Parasong M.A, 2014, Mencegah Runtuhnya Negara Hukum, Grafindo Books Media, Jakarta h 26
PEMBANGUNAN NASIONAL? Oleh : Herman Oesman
“Perencanaan pembangunan pada dasarnya merupakan pengendalian dan pengaturan perekonomian dengan sengaja oleh
penguasa (pemerintah) pusat untuk mencapai suatu sasaran dan tujuan tertentu di dalam jangka waktu tertentu pula.” (M.L. Jhingan,
1984)
PENGANTAR
PEMBANGUNAN Nasional dilaksanakan semata mata untuk
mencapai kesejahteraan dan kepentingan rakyat. Karenanya, pembangunan dimaksudkan untuk mewujudkan kesejahteraan lahir batin masyarakat Indonesia, mencapai kemajuan pada segala bidang yang saling menguntungkan, terciptanya rasa aman, keadilan, saling menghargai, saling menyayangi, menciptakan lingkungan tentram secara bersama dan menjamin setiap orang menyampaikan pendapatnya tanpa tekanan dan paksaan. Pembangunan di maksud dalam pelaksanaannya, mencakup aspek penting, meliputi : aspek kehidupan berbangsa, aspek politik, aspek sosial budaya, aspek pertahanan keamanan, dan aspek ekonomi, yang dilakukan untuk memperkuat manfaat sumber daya manusia, sumber daya alam, serta memperkuat ketahanan nasional secara merata.
Runtuhnya Kewenangan MPR?
Sebagai pemersatu antara pemerintah dan masyarakat, agar terwujud saling mendukung, saling bekerja sama, saling melengkapi, dan saling bersatu di dalam satu tujuan demi terwujudnya pembangunan nasional yang adil dan makmur, maka pada awal Orde Baru, disusunlah Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN), melalui lembaga (tertinggi) negara, kala itu, yakni Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Lantas, dalam perjalanan selanjutnya, MPR lalu kemudian, merupakan
102 Reformulasi Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
salah satu lembaga yang mengalami perubahan mendasar dalam hal kedudukan, fungsi, dan perannya Pasca amandemen UUD 1945.
Sebelum amandemen, MPR merupakan lembaga tertinggi Negara yang memiliki kewenangan menetapkan Undang-Undang Dasar (UUD) dan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) serta memilih dan mengangkat Presiden dan Wakil Presiden. Kemudian pada Pasca amandemen, kedudukan MPR tidak lagi menjadi lembaga tertinggi Negara, tetapi berkedudukan sejajar dengan lembaga-lembaga Negara lainnya, di mana fungsinya pun terbatas pada satu kewenangan rutin, yaitu melantik Presiden dan Wakil Presiden terpilih hasil pemilihan umum.
Selebihnya, merupakan kewenangan insidental MPR, seperti memberhentikan Presiden dan/atau Wakil Presiden dalam masa jabatannya menurut Undang-Undang Dasar, mengubah dan menetapkan Undang-Undang Dasar serta kewenangan insidental lain sebagaimana di maksud dalam Pasal 8 ayat (2) dan ayat (3) UUD 1945 Perubahan. (Rahmatunnisa, 2013)
Dengan demikian, perubahan UUD 1945 telah membuat MPR tidak lagi menjadi lembaga tertinggi Negara yang superior sebagaimana masa Orde Baru, akan tetapi sebaliknya, menjadi sangat lemah dan inferior dibandingkan lembaga-lembaga Negara lainnya yang lebih jelas kedudukan, fungsi dan perannya sebagaimana diatur dalam UUD 1945 pasca amandemen.
Tugas rutin MPR, nyaris hanya sekali dalam lima tahun, yakni melantik Presiden dan Wakil Presiden terpilih hasil pemilihan umum. Perubahan mendasar juga menyangkut keberadaan GBHN. Pada masa Orde Baru, GBHN merupakan pedoman untuk Presiden dalam menjalankan roda pemerintahan. Jika Presiden tidak mengikuti atau melanggar GBHN, maka MPR dapat memberhentikan Presiden. Sejak era reformasi, eksistensi GBHN tidak ada lagi sebagai konsekuensi perubahan UUD 1945. (Rahmatunnisa, 2013).
