• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyu lekang (Lepidochelys olivacea) yang merupakan salah satu spesies penyu yang menyebar secara luas telah mengalami penurunan populasi dalam beberapa tahun terakhir, terutama karena faktor antropogenik (Cornelius et al. 2007). Oleh karena itu, penyu lekang tergolong reptil yang dilindungi dengan kategori Appendix I CITES (Convention on International Trade in Endangered Species) (Shanker et al. 2003).Faktor utama yang memengaruhi penurunan populasi penyu lekang, yaitu adanya penangkapan penyu dewasa untuk dimanfaatkan daging, cangkang, dan pengambilan telur penyu di sarang alami.

Penyu termasuk reptil yang perkembangan gonad dan diferensiasi seksnya bergantung pada suhu (Temperature-dependent sex-determinatian, TSD). Beberapa penelitian telah melaporkan bahwa suhu berperan secara langsung selama periode inkubasi, dan memengaruhi ekspresi gen determinasi seks. Shoemaker et al.(2007b) menyatakan bahwa perubahan cepat ekspresi gen-gen determinasi seks mengikuti perubahan suhu inkubasi. Hal ini menegaskan peran gen-gen tersebut dalam pembentukan gonad dan mengatur perkembangan organ . Sampai saat ini, terdapat 18 gen yang terlibat dalam determinasi seks pada vertebrata dan bersifat konservatif untuk perkembangan testis dan ovari dengan level ekspresi yang bervariasi antara spesies (Pieau et al.2001, Rhen and Schroeder 2010). Ditinjau dari aspek fenotipe, suhu sarang memengaruhi perkembangan embrio penyu, yaitu nisbah kelamin tukik (Standora and Spotila 1985, Packard and Packard 1988, Maulany et.al.2012), kualitas tukik (Booth et al. 2004), dan performa lokomotori tukik (Deeming 2004, Booth 2006, Burgess et al.2006, Ischer et al. 2009). Adanya variasi fenotipe tersebut umumnya berimplikasi terhadap kebugaran tukik (Shine 2004).

Berdasarkan hasil penelitian pada tahap 1 diketahui bahwa ekspresi gen aromatase pada penyu hijau berhasil diisolasi dari kedua jaringan, yaitu kompleks AKG dan otak pada penyu hijau. Selanjutnya hasil pengujian level ekspresi gen aromatase antara kedua jaringan menunjukkan perbedaan yang tidak nyata sehingga disimpulkan untuk keperluan pengukuran ekspresi mRNA aromatase dan gen determinasi seks lainnya untuk spesies yang berkerabat dekat, seperti penyu lekang dapat digunakan dari jaringan otak. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa aromatase terdistribusi pada sejumlah jaringan dan organ, seperti otak, kompleks AKG, retina, dan lemak viseral (Piferrer dan Blazquez 2005, Page et al. 2010).

Penyu lekang merupakan salah satu reptil yang perkembangan gonad dan diferensiasi seks bergantung pada suhu lingkungan (TSD). Implikasi dari kondisi tersebut memberikan sejumlah akibat yang berpengaruh pada sejumlah parameter bioreproduksi dan performa tukik yang ditetaskan, seperti laju metabolisme, pertumbuhan embrional, lama inkubasi telur, daya tetas, morfometrik, kebugaran, performa lokomotori, dan kelangsungan hidup (Huey 1982, Hertz et al.1983).

