PRODUKSI TANAMAN KELAPA SAWIT
6 PEMBAHASAN UMUM
Pada umumnya di kebun kelapa sawit menghasilkan sudah tidak lagi menggunakan tanaman kacangan sebagai tanaman penutup tanah karena tanaman kacangan tidak toleran terhadap naungan, namun hal ini bukan berarti pada kebun kelapa sawit telah menghasilkan tidak dapat ditanam tanaman penutup tanah, hanya perlu dicari tanaman yang dapat memberikan manfaat untuk pertumbuhan dan produksi kelapa sawit serta toleran terhadap naungan. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan vegetasi yang banyak tumbuh di bawah tegakan kelapa sawit dan sering disebut sebagai gulma.
Vegetasi yang tumbuh di bawah tegakan kelapa sawit sangat beragam, mulai dari tumbuhan paku-pakuan, berdaun lebar, rumputan sampai teki-tekian. Salah satu vegetasi yang banyak tumbuh di bawah tegakan kelapa sawit yang sudah menghasilkan di PTPN VII Rejosari, Lampung Selatan adalah Asystasia gangetica (L.) T. Anderson. A. gangetica merupakan tumbuhan berdaun lebar yang dapat diperbanyak dengan biji dan stek batang. Selain A. gangetica, vegetasi lain yang banyak tumbuh di bawah tegakan kelapa sawit berdasarkan analisis vegetasi di kebun kelapa sawit PTPN VII Rejosari, Lampung Selatan umur 9. 13, dan 18 tahun di antaranya adalah Nephrolepis biserrata dari jenis paku-pakuan,
Paspalum conjugatum dari jenis rumputan, dan Cyperus kyllingia dari jenis teki- tekian.
A. gangetica merupakan tanaman yang toleran terhadap naungan terlihat dari lebih banyaknya tanaman ini dijumpai di kebun kelapa sawit menghasilkan, baik perkebunan-perkebunan kelapa sawit Indonesia maupun Malaysia, bahkan sudah pernah digunakan sebagai tanaman penutup tanah di perkebunan kelapa sawit di Semenanjung Malaysia. Namun, karena sifatnya yang mudah tumbuh dan bijinya yang dapat terlempar sejauh 6 m (Adetula 2004), serta mudah berkecambah menjadikan A. gangetica sebagai gulma invasif di perkebunan kelapa sawit. Namun, dengan pengelolaan yang baik, A. gangetica dapat digunakan kembali sebagai penutup tanah di kebun kelapa sawit menghasilkan terutama A. gangetica subspesies gangetica karena memenuhi beberapa syarat sebagai tanaman penutup tanah, diantaranya berfungsi sebagai pelindung permukaan tanah dari daya penghancuran oleh butir-butir hujan, memperlambat aliran permukaan sehingga mengurangi erosi, memperkaya bahan-bahan organik tanah (Arsyad 2010), dan sebagai cadangan karbon (Reicosky & Forcella 1998). Syarat laint tanaman penutup tanah adalah tidak mempunyai duri dan sulur yang membelit, tahan terhadap injakan, pemangkasan dan naungan, serta dapat tumbuh dengan tingkat kesuburan yang rendah (Departemen Pertanian 2005).
A. gangetica subspesies gangetica tumbuh tegak dan berkelompok, serta tidak mempunyai sulur (Cuo Shu et al. 2011; Sandoval & Rodriguez 2012), mampu tumbuh baik pada tanah dengan tingkat kesuburan yang rendah, toleran terhadap naungan, mampu mengurangi erosi (Adetula 2004), tumbuh cepat dan menutup tanah dengan ketebalan yang tinggi (Priwiratama 2011), serta sebagai tanaman inang predator ulat kantong (Kusuma 2010) serta sebagai tempat metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu (Tan & Khew 2012).
