INDONESIA YANG MANDIRI, MAJU, ADIL DAN MAKMUR
2) Pembangunan gedung kantor daerah di seluruh provinsi
Pembangunan gedung kantor DPD RI di 33 (tiga puluh tiga) provinsi dilaksanakan secara bertahap dan akan selesai pada tahun 2019. Pada tahun 2014 telah dilakukan pembangunan gedung kantor DPD RI di provinsi Sumatera Selatan. Sedangkan di tahun 2015, direncanakan pembangunan di 3 (tiga) provinsi yaitu: DI Yogyakarta, Jambi, dan Nusa Tenggara Timur.
RENSTRA SEKRETARIAT JENDERAL DPD RI 2015‐2019
31
3.3 Kerangka Regulasi
Kualitas kebijakan dan sinergitas antara kebijakan (policy) dengan regulasi menjadi sangat penting guna tercapainya tujuan lembaga. Untuk itu dibutuhkan perencanaan regulasi yang sinergis dengan kebijakan yang telah dirumuskan secara holistik sehingga dapat mengakomodasi berbagai kebutuhan lembaga.
Kondisi regulasi serta perubahan paradigma kelembagaan setelah adanya putusan MK menuntut dilakukannya reformasi regulasi guna perbaikan menyeluruh baik terhadap regulasi‐regulasi yang telah ada maupun regulasi‐regulasi yang baru akan dibentuk.
Oleh karena itu, diperlukan berbagai upaya penguatan kelembagaan, baik dari aspek manajerial, administratif, maupun peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta dukungan kelengkapan kerja yang ditata secara simultan. Selain itu, kebutuhan akan regulasi yang jelas untuk mendukung dan memberi arah bagi Sekretariat Jenderal dalam menjalankan tugas dan fungsinya juga sangat diperlukan. Kebutuhan regulasi akan diuraikan secara rinci dalam Matriks Kerangka Regulasi Sekretariat Jenderal DPD RI Tahun 2015‐2019 dalam Lampiran 2. 3.4 Kerangka Kelembagaan
Beberapa hal yang dapat dicirikan sebagai penataan kelembagaan DPD RI menurut UU MD3, meliputi hal‐hal :
a. Pembentukan kantor DPD RI di Provinsi (Pasal 252 ayat (4) );
b. Perubahan pola pembahasan legislasi yang menyatakan DPD RI secara aktif terlibat dalam pembahasan Prolegnas maupun pembahasan RUU di parlemen (Pasal 248‐249).
c. Peningkatan fungsi keterwakilan daerah dan fungsi pengawasan pelaksanaan Undang‐Undang oleh Anggota DPD RI di daerah (Pasal 248 ayat (2) dan 249 ayat (2)).
Perubahan tugas, fungsi dan wewenang DPD RI memberikan dampak pada peningkatan aktivitas anggota DPD RI. Peningkatan aktivitas ini membawa konsekuensi pada peningkatan kegiatan teknis administratif dan teknis substantif. Dengan demikian berpengaruh pula pada sistem dukungan yang tidak lain merupakan aktivitas
RENSTRA SEKRETARIAT JENDERAL DPD RI 2015‐2019
32
kesekretariatan. Berdasarkan kondisi objektif tersebut, maka terhadap kelembagaan pendukung Setjen DPD RI perlu dilakukan penataan tugas, fungsi dan revitalisasi organisasi agar Setjen DPD RI dapat melaksanakan aktivitas sistem dukungan secara optimal baik secara kuantitas maupun kualitas sesuai dengan peran dan wewenangnya. Oleh karenanya, Renstra Setjen DPD RI 2015‐2019 memberikan prioritas dalam penguatan lembaga kesetjenan, pembenahan ketatalaksanaan dan penataan Sumber Daya Manusia (SDM) dengan memperhatikan peraturan perundang‐undangan yang berlaku.Dalam rencana strategis pengembangan, Setjen DPD didesain lebih bersifat operasional dan substansi. Sekretaris Jenderal di pusat dibantu oleh 1 (satu) inspektorat dan 3 (tiga) deputi, yaitu deputi Persidangan; deputi Administrasi; dan deputi Komunikasi dan Kajian. Sedangkan pelaksanaan tugas Sekretaris Jenderal di setiap provinsi di bantu oleh Kepala kantor DPD RI di Provinsi jabatan eselon II.
Revitalisasi organisasi Setjen DPD RI dan tata kelola fungsi‐fungsi staff (staff
functions) harus dapat memberikan dukungan secara penuh terhadap fungsi‐fungsi lini
(line functions). Sehubungan dengan itu, maka harus dilakukan spesialisasi tugas dan fungsi staff dan tidak dibebankan pada satu urusan.