Berdasarkan hasil penelitian pada tahap 2 diketahui lama inkubasi telur pada suhu feminin lebih singkat (49-52 hari) dibandingkan dengan suhu maskulin (71-73 hari). Hal ini menunjukkan adanya hubungan terbalik antara suhu inkubasi dengan

periode inkubasi. Implikasi dari panjangnya lama inkubasi pada suhu maskulin menyebabkan laju metabolisme dan proses pembentukan organ (organogenesis) menjadi lambat, dan pada akhirnya memengaruhi laju pertumbuhan embrio. Pengamatan empiris memperkuat penjelasan di atas, yang ditunjukkan oleh pertumbuhan embrio penyu lekang. Data pengukuran bobot embrio pada semua tahap perkembangan embrio menunjukkan bahwa perbedaan yang sangat nyata, dan terlihat embrio yang diinkubasi pada suhu feminin memiliki bobot badan lebih besar dari embrio yang diinkubasi pada suhu maskulin. Hal yang sama juga ditunjukkan pada pengukuran performa tukik, yaitu frekuensi ayunan flipper menunjukkan bahwa suhu inkubasi memengaruhi frekuensi ayunan flipper berbeda di antara tukik yang diinkubasi pada kedua suhu.

Pengukuran morfometrik tukik juga dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan sejumlah parameter linear tubuh yang menunjukkan perbedaan signifikan ketika diinkubasi pada suhu yang berbeda. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat tujuh karakter morfometrik, antara lain panjang lengan depan, lebar karapas, panjang dan lebar plastron, panjang flipper dan lengan belakang, dan panjang leher dapat dijadikan sebagai karakter pembeda tukik penyu lekang dengan suhu inkubasi yang berbeda. Ukuran flipper yang lebih panjang akan memungkinkan gerakan tukik merangkak lebih jauh saat menuju ke laut segera setelah menetas sehingga memberikan peluang yang lebih kecil untuk dimangsa predator.

Variasi fenotipe merupakan komponen fundamental dari proses evolusi dan karena itu perlu memahami faktor-faktor yang menciptakan variasi tersebut. Adanya perbedaan fenotipe ini menunjukkan bagaimana seleksi alam bekerja pada keturunan, dan konsekuensinya akan berbeda pada kebugarannya (fitness). Oleh karena itu, perbedaan fenotipe ini dapat dijadikan sebagai petunjuk untuk digunakan pada sarang alami secara akurat. Keterkaitan antara seks dengan parameter-parameter fenotipe sangat membantu dalam memahami evolusi mekanisme penentuan seks. Dengan kata lain, hubungan antara seks, keturunan dan fenotipe menjadi dasar teoretis dalam memahami evolusi spesies TSD yang dibangun.

Penyu lekang dan kebanyakan reptil tergolong ke dalam hewan poikiloterm sehingga peningkatan suhu inkubasi menghasilkan peningkatan laju perkembangan. Dalam konteks penelitian ini, terlihat pengaruh suhu inkubasi pada lama inkubasi dan pertumbuhan embrio penyu lekang. Implikasi dari adanya suhu inkubasi yang berbeda menyebabkan ekspresi genotipe dari kedua seks berbeda, termasuk ekspresi gen determinasi seks dan aktivitas enzimatis. Kemungkinan lain dari manipulasi suhu inkubasi berpengaruh pada laju metilasi DNA yang kemudian akan memengaruhi ekspresi gen (Martin dan McGowan 1995).

Saat ini, salah satu tantangan utama dalam studi spesies TSD adalah untuk menemukan cara sederhana untuk menentukan seks tukik yang muncul dari sarang alami dan menaksir nisbah kelamin. Untuk itu, pendekatan penentuan seksual pada skala laboratorium mesti dicoba untuk ekstrapolasi hasil ekperimen laboratorium ke habitat alami. Pada spesies TSD, terutama penyu, tidak ada metode yang mudah untuk menentukan jenis kelamin keturunan. Tukik tidak memiliki karakter dimorfisme seksual. Oleh karena itu, salah satu cara tepat untuk menentukan fenotipe

seksual adalah dengan metode invasif, yaitu melakukan observasi langsung dari morfologi gonad embrio. Informasi tentang laju keberhasilan penetasan dan model penentuan seks untuk spesies tertentu merupakan faktor yang turut menentukan keberhasilan potensial dari strategi konservasi penyu. Aplikasi teknik inkubasi secara alami selalu menghasilkan nisbah kelamin yang sulit ditentukan. Padahal untuk menunjang keberhasilan usaha konservasi terutama spesies yang terancam punah dan endemis, maka pengaturan nisbah kelamin keturunan bagi spesies yang dipengaruhi oleh suhu menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.

