BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Konsep/Teori yang Relevan
2.4.4 Pembangunan Energi Baru Terbarukan dan Pengentasan
2.4.3. Pendorong Terwujudnya Renewable Energy
Mewujudkan pembangkit energi baru terbarukan pengelolaan yang kompleks yang tidak hanya bertumpu pada pemerintah saja karena berhubungan dengan perdagangan energi, politik, polusi, ketahanan, ekuiti, dan isu-isu tentang manusia (Mitchell, 2010). Sementara itu, Darmani et al. (2014) menjabarkan, kelebihan dari pelaku secara ekonomi dan kompetensi, dukungan institutisional, kekuatan jaringan pasokan, kemampuan teknologi adalah pendorong dari pembangunan pembangkit energi baru terbarukan. Dukungan politik yang kuat adalah kuncinya (Adams et al., 2016). Pengelolaan pasar energi yang baik sangat diperlukan dalam mewujudkan transisi energi (Hvelplund, 2006) karena mereka pemegang kendali pasar. Kebijakan publik juga sangat berperan dalam terwujudkan renewbale energy di suatu wilayah (Arnette & Zobel, 2011). Selain itu, keberterimaan masyarakat di sekitar pembangkit listrik energi baru terbarukan juga menjadi pendorong terwujudnya pembangkit listrik yang ramah lingkungan (Cass et al., 2010).
2.4.4. Pembangunan Energi Baru Terbarukan dan Pengentasan Kemiskinan Pembangunan pembangkit listik baru terbarukan memberi kontribusi dalam pengentasan kemiskinan (Kashkari, 2004). Seringnya, orang miskin tidak memiliki listrik. Percepatan elektrifikasi dengan renewable energy sudah seharusnya mampu membantu kaum miskin dalam mendapatkan akses listrik. Pembangunan pembangkit
22
listrik energi baru terbarukan yang sumber energinya tersedia di suatu wilayah tentu saja lebih murah daripada membangun energi dari fosil. Oleh karenanya, tarif yang lebih murah seharusnya ditetapkan pada energi baru terbarukan. Inilah yang membuat kaum miskin mampu membeli listrik dengan harga lebih murah (Saunders et al., 2012;
Sovacool, 2013).
23 BAB III
METODE DAN TEKNIK ANALISIS
3.1. METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilandasi oleh tiga pertanyaan besar yaitu, bagaimana peran agen dalam mewujudukan sumber energi baru terbarukan, bagaimana pengelolaannya, dan bagaimana dampak dari pembangkit listrik energi baru terbarukan terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan lingkungan yang merupakan tiga faktor utama yang harus diperhatikan dalam konsep sustainable development. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, metode penelitiannya akan di bahas di bab ini.
3.1.1. Wilayah dan Waktu Studi
Studi ini dilakukan di wilayah Kotamadya Surabaya. Ada beberapa lokasi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu: Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo berada di Kelurahan Romo Kalisari, Kecamatan dan Kelurahan Sumber Rejo, Surabaya. TPA ini adalah peralihan TPA Keputih yang mulai beroperasi pada tahun 2001. Luas Lahan TPA/PLTSa Benowo adalah 37,4 ha ; Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka HIjau (DKRTH) Kota Surabata yang beralamatkan di Jl. Raya Menur No.31A Manyar Sabrangan, Kecamatan Mulyorejo, Surabaya; Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya dengan alamat Jl. Jimerto No.25-27, Ketabang, Kec. Genteng, Kota SBY; DPRD Kota Surabaya dengan alamat Jl. Yos Sudarso 18 – 22 Surabaya;
Dinas Lingkungan Hidup Surakarta dengan alamat Jl. Menteri Supeno No.10, Manahan, Kec. Banjarsari, Kota Surakarta; DPRD Kota Surakarta dengan alamat Jl.
