• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.4. Pembangunan dan Pertumbuhan Daerah

Perbedaan kondisi daerah membawa implikasi bahwa corak pembangunan yang diterapkan di setiap daerah akan berbeda pula. Munir (2002), peniruan mentah-mentah terhadap pola kebijakan yang pernah diterapkan dan berhasil pada suatu daerah, belum tentu memberi manfaat yang sama bagi daerah yang lain.

Setiap pembangunan daerah memiliki tujuan utama untuk meningkatkan jumlah dan jenis peluang kerja untuk masyarakat daerah. Dalam upaya untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah dan masyarakatnya harus secara bersama- sama mengambil inisiatif pembangunan daerah. Oleh karena itu, pemerintah daerah dengan partisipasi masyarakatnya dengan memanfaatkan sumberdaya- sumberdaya yang ada harus mampu menaksir potensi sumberdaya-sumberdaya yang diperlukan untuk merancang dan membangun perekonomian daerah (Syafrijal, 2008).

Pembangunan wilayah (regional) merupakan fungsi dari potensi sumber daya alam, tenaga kerja dan sumber daya manusia, investasi modal, sarana dan prasarana pembangunan, transportasi dan komunikasi, komposisi industri, teknologi, situasi ekonomi dan perdagangan antar wilayah, kemampuan pendanaan dan pembiayaan pembangunan daerah, kewirausahaan

(kewiraswastaan), kelembagaan daerah dan lingkungan pembangunan secara luas (Adisamita, 2008).

Pembangunan daerah dapat dilihat dari berbagai segi. Pertama, dari segi pembangunan sektoral. Pencapaian sasaran pembangunan nasional dilakukan melalui berbagai kegiatan pembangunan sektoral yang dilakukan di daerah. Pembangunan sektoral disesuaikan dengan kondisi dan potensi daerah. Kedua, dari segi pembangunan wilayah yang meliputi perkotaan dan pedesaan sebagai pusat dan lokasi kegiatan sosial ekonomi dari wilayah tersebut. Ketiga, pembangunan daerah dilihat dari segi pemerintahan. Tujuan pembangunan daerah hanya dapat dicapai apabila pemerintahan daerah dapat berjalan dengan baik. Oleh karena itu pembangunan daerah merupakan suatu usaha mengembangkan dan memperkuat pemerintahan daerah dalam rangka semakin mantapnya otonomi daerah yang nyata, dinamis, serasi dan bertanggung jawab (Sjafrizal, 2008).

Program pembangunan daerah yang akan dilaksanakan suatu daerah tidak boleh bertentangan dengan program pembangunan yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat. Jadi pada hakikatnya perencanaan pembangunan yang dilakukan oleh tiap daerah merupakan pelengkap perencanaan pembangunan yang dilaksankan oleh pemerintah pusat yaitu membuat suatu program untuk mendistribusikan proyek-proyek ke berbagai daerah dengan tujuan memberikan sumbangan yang optimal kepada usaha pemerintah untuk membangun.

Ada 2 kondisi yang mempengaruhi proses perencanaan pembangunan daerah (Kuncoro, 2004) yaitu:

a. Tekanan yang berasal dari lingkungan dalam negeri maupun luar negeri yang mempengaruhi kebutuhan daerah dalam proses pembangunan

perekonomiannya.

b. Kenyataan bahwa perekonomian daerah dalam suatu negara dipengaruhi oleh setiap sektor secara berbeda-beda.

Pertumbuhan ekonomi wilayah adalah peningkatan variabel ekonomi dari suatu subsistem spasial suatu wilayah dan juga dapat diartikan sebagai peningkatan kemakmuran suatu wilayah. Pertumbuhan ekonomi wilayah menganalisis suatu wilayah sebagai suatu sistem ekonomi terbuka yang berhubungan dengan wilayah-wilayah lain melalui arus perpindahan faktor-faktor produksi dan pertukaran komoditas.

Pertumbuhan ekonomi daerah adalah pertambahan pendapatan masyarakat yang terjadi di suatu daerah, yaitu kenaikan seluruh nilai tambah (added value) yang terjadi di daerah tersebut (Tarigan, 2005).

Perhatian terhadap pertumbuhan ekonomi daerah semakin meningkat dalam era otonomi daerah. Hal ini dikarenakan dalam otonomi daerah masing- masing daerah berlomba-lomba meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerahnya, guna meningkatkan kemakmuran masyarakatnya. Oleh karena itu, pembahasan tentang struktur dan faktor penentu pertumbuhan daerah akan sangat penting artinya bagi pemerintah daerah dalam menentukan upaya-upaya yang dapat dilakukan bagi mendorong pertumbuhan ekonomi di daerahnya (Sjafrizal, 2008).