Penelitian sebelumnya telah menganalisis evolusi dan jejaring sejumlah gen yang terlibat dalam gonadogenesis pada penyu yang determinasi seks bergantung suhu inkubasi, dan terlibat pada semua tahap perkembangan embrional. Secara umum, gen determinasi seks dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu gen-gen dengan level ekspresi lebih tinggi ketika telur diinkubasi pada suhu feminin dan sebaliknya, gen-gen yang lebih tinggi ekspresinya pada suhu maskulin (Shoemaker dan Crews 2009, Valenzuela 2008, Ramsey et al. 2007, Crews et al. 2001, Fleming et al.1999). Dalam penelitian ini digunakan tiga gen determinasi seks, antara lain aromatase, SF-1, dan Rspond 1 dengan menggunakan teknik real-time PCR untuk mengukur ekspresi gen secara kuantitatif menggunakan jaringan otak embrio penyu lekang.

Hasil penelitian menunjukkan level mRNA aromatase yang berasal dari jaringan otak terekspresi pada semua stadia perkembangan (Gambar 6). Analisis statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan level ekspresi mRNA aromatase antara kedua suhu inkubasi pada semua stadia perkembangan. Demikian juga level ekspresi aromatase selama TSP (stadia 23-25) pada kedua suhu inkubasi tidak berbeda nyata. Meskipun demikian, level mRNA aromatase setelah TSP ada embrio yang diinkubasi pada suhu feminin lebih tinggi dan berbeda dari suhu maskulin. Pengukuran level ekspresi gen Rspond 1 juga menunjukkan hasil yang sama, sebaliknya pengukuran ekspresi gen SF-1 pada penyu lekang menunjukkan tidak berbeda nyata di antara kedua suhu inkubasi pada semua stadia perkembangan embrio penyu lekang. Meskipun demikian, data empiris menunjukkan bahwa level ekspresi SF-1 pada semua stadia perkembangan embrio penyu lekang lebih tinggi pada suhu maskulin dibandingkan dengan suhu feminin.

Data profil ekspresi gen aromatase dan Rspond 1yang menunjukkan perbedaan nyata antara kedua suhu inkubasi setelah TSP menunjukkan bahwa kedua gen tersebut terekspresi lebih tinggi pada suhu feminin. Implikasi dari hasil tersebut, induksi suhu inkubasi memengaruhi level ekspresi gen aromatase dan Rspond 1 dan pada gilirannya memengaruhi produksi estrogen, diferensiasi ovarium, dan pertumbuhan sekunder seks pada embrio penyu lekang. Berkaitan dengan adanya TSP selama perkembangan embrio penyu lekang dan sebagai spesies TSD, maka kemungkinan untuk melakukan pembalikan seks (sex reversal) pada perkembangan embrio penyu lekang dapat dilakukan pada kedua suhu dengan menggantikan suhu inkubasi pada periode sebelum TSP. Selain itu, cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan pemberian inhibitor aromatase sintetik pada telur yang diinkubasi pada suhu feminin dapat membalikkan perkembangan gonad embrio dari seks betina menjadi seks jantan yang definitif (Wibbels et al.1995, Rhen danLang 1994).

Sumber : Pieau et al. (1999)

Gambar 10 Diferensiasi gonad (testis dan ovarium) reptil TSD pada periode sebelum, selama, dan setelah TSP : a, albugenia; BcMc, kapsul Bowman dari korpus Malpighi; bv,pembuluh darah; c,korteks; ca, anlage korteks; dm, mesenteri dorsal; gc, sel-sel germinar; ge, epiteliul germinal; l, lakuna; Lc, sel-sel Leydig; m, medulla; mc, korda medulla ; mm, mesenkim mesonefrik; mt, tuba mesonefrik; oo, oosit; pf, folikel primordial; rc, korda rete; rca, Anlage korda rete; sca, anlage korda seminiferus.