Adi Sucipto No.143A, Karangasem, Kec. Laweyan, Kota Surakarta; Masyarakat di
24
daerah kecamatan Pakal dan Kecamatan Benowo Kota Surabaya; Konsultan pengembangan PLTSa
Waktu studi secara total adalah satu tahun dengan rincian minimal 5 bulan melakukan studi lapangan ke TPA/PLTSa Benowo dan kota Surabaya. Untuk studi lapangan, dilakukan dilakukan pada bulan Mei– September pada tahun 2021 adapaun jadwal penelitian seperti terlihat pada tabel berikut
3.1.2. Sumber, Pengambilan dan Analisis Data
Data yang akan diolah dalam penelitian ini adalah dari sumber primer dan sekunder. Data dari sumber primer didapat dari para pemangku kebijakan di Pemerintah Kotamadya Surakarta (sebagia pembanding), anggota dewan DPRD Surabaya, dinas-dinas terkait pengelola PLTSa Benowo dan masyarakat jika diperlukan. Penentuan narasumber pada penelitian ini dilakukan secara purposive Sampling dengan menggunakan teknik snowballing sampling. Metode pengambilan data ke responden dilakukan dengan metode wawancara dan dianalisis menggunakan narrative analysis (Bryman, 2012). Data ini diambil untuk mendapatkan informasi mengenai peran agen dalam mewujudkan PLTSa di Surabaya.
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi, pengumpulan data dilakukan dengan tetap menerapkan protocol kesehatan guna menghindari virus Covid-19 karena penelitian ini berlangsung di tengah pandemic sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah data reduction (data reduksi), data display (penyajian data) dan conclusion drawing/verification.
Selain wawancara, untuk melihat pengelolaan PLTSa Benowo juga dilakukan pengamatan langsung ke PLTSa Benowo. Untuk mendukung informasi mengenai
25
pengelolaannya, juga digunakan data sekunder sebagai pendukung. Pengelolaan ini kemudian dilakukan analisis kritis.
Pada penelitian ini akan dianalisis dampak PLTSa terhadap kehidupan sosial, ekonomi dan lingkungan. Tujuan dari analisis ini adalah untuk mengidentifikasi apakah PLTSa memang suatu cara untuk menciptakan pembangunan berkelanjutan di Surabaya yang tidak akan merugikan masyarakat, ekonomi dan lingkungan. Untuk tujuan ini, data primer dan sekunder akan diambil sebagai pendukung. Data-data primer diambil dari Informasi pemerintah kota Surakarta yang dapat diperoleh dari Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau dan juga dari PT Sumber Organik sebagai pengelola PLTSa Benowo. Data-data sekunder dari kedua lembaga tersebut juga akan diambil untuk mendukung pendapat mereka. Selain itu, untuk crosscheck wawancara ke masyarakat. Masyarakat di sini akan diambil dari para tokoh-tokoh penting yang kritis terhadap Kotamadya Surabaya, para akademisi, dan tokoh-tokoh masyarakat.
Data-data dari BPS atau sejenisnya yang dapat mendukung informasi dan untuk konfirmasi akan dijadikan sebagai sumber data sekunder.
Teori yang digunakan dalam menganalisis penelitian ini adalah dengan menggunakan teori Halvorsen (United Nations Economic Commission for Europe, 2017) yang terdiri dari 4 indikator yaitu:
1. Pengadaan Teknologi (Technology Procurement)
Indikator ini dapat menjelaskan mengenai pengadaan teknologi yang digunakan dalam pengelolaan sampah menjadi pembangkit listrik tenaga sampah. Maka yang dimaksud dalam penelitian ini adalah teknologi apa saja yang digunakan di PLTSa dan pemerintah terkait dalam pengelolaan sampah menjadi pembangkit listrik tenaga sampah
2. Pengembangan Teknologi (Technology Development)
26
Indikator ini menjelaskan mengenai pengembangan teknologi yang dimanfaatkan dalam inovasi pengelolaan sampah menjadi energi listrik. Maka fokus pada penelitian ini adalah pengembangan teknologi apa saja yang dimanfaatkan oleh pemerintah dan pengelola PLTSa dalam melakukan inovasi pengelolaan sampah menjadi pembangkit listrik tenaga sampah.
3. Reformasi Birokrasi dan Organisasi (Bureaucratuc and Organizational Reform) Indikator ini menjelaskan mengenai reformasi birokrasi dan organisasi dalam upaya menciptakan tata pemerintahan yang baik meliputi struktur organisasi, pihak yang terlibat (stake holder) serta kondisi sosial masyarakat.
4. Kebijakan Baru (New Police)
Indikator ini menjelasnya mengenai kebijakan baru yang dilakukan dalam inovasi pengelolaan sampah menjadi pembangkit listrik tenaga sampah.