Mengingat pada perkebunan kelapa sawit menghasilkan dibutuhkan pengaturan penanaman tanaman penutup tanah agar tidak mengganggu kegiatan pemeliharaan dan pemanenan, sehingga penanaman tanaman penutup tanah
dianjurkan di dalam barisan kelapa sawit dan di gawangan mati. Luasan efektif untuk penanaman A. gangetica sebagai tanaman penutup tanah di kebun kelapa sawit menghasilkan ini hanya sekitar 11.5% dari luas total kebun kelapa sawit, sehingga pemanfaatan A. gangetica sebagai tanaman penutup tanah membutuhkan pengaturan jarak tanam yang optimal di perkebunan kelapa sawit menghasilkan. Dalam hal ini dilakukan penanaman A. gangetica di kebun kelapa sawit menghasilkan umur 5 dan 17 tahun di kebun percobaan Cikabayan, Kampus IPB Dramaga, Bogor dengan jarak tanam 10 cm x 10 cm, 20 cm x 20 cm, dan 40 cm x 40 cm.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan A. gangetica yang ditanam di kebun kelapa sawit menghasilkan umur 5 dan 17 tahun tidak berbeda nyata. Hal ini menunjukkan bahwa A. gangetica toleran terhadap naungan, karena antar tajuk tanaman kelapa sawit umur 17 tahun sudah saling menutupi. Namun, pengaturan jarak tanam berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan A. gangetica, baik yang ditanam pada kebun kelapa sawit umur 5 tahun maupun 17 tahun.
A. gangetica yang ditanam dengan jarak tanam 10 cm x 10 cm memiliki kemampuan menutup lahan 100% pada umur 11 MST (minggu setelah tanam), baik pada kebun kelapa sawit umur 5 tahun maupun 17 tahun, sedangkan dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm dan 40 cm x 40 cm, A. gangetica akan menutupi lahan 100%, yaitu masing-masing umur 15 MST pada kebun kelapa sawit umur 5 tahun, 16 MST pada kebun kelapa sawit umur 17 tahun (Gambar 9), dan 25 MST pada kebun kelapa sawit mur 5 tahun, 35 MST pada kebun kelapa sawit umur 17 tahun (Gambar 10). Nilai ILD (indeks luas daun) pada A. gangetica yang ditanam dengan jarak tanam 10 cm x 10 cm sebesar 3.5, baik pada kebun kelapa sawit 5 tahun maupun 17 tahun, sedangkan A. gangetica yang ditanam dengan jarak tanam 20 cm x 20 cm dan 40 cm x 40 cm, masing-masing sebesar 0.8 dan 0.2, baik pada kebun kelapa sawit umur 5 tahun maupun 17 tahun (Tabel 6). Hal ini menunjukkan bahwa pengaturan jarak tanam diperlukan untuk mendapatkan pertumbuhan A. gangetica yang baik sebagai tanaman penutup tanah, dilihat dari kemampuannya menutupi lahan.
Selain dilihat dari kemampuannya dalam menutupi lahan, sebagai tanaman penutup tanah, A. gangetica juga harus mampu menghasilkan biomasa. Hal ini berkaitan dengan peran tanaman penutup tanah sebagai penyumbang bahan organik dan hara tanah untuk meningkatkan kesuburan tanah. A. gangetica
mampu menyumbang bahan organik dan hara tanah sebesar 3.0 t ha-1 tahun-1 bahan kering. Sumbangan bahan organik dan hara A. gangetica ini lebih kecil dibandingkan dengan sumbangan bahan organik serta hara Arachis pintoi dan
Mucuna bracteata, yaitu masing-masing sebesar 3.8 t ha-1 tahun-1 bahan kering (Evrizal 2003) dan 3.4-5.6 t ha-1 tahun-1 bahan kering (Nugroho et al. 2010). Kandungan N, P, K tertinggi terdapat pada daun A. gangetica berturut-turut 2.2%, 0.3% dan 6.9% (Tabel 8), sedangkan kandunga hara pada daun Mucuna bracteata
adalah 3.1% N, 0.3% P, dan 2.1% K. Kandungan hara K pada daun A. gangetica
jauh lebih tinggi dibandingkan kandungan hara K pada daun Mucuna bracteata, hal ini menjadi faktor penting dalam pertumbuhan dan produksi kelapa sawit, di mana unsur K berperan penting dalam pembentukan TBS (tandan buah segar).
Selain itu, A. gangetica juga tidak mensyaratkan kesuburan tanah yang tinggi, terlihat dari kemampuan tumbuh A. gangetica di kebun kelapa sawit menghasilkan umur 5 dan 17 tahun tanpa diberi perlakuan pemupukan, tidak
mempunyai sulur dan duri serta mampu tumbuh dalam waktu lebih dari dua tahun karena A. gangetica termasuk ke dalam tumbuhan perennial, sedangkan Mucuna cochinchinensis secara alami akan mati setelah 6-8 bulan (Irawan 2014).