Perhitungan pendapatan daerah pada awalnya dibuat pada harga berlaku, namun agar dapat melihat dari kurun waktu ke waktu berikutnya harus dinyatakan dengan nilai riil, artinya dinyatakan dalam nilai konstan. Pendapatan daerah menggambarkan balas jasa bagi faktor-faktor produksi yang beroperasi di daerah tersebut (tanah, modal, tenaga kerja dan teknologi), yang berarti secara kasar

dapat menggambarkan kemakmuran daerah tersebut. Kemakmuran suatu daerah selain ditentukan oleh besarnya nilai tambah yang tercipta di daerah tersebut oleh

seberapa besar terjadinya transfer payment, yaitu bagian pendapatan yang

mengalir ke luar daerah atau mendapat aliran dari luar daerah (Septa, 2007).

2.5. Sektor Unggulan dan Kriteria Sektor Unggulan

Sektor unggulan adalah sektor yang keberadaannya pada saat ini telah berperan kepada perkembangan perekonomian suatu wilayah, karena mempunyai keunggulan-keunggulan. Selanjutnya faktor ini berkembang lebih lanjut melalui kegiatan kegiatan investasi dan menjadi tumpuan kegiatan ekonomi. Hal ini didasarkan atas seberapa besar peranan sektor tersebut dalam perekonomian daerah (Sambodo dalam Gufron, 2008).

Menurut Ambardi dan Socia (2002), kriteria komoditas unggulan yang bisa menjadi motor penggerak pembangunan suatu daerah, diantaranya:

1. Komoditas unggulan harus mampu menjadi penggerak utama pembangunan

perekonomian. Artinya, komoditas unggulan dapat memberikan kontribusi yang signifikan pada peningkatan produksi, pendapatan, maupun pengeluaran.

2. Komoditas unggulan mempunyai keterkaitan ke depan dan ke belakang yang

kuat, baik sesama komoditas unggulan maupun komoditas lainnya.

3. Komoditas unggulan mampu bersaing dengan produk sejenis dari wilayah lain di pasar nasional dan pasar internasional, baik dalam harga produk, biaya produksi, kualitas pelayanan, maupun aspek-aspek lainnya.

4. Komoditas unggulan daerah memiliki keterkaitan dengan daerah lain, baik

dalam hal pasar (konsumen) maupun pemasokan bahan baku (jika bahan baku di daerah sendiri tidak mencukupi atau tidak tersedia sama sekali).

5. Komoditas unggulan memiliki status teknologi yang terus meningkat, terutama melalui inovasi teknologi.

6. Komoditas unggulan mampu menyerap tenaga kerja berkualitas secara

optimal sesuai dengan skala produksinya.

7. Komoditas unggulan bisa bertahan dalam jangka waktu tertentu, mulai dari

fase kelahiran, pertumbuhan, puncak hingga penurunan. Di saat komoditas unggulan yang satu memasuki tahap penurunan, maka komoditas unggulan lainnya harus mampu menggantikannya.

8. Komoditas unggulan tidak rentan terhadap gejolak eksternal dan internal.

9. Pengembangan komoditas unggulan harus mendapatkan berbagai bentuk

dukungan. Misalnya, dukungan keamanan, sosial, budaya, informasi dan peluang pasar, kelembagaan, fasilitas insentif/disinsentif, dan lain-lain.

10.Pengembangan komoditas unggulan berorientasi pada kelestarian sumber

daya dan lingkungan.

2.6. Teori Basis Ekonomi

Teori basis ekspor murni dikembangkan pertama kali oleh Tiebout. Teori ini membagi sektor produksi atau jenis kegiatan ekonomi yang terdapat dalam suatu wilayah atas kegiatan ekonomi basis (dasar) dan kegiatan ekonomi service

(pelayanan) atau lebih sering disebut kegiatan ekonomi nonbasis. Pada dasarnya, kegiatan yang hasilnya dijual ke luar daerah (atau mendatangkan dari luar daerah) disebut kegiatan basis. Sedangkan kegiatan nonbasis adalah kegiatan yang melayani kebutuhan masyarakat di daerah itu sendiri, baik pembeli maupun asal uangnya dari daerah itu sendiri. Oleh karena itu, pertumbuhannya tergantung kepada kondisi umum perekonomian wilayah.