Perubahan organisasi Sekretariat Jenderal DPD RI ditata ulang dengan pendekatan sebagai berikut :
a. Penataan ulang fungsi dukungan yaitu dukungan keahlian. Pengaturan untuk fungsi dukungan keahlian yang mengalami perubahan signifikan diatur dengan menata ulang Pusat Kajian menjadi Pusat Pengkajian dan Keahlian.
b. Penataan ulang fungsi‐fungsi pengawasan dan keterwakilan daerah yaitu melalui biro‐biro kewilayahan dan hubungan antar lembaga yang mengatur format dukungan dalam rangka fungsi‐fungsi keterwakilan. Sesuai dengan peraturan tata tertib DPD RI, dalam format kerjanya, DPD RI mengatur manajemen kewilayahan menurut wilayah Barat, Tengah dan Timur. Pembagian kewilayahan tersebut diatur untuk wilayah barat meliputi provinsi se Sumatera, wilayah Tengah meliputi Jawa dan Kalimantan serta wilayah Timur meliputi wilayah Nusa Tenggara (termasuk Bali), Sulawesi, Maluku dan Papua.
c. Penataan ulang dukungan administratif, yang meliputi perencanaan keuangan, kepegawaian dan sarana prasarana. Fungsi services ini menjadi bagian penting yang harus direfleksikan juga ke daerah sehingga menjadi penting melakukan pemilahan pada manajemen eselon II yang tepat, setiap unit kerja mempunyai
RENSTRA SEKRETARIAT JENDERAL DPD RI 2015‐2019
33
kewajiban untuk melakukan pembinaan terhadap fungsi‐fungsi kerja yang dilaksanakan di daerah.d. Di samping itu, kebutuhan secara melekat pada organisasi Sekretariat Jenderal itu sendiri termasuk unit organisasi di daerah nanti ialah fungsi pengawasan, sehingga sangat jelas ada kebutuhan untuk mengembangkan dan mengatur pengawasan secara tersendiri.
Dengan pertimbangan‐pertimbangan itu maka pengaturan organisasi Sekretariat Jenderal DPD RI di tingkat pusat membutuhkan pengaturan secara berjenjang dan sistematis sebagai berikut :
a. Posisi puncak Sekretaris Jenderal dengan tingkatan setara eselon I/a.
b. Posisi Koordinasi Core Fuction Legislasi (Persidangan) yang dibutuhkan ialah setara Deputi dengan eselon I/b. Kedeputian ini akan membawahi 3 (tiga) biro yaitu Biro Persidangan I, Biro Persidangan II dan Biro Pimpinan.
c. Posisi Core Function komunikasi dan kajian yang dipimpin oleh Deputi yang setara dengan eselon I/b, yaitu deputi komunikasi dan kajian, terdiri atas Pusat Pengkajian dan Keahlian, Pusat Pengelolaan Asmas, Biro Humas dan Media Visual, serta Biro Data dan Sistem Informasi.
d. Posisi fungsi sistem pendukung atau service staff, yang dipimpin oleh seorang Deputi setara eselon I/b, yaitu deputi administrasi akan mencakup aspek‐aspek perencanaan, keanggotaan dan kepegawaian, keuangan, serta sarana dan prasarana.
e. Posisi fungsi pengawasan yang sudah harus semakin intensif didorong dalam rangka mewujudkan reformasi birokrasi melalui agenda‐agenda penciptaan aparatur yang bersih dan berwibawa. Koordinasi pengawasan ini dengan pertimbangan keluasan jangkauan wilayah pengawasan untuk seluruh Indonesia, maka dibutuhkan koordinasi ini oleh unit kerja dengan jabatan setara eselon IIb.
Dengan skenario itu maka dapat digambarkan perubahan struktur organisasi Sekretariat Jenderal DPD RI dari format yang ada sekarang menjadi berubah dengan proyeksi Struktur Organisasi ke depan, meliputi 1 (satu) eselon Ia, 3 (tiga) eselon Ib, dan 12 (dua belas) eselon IIb, yaitu :
1. Sekretaris Jenderal; 2. Deputi Persidangan; 3. Deputi Administrasi;
RENSTRA SEKRETARIAT JENDERAL DPD RI 2015‐2019
34
4. Deputi Komunikasi dan Kajian 5. Inspektorat; 6. Biro Persidangan I; 7. Biro Persidangan II; 8. Biro Sekretariat Pimpinan; 9. Biro Keanggotaan dan Kepegawaian; 10. Biro Perencanaan 11. Biro Keuangan; 12. Biro Umum; 13. Pusat Kajian dan Keahlian; 14. Pusat Pengelolaan Aspirasi Masyarakat 15. Biro Humas dan Media Visual; 16. Biro Data dan Sistem Informasi;Selanjutnya diproyeksikan kebutuhan struktur organisasi Kantor DPD RI di provinsi yang meliputi 1 (satu) jabatan eselon IIb dan 5 (lima) Jabatan eselon IIIb : 1. Kepala Kantor DPD RI di Provinsi (IIb); 2. Bagian Pelayanan Teknik dan Persidangan; 3. Bagian Komunikasi Publik, Data, dan Infromasi; 4. Bagian Umum; 5. Bagian Perencanaan dan Keuangan; 6. Bagian Tata Usaha.
Berdasarkan usulan organisasi baru, Sekretariat Jenderal di tingkat pusat serta rencana penempatan pegawai pada Kantor DPD Daerah di Provinsi, diproyeksikan perubahan komposisi pejabat eselon sebagaimana tertera pada Tabel 3.1 Tabel Perbandingan Jumlah Pejabat sebelum dan setelah Usulan. NAMA ORGANISASI/