dengan kadar protein hijauan 10.88%, konsumsi pakan sebesar 6.25 kg BK/hari mampu memberikan 68 g protein kasar kepada ternak. Diharapkan dengan konsumsi protein tersebut, ternak akan tumbuh dengan kecepatan pertambahan bobot badan sebesar 0.25 – 0.50 kg/ekor/hari. Kebutuhan energi dalam bentuk TDN 4.9 kg/hari bahwa dengan kadar TDN hijauan sebesar 58.53% baru dapat menyediakan 3.65 kg/hari, hal ini berarti rumput rawa belum mencukupi kebutuhan energi ternak, sehingga dalam pemberian pada ternak perlu ditambahkan limbah pertanian yang banyak mengandung energi. Limbah pertanian yang banyak dan melimpah dikawasan rawa ini adalah limbah sagu sehingga dapat digunakan sebagai pakan tambahan sumber energi bagi ternak.

Indeks Nilai Penting (INP) atau important value index adalah komposisi keragaman jenis berdasarkan penguasaan vegetasi pada suatu lahan. Komposisi vegetasi pada lahan rawa pada musim pasang didominasi oleh Hymeneche amplexicaulis Haes sebesar 37.52%, Polygonum barbatum L. 35.16%, Ludwigia hyssopifolia 34.82% dan Ischaemum polystachyum. J. Presl 34.22%. Nilai INP

46

pada musim surut tertinggi pada hijauan Ludwigia hyssopifolia 30.82%, Polygonum barbatum L. 29.77%. Hymeneche amplexicaulis Haes 28.32% dan Ischaemum polystachyum. J. Presl 27.88%. Perbedaan komposisi vegetasi dominan pada setiap jenis musim maupun pola susunan menunjukkan perbedaan kondisi lingkungan terutama intensitas cahaya matahari, tanah dan air. Kondisi lingkungan mengakibatkan komposisi jenis tumbuhan berbeda (Setyawan et al., 2006). INP jenis vegetasi menunjukkan kemampuan jenis tersebut untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan setempat dan keberadaannya akan sangat mempengaruhi kestabilan ekosistem lahan rawa.

Teknologi preservasi bermanfaat untuk menjamin ketersedian hijauan pakan sepanjang tahun. Hijauan rawa yang diawetkan dengan metode silase, hay dan haylase dengan penambahan bakteri L. plantarum 1BL-2 memperlihatkan warna yang relatif sama. Warna hijau dan kuning. tidak menunjukkan adanya kerusakan selama fermentasi (ensilase), seperti terjadinya reaksi pencoklatan akibat bahan kering yang tinggi atau pembusukan oleh bakteri Clostridia karena kelebihan kadar air. Aroma yang khas dari silase menunjukkan bau dari fermentasi asam laktat setelah 21 hari ensilase (Tabel 2.2). Perlakuan yang memakai bakteri L. plantarum 1BL-2 dan molases didominasi oleh asam laktat yang ditandai dengan bau yang tidak menyengat. Hasil ini didukung oleh Saun & Heinrichs (2008) menyatakan bahwa silase yang baik mempunyai bau seperti susu fermentasi karena mengandung asam laktat, bukan bau yang menyengat. Namun menurut Kung (1993) bau harum belum tentu mencerminkan silase yang berkualitas, karena bau harum bisa berasal dari tingginya etanol yang diproduksi yeast bercampur asam asetat. Silase yang baik bersifat homofermentatif ditandai dengan bau yang tidak menyengat, karena asam laktat hampir tidak berbau. Lebih lanjut dijelaskan jika produksi asam asetat tinggi akan berbau cuka, sementara fermentasi asam propionat akan menimbulkan bau harum yang menyengat dan fermentasi Clostridia akan menghasilkan bau busuk.

Pengamatan terhadap tekstur silase pada masing-masing perlakuan setelah 21 hari ensilase menunjukkan tekstur yang lunak dan tidak terlihat adanya lendir. Secara umum ketiga perlakuan memperlihatkan kualitas baik, karena tidak terdapat tanda-tanda kerusakan seperti tekstur yang hancur atau kering. Hal ini disebabkan semua perlakuan silase dan haylase hijauan rawa mempunyai kadar air yang sesuai untuk suatu proses fermentasi berkisar 60% dan 30%. Macaulay (2004) menyatakan bahwa tekstur silase dipengaruhi oleh kadar air bahan pada awal ensilase. Silase dengan kadar air yang tinggi (>80%) akan memperlihatkan tekstur yang berlendir, lunak dan berjamur, sedangkan silase berkadar air rendah (<30%) mempunyai tekstur kering dan ditumbuhi jamur. Persentase jamur yang didapatkan pada penelitian ini (Tabel 2.2) lebih rendah dari pernyataan Davies (2007) bahwa keberadaan jamur pada produk silase mencapai 10%.