Peran tanaman penutup tanah yang cukup penting di kebun kelapa sawit adalah sebagai cadangan karbon biomasa dan karbon tanah, sebagai bentuk implementasi kebun kelapa sawit berkelanjutan. Penanaman A. gangetica sebagai tanaman penutup tanah mampu meningkatkan cadangan karbon tanah sebesar 100% dibandingkan sebelum ditanami A. gangetica (Gambar 18). A. gangetica
juga sebagai penyumbang karbon biomasa sebesar 1.4 t C ha-1 tahun-1 (Gambar 17), di mana kandungan C di akar, batang, dan daun berturut-turut sebesar 52.8%, 48.7%, dan 45.2% (Tabel 8).
Mempertimbangkan manfaat tanaman penutup tanah dalam memperbaiki sifat kimia dan biologi tanah, A. gangetica berperan dalam memperbaiki sifat kimia tanah dengan menyumbang hara melalui dekomposisi serasahnya. Dalam waktu 30 hari, A. gangetica sudah terdekomposisi sebesar 90.0-96.6% dengan laju dekomposisi 3.0-3.2 % hari-1 (Tabel 9), sedangkan Mucuna bracteata
membutuhkan waktu lebih lama untuk terdekomposisi, yaitu lebih 10 minggu dengan biomasa terdekomposisi sebesar 76% (Chiu 2004). Hal ini menunjukkan bagian tanaman A. gangetica mudah terdekomposisi sehingga dapat dengan cepat menyumbang hara ke dalam tanah dibandingkan dengan Mucuna bracteata.
Keanekaragaman hayati dalam penerapan Best Management Practices
tidak hanya keanekaragaman hayati tanaman, tetapi juga keanekaragaman mikroorganisme tanah. Peran A. gangetica dalam memperbaiki sifat biologi tanah, yaitu meningkatkan aktivitas, jumlah populasi, dan keanekaragaman mikroorganisme tanah (Tabel 10). Dengan penanaman A. gangetica sebagai tanaman penutup tanah di kebun kelapa sawit menghasilkan, meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah dari 1.1 x 104 mg CO2 m-2 jam-1 pada tanah tanpa tanaman penutup tanah menjadi 2.9 x 104 mg CO2 m-2 jam-1 pada tanah yang ditanami A. gangetica. Peningkatan aktivitas mikroorganisme tanah pada tanah yang ditanami A. gangetica lebih tinggi dibandingkan peningkatan aktivitas mikroorganisme tanah pada tanah yang ditanami N. biserrata sebagai tanaman penutup tanah yang umum digunakan di kebun kelapa sawit menghasilkan pada beberapa perkebunan-perkebunan besar di Indonesia, yaitu 2.4 x 104 mg CO2 m-2 jam-1 (Tabel 10). Demikian pula dengan keanekaragaman mikroorganisme tanah terjadi peningkatan dengan adanya penanaman A. gangetica, disebabkan tanaman merupakan sumber bahan organik utama bagi mikroorganisme tanah, terutama di rizosfir (Rodriguez-Lionaz et al. 2008).
Peningkatan aktivitas dan keanekaragaman mikroorganisme tanah ini juga mempengaruhi neraca hara pada tanah yang ditanami A. gangetica. Belnap (2003) menyatakan bahwa mikroorganisme tanah berperan penting dalam neraca hara, baik bersimbiosis dengan beberapa tanaman, maupun berkoloni di antara tanaman sebagai komponen penggembur tanah secara biologi (biocrusts). Dengan adanya
A. gangetica sebagai tanaman penutup tanah di kebun kelapa sawit menghasilkan, berpengaruh positif terhadap neraca hara. Tanah yang ditanami A. gangetica
meningkat kandungan hara N-total, P2O5, dan K2O melalui neraca haranya, yaitu sebesar 512.8 kg N-total ha-1, 12.6 kg P2O5 ha-1, dan 262.9 kg K2O ha-1. Peningkatan hara pada tanah yang ditanami A. gangetica melalui neraca hara ini hampir sama dengan peningkatan hara pada tanah yang ditanami N. biserrata,
yaitu sebesar 549.4 kg N-total ha-1, 30.8 kg P2O5 ha-1, dan 135.3 kg K2O ha-1 (Tabel 13). Sedangkan pada tanah tanpa tanaman penutup tanah terjadi pengurangan hara tanah melalui neraca haranya, yaitu sebesar 322.0 kg N-total ha-1, 9.4 kg P2O5 ha-1, dan 21.8 kg K2O ha-1. Terjadinya pengurangan hara pada tanah tanpa tanaman disebabkan hara yang berasal dari aktivitas mikroorganisme (Tabel 10) dan bahan organik tanah (Gambar 21) lebih kecil dibandingkan hara yang tercuci, menguap dan terfiksasi.
