(95% CI) Normal Kurang
A. Pembahasan Variabel Penelitian
Pada penelitian ini salah satu variabel yang digunakan adalah Kesakitan bayi yang menjadi indikator utama derajat kesehatan anak. Karena nilai kesakitan merupakan cermin dari lemahnya daya tahan bayi dan balita anak. Kesehatan anak mencerminkan kesehatan bangsa, sebab anak sebagi hasil generasi penerus bangsa yang dapat di kembangkan dalam meneruskan pembangunan bangsa Menurut penelitian tentang risiko komplikasi pregenancy menjelaskan bahwa adanya risiko hipertensi pada masa kehamilan terhadap frekuensi kesakitan anak seperti obstruksi bronkus dan infeksi pernafasan atas contohnya rhinitis. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan hipertensi kehamilan memiliki risiko terhadap kesakitan bayi.21 Bukti global menunjukkan bahwa pertumbuhan anak-anak memburuk dengan cepat selama / setelah sakit.2
Sama halnya pada penelitian ini didapatkan risiko hipertensi kehamilan terhadap kurangnya keaktifan anak dalam bermain.Hal ini sesuai dengan literatur yang menjelaskan bahwa hipertensi kehamilan dapat menimbulkan gangguan kognitif.23 Perkembangan kognitif merupakan perubahan kemampuan berfikir atau intelektual. Seperti juga kemampuan fisik. Dalam perkembangan kognitif, berfikir kritis merupakan hal yang penting. Ketika anak tertarik pada obyek tertentu,
64 ketrampilan berfikir mereka akan lebih kompleks. Dilain pihak ketika anak mengalami kebingungan terhadap subyek tertentu, ketrampilan berfikir menjadi lebih itensif seperti halnya bermain.24 Bermain memberikan kebebasan pada anak untuk berimajinasi, bereksplorasi dan menciptakan suatu bentuk kreativitas. Jadi pentingnya pembelajaran dengan bermain akan mengembangkan potensi anak sehingga potensi yang telah ada dapat ditingkatkan melalui pembelajaran dengan bermain. Dunia anak adalah dunia bermain karena dengan bermain maka akan mengembangkan perkembangan anak sesuai usianya. Kegiatan bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh anak tanpa dibatasi usianya dengan menggunakan alat ataupun tanpa alat permainan, yang merupakan pengalaman langsung yang efektif dalam memberikan informasi maupun kesenangan pada anak dalam mengembangkan imajinasi anak.Jika anak tidak aktif dalam bermain dapat dikatakan anak tersebut perkembangannya terganggu.25 Sedangkn hipertensi terhadap pemenuhan gizi pada anak usia dibawah lima tahun (balita) merupakan faktor yang perlu diperhatikan dalam menjaga kesehatan, karena masa balita merupakan periode perkembangan yang rentan gizi. Kasus kematian yang sering terjadi pada balita merupakan salah satu akibat dari gizi buruk. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa ibu yang hipertensi kehamilan memliki risiko kurangnya asupan gizi pada anak. Hal ini sesuai dengan penelitian yang menunjukkan bahwa bayi dan anak anak makan selama sakit, anak jauh dari optimal. Ketika sakit, kebanyakan anak-anak terus disusui, tetapi sedikit yang disusui lebih sering,. Pembatasan makanan pendamping selama sakit sering terjadi
65 karena anoreksia anak-anak, kurangnya kesadaran pengasuh tentang kebutuhan makan anak-anak yang sakit, dan dukungan oleh petugas kesehatan. Akibatnya, banyak anak-anak yang makan jumlah yang lebih rendah atau diberi makan lebih jarang ketika mereka sakit. Ibu / pengasuh sering kurang mengerti tentang bagaimana memberi makan anak-anak mereka yang sakit. Dengan demikian, perlunya panduan makan praktek, makanan dan diet untuk anak-anak yang sakit.22
Masa balita menjadi lebih penting lagi oleh karena merupakan masa yang kritis dalam upaya menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Terlebih lagi 6 bulan terakhir masa kehamilan dan dua tahun pertama pasca kelahiran merupakan masa emas dimana sel-sel otak sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. Gagal tumbuh yang terjadi akibat kurang gizi pada masa-masa emas ini akan berakibat buruk pada kehidupan berikutnya yang sulit diperbaiki. Anak yang menderita kurang gizi (stunted) berat mempunyai rata-rata IQ 11 point lebih rendah dibandingkan rata-rata-rata-rata anak-anak yang tidak stunted.26 Masalah kurang gizi lain yang dihadapi anak usia balita adalah kekurangan zat gizi mikro seperti vitamin A, zat besi, yodium dan sebagainya.
Lebih dan 50% anak balita mengalami defisiensi vitamin A subklinis yang ditandai dengan serum retinol <20 2mcg/dl dan satu diantara dua (48.1%) dari mereka menderita anemia kurang zat 27. Seperti telah diketahui bahwa anak-anak yang kurang vitamin A meskipun pada derajat sedang mempunyai risiko tinggi untuk mengalami gangguan pertumbuhan, menderita beberapa penyakit
66 infeksi seperti diare.
Adapun hipertensi terhadap berat ,tinggi dan status gizi anak. Berat dan tinggi badan merupakan salah satu indikator dalam menilai pertumbuhan anak. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya risiko ibu yang memiliki hipertensi terhadap kurangnya berat dan tinggi badan anak sehingga dapat disimpulkan bahwa anak mengalami gangguan pertumbuhan.Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa mayoritas anak yang dilahirkan oleh ibu hipertensi memiliki keterbatasan dalam pertumbuhan , anak cenderung lebih kecil dan lebih ringan dari usia seharusnya.
Berdasarkan Depkes RI (2012) Indonesia masih mengalami permasalahan gizi pada anak-anak, maka usaha deteksi dini penting untuk dilakukan. Kita mengenal alat ukur yang digunakan untuk melihat gizi balita antara lain dengan pengukuran status gizi melalui kegiatan posyandu dengan Kartu Menuju Sehat (KMS) sebagai alat ukur dan deteksi dini untuk memantau tingkat pertumbuhan dan perkembangan balita. Kartu Menuju Sehat (KMS) merupakan kartu yang memuat kurva pertumbuhan normal anak berdasarkan indeks antopometri berat badan menurut umur. Dengan KMS gangguan pertumbuhan atau risiko kelebihan gizi dapat diketahui lebih dini, sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahan secara lebih cepat dan tepat sebelum masalahnya lebih berat. Kartu Menuju Sehat (KMS) merupakan kartu yang memuat kurva pertumbuhan normal anak berdasarkan indeks antopometri berat badan menurut umur. Dengan KMS
67 gangguan pertumbuhan atau risiko kelebihan gizi dapat diketahui lebih dini, sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahan secara lebih cepat dan tepat sebelum masalahnya lebih berat.29
Sedangkan Hipertensi kehamilan terhadap anak susah makan. Anak susah makan atau eating disorders disebabkan oleh beberapa faktor biologik yaitu disfungsi hormone, faktor keturunan serta adanya defisensi nutrisi pada anak.Walaupun pada penelitian didapatkan bahwa hipertensi kehamilan memiliki hubungan terhadap anak susah makan atau anoreksia namun tidak memberikan efek secara langsung terhadap anak. Hipertensi kehamilan dapat mengakibatkan kurangnya status gizi anak dan menimbulka anak sering sakit bisa saja hal inilah yang menjadi pemicu terhadap kurangnya nafsu makan anak