Sehubungan dengan pengukuran ekspresi tiga gen determinasi seks, yaitu aromatase, dan Rspond 1 untuk diferensiasi ovarium ,dan gen SF-1 untuk diferensiasi testis pada penyu lekang, maka hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu teknik untuk memperoleh jenis kelamin tukik untuk keperluan restocking tukik pada populasi alam dengan seks tertentu.

Beberapa eksperimen sebelumnya menyebutkan bahwa suhu menentukan seks gonadal dengan memengaruhi metabolisme steroid seks selama perkembangan embrional. Pertama, estrogen alami dan sintetik menginduksi diferensiasi ovarium pada suhu yang menghasilkan betina secara normal dan hanya memengaruhi selama TSP pada tahap perkembangan gonad (Crews et al.1991, Bergeron et al.1994). Kedua, estrogen bekerja secara sinergis dengan meningkatnya suhu inkubasi untuk menghasilkan lebih banyak betina dibandingkan dengan perlakuan estrogen dan suhu

secara terpisah pada telur yang diinkubasi. Artinya, estrogen memberikan pengaruh kuat pada penentuan seks kura-kura Trachemys scripta, dan aplikasi estradiol eksogenous (E2) menghasilkan embrio betina yang diinkubasi pada suhu inkubasi jantan (Crews et al.1991,Wibbels et al.1991, Crews et al.1996). Ketiga, adanya inhibitor aromatase yang dapat menghambat diferensiasi ovarium pada temperatur yang umumnya menghasilkan betina. Aplikasi dan pengaturan ketersediaan estrogen selama TSP dengan memblokir aromatase, enzim yang mengubah testosteron menjadi estradiol (Crews dan Bergeron 1994,Wibbels dan Crews 1994).

Perbandingan mekanisme jejaring kerja gen determinasi seks aromatase, SF-1 dan Rspond 1 antara spesies TSD (reptil) dan spesies GSD (mamalia) ditampilkan pada Gambar 11.

Sumber : Shoemaker dan Crews (2008)

Gambar 11 Mekanisme jejaring kerja gen determinasi seks aromatase, SF-1, dan Rspond 1 pada spesies TSD (reptil) dan spesies GSD (mamalia)

Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan suhu inkubasi yang selama perkembangan embrio dengan meningkatkan ekspresi gen aromatase untuk meningkatkan produksi estrogen yang berperan dalam diferensiasi ovarium selama TSP dan mempertahankan struktur ovarium setelah TSP pada suhu feminin, sebaliknya perlakuan suhu inkubasi selama perkembangan embrio menginduksi diferensiasi testis pada suhu maskulin. Dengan demikian, jelas bahwa estrogen terlibat dalam diferensiasi ovari. Lebih dari pada itu, terlihat bahwa estrogen juga terlibat dan berperan penting dalam mempertahankan struktur ovari.

Pada penelitian ini juga dilakukan analisis pola perkawinan dan peristiwa paternitas majemuk yang berkaitan dengan strategi konservasi genetik populasi pada penyu lekang di perairan Taman Buru Bena pulau Timor. Deteksi paternitas majemuk dilakukan dengan menggunakan 5 marker mikrosatelit, yaitu lokus OR-1, OR-4, OR- 7, OR-11, dan OR-14.