Pedoman Wawancara
1. Tujuan: Mengetahui peran institusi pemerintah dan swasta dalam proyek PLTSa di Surabaya
Proses terwujudnya PLTSa Benowo
Tantangan dan hambatan yang dihadapai
Dukungan yang mendorong terwujudnya PLTSa Benowo
Persepsi masyarakat sebelum dan selama pembangunan PLTSa Tanggapan pasar terhadap PLTSa dan kerjasama pemerintah dengan pasar
Bagaiman peran pemerintah dan aktor yang berperan siapa saja
27
2. Tujuan: Mengetahui pengelolaan PLTSa Benowo
3. Tujuan: Mengetahui dampak keberadaan PLTSa terhadap Kehidupan Sosioekoling
Bagaimana PLTSa dikelola
Bagaiman Hubungan PLTSa dengan Pemerintah daerah dan perusahaan energy lain seperti PLN sebagai BUMN Pemerintah
Bagaimana Kerjasama pemenuhan supply sampah
Bagaimana dampak sosial Bagaimana dampak ekonomi
Bagaimana dampak terhadap lingkungan
Bagaimana dampak akses masyarakat terhadap energi
28
wawancara Pemerintah Kotamadya Surakarta (sebagai pembanding) 5 Penyusunan laporan akhir dan
laporan keuangan
29 BAB IV PEMBAHASAN
4.1. Demokrasi Energi dari Sudut Pandang Islam 4.1.1. Kebijakan Pengembangan PLTSa
Kebijakan pengembangan PLTSa di Indonesia ada 2, yairu: 1) Kebijakan pengembangan PLTSa berdasarkan PP no 35 Th 2018, yang selanjutnya disebut sebagai program percepatan pengembangan PLTSa; 2) kebijakan pengembangan PLTSa berdasarkan peraturan Menteri ESDM Nomor 50 tahun 2017 tentang pemanfaatan Sumber Energi terbarukan untuk penyediaan Tenaga Listrik juncto Peraturan Menteri ESDM Nomor 4 Tahun 2020 tentang Perubahan Kedua Peraturan Menteri ESDM Nomor 50 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan untuk penyediaan Tenaga Listrik, yang selanjutnya disebut sebagai program regular pengembangan PLTSa.
Kedua program tersebut secara prinsip memiliki perbedaan yaitu penggunaan teknologi dalam PLTSa, harga pembelian Listrik serta dukungan pemerintah pusat terhadap pembayaran Tipping Fee atau Biaya Layanan Pengolahan Sampah (NLPS).
Teknologi yang harus diterapkan dalam program percepatan PLTSa merupakan teknologi berbasis termal, sedangkan pada program regular pengembangan PLTSa dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi termal maupun non-termal (Syarifudin, 2012).
Pengunaan jenis teknologi dalam pengembangan PLTSa sejalan dengan strategi pemanfaatan sampah unutk energi, seperti yang telah dijelaskan dalam Jakstranas Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Samaph Rumah Tangga
30
(PerPres No 97 Th. 2017), dimana dalam PerPres tersebut dijelaskan bahwa pemanfaatan sampah unutk energi dilakukan melalui beberapa strategi, diantaranya :
1. Pembangunan pembangkit listrik berbasis sampah dengan menggunakan teknologi thermal
2. Penangkapan dan pemanfaatan gas metana menjadi sumber energi listrik di TPA
3. Pemanfaatan sampah menjadi bahan bakar sustitusi industri semen
4. Penerapan teknologi pemilahan, pengumpulan, pengolahan dan pemrosesan akhir yang ramah lingkungan menjadi energi terbarukan.