Hal ini menunjukkan bahwa tindakan konservasi tanah dibutuhkan di kebun kelapa sawit menghasilkan, khususnya di kebun kelapa sawit Rejosari PTPN VII, Lampung Selatan. Konservasi tanah yang diterapkan pada kebun kelapa sawit Rejosari PTPN VII, Lampung Selatan adalah pembuatan teras gulud dengan tanaman penutup tanah. Pembuatan teras gulud dan tanaman penutup tanah di kebun kelapa sawit menghasilkan ini bertujuan untuk menjaga kelembaban tanah pada musim kering serta menjaga kehilangan air dan hara pada saat musim hujan akibat erosi.
Butiran hujan yang terlalu deras berpotensi menjadi aliran permukaan penyebab erosi, tetapi dengan adanya teras gulud dan tanaman penutup tanah, erosi dapat dikurangi terutama pada kondisi curah hujan tinggi. Hasil penelitian di kebun kelapa sawit Rejosari PTPN VII, Lampung Selatan menunjukkan bahwa dengan curah hujan 1012.2-1208.1 mm tahun-1 menyebabkan erosi sebesar 28.1 t ha-1 tahun-1 pada lahan tanpa teras gulud, sedangkan pada lahan dengan teras gulud sebesar 11.3 t ha-1 tahun-1. Erosi pada lahan tanpa tanaman penutup tanah sebesar 43.1 t ha-1 tahun-1, sedangkan erosi pada lahan dengan tanaman penutup tanah N. biserrata dan A. gangetica, berturut-turut sebesar 1.6 t ha-1 tahun-1 dan 14.4 t ha-1 tahun-1. Namun dengan adanya teras gulud dan tanaman penutup tanah
N. biserrata dan A. gangetica mampu menekan erosi lebih kecil, yaitu berturut- turut sebesar 0.8 t ha-1 tahun-1 dan 3.3 t ha-1 tahun-1, sedangkan pada lahan tanpa teras gulud tanpa tanaman penutup tanah, erosi yang terjadi sebesar 56.4 t ha-1 tahun-1 (Tabel 14). Ini menunjukkan bahwa dengan adanya teras gulud dan tanaman penutup tanah N. biserrata dan A. gangetica mampu mengurangi terjadinya erosi masing-masing sebesar 98.6% dan 94.1%. Hal ini membuktikan bahwa penerapan konservasi tanah secara mekanik dan vegetatif lebih efektif dalam menekan erosi. Sejalan dengan Idjudin (2011) yang menyatakan bahwa, efektivitas teras gulud akan meningkat dalam menanggulangi erosi apabila guludan diperkuat dengan tanaman.
Rendahnya erosi yang terjadi dengan adanya teras gulud dan tanaman penutup tanah disebabkan teras gulud mengurangi erosi dengan cara memperlambat aliran permukaan, menampung dan menyalurkan aliran permukaan dengan kekuatan yang tidak sampai merusak, serta meningkatkan laju infiltrasi (Idjudin 2011), sedangkan tanaman penutup tanah N. biserrata dan A. gangetica
mengurangi erosi dengan cara memperlambat pergerakkan air hujan dengan menciptakan rintangan melaui daun, batang dan akarnya, sehingga meningkatkan daya dukung tanah dan memberikan kesempatan lebih lama kepada air untuk masuk ke dalam tanah, meningkatkan kemampuan tanah untuk menyerap dan menahan air melalui perbaikan struktur dan pori tanah, sehingga mencegah sejumlah besar air bergerak di permukaan tanah, serta menstabilkan partikel tanah melalui sistem perakarannya, sehingga dapat meningkatkan kapasitas infiltrasi (Clark 2007).