Hasil penelitian menunjukkan fakta bahwa tukik yang dihasilkan dari fertilisasi memiliki alel yang polimorfik. Dengan menggunakan lima marka mikrosatelit diperoleh alel tukik dengan jumlah yang bervariasi. Lokus OR-7 memiliki jumlah alel yang terendah dan identik dengan alel maternal definitif (2 alel), sedangkan keempat lokus lainnya, yaitu lokus OR-11 memiliki alel terbanyak (5 alel), diikuti secara berturut-turut lokus OR-4 (4 alel), lokus OR-14, dan OR-1 (3 alel). Selanjutnya, dari 5 lokus yang dianalisis menggunakan CERVUS diperoleh rataan jumlah kandidat jantan sebanyak 2. Hasil analisis paternitas menunjukkan bahwa lokus OR-4 memiliki rate error sebesar 0.3367 dengan alel 126 bp yang tidak sesuai (mismatching) pada 5 tukik. Artinya, lokus OR-4 memiliki proporsi alel paternal yang tidak sesuai dengan tukik cukup tinggi. Meskipun demikian, marka OR-4 memiliki alel yang polimorfik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keempat marka mikrosatelit dalam penelitian ini, yaitu lokus OR-1,OR-4, OR-11, dan OR-14 dapat dijadikan sebagai marka molekuler untuk mendeteksi peristiwa paternitas majemuk pada populasi penyu lekang yang berada di perairan laut Timor dan sekitarnya.

Adanya alel yang bersifat polimorfik pada tukik dan berbeda dari alel induk menunjukkan bahwa selama musim kawin berlangsung, betina tersebut melakukan perkawinan lebih dari satu jantan (poliandri). Dengan kata lain, hasil penelitian ini telah mampu untuk mendeteksi paternitas majemuk pada populasi penyu lekang. Peningkatan ukuran populasi efektif dan penurunan hanyutan genetik (genetic drift) terjadi melalui sistem perkawinan induk betina penyu lekang dengan banyak pejantan dan lebih baik dibandingkan dengan populasi dengan betina yang hanya kawin dengan satu jantan. Hal ini tentu relevan dengan upaya konservasi dan pemulihan populasi penyu laut yang semakin menurun. Hasil penelitian ini memperkuat penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa penyu lekang tergolong spesies dengan frekuensi kejadian paternitas majemuk yang tinggi (Aggarawal et al. 2004, 2008, Hoekert et al. 2002). Adanya fenomena paternitas majemuk telah memberikan kontribusi ilmiah bagi upaya konservasi penyu lekang yang populasinya semakin terancam keberadaannya.

Suhu inkubasi merupakan faktor lingkungan yang sangat penting bagi keberhasilan reproduksi dan parental care. Sarang penyu lekang sangat peka terhadap

perubahan suhu dengan rentang suhu sarang, yaitu 26-27°C menghasilkan seks jantan, dan 30-33°C menghasilkan seks betina. Faktor lingkungan ini biasanya memberikan pengaruh yang lebih besar di awal pertumbuhan dan perkembangan embrio dibandingkan dengan saat penyu mencapai usia dewasa.

Hasil pengukuran terhadap aspek bioreproduksi menunjukkan bahwa pengaruh suhu inkubasi yang paling nyata pada sejumlah variabel, yaitu kecepatan pertumbuhan dan lintasan perkembangan ontogenik embrional, morfometrik, dan performa fenotipe tukik pasca-menetas. Dengan diperolehnya data bioreproduksi seperti pertumbuhan embrio dan fenotip tukik penyu lekang tentunya menjadi informasi dasar bagi pengelolaan sarang alami. Oleh karena itu, manipulasi suhu inkubasi memberikan kemungkinan untuk menghasilkan pengaruh yang positif ataupun negatif pada proporsi nisbah kelamin, dan berimplikasi pada kelangsungan hidup dan reproduksi populasi alami penyu lekang di perairan Taman Buru Bena, Timor.

Oleh karena penyu tergolong spesies TSD, penyu lekang akan berespons terhadap perubahan ekosistem terestial dan perairan laut, seperti yang didokumentasi pada beberapa kejadian, yaitu pada sarang penyu sisik yang mengalami deforestasi yang berakibatkan pada musim kawin, seks rasio dan daya tetas telur yang diinkubasi (Kamel dan Mrosovsky 2006), dan perubahan jenis makanan secara keseluruhan penyu tempayan dalam merespons perubahan ketersediaan makanan (Seney dan Musick 2007). Selain faktor lingkungan, faktor genetik juga turut memberikan kontribusi terhadap kebugaran, performa fenotipe, dan kualitas tukik yang dihasilkan dari populasi alam. Fenomena paternitas majemuk memberikan manfaat baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap induk betina dan tukik yang dihasilkan.

Sebagai spesies TSD, adanya perubahan iklim global akan memengaruhi secara langsung pada bioreproduksi tukik penyu lekang yang dihasilkan selama proses inkubasi di sarang alami. Williams et al.(2008) menyatakan bahwa sensitivitas spesies terhadap perubahan iklim akan ditentukan oleh kombinasi dari faktor-faktor intrinsik (seperti fisiologis batas toleransi, karakter-karakter ekologi dan perilaku, dan keragaman genetik), ketahanan (kemampuan untuk bertahan dan pulih dari gangguan), dan kapasitas adaptasi (kemampuan untuk menunjukkan respons plastis dan/atau beradaptasi dengan cepat). Sebagai contoh, perubahan iklim selama embriognesis memberikan ancaman terbesar terhadap beberapa karakter, seperti lama inkubasi, ukuran tubuh, laju pertumbuhan, hasil reproduksi, fenotipe juvenil dan performa lokomotor. Karakter-karakter tersebut sangat sensitif terhadap kondisi suhu lingkungan sekitar, degradasi habitat, dan perubahan iklim (Dubey dan Shine 2011, Webb et al. 2001).

Hasil pengamatan di pantai pendaratan penyu Taman Buru Bena, menunjukkan musim bertelur penyu betina berlangsung secara periodik dari bulan Januari hingga bulan September. Betina selalu meletakkan telur di sarang yang terbuka (tanpa naungan). Hal ini disebabkan vegetasi yang berada di pesisir pantai terletak jauh sehingga sarang tidak ternaungi. Letak sarang yang terbuka tersebut akan terpapar langsung sinar matahari dan meningkatkan suhu dalam sarang selama masa inkubasi. Periode inkubasi telur penyu lekang pada sarang alami dan semialami di pesisir pantai Taman Buru Bena berkisar 45-60 hari. Jika dikaitkan dengan suhu inkubasi

feminin (30-33°C) pada penelitian ini, dengan parameter lama inkubasi 49-52 hari, maka diduga tukik yang dihasilkan umumnya jenis kelamin betina dan menyebabkan bias nisbah kelamin yang lebih banyak menghasilkan seks betina. Selain itu, perubahan iklim berimplikasi terhadap pergantian seks rasio, dan dapat pula berpengaruh pada frekuensi paternitas majemuk pada populasi dengan sistem perkawinan poliandri. Bertolak dari data bioreproduksi, performa lokomotori, pengukuran fenotipe, dan ekspresi gen determinasi seks di atas, maka penggunaan data penelitian tahap I-III dapat menjadi acuan untuk menjaga agar tidak terjadi bias nisbah kelamin penyu lekang di populasi alami. Langkah mitigasi yang dapat dilakukan antara lain dengan melakukan restocking tukik sebagai pengayaan populasi pada suhu maskulin (26-27ºC) dan akhirnya kelangsungan populasi terjaga dengan seimbang.

Sehubungan dengan fakta di atas, rehabilitasi kawasan perlu dilakukan untuk meningkatkan naungan di pesisir pantai dengan mengadakan penanaman kembali pada daerah pesisir Taman Buru Bena melalui penanaman jenis tumbuh-tumbuhan lokal atau yang sudah adaptif yang diambil dari kawasan tersebut atau kawasan lain yang masih memiliki tipe ekosistem yang sama. Strategi lain yang mungkin adalah dengan melakukan relokasi telur pada sarang alami untuk diinkubasi dengan inkubator sehingga menghasilkan tukik dengan seks jantan sehingga nisbah kelamin di populasi tetap terjaga.

Penelitian yang berkelanjutan pada faktor-faktor yang memengaruhi produksi dan nisbah kelamin tukik, akan menambah kemampuan dan keterampilan pengelola dalam memahami kapasitas adaptif dan daya lenting penyu lekang terhadap perubahan iklim. Selain itu, pengetahuan embriologi diperlukan untuk meningkatkan pemahaman performa dan fenotipe tukik, menjadi lebih penting dalam merespons terjadinya perubahan iklim global. Bertolak dari serangkaian penelitian ini diharapkan dapat menjadi data dasar yang akan memperkuat keputusan pengelolaan dan konservasi spesies penyu lekang di masa yang akan datang.

Aspek mendasar yang penting dari pengelolaan dan konservasi penyu adalah menggunakan data fenotipe, ekspresi gen determinasi seks, dan pola perkawinan sebagai dasar pengambilan keputusan. Beberapa variabel fenotipe pada penelitian tahap II, seperti lama inkubasi, frekuensi ayunan flipper, ketujuh ukuran morfometrik dapat dijadikan sebagai karakter dimorfisme seks untuk tukik yang ditetaskan pada sarang alami.

Implikasi dari data fenotipe tersebut, antara lain dapat membantu dalam identifikasi jenis kelamin penyu lekang, dan memprediksi nisbah kelamin tukik yang dihasilkan di sarang alami. Sebagai contoh, beberapa parameter pada penyu lekang yang diukur pada suhu feminin seperti periode inkubasi yang singkat, frekuensi ayunan flipper yang lebih banyak panjang flipper relatif yang lebih besar postur tubuh yamg lebih panjang, panjang leher relatif, dan panjang flipper relatif yang lebih besar, dapat dijadikan sebagai parameter dimorfisme seks betina ketika dibandingkan dengan kondisi di sarang alami. Hal yang sama juga ditunjukkan pada penelitian tahap I dan III. Telur penyu yang diinkubasi pada suhu feminin, mempunyai level ekspresi gen aromatase dan Rspond 1 lebih tinggi setelah TSP yang membantu dalam diferensiasi ovarium dan menghasilkan seks betina.

Berkaitan dengan hasil penelitian tahap IV tentang pola perkawinan penyu betina yang bersifat poliandri, jika jumlah tukik betina yang dihasilkan dari sarang alami lebih banyak dari tukik jantan, maka teknik inkubasi buatan dengan suhu maskulin (26-27ºC) diperlukan untuk menghasilkan jantan yang memadai sehingga saat mencapai usia dewasa dapat membantu terjadinya peristiwa poliandri.

Walaupun penyu telah mengembangkan strategi reproduksi banyak anak, namun beragam kegiatan manusia di segala tingkat telah menginterfensi hampir semua tingkatan ekologis yang mengancam ukuran populasi efektif. Oleh karena itu, berbagai usaha pengelolaan dan konservasi penyu perlu dilakukan, melalui: (i) teknik inkubasi semi alami dengan memindahkan telur penyu ke lokasi penangkaran, (ii) budi daya tukik secara berkelanjutan hingga mencapai ukuran tubuh tertentu sehingga meminimalkan tukik dimangsa predator, dan (iii) penerapan teknik inkubasi buatan terhadap telur yang berasal dari sarang alami harus memperhatikan suhu sarang alami, kedalaman sarang, dan letak sarang alami.

Melalui ketiga usaha ini diharapkan. sangat membantu dalam meningkatkan

daya tetas, meminimalkan tukik dimangsa predator untuk dilepaskan ke perairan

bebas, menghasilkan nisbah kelamin sesuai suhu sarang yang diinkubasi secara alami, tidak menyebabkan bias seks tukik yang dihasilkan, dan meningkatkan populasi

penyu lekang di Taman Buru Bena, Pulau Timor.

Beberapa faktor yang diamati selama berada di kawasan Taman Buru Bena,

Dokumen terkait