Strategi yang tercantum pada poin mejadi dasar program percepatan pengembangan PLTSa, sedangkan strategi kedua, ketiga dan keempat menjadi dasar pengembangan PLTSa program regular. Sedangkan alasan yang melatarbelakangi kebijakan pengembangan PLTSa adalah:
1. Persoalan sampah telah menjadi masalah lingkungan karena menghasilkan gas metana (CH4) dan karbondioksida (CO2);
2. Adanya keterbatasan lahan dan daya tampung TPA di beberapa daerah yang telah berkembang menjadi kota besar;
3. Pemerintah Indonesia mempunyai komitmen untuk mengurangi emisi GRK sebe- sar 29% dari BAU (business as usual) pada tahun 2030;
4. Pemerintah sedang berupaya untuk mengurangi penggunaan energi fosil pada pembangkit listrik dan meningkatkan ketersediaan pasokan listrik nasional;
5. Sampah mempunyai potensi energi biomassa yang dapat dikonversi menjadi energi lain seperti untuk energi listrik atau menjadi bahan bakar;
31
6. perlu ada upaya untuk mengurangi volume sampah yang tidak terkelola dengan baik;
7. PLTSa dengan teknologi termal dapat diimplementasikan di seluruh daerah dengan volume sampah yang besar dan yang mengalami darurat
sampah;
8. Pembangunan PLTSa dapat meningkatkan kebersihan dan kesehatan masyarakat (Qodriyatun, 2021)
Adapun secara umum perbedaan Kebijakan Program percepatan dan Porgram Reguler Pengembangan PLTSa dapat dilihat pada Tabel berikut.
32 Tabel 4.1
Perbedaan Kebijakan Program Percepatan dan Program Reguler Pengembangan PLTSa
Sumber: (Qodriyatun, 2021)
Teknologi termal dipilih dalam Program Percepatan Pengembangan PLTSa karena dapat mengurangi volume sampah dengan cepat dan berpotensi menghasilkan listrik. Kemetrian ESDM telah memperhitungkan besaran potensi listrik yang dapat dihasilkan dari pemanfaatan sampah dengan mengacu dari data jumlah sampah dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah. Dari data tersebut diperoleh bahwa jumlah sampah yang ditimbun di TPA mencapai 864.469 ton/hari dan yang tidak terkelola
33
mencapai 3.964.946 ton/hari. Per tahunnya jumlah sampah yang ditimbun di TPA mencapai angka 315.531.101 ton/hari dan yang tidak terkelola mencapai 1.447.205.389 ton/hari.
Dalam kebijakan percepatan Pembangan PLTSa, pemerintah pusat maupun pemerintah daerah memiliki tugas dan kewajiban, diantaranya:
1. Kemeterian ESDM bertugas menetapkan harga serta formula pembelian tenaga listrik oleh PT PLN (Persero). Selain itu menugaskan PLN untuk membeli tenaga listrik yang dihasilkan oleh PLN untuk kapasitas produksi hingga 20 MW dengan harga US$ 13,35 cent/kWH, serta US$ 4,45 cent/kWH untuk kapasitas diatas 20 MW
2. Kemetrian Keuangan mengalokasikan dana untuk memberikan bantuan NLPS dalam bentuk subsidi atau kpmpensasi kepada pemerintah daerah, dengan besaran paling tinggi adalan Rp 500.000,00/ton sampah
3. Pemerintah daerah dalam hal ini pemerintah kota atau kabupaten maupun pemerintah provinsi dapat menugaskan BUMD, melakukan kompetisi badan usaha maupun mengusulkan kepada Menteri ESDM untuk menugaskan BUMN sebagai pengembang PLTSa. Pemerintah daerah juga wajib melakukan Pre-Feasibility Study (PRA-FS) untuk menjamin ketersediaan feedstock dan memastikam ketersediaan lokasi pembangunan PLTSa dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi/Kabupaten/Kota serta memiliki komitmen untuk mengalokasikan dana untuk BLPS.
Terkait perkembangan 12 PLTSa yang masuk dalam Program percepatan Pembangunan dapat dilihat pada tabel berikut terkait dengan perkembangan Proyek Percepatan PLTSa berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 35 tahun 2018
34 Tabel 4.2
Perkembangan Proyek Percepatan PLTSa
Keterangan:
PJBL : Perjanjian Jual Beli Listrik
Pra-FS : Pre-Feasibility Studi (Prastudi Kelayakan)
OBC : Outline Businnes Case (Kajian Awal Prastudi Kelayakan) FBC : Final Businnes Care (kajian AKhir Prastudi Kelayakan) Sumber: (Qodriyatun, 2021)
35
Tabel diatas menunjukan dari 12 Daerah yang masuk dalam Program Percepatan PLTSa, baru PLTSa di Kota Surabaya yang sudah resmi beroperasi, sedangkan daerah lain hampir sebagian besar masih dalam proses pelelangan, dan paling dekat adalah Jakarta yang masuk dalam tahap pendanaan serta Surakarta yang masuk dalam tahap konstruksi dan ditargetkan beroperasi pada tahun 2022. Nyatanya Program percepatan Pembangunan PLTSa di 12 daerah di Indonesia berjalan lambat.