Peningkatan protein kasar pada silase dan haylase berkisar antara 0.2 % sampai 0.62 %, hal ini disebabkan terjadi perombakan bahan organik. Degradasi serat kasar menyebabkan terjadinya penurunan kandungan persentase serat kasar itu sendiri sehingga hal ini menyebabkan persentase dari protein kasar meningkat. Selain itu pertumbuhan kapang juga memberikan sumbangan terhadap peningkatan kandungan protein kasar pada hijauan rawa. Menurut Jonathan et al. (2008) menyatakan bahwa peningkatan kandungan protein kasar pada proses

47

fermentasi kemungkinan karena hasil dari penambahan dari biomasa inokulum terhadap subtrat fermentasi.

Penurunan kandungan serat kasar hijauan rawa sebesar 7.27% pada silase

dan haylase penurunan sebesar 6.64%. Penurunan serat kasar dapat terjadi disebabkan adanya proses degradasi yang dilakukan oleh inokulan yang ditambahkan. Serat kasar sebagian berasal dari dinding sel tanaman yang

mengandung selulosa, hemiselulosa dan lignin. Bakteri L. plantarum mempunyai

kemampuan dalam mendegradasi komponen serat dan menghasilkan enzim pendegradasi lignin (Lendrawati 2008).

Pada penelitian ini kandungan NDF dan ADF sebelum preservasi masing-masing sebesar 68.17% dan 37.35%. Hijauan rawa yang diawetkan dengan metode fermentasi (silase dan haylase) lebih rendah dibandingkan dalam bentuk kering. Penurunan NDF dan ADF pada silase maupun haylase (Tabel 3.4), disebabkan oleh terjadinya perombakan pada dinding sel tanaman oleh Bakteri L. plantarum yang digunakan menyebabkan terjadinya perubahan kandungan komponen serat (lignin, selulosa dan hemiselulosa). Bakteri L. plantarum mampu memecah komponen serat kasar (Ridwan et al. (2005)

Penuruan kandungan NDF setelah ensilase berkisar antara 15.16-19.31% sementara kandungan ADF terjadi penurunan berkisar antara 1.24 - 3.6%. Hasil penurunan kandungan ADF dan NDF ini lebih rendah dibandingkan dengan hasil penurunan kandungan NDF dan ADF rumput gajah yang juga difermentasi dengan L. plantarum 1BL-2 (Ridwan et al., 2005; Lendrawati 2008) melaporkan penurunan kandungan NDF berkisar antara 17.34 – 20.90% dan ADF berkisar

antara 4.2 – 10.21%. Perbedaan persentase penurunan kandungan NDF dan ADF

ini dipengaruhi oleh jumlah inokulan yang digunakan berbeda sehingga mempengaruhi jumlah enzim yang dihasilkan untuk mendegradasi komponen NDF dan ADF

Tingkat keasaman silase sangat penting untuk diperhatikan karena merupakan penilaian yang utama terhadap keberhasilan silase. Nilai pH yang diperoleh memenuhi kritria silase yang baik yaitu sebesar 3.8 sampai 4.08 yang dapat menekan pertumbuhan jamur dan tidak menyebabkan busuk. Rendahnya pH silase dan pH haylase pada penelitian ini didukung oleh cukupnya ketersediaan kandungan WSC (3.83% BK) dan adanya aditif yang ditambahkan baik bakteri L. plantarum 1BL-2 dan molasess yang berfungsi sebagai substrat pendorong pertumbuhan bakteri asam laktat untuk menghasilkan asam laktat lebih banyak dan menghasilkan pH akhir lebih rendah. Silase yang baik diperlukan

jumlah minimal WSC yang terdapat pada bahan ensilase sebesar 3−5% BK

(McDonald et al., 1991). WSC pada bahan penelitian ini menunjukkan nilai ideal, yang memungkinkan proses ensilase berjalan sempurna, seperti yang diindikasikan dalam penelitian ini dengan kandungan pH (3.8-4.08) dan kandungan asam laktat sebesar 42 – 79 g/kg. Silase yang berkualitas tercapai apabila produksi asam didominasi oleh asam laktat, pH lebih cepat turun dan proses fermentasi sempurna dalam waktu singkat, sehingga lebih banyak nutrisi yang dapat dipertahankan. Dominasi pertumbuhan bakteri asam laktat yang ditandai dengan rendahnya nilai pH mampu menekan pertumbuhan mikroorganisme yang tidak diinginkan, seperti Clostridia tidak mampu bertahan