Erosi yang disebabkan oleh hujan mengakibatkan hilangnya lapisan atas tanah yang subur dan baik untuk pertumbuhan tanaman serta berkurangnya kemampuan tanah untuk menyerap air. Kehilangan tanah lapisan atas akan mengakibatkan kehilangan bahan organik dan unsur hara tanah bersama-sama dengan tanah yang tererosi (Arsyad 2010). Dengan demikian erosi tanah juga menyebakan hilangnya C-organik, N, P, dan K tanah. Hal ini terlihat pada lahan tanpa teras gulud tanpa tanaman penutup tanah, dengan kejadian erosi yang cukup tinggi, kehilangan C-organik, N, P, K tanah juga cukup tinggi, yaitu sebesar 97.4 kg C-organik ha1, 8.7 kg N-total ha-1, 0.02 kg P2O5 ha-1, dan 1.4 kg K2O ha-1, sedangkan pada lahan dengan teras gulud dengan tanaman penutup tanah N. biserrata dan A. gangetica, erosi yang terjadi sangat rendah begitu pula dengan kehilangan haranya juga sangat rendah, yaitu sebesar 0.1 kg C-organik ha-1, 0.01 kg N-total ha-1, 0.001 kg P2O5 ha-1, 0.006 kg K2O ha-1 pada lahan dengan teras gulud dengan tanaman penutup tanah N. biserrata, dan sebesar 0.9 kg C-organik ha-1, 0.07 kg N-total ha-1, 0.002 kg P2O5 ha-1, dan 0.02 kg K2O ha-1 pada lahan dengan teras gulud dengan tanaman penutup tanah A. gangetica (Tabel 16).
Kehilangan hara yang rendah pada lahan dengan tanaman penutup tanah
N. biserrata dan A. gangetica dibandingkan lahan tanpa tanaman penutup tanah dapat dilihat dari neraca hara yang disajikan pada Tabel 13. Dalam Tabel 13 terlihat bahwa, penanaman N. biserrata dan A. gangetica sebagai tanaman penutup tanah mampu meningkatkan hara N, P, K tanah melalui neraca hara sebesar 40.5% N, 272.6% P, 87.3% K pada lahan yang ditanami N. biserrata dan 43.7% N, 113.5% P, 162.6% K pada lahan yang ditanami A. gangetica. Hal ini menunjukkan bahwa, A. gangetica dan N. biserrata bermanfaat dalam neraca hara di kebun kelapa sawit menghasilkan dengan meningkatkan ketersediaan hara N, P, K di dalam tanah.
Peningkatan ketersediaan hara N, P, K di dalam tanah dengan adanya A. gangetica dan N. biserrata sebagai tanaman penutup tanah akan berpengaruh positif terhadap pertumbuhan dan produksi kelapa sawit nantinya. Selama proses pertumbuhan sampai produksi kelapa sawit, ketersediaan air dan hara merupakan faktor pembatas utama dalam pertumbuhan dan produksi kelapa sawit, seperti jumlah pelepah, jumlah pelepah sengkleh, dan jumlah bunga jantan dan bunga betina. Bulan Agustus 2014 merupakan bulan kering dengan tidak ada hujan sama sekali, sehingga pada bulan tersebut tanaman mengalami cekaman kekeringan. Namun, dengan adanya perlakuan teras gulud dengan tanaman penutup tanah N. biserrata dan A. gangetica mampu memperkecil rata-rata jumlah pelepah sengkleh masing-masing sebesar 55.2% dan 90.8%. Keadaan ini disebabkan dengan adanya tanaman penutup tanah N. biserrata dan A. gangetica mampu menjaga kelembaban tanah, yaitu masing-masing sebesar 61.5% dan 63.1%, sedangkan tanpa teras gulud tanpa tanaman penutup tanah, kelembaban tanahnya sebesar 50.8%.
Bulan Desember 2014 sampai April 2015 dengan curah hujan 100-200 mm per bulan (Gambar 25), jumlah pelepah sengkleh pada perlakuan tanpa teras gulud tanpa tanaman penutup tanah tetap lebih banyak dibandingkan dengan perlakuan teras gulud dengan tanaman penutup tanah N. biserrata dan A. gangetica. Hal ini disebabkan, curah hujan yang tinggi juga menyebabkan tingginya erosi pada lahan tanpa teras gulud tanpa tanaman penutup tanah, sehingga ketersediaan air dan hara menjadi terbatas karena lebih sedikit air yang
terinfiltrasi ke dalam tanah dan lebih banyak hilang sebagai aliran permukaan penyebab erosi serta lebih banyak hara yang hilang terbawa bersama erosi.