Analisis basis ekonomi adalah berkenaan dengan identifikasi pendapatan basis, Richardson (1978). Bertambah banyaknya kegiatan basis dalam suatu wilayah akan menambah arus pendapatan ke dalam wilayah yang bersangkutan, yang selanjutnya menambah permintaan terhadap barang atau jasa di dalam wilayah tersebut, sehingga pada akhirnya akan menimbulkan kenaikan volume kegiatan nonbasis. Sebaliknya berkurangnya aktivitas basis akan mengakibatkan berkurangnya pendapatan yang mengalir ke dalam suatu wilayah, sehingga akan menyebabkan turunnya permintaan produk dari aktivitas nonbasis.

Dalam model basis ekonomi dinyatakan bahwa faktor penentu utama pertumbuhan ekonomi suatu daerah keuntungan kompetitif yang berhubungan langsung dengan permintaan barang dan jasa dari luar daerah. Berdasarkan teori ini perekonomian suatu wilayah dibagi menjadi dua yaitu sektor basis dan sektor nonbasis. Sektor basis adalah sektor yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah karena mempunyai keuntungan kompetitif yang cukup tinggi, sehingga mampu mengekspor barang dan jasa ke luar batas-batas perekonomian wilayah yang bersangkutan. Sedangkan sektor nonbasis merupakan kegiatan-kegiatan yang menyediakan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang bertempat tinggal di dalam batas-batas perekonomian wilayah tersebut. Sektor

nonbasis ini berfungsi sebagai sektor penunjang sektor basis atau service

industries (Sjafrizal, 2008).

Teori basis ekonomi dalam Arsyad (2010) merupakan laju pertumbuhan ekonomi suatu wilayah ditentukan oleh besarnya peningkatan ekspor dari wilayah tersebut. Pertumbuhan industri-industri yang menggunakan sumber daya lokal, termasuk tenaga kerja dan bahan baku untuk kemudian di ekspor, sehingga akan

menghasilkan kekayaan daerah dan penciptaan peluang kerja. Asumsi tersebut memberikan pengertian bahwa suatu daerah akan mempunyai sektor unggulan apabila daerah tersebut dapat memenangkan persaingan pada sektor yang sama dengan daerah lain sehingga dapat menghasilkan ekspor.

Pengertian basis ekonomi di suatu wilayah tidak bersifat statis melainkan dinamis, maksudnya pada tahun tertentu mungkin saja sektor basis tersebut bisa beralih ke sektor lain. Sektor basis bisa mengalami kemajuan atau kemunduran. Penyebab kemajuan sektor basis adalah perkembangan jaringan transportasi dan komunikasi, perkembangan pendapatan dan penerimaan daerah, perkembangan teknologi, dan adanya perkembangan prasarana ekonomi dan sosial. Sedangkan penyebab kemunduran sektor basis adalah perubahan permintaan dari luar daerah dan kehabisan cadangan sumber daya.

Untuk menganalisis ekonomi suatu wilayah, salah satu teknik yang lazim

adalah LQ (Location Quotient). Pada LQ dapat digunakan untuk mengetahui

seberapa besar tingkat spesialisasi sektor-sektor basis atau unggulan. Dalam teknik LQ berbagai peubah (faktor) dapat digunakan sebagai indikator pertumbuhan wilayah, misalnya kesempatan kerja dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

Teknik LQ mempunyai dua kelebihan yaitu sebagai berikut:

1. Memperhitungkan ekspor, baik secara langsung maupun tidak langsung (barang antara).

2. Metode ini tidak mahal dan dapat diterapkan pada data distrik untuk mengetahui kecenderungan.

Kelebihan analisisLQ yang lainnya adalah dapat menjadi menarik apabila dilakukan dalam bentuk time series/tren, artinya dianalisis selama kurun waktu tertentu. Dalam hal ini perkembangan LQ bisa dilihat untuk suatu komoditi tertentu dalam kurun waktu yang berbeda, apakah terjadi kenaikan atau penurunan (Tarigan, 2005).

2.7. Model Gravitasi

Model gravitasi adalah model yang paling banyak digunakan untuk melihat besarnya daya tarik suatu potensi yang berada pada suatu lokasi. Model ini sering digunakan untuk melihat kaitan potensi suatu lokasi dan besarnya wilayah pengaruh dari potensi tersebut (Tarigan, 2007).

Misalnya, ada dua kota (kota X dan Y) yang berdekatan, ingin diketahui berapa besar interaksi yang terjadi antara dua kota tersebut, interaksi itu ditentukan oleh beberapa faktor. Faktor pertama adalah besarnya kedua kota tersebut, dapat diukur dari jumlah penduduk, banyaknya lapangan kerja, total pendapatan, jumlah atau luas bangunan, banyaknya fasilitas kepentingan umum, dan lain-lain. Kemudahan dalam mendapatkan data membuat ukuran jumlah penduduk lebih sering digunakan sebagai alat ukur. Ukuran jumlah penduduk bukanlah arbiter karena jumlah penduduk juga terkait langsung dengan berbagai ukuran lain yang dikemukakan di atas. Faktor kedua yang mempengaruhi interaksi adalah jarak antara kota X dan Y. jarak mempengaruhi orang untuk bepergian karena menempuh jarak tersebut diperlukan waktu, tenaga dan biaya.