48

Kandungan N-NH3 merupakan indikator besarnya protein yang

terdegradasi selama proses ensilase (Kung & Stokes 2001). Bakteri pendegrasi protein akan merombak protein menjadi asam amino, asam amino ini selanjutnya akan dirombak menjadi produk lain seperti asam butirat, N-NH3 dan CO2 (Moran 2007). Data hasil penelitian N-NH3 (Tabel 3.4) perlakuan tidak berbeda

(P<0.05) dibandingkan haylage (L1 dan L2) sedangkan dengan hay (H1,H3 ) berbeda nyata (P<005). Pada penelitian ini, penambahan bakteri L. platarum ternyata mampu menghambat berkembangnya bakteri pemecah protein yang dapat

menurunkan kadar N-NH3, begitu juga dengan penambahan molasses dapat

meningkatkan ketersediaan karbohidrat mudah larut. Walaupun masih rendah dibandingkan dengan yang ditambah bakteri L. plantarum dalam mendorong pertumbuhan bakteri asam laktat untuk menghasilkan asam laktat lebih banyak, yang akan menekan pertumbuhan bakteri pembusuk yang dapat mendegradasi protein, hasil ini didukung dengan nilai pH yang rendah (3.84 vs 4.08). Semakin

kecil kadar N-NH3 pada hasil fermentasi maka akan semakin baik karena hanya

terjadi sedikit proses proteolisis. Hasil penelitian ini masih dalam batasan normal untuk suatu fermentasi. Persentasi kadar N-NH3 pada hasil fermentasi yang

dikelola dengan baik adalah < 10% (Moran 2007).

Volatile Fatty Acid (VFA) pada perlakuan silase dan haylase merupakan produk akhir fermentasi karbohidrat oleh mikroorganisma pada proses ensilase. Kadar VFA pada penelitian ini berkisar antara 85.95 sampai 109.5 mM untuk silase (S) sedangkan untuk haylase (L) sebesar 80.07 sampai 93.42 mM dan

untuk perlakuan hay (H) sebesar 21.71 – 54.28 mM. Hal ini menunjukkan mudah

atau tidaknya karbohidrat pakan tersebut didegradasi oleh mikroba selama ensiling, produksi VFA dalam penelitian bervariasi karena aditif yang ditambahkan berbeda sehingga mempengaruhi kemampuan mendegradasi karbohidra. Konsentrasi VFA total pada perlakuan S2 dan L2 ini lebih rendah dibandingkan perlakuan lain. Walaupun konsentrasi VFA lebih rendah pada perlakuan diberi molasses serta dan perlakuan pengeringan H1 dan H2 pun VFA yang dihasilkan rendah juga. Hal ini menunjukkan terjadi perombakan karbohidrat lebih sedikit, akan tetapi menghasilkan BAL yang bersifat heterofermentatif, sehingga tidak hanya asam laktat sebagai produk akhir fermentasi, tetapi juga menghasilkan fermentasi sekunder. Konsentrasi VFA yang terdiri dari atas asam asetat, propionat butirat dan asam lainnya merupakan refleksi dari fermentasi yang tidak efesien, atau terjadinya fermentasi sekunder (Chamberlain & Wilkinson 1996). Produksi VFA dari hasil fermentasi dipengaruhi oleh spesies tanaman, bahan kering bahan saat panen, total gula dan penambahan aditif (Getachew et al., 2004).

Pada penelitian ini kandungan asam laktat yang diperoleh cukup dominan konsisten dengan kandungan pH dan karakteristik fisik silase. Kandungan asam laktat mendominasi dibandingkan asam asetat, propionat maupun lainnya. Pada perlakuan S1,dan L1 menghasilkan kandungan asam laktat lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan S2 dan L2. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan bakteri L. plantarum mampu meningkatkan pertumbuhan bakteri, dimana bakteri ini akan mendegradasi selulosa dan hemiselulosa menjadi gula- gula sederhana sewaktu ensilase berlangsung, kemudian bakteri lainnya akan menguraikan gula-gula sederhana menjadi produk akhir yang lebih sederhana (asam asetat, asam laktat dan asam butirat) sedangkan dengan penambahan

49

molasis produksi asam laktatnya masih rendah dimana molasses dapat meningkatkan ketersedian karbohidrat terlarut sehingga mendorong pertumbuhan bakteri asam laktat, akan tetapi kemampuan bakteri L plantarum lebih cepat meningkatkan pertumbuhan bakteri asam laktat dibandingkan dengan yang ditambah molasses. Kandungan asam organik terutama asam laktat sangat dipengaruhi aditif yang ditambahkan (Ohshima & McDonald 1978).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan aditif molasses dalam hijauan nyata menurunkan (P<0.05) kecernaan bahan kering dan bahan organik. Rata-rata kecernaan berkisar 54.1 – 63.2% untuk kecernaan BK dan 49.7 – 62.3 % untuk kecernaan bahan organik. Kecernaan bahan kering dan bahan organik ransum pakan silase plantarum 1BL-2 (S1) lebih tinggi dibandingkan dengan S2,

L1,L2,H1dan H2. Ransum yang menggunakan silase L. plantarum 1BL-2

memberikan tingkat kecernaan bahan kering dan bahan organik yang paling tinggi.

Terjadi penurunan kecernaan bahan kering dan bahan organik disebabkan adanya kandungan serat kasar dari tiap-tiap perlakuan. Ada korelatif negatif antara tingkat kecernaan bahan kering dan bahan organik dengan kandungan NDF dan ADF dalam ransum Cherdthon et al. (2010), sementara Davidson et al. (2003) menyatakan tinggnya serat kasar memberikan kontribusi pada penurunan kecernaan bahan kering dan bahan organik. Terjadi penurunan kecernaan bahan kering dan bahan organik dengan tingkat kandungan serat kasar yang tinggi dalam ransum (Daha et al., 2004)

Palatabilitas merupakan gambaran sifat bahan pakan (fisik dan kimiawi) yang dicerminkan oleh organoleptiknya seperti penampakan, bau, rasa (hambar, asin, manis dan pahit), tekstur dan temperaturnya sehingga menimbulkan rangsangan dan daya tarik ternak untuk mengkonsumsinya (Davendra & Burns 1994). Kemampuan ternak ruminansia mengkonsumsi makanan dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan, tingkat produksi, umur dan kesehatan ternak, sedangkan faktor dari pakan yaitu frekwensi pemberian dan keseimbangan gizi (Siregar 1996).

Penelitian tahap ketiga dilakukan pada kambing kacang jantan dengan konsumsi bahan kering pada penelitian ini (Tabel 4.3) berkisar antara 410 – 549g/ekor/hari. atau berkisar antara 2.6 - 3.5% dari bobot badan. Konsumsi bahan

kering ini sudah memenuhi kebutuhan hidup pokok yaitu 2.4 – 2.8% dari bobot

badan (NRC 2006) begitu juga dengan Devendra & Mclerroy (1982) kebutuhan bahan kering kambing yang berbobot 15 – 17 kg adalah 396 - 424 g/ekor/hari. Konsumsi BK pada perlakun HRD sebesar 549.49 g/ekor /hari lebih tinggi (P<0.05) dari perlakuan HRK (hay) yaitu sebesar 410.12 g/ekor/hari, tetapi tidak berbeda dengan perlakuan HL dan HRL. Hal ini menunjukkan bahwa pakan berbentuk hay hijauan rawa (HRK) kurang disukai kambing diduga karena bentuk fisik hay yang kering dan bersifat amba (bulky) menyebabkan rasa kenyang lebih cepat pada saat dikonsumsi sehingga isi rumen menjadi cepat penuh.

Toharmat et al. (2006) yang melaporkan bahwa pakan yang mempunyai keambaan yang tinggi dapat menimbulkan rasa kenyang lebih cepat pada saat dikonsumsi ternak sehingga sifat tersebut dapat membatasi konsumsi ternak, sedangkan Coleman & Moore (2003) yang melaporkan bahwa karakteristik bahan pakan yang amba membatasi kemampuan ternak untuk lebih banyak lagi

50

mengkonsumsi pakan karena kapasitas rumen menjadi terbatas. Keambaan (Bulkiness) pakan dapat menjadi faktor pembatas utaman konsumsi pakan (lallo 1996). Hasil penelitian ini lebih rendah dari penelitian Suparjo et al. (2011) yang melaporkan bahwa rataan konsumsi bahan kering pada kambing yang diberi rumput gajah kering relatif rendah yaitu sebesar 433g/ekor/hari sedangkan yang diberi rumput gajah fermentasi sebesar 560 g/ekor/hari. Hal ini kemungkinan disebabkan bahan penyusun ransum yang berbeda (Aregheore 2006), jenis kelamin (Lewis & Emmans 2010) dan status fisiologi ternak (Fedele et al., 2002).

Konsumsi bahan kering yang lebih baik pada ransum HRD, HL dan HRL dibanding perlakuan lainnya dapat meningkatkan kinerja mikroba dalam rumen dalam mencerna pakan yang dikonsumsi inangnya. Penambahan 40% dedak sebagai konsentrat dalam hijauan dan konsumsi protein yang lebih baik pada perlakuan HRD diduga dapat menyumbang energi dan menyeimbangkan konsentrasi ammonia serta VFA dalam rumen sehingga kinerja mikroba rumen bisa lebih optimal. Bamualim (1994) mengatakan energi merupakan faktor esensial utama yang digunakan untuk pertumbuhan mikroba rumen. Mikroba rumen menggunakan energy untuk hidup pokok, terutama untuk melakukan

Dokumen terkait