Sejak tahun 2018 hingga 6 Mei 2021, hanya ada satu PLTSa sudah beroperasi secara komersial (commercial Operation Date/ COD). Satu PLTSa di Surabaya per 6 Mei 2021 sudah masuk tahapan COD dan dua PLTSa sudah tahap Perjanjian Jual Beli Listri (PJBL) serta tahap konstruksi yaitu PLTSa Provinsi DKI Jakarta dan PLTSa Kota Surakarta. Pembelian tenaga listrik di PLTSa Putri Cempo Surakarta oleh PLN sebesar US$ 13,35 cent/kWh untuk kapasitas 5MW, sedangkan PLTSa sunter DKI Jakarta, harga beli listrik oleh PLN sebesar US$ 11,88 cent/kWh unutk kapasitas 35 MW.
PLTSa di kota Tangerang dan PLTSa Kota Palembang berada pada tahap sudah ada pengembang, sedangkan PLTSa sisanya dalam tahap lelang, Pre-Feasibility Study/
Pra-FS (Prastudi Kelayakan); Outline Business Case/OBC (Kajian Awal Prastudi Kela- yakan), maupun Final Business Case/FBC (Kajian Akhir Prastudi Kelayakan).
4.1.2. Road Map Energi Terbarukan Kota Surabaya
Kota Surabaya merubakan salah satu wilayah di Jawa Timur yang turut mendukung tercapainya Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) yang telah diturunkan ke dalam Rencana Umum Energi Daerah Provinsi (RUED-Provinsi) Jawa Timur. Sumber energi terbarukan Surabaya menurut jenis dan prosentasinya digambarkan dalam bentuk diagram pada Gambar.
36
Gambar 4.1 Presentase Potensi Energi Baru Terbarukan di Kota Surabaya (DLH, 2018)
Berdasarkan potensi energi terbarukan yang terdapat di wilayah Kota Surabaya, maka prioritas pengembangan energi terbarukan dalam jangka waktu hingga 20205 (jangka pendek) di priorotaskan pada pengembangan:
1. Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) 2. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 3. Pemanfaatan Minyak Jelantah menjadi Biodisel
Pengembangan jangka menengah (hingga 2030) dan jangka panjang (hingga 2050) difokuskan untuk melanjutkan apa yang sudah dilakukan pada jangka pendek dengan ditambahi sumber energi terbarukan lain, sehingga diharapkan dapat
37
meningkatkan bauran energi yang lebih signifikan. Jenis energi terbarukan yang menjadi fokus pengembangan pada jangka menengah dan jangka panjang adalah:
1. Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) 2. Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS)
3. Pemanfaatan Minyak Jelantah menjadi Biodiesel 4. Pemanfaatan Biogas dari Limbah
5. Pemanfaatan potensi Angin 6. Pemanfaatan potensi Arus Laut.
4.1.3. Potensi PLTSa di Kota Surabaya
Kota Surabaya memiliki volume produksi sampah lebih besar dari Jakarta, namun pengelolaan sampah di Surabata sudah jauh lebih baik (Nurdiansah et al., 2020). Hal ini didukung dengan adanya 28 lokasi pengelolaan sampah yang diatur melalui sistem software yang memungkinkan penyaluran sampah menjadi lebih terkontrol menuju tempat-tempat pengelolaan.
Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) merupakan pembangkit listrik yang memanfaatkan biomassa sampah sebagai bahan utama energi, baik sampah organik maupun non-organik. PLTSa menjadi salah satu solusi penanggulangan sampah serta memenuhi kebutuhan energi terutama di kota besar seperti di Surabaya.
Pemerintah melalui Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) menargetkan pembangkit listrik dari biomassa dengan besaran 5.500 MW pada tahun 2025, dan 26.000MW pada tahun 2050, sdangkan potensi yang dimiliki Indonesia sekitar 32.652 MW seperti ditunjukan pada Gambar berikut.
38
Gambar 4.2 Potensi dan Rencana Pengembangan Listrik Bioenergi di Indonesia (Peraturan Presiden RI, 2017)
Mekanisme Pembangkit Listrik Tenaga Sampah dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:
1. Proses Konversi Thermal yang memanfaatkan teknologi Pirolis dan Teknologi Gasifikasi
2. Proses Konversi Biologis, dengan menggunakan prinsip Anaerob Digestion serta Landfill Gasification
Jumlah timbunan sampah di daerah perkotaan telah ditentukan berdasarkan SNI 19-3964-1994 yaitu untuk daerah kota besar 2-2,5L/o/h setara dengan 0,4-0,5 kg/o/h;
sedangkan untuk kota sedang/kecil 1,5-2L/o/h setara 0,3-0,4 kg/o/h. Surabaya sebagai salah satu kota terbesar di Jawa Timur menggunakan SNI 19-3964-1994 sebagai dasar penentuan potensi sampah penduduknya. Jumlah penduduk Kota Surabaya tahun 2015-2017 menunjukan pertumbuhan sebesar 1,917% per tahun dan bertambah menjadi 2,07% pada tahun 2018-2019. Jumlah penduduk pada tahun 2019 diperkirakan sebesar 3,094 juta maka secara teoritis potensi sampah yang dihasilkan mencapai 1.628,2 ton/hari (Sucahyo & Fanida, 2021). Secara teoritis, setiap 50 ton/hari sampah dapat
KETERANGAN TOTAL
Potensi (MW) 32.652,8
Rencana Pengembangan (MW)
2025 2050 5.500 26.000
39
berpotensi membangkitkan listrik sebesar 1 MW (Taruna & Al-mahdy, 2020), maka dengan demikian Kota Surabaya memiliki potensi untuk PLTSa sebanyak 28-30 MW.
Gambar 4.3 Optimalisasi pengolahan sampah (sumber:KPBU PT. Sumber Organik)
Namun faktanya volume sampah yang terangkut per harinya belum bisa 100%, hanya mencapai 50% dari total produksi sampah, seperti terlihat pada Tabel
40
Tabel 4.3
Produksi dan Volume Sampah yang Terangkut per Hari Menurut Kota Tahun 2016-2017
Surabaya 9.710,61 9.896,78 5.237,70 5.427,45 Sumber: bps.go.id, 2018
Pada Tahun 2020 PLTSa Kota Surabaya mampu memproduksi Listrik sebesar 2 MW, dan pada tahun 2025 ditargetkan memenuhi minimal 9MW. Hal ini sesuai dengan scenario dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya yang memetakan Potensi PLTSA di Surabaya menjadi 2 skenario, yaitu:
1. Skenario 1 : 50 % produksi sampah (acuan tahun 2017) ditargetkan dikonversi menjadi energi pada tahun 2050
2. Skenario 2: 100% produksi sampah ditargetkan dikonversi menjadi energi listrik pada tahun 2050.
Hal ini pun sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Manajer Operasional PT Sumber Organik selaku pengelola PLTSa Benowo, yang menyebutkan bahwa sampah kota Surabaya yang khusus diterima TPA perharinya sebanyak 1500 ton/hari. Sebagian besar gunungan sampah yang menumpuk di TPA berpotensi diolah menjadi energi listrik hingga 2 MW (suarasurabaya.net)
Adapun untuk lebih jelasnya, Road Map PLTSa di Kota Surabaya seperti terlihat pada Gambar berikut.
41
Gambar 4.4 Skenario Roadmap PLTSa di Kota Surabaya (DLH, 2018) 4.1.4. Analisis Perhitungan di TPA Kota Surabaya
Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo terletak di Kota Surabaya bagian Barat tepatnya di antara kecamatan Pakal dan Kecamatan Benowo. TPA Benowo merupakan satu-satunya tempat pembuangan akhir sampah yang ada di Surabaya. Dari data kajian 2016, diketahui bahwa rata-rata sampah yang masuk ke TPA Benowo pada Tahun 2015 adalah 1477,65 Ton/hari, dengan presentase 54% adalah sampah organik (DLH, 2018). TPA Benowo merupakan salah satu TPA di Kota Surabaya yang berpotensi dikembangkan menjadi PLTSa. TPA Benowo memiliki luas 37,4 Ha dan mulai beroperasi sejak 2001 (Gambar).