2.8. Penelitian Terdahulu

Reniwati (2013) melakukan studi tentang Analisis Sektor-sektor Ekonomi di Sulawesi Selatan Periode 2007-2011, menggunakan metode analisisshift share. Hasilstudi menunjukkan bahwa sektor yang berkembangng pesat adalah sektor listrik, gas dan air bersih; sektor konstruksi; sektor perdagangan, hotel dan restoran; sektor angkutan dan komunikasi; sektor keuangan dan persewaan; serta sektor jasa-jasa.

Nurfatimah (2013) melakukan studi tentang Analisis Potensi Pertumbuhan

Ekonomi Kabupaten/Kota di Provinsi Bali, menggunakan metode Location

Quotient (LQ), Sift Share dan Gravitasi. Hasil studi menunjukkan terjadi penyebaran sektor-sektor ekonomi yang basis di Provinsi Bali dan pemerataan pembangunan daerah Bali. Pembangunan di Bali tidak dikhususkan untuk satu sektor di setiap kabupaten/kota tetapi terbagi-bagi untuk saling memenuhi kebutuhan tiap- tiap daerah. Hasil dari analisis gravitasi dengan nilai indeks terbesar menunjukkan keterkaitan atau daya tarik menarik potensi ekonomi antara Kota Denpasar dengan kabupaten lain di sekitarnya paling kuat adalah pertama dengan Kabupaten Klungkung, kedua interaksi dengan Kabupaten Tabanan, ketiga interaksi dengan Kabupaten Badung, keempat interaksi dengan Kabupaten Gianyar, kelima interaksi dengan Kabupaten Bangli, keenam interaksi dengan Kabupaten Buleleng, ketujuh interaksi dengan Kabupaten Karangasem, dan kedelapan interaksi dengan Kabupaten Jembrana. Keterkaitan dengan Kota Denpasar ini paling besar karena kedua daerah tersebut mempunyai jarak yang cukup dekat sehingga interaksi keduanya paling kuat. Interaksi dengan daerah ini dipengaruhi oleh jumlah penduduk dan jarak antara kedua daerah.

Sektor Pertanian Kabupaten Sukoharjo Sebelum dan Selama Otonomi Daerah

dengan menggunakan alat analisis Location Quotient (LQ). Hasil studi

menunjukkan pada masa sebelum otonomi daerah dapat diketahui komoditi yang teridentifikasi sebagai komoditi basis yaitu subsektor tanaman bahan makanan dan subsektor peternakan. Sedangkan selama pelaksanaan otonomi daerah, komoditi yang teridentifikasi sebagai komoditi basis yaitu subsektor tanaman bahan makanan, subsektor perkebunan dan subsektor peternakan.

Novrilasari (2008) melakukan studi dengan judul Analisis Sektor Unggulan dalam Meningkatkan Perekonomian dan Pembangunan Wilayah Kabupaten Kuantan Singingi, menggunakan alat analisis Klassen Typologi dan

Location Quotient. Hasil dari analisis Klassen Typologi dengan pendekatan sektoral, menunjukkan bahwa sektor pertambangan dan poenggalian menduduki kuadran I yaitu sektor maju dan tumbuh cepat. Disusul oleh sektor pertanian pada kuadran II yaitu sektor maju tetapi tertekan. Hasil perhitungan LQ diseluruh sektor perekonomian berdarkan indikator pendapatan terdapat dua sektor yang menjadi basis perekonomian Kabupaten Singingi yang dapat diprioritaskan menjadi sektor unggulan pada tahun 2002-2006 yaitu sektor pertanian dan sektor pertambangan dan penggalian.

2.9. Kerangka Konseptual

Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Nasional (KSN) perkotaan Mebidangro telah ditetapkan melalui Peraturan Presiden Nomor 62 Tahun 2011. Terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 62 Tahun 2011 ini dinilai cukup bagus, dan patut disyukuri karena diharapkan dapat mempercepat perbaikan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat pada kawasan Medan, Binjai, Deli Serdang dan Karo khususnya dan Provinsi Sumatera Utara pada umumnya.

Perbedaan laju pertumbuhan ekonomi tiap daerah merupakan fenomena yang umum dijumpai, terutama di negara berkembang. Pertumbuhan ekonomi daerah diukur dari laju pertumbuhan pendapatan daerah yang bersangkutan sebagai upaya mencapai pembangunan daerah. Salah satu indikator mengetahui pertumbuhan ekonomi dan pendapatan daerah ditunjukkan oleh data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga konstan digunakan untuk mengetahui perubahan struktur ekonomi daerah.

Pertumbuhan pendapatan suatu daerah ditentukan dengan bagaimana daerah yang bersangkutan berperan sebagai eksportir bagi daerah sekitarnya. Menurut teori basis ekonomi kegiatan ekonomi suatu daerah dibagi menjadi kegiatan basis dan nonbasis. Kemudian mengetahui sektor potensial daerah untuk dikembangkan dan interaksi daya tarik potensi ekonomi antar kabupaten dengan kota.

Digunakan alat analisis seperti Location Quetient (LQ), Shift Share,

Tipologi Klassen, Model Rasio Pertumbuhan (MRP), Overlay dan Model

Gravitasi dalam penelitian ini dengan tujuan mengetahui potensi dari pertumbuhan ekonomi kabupaten/kota di kawasan Mebidangro Sumatera Utara.

Gambar 2.1. Kerangka konseptual penelitian

Model Gravitasi:

• Interaksi Kuat

• Interaksi Lemah

Sektor Prioritas untuk dikembangkan Pengembangan Interaksi

Ekonomi Antar Daerah di Kawasan Mebidangro

Sektor Unggulan kabupaten/kota di Kawasan

Mebidangro

Daerah Interaksi Terkuat Sebagai Prioritas Daerah Kerjasama

Potensi Pertumbuhan Ekonomi Sektoral Kabupaten/Kota di

Kawasan Mebidangro Sumatera Utara PDRB kabupaten/kota

Kawasan Mebidangro Perpres N. 62 Tahun

2011

Pengembangan Interaksi Ekonomi Antar Daerah di

Kawasan Mebidangro PDRB kabupaten/kota Kawasan Mebidangro Perpres N. 62 Tahun 2011 Sektor Unggulan kabupaten/kota di Kawasan Mebidangro Pengembangan Interaksi

Ekonomi Antar Daerah di Kawasan Mebidangro PDRB kabupaten/kota Kawasan Mebidangro Perpres N. 62 Tahun 2011 Pengembangan Interaksi Ekonomi Antar Daerah di

Kawasan Mebidangro PDRB kabupaten/kota Kawasan Mebidangro Perpres N. 62 Tahun 2011 Pengembangan Interaksi Ekonomi Antar Daerah di

Kawasan Mebidangro PDRB kabupaten/kota Kawasan Mebidangro Perpres N. 62 Tahun 2011 Sektor Unggulan kabupaten/kota di Kawasan Mebidangro Pengembangan Interaksi

Ekonomi Antar Daerah di Kawasan Mebidangro PDRB kabupaten/kota Kawasan Mebidangro Perpres N. 62 Tahun 2011 Sektor Unggulan kabupaten/kota di Kawasan Mebidangro Pengembangan Interaksi

Ekonomi Antar Daerah di Kawasan Mebidangro PDRB kabupaten/kota Kawasan Mebidangro Perpres N. 62 Tahun 2011 Model Gravitasi: • Interaksi Kuat • Interaksi Lemah Sektor Unggulan kabupaten/kota di Kawasan Mebidangro Pengembangan Interaksi

Ekonomi Antar Daerah di Kawasan Mebidangro PDRB kabupaten/kota Kawasan Mebidangro Perpres N. 62 Tahun 2011 Model Gravitasi: • Interaksi Kuat • Interaksi Lemah Sektor Unggulan kabupaten/kota di Kawasan Mebidangro Pengembangan Interaksi

Ekonomi Antar Daerah di Kawasan Mebidangro PDRB kabupaten/kota Kawasan Mebidangro Perpres N. 62 Tahun 2011 Tipologi Klassen,LQ, MRP, dan Overlay: • Sektor Unggulan • Sektor nonunggulan Shift Share: • Sektor keunggulan kompetitif dan spesialisasi • Sektor keunggulan kompetitif • Sektor spesialisasi • Sektor ketidakunggulan

kompetitif dan non spesialisasi Model Gravitasi: • Interaksi Kuat • Interaksi Lemah Sektor Unggulan kabupaten/kota di Kawasan Mebidangro Pengembangan Interaksi

Ekonomi Antar Daerah di Kawasan Mebidangro

PDRB kabupaten/kota Kawasan Mebidangro

Perpres N. 62 Tahun 2011

Dokumen terkait