Kedudukan MPR merupakan bagian penting dari eksistensi GBHN. Karena itu, Tidak adanya GBHN akan berdampak buruk pada fungsi MPR dan mengacaukan sistem untuk mewujudkan cita cita bangsa dan negara yang berbhinneka tunggal ika dan dapat pula
Reformulasi Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional 103
merubah sistem perencanaan pembangunan nasional yang sudah ditetapkan selama puluhan tahun sejak Indonesia merdeka.
Tentang GBHN
Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) merupakan “visi misi” tertinggi kedua setelah UUD 1945 yang wajib hukumnya dilaksanakan lembaga negara, termasuk MPR, Presiden, dan Wakil Presiden. Secara lebih luas dan mendalam, GBHN merupakan konstruksi atas pernyataan dari keinginan dan kebutuhan rakyat yang ditetapkan MPR untuk jangka waktu yang telah ditentukan. Dengan demikian, apa yang telah digariskan dan ditetapkan dalam GBHN sama sekali tidak boleh bertentangan dan berseberangan dengan UUD 1945. Pada era Orde Baru, GBHN merupakan “tuas pengendali” atas berbagai rencana pembangunan dari pusat/nasional hingga ke provinsi/kabupaten/kota. Perencanaan pembangunan dapat berjalan maksimal. Dapat dikatakan, melalui GBHN sebagai dokumen perencanaan, mampu mengintegrasikan, mensinkronisasikan, dan mensinergikan antar daerah, di mana partisipasi rakyat tumbuh sebagai perwujudan asas demokrasi.
GBHN yang selain berfungsi untuk mempertahankan kestabilan pembangunan nasional juga berperan sebagai misi pembangunan nasional Indonesia. GBHN juga sebagai pengamalan terhadap Pancasila dalam kehidupan sehari hari dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam keadaan apapun dan dapat juga sebagai fondasi kuat bagi kedaulatan rakyat dalam segala bidang dan aspek bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
SPPN, Pengganti GBHN?
Mulai tahun 1998, pasca Soeharto, konsep perencanaan pembangunan mengalami perubahan yang cukup mendasar, hal ini karena mulai diterapkannya demokratisasi dan otonomi daerah dalam pemerintahan. Perubahan tersebut dikukuhkan melalui UU No. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
104 Reformulasi Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
(SPPN), dan sejak tahun 2005, sistem perencanaan pembangunan ini mulai berlaku secara formal di seluruh wilayah Indonesia. (Sjafrizal, 2014).
Terdapat 5 Hal pokok sasaran utama perencanaan pembangunan melalui SPPN : (1) Meningkatkan koordinasi antarpelaku pembangunan sehingga hasil yang diharapkan lebih optimal; (2) meningkatkan keterpaduan dan sinergitas perencanaan antara pusat dan daerah, serta antar daerah yang terkait; (3) Meningkatkan keterpaduan antara perencanaan , penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan; (4) Mengoptimalkan partisipasi dan peran serta masyarakat dalam penyusunan dan pelaksanaan perencanaan pembangunan; (5) Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien, efektif, dan adil.
Dalam perjalanannya, aspek perencanaan pembangunan yang terdapat dalam SPPN lebih bersifat administratif yang berkaitan dengan provinsi/kabupaten/kota. SPPN Kurang meliputi perbedaan potensi dan keterkaitan antara pedesaan dan perkotaan, antar kota dan kabupaten, antara sesama kota maupun antar provinsi yang berdekatan. Kelemahan Utama SPPN 2004 adalah bahwa sistem perencanaan pembangunan, ternyata kurang mempertimbangkan secara eksplisit aspek-aspek tata ruang dan pembangunan wilayah dalam penyusunan dokumen perencanaan pembangunan (Sjafrizal, 2014).