42
Gambar 4.5 Landfill TPA Benowo ((DLH, 2018)
Gambar 4.6 Lay Out PLTSa Benowo (Sumber: KPBU PT. Sumber Organik)
43
Pembangkit Listrik tenaga sampah memanfaatkan sampah sebagai bahan bakar utama untuk mendidihkan air di boiler an memanfaatkan uap air untuk memutar turbin yang dapat menghasilkan listrik. Sedangkan salah satu cara lainnya adalah dengan memanfaatkan gas metana (Biomassa) yang muncul dari tumpukan sampah. Proses ini menggunakan metode pembakaran (Incinerator) yang digunakan dalam memproduksi energi panas. Proses pembakaran ini dapat mengurangi 75-80% volume sampah tanpa pemilahan. Selain itu limbah hasil pembakaran juga cukup kering untuk langsung digunakan sebagai bahan pengurugan (bahan timbunan).
Selain metode tersebut, terdapat juga metode gasifikasi yang biasa digunakan, yaitu dengan memanfaatkan gas metana yang dihasilkan oleh tumpukan sampah organik. Proses ini memiliki kelebihan, dimana suhu pembakaran lebih tinggi sehingga biaya instalasi, operasi menjadi lebih rendah. Selain itu emisi yang dihasilkan juga minimal karena gas metana akan terbakar sempurna hanya menyisakan karbondioksida.
44
Gambar 4.7 Titik Buang TPA Benowo (Sumber: KBPU PT. Sumber Organik)
PLTSa Benowo menggunakan prinsip Gasifikasi dan Landfill Gas collection dalam menghasilkan energi. Proses Landfill Gas TPA Benowo sudah dimulai sejak November 2015. Sampah yang terkumpul di TPA Benowo diolah di PLTSa sehingga menghasilkan gas metana, yang dapat menghasilan energi listrik hingga 2MW. Proses Landfill Gas berawal dari penimbunan sampah yang ditimbun dari sumur buatan.
Terdapat 63 sumur vertical dan 18 sumur horizontal yang ada di TPA Benowo. Sumur-sumur tersebut sudah dipasang dengan pipa penangkap gas metana. Gas Metana inilah yang digunakan sebagai bahan baku penghasil listrik. Hingga tahun 2020, besaran listrik yang dihasilkan dari Landfill Gas Metana di TPA Benowo dan dijual ke PT PLN (Persero) adalah sebesar 1,65 MW. Sedangkan sistem Gasifikasi baru beroperasi pada awal 2020 dan mengjasilkan 12 MW dari pengelolaan sampah sebanyak 1000 ton/hari.
45
Gambar 4.8 Lay Out Sumur Vertikal, Dewatering, Horisontal PLTSa Benowo (Sumber: KPBU PT. Sumber Organik)
46
Gambar 4.9 Gas Collection System PLTSa Benowo (Sumber: KPBU PT. Sumber Organik)
47
Dalam hal ini pemerintah bekerja sama dengan PT. Sumber Organik dalam pengelolaan PLTSa. Kerjasama dilakukan dengan menggunakan perjanjian Build Operate Transfer (BOT) dengan masa kontrak kerjasama berlaku selama 20 tahun terhitung dari tahun 2012 Pengelolaan sampah menjadi energi listrik di PLTSa Benowo sejalan dengan Peraturan Presiden No. 35 Th 2018 Tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan yang bertujuan seperti termuat dalam pasal 2, yaitu pengelolaan sampah yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan serta mengurangi volume sampah secara signifikan demi kebersihan dan keindahan kota serta menjadikan sampah sebagai sumber daya. Inovasi pengelolaan sampah di kota Surabaya telah menjadi percontohan dunia dan berhasil membuktikan sebagai kota terbaik di Indonesia yang berhasil mengelola sampahnya dengan baik.
Gambar 4.10 Fuel Skid dan Engine (Sumber: KPBU PT. Sumber Organik)
48
Dari paparan diatas bisa dilihat bahwa ada perbedaan mendasar antara PLTSa dengan prinsip termal dengan IPP pembangkit combustion lainnya. IPP combustion (biomassa, batu bara, gas) membakar bahan bakar dengan sifat dan karakteristik yang jelas. Bahan yang dibakar sifatnya homogen dengan nilai kalor yang konsisten, serta
Dari paparan diatas bisa dilihat bahwa ada perbedaan mendasar antara PLTSa dengan prinsip termal dengan IPP pembangkit combustion lainnya. IPP combustion (biomassa, batu bara, gas) membakar bahan bakar dengan sifat dan karakteristik yang jelas. Bahan yang dibakar sifatnya homogen dengan nilai kalor yang konsisten, serta