Keadaan ini juga berpengaruh terhadap pembungaan kelapa sawit yang memegang peranan penting dalam menentukan produksi kelapa sawit. Bulan kering yang tegas dan berturut-turut selama beberapa bulan dapat mempengaruhi pembentukan bunga untuk dua tahun berikutnya, karena proses perkembangan tandan buah kelapa sawit, mulai dari penentuan kelamin bunga sampai panen tandan buah segar membutuhkan waktu ± 24 bulan (Gambar 26). Jumlah bunga betina yang tinggi belum menjamin produksi kelapa sawit yang tinggi pula, karena belum tentu semua bunga betina yang dihasilkan akan menjadi tandan buah yang akan dipanen disebabkan adanya resiko aborsi bunga betina dan kegagalan pembentukan tandan. Penyebab aborsi diantaranya adalah karbohidrat yang kurang untuk perkembangan bunga, serta ketersediaan air dan hara yang tidak berkesinambungan (Corley & Tinker 2003). Resiko awal aborsi ini terjadi pada 5 bulan setelah penetuan kelamin bunga dan periode kritis terjadinya aborsi pada 5 bulan sebelum bunga mekar (Gambar 26). Jumlah bunga yang mengalami aborsi ini merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya fluktuasi produksi kelapa sawit.
Gambar 26 Diagram perkembangan bunga kelapa sawit mulai dari inisiasi sampai panen
Keadaan ini terlihat pada bulan Desember 2014 dan April 2015, di mana pada perlakuan tanpa teras gulud tanpa tanaman penutup tanah, bunga jantan lebih tinggi dibandingkan bunga betina walaupun curah hujan tinggi, sedangkan pada perlakuan teras gulud dengan tanaman penutup tanah N. biserrata dan A. gangetica, bunga betina lebih tinggi dibandingkan bunga jantan. Hal ini berkaitan dengan kejadian erosi yang cukup tinggi pada perlakuan tanpa teras gulud tanpa tanaman penutup tanah (Tabel 14, 15, 16, dan Gambar 24), menyebabkan air yang
Buah matang panen (Tandan Buah Segar)
Bunga mekar (Anthesis)
Periode kritis aborsi bunga betina
Awal resiko aborsi bunga betina
Penentuan kelamin bunga (Sex differentiation) 0 5 13 18 24
terinfiltrasi ke dalam tanah menjadi sedikit, sedangkan hara di dalam tanah banyak yang hilang bersama erosi. Akibatnya kelembaban tanah lebih rendah, yaitu 48.5% dibandingkan kelembaban tanah pada perlakuan teras gulud dengan tanaman penutup tanah N. biserrata dan A. gangetica, yaitu masing-masing sebesar 60.1% dan 59.8%. Selain itu, dengan adanya tanaman penutup tanah N. biserrata dan A. gangetica meningkatkan populasi dan keanekaragaman mikroorganisme tanah (Tabel 10) yang menyebabkan terjadinya penambahan hara pada tanah (Tabel 13). Corley & Tinker (2003) menyatakan bahwa selain kelembaban tanah, status hara yang tinggi dan berkelanjutan merupakan faktor penting pada setiap fase pembentukan tandan buah kelapa sawit, mulai dari inisiasi bunga sampai panen.
Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang telah dikemukakan di atas, membuktikan bahwa A. gangetica yang selama ini dianggap sebagai gulma yang harus dikendalikan dapat digunakan sebagai tanaman penutup tanah di kebun kelapa sawit menghasilkan, Rejosari PTPN VII, Lampung Selatan karena bermanfaat sebagai penyumbang bahan organik dan hara tanah, meningkatkan cadangan karbon tanah dan tempat penyimpan karbon biomasa, meningkatkan aktivitas, jumlah populasi serta keanekaragaman mikroorganisme tanah, berpengaruh positif terhadap neraca hara tanah, menurunkan erosi serta kehilangan bahan organik dan hara tanah yang pada akhirnya berpengaruh terhadap ketersediaan air dan hara tanah secara berkesinambungan untuk pertumbuhan dan produksi kelapa sawit. Selain itu, peran A. gangetica sebagai tanaman penutup tanah di kebun kelapa sawit menghasilkan sama seperti peran N. biserrata sebagai tanaman penutup tanah yang sudah dimanfaatkan oleh beberapa perkebunan-perkebunan nasional, terutama dalam memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah, neraca hara tanah, serta perannya dalam mengurangi erosi serta kehilangan bahan organik dan